
Malam harinya..
Barra tersenyum melihat istrinya yang tampak kelelahan. Acara grand opening yang semula dirancang sederhana, ternyata bisa terlihat menjadi mewah dan meriah. Banyak rekan bisnis dari Java Horizon Ltd. Yang tidak mendapatkan undangan, ternyata ikut memberikan ucapan selamat lewat buket bunga, dan berbagai media lainnya. Saat ini, tinggallah istrinya Gwen yang terlihat sangat Lelah. Perempuan itu tampak duduk berselonjor di atas ranjang, sambil membuka gadget di tangannya.
“Apa yang sedang kamu lihat honey…, sepertinya menarik?? Sejak tadi, papa lihat honey sangat fokus mengamatinya..” Barra bertanya dengan suara pelan.
Laki-laki itu menghampiri istrinya di atas ranjang, kemudian duduk di samping Gwen.
“Lucu lucu pap.. ini dikirim Josephine, foto foto serta rekaman acara tadi siang. Sangat eksotis sekali pa, dan memang apa yang dikatakan para tamu tadi, mommy ikut mengakuinya. Acara grand opening tadi memang terlihat mewah dan elegance, dan mommy baru menyadari Ketika melihat via rekaman ini.” Gwen menunjukkan layer gadget yang menampilkan rekaman acara tadi siang.
Barra tersenyum, kemudian mengambil gadget dan melihatnya beberapa saat. Namun tidak lama kemudian, laki-laki itu malah mematikan gadget, dan meletakkan di meja kecil yang ada di samping ranjang mereka.
“Saat ini sudah malam honey, saatnya kita istirahat. Bukankan besok pagi, honey sudah mulai berkantor bukan..?? Untuk itu, mulai sekarang honey harus mulai mengatur waktu. Jangan sampai Sheen kehilangan ASI berkualitas, karena mommy nya kurang tidur..” dengan nada sarkasme, Barra memberi nasehat pada istrinya.
“Mmmpph… benar yang papa ucapkan. Maafkan mommy ya pa…, masih euphoria dengan suasana senang tadi siang. Di grup karyawan juga begitu, topik acara tadi siang masih menjadi focus perbincangan yang menarik. Sekarang papa ingin apa, mommy akan menurutinya..” berpikir jika suaminya menginginkannya malam ini, tanpa rasa malu Gwen bertanya pada suaminya.
“Tidak honey… papa tahu jika istriku malam ini masih sangat lelah. Berbaringlah honey, dan lepaskan piyama yang honey kenakan. Papa akan memijitmu dengan aroma theraphy, sehingga Ketika honey terbangun nanti, rasa Lelah sudahnya pergi..” rupanya laki-laki itu tahu diri. Menyadari jika tubuh istrinya tidak bisa dia paksa malam ini, Barra memilih untuk memberikan pijatan di tubuh istrinya.
Gwen melihat ke arah suaminya dengan pandangan tidak percaya, namun Barra tersenyum meyakinkan. Tanpa bertanya lagi, Gwen dengan lincah melepaskan piyama yang dikenakan saat ini. Sedangkan Barra segera menyiapkan aroma theraphy, dan dicampurnya sedikit dengan minyak kayu putih. Tidak lama kemudian, Barra sudah Kembali ke pinggir ranjang. Mata Barra tidak teralihkan dari tubuh polos istrinya, yang nyaris mulus tanpa cela sedikitpun.
__ADS_1
“Hempphh… tubuh istriku sangat menggai**rahkan, adik kecilku tiba tiba terbangun, hanya baru melihat pemandangan polos istriku.” Mata Barra mulai berkabut, dan laki-laki itu berbicara dalam hati.
Tidak lama kemudian, setelah mengambil nafas panjang, akhirnya Barra segera mendekat ke sisi tubuh istrinya. Perlahan tangan laki-laki itu mulai memijat punggung istrinya dimulai dari belakang leher. Baru saja tangan Barra menyentuh belakang leher, dan perlahan ke belakang telinga, tubuh Gwen seakan gemetar. Sentuhan lembut dari suaminya itu, ternyata membangunkan hormon endorphin pada tubuh perempuan itu. Hati Gwen menjadi berdebar, dan mendambakan suaminya terus menyentuh semua bagian tubuhnya.
“Mmmppphh pap… kenapa sentuhan papa malam ini terasa berbeda pa..” dengan suara serak, Gwen bertanya pada suaminya.
„Iyakah honey..” sahut Barra, sambil terus memberikan pijatan di area sensitive istrinya.
