Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 247 Support System


__ADS_3

Dalam ruang kerja Barra..


Gwen berdiri, kemudian melakukan stretching ke kanan dan ke kiri. Semua berkas yang dipilihnya sudah selesai di koreksi, dan tersisa ada 25 berkas yang akan dilanjutkan ke proses selanjutnya. Barra menghentikan aktivitasnya sebentar, kemudian melihat ke arah istrinya.


“Honey.. istirahatlah dulu di kamar. Kamu bisa menggunakan waktumu untuk tidur siang, nanti aku akan menyusulmu..” dengan suara lembut, Barra memberi arahan pada perempuan itu.


„Kerjaan mommy sudah selesai pa.. Ada baiknya, mommy kembali pulang ke rumah saja, kasihan Sheen sendiri.” Tanpa memperhatikan bagaimana perasaan suaminya, Gwen malah ingin Kembali ke rumah.


“Memangnya siapa yang akan memberimu ijin untuk pulang sekarang. Temani suamimu bekerja, dan tidak boleh selangkahpun pergi tanpa ijin dariku.” Gwen kaget mendengar kata-kata dari suaminya. Tiba-tiba saja laki-laki itu bersuara keras. Perempuan itu menatap ke mata suaminya, dan melihat pandangan mata suaminya yang tampak kecewa, akhirnya Gwen mengalah.


„Iya pa.. mommy akan istirahat saja di kamar dalam. Tapi istri papa ini sudah lapar, maklum tadi sudah menyiapkan ASI untuk Sheen. Papa tidak mau bukan, jika istrinya yang lemah ini, pingsan di dalam ruangan ini..” Gwen bersikap manja.


Senyuman muncul dari bibir Barra, mendengar kata kata yang keluar dari bibir istrinya. Laki-laki itu kemudian berdiri, dan mendatangi Gwen yang masih berada di dekat sofa.


“Aku akan meminta Charly untuk menyiapkan makan siang untuk kita honey. Ataukah kita akan pergi lunch ke restaurant saja..” mendengar tawaran itu, Gwen menggelengkan kepala.


“Tidak pa.., Gwen mau istirahat di kamar saja,. Nasi box saja tidak masalah kok, atau jika tidak ada nasi, sandwich juga bisa sebagai penggantinya.” Menyadari keberadaan mereka di Helsinki, yang sangat sulit mendapatkan nasi, Gwen menganulir perkataannya.


„Pasti ada, office boy bisa membelikan makanan untuk kita di Bali brunch restaurant. Jangan khawatir, masuklah ke kamar lebih dulu..” Barra tersenyum.


Gwen tidak menjawab, selain hanya menganggukkan kepalanya. Perempuan itu segera berjalan menuju ke pintu yang ada di belakang meja kerja suaminya. Orang lain tidak akan pernah tahu, jika di belakang meja itu ada connecting door menuju ke arah kamar. Hanya beberapa orang dalam perusahaan saja yang mengetahui keberadaannya.

__ADS_1


“Charly… kirim office boy ke Bali Brunch untuk memesankan makan siang dua paket untukku  dan Gwen istriku. Tidak pakai lama, dan pesankan juga minuman doger ice..” tidak lama kemudian, tampak Barra sudah berbicara pada Charly.


„Siap Tuan Barra... segera saya perintahkan pada OB. By the way.., apakah beberapa berkas yang dibawa Miss Gwen, sudah selesai Tuan. Akan kita teruskan pada proses selanjutnya..” Charly balik bertanya tentang berkas untuk seleksi administrasi.


“