Beberapa saat berlalu, Gwen sudah tidak bisa mengendalikan dirinya. Ketika Barra masih memijit punggung bagian atas perempuan itu, Gwen malah membalikkan badannya, dan sampai tangan Barra malah memijit puncak gunung kembar perempuan itu. Kedua tangan Gwen terangkat ke atas, dan tidak menunggu lama, dua tubuh itu sudah saling berpadu dan berpelukan erat.
*********
Suasana di rumah Barra, pagi ini sudah terlihat hidup. Bareeq dan Tareeq sudah selesai bersiap, untuk berangkat ke sekolah. Dan saat ini, mereka sedang berada di meja makan untuk menyelesaikan sarapan pagi mereka. Terlihat Gwen masih memberikan ASI untuk Sheen, dan juga sudah rapi bersiap untuk berangkat ke tempat kerja untuk pertama kalinya.
“Mommy… apakah boleh, nanti sepulang sekolah, kami berdua minta Smith untuk mengantar kami ke tempat kerja mommy… Lagian adik Sheen juga berada di tempat kerja mommy..” setelah menyelesaikan sarapan, Tareeq bertanya pada Gwen.
Gwen menghentikan aktivitasnya memegang Sheen dalam pangkuannya, kemudian melihat ke arah dua putranya. Terpikir jika bekerja hanya menyalurkan hobby, jadi harus tetap menjaga keseimbangan antara pekerjaan, dan keluarganya. Atau jika istilah manajemen, adalah work life balance.
“Boleh sayang, hanya saja selama mommy bekerja, kalian tidak boleh mengganggu focus mommy. Kalian bisa menemani Sheen bermain dengan baby sitter, lagian di belakang juga ada Play Ground yang dibuat oleh papa..” sambil tersenyum, Gwen menyetujui permintaan kedua putranya.
__ADS_1
“Wah .. ramai sekali, papa jadi iri nih. Kalian berdua bisa menemani mommy bekerja, juga Sheen, Sedangkan papa, hanya berada sendiri di perusahaan..” terdengar protes dari Barra.
„Ya papa dong, yang datang ke tempat kerja mommy… Lagian tidak jauh bukan, jadi meskipun jauh, papa tetap bisa mengamati tumbuh kembang putra putri kita..” Gwen menjawab protes suaminya.
“Hemppphh… good idea, nanti akan papa atur deh. Masak papa hanya sendirian ditemani Charly saja, kan bisa ramai ramai lunch bareng dengan mommy dan anak-anak..” akhirnya Barra menyetujui ide yang diusulkan istrinya.
Semua tersenyum, dan karena sudah waktunya untuk berangkat ke sekolah, Bareeq dan Tareeq segera berdiri dari tempat duduk mereka.
“Mommy, papa…, adik Sheen. Kakak berangkat dulu ke sekolah, pasti Smith sudah menunggu kami berdua di halaman..” kedua anak itu berpamitan pada kedua orang tuanya.
Gwen mencium pipi kiri dan pipi kanan serta kening kedua putranya. Kedua anak itu kemudian juga mencium Sheen, dan bergeser pada papanya. Setelah berpamitan keduanya, segera berjalan keluar meninggalkan meja makan. Setelah Gwen memutuskan untuk berkantor di work shop, urusan pengantaran anak anak menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari Smith. Sedangkan Barra, bertanggung jawab antar dan jemput istrinya yang juga membawa baby sitter dan Sheen ke tempat kerja. Sebenarnya Gwen berniat untuk membawa mobil sendiri, namun Barra tidak mengijinkannya.
“Hari ini sepertinya kak Jacqluinne jadi mengantar karya desain, dan beberapa sample baju ke work shop pa.. Kemarin perempuan itu dan Andy sudah menyampaikannya..” setelah kedua putra mereka keluar, Gwen Kembali membuka pembicaraan dengan suaminya.
“Hemppphh.. apakah honey yakin dengan ketulusan Jacqluinne, dan malah memberikan kesempatan pada perempuan itu untuk berkongsi bareng..” tampaknya Barra yang masih meragukan niat baik istrinya.
“Inshaa Allah yakin pa.. Sepertinya Andy menyembunyikan masalah keuangan dengan kita pa.., jadi hanya dengan menawarkan pada kak Jacqluinne untuk berusaha bareng, mungkin bisa membantu mereka untuk bangkit.” Tidak diduga ternyata Gwen mengamati usaha Andy.
Barra tersenyum, dan laki-laki itu sebagai pengusaha, juga tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan perusahaan Andy. Insting bisnis anak muda itu, belum terlatih, sehingga sering terkecoh dengan tawaran yang menggiurkan, namun tidak berakhir baik.
__ADS_1
***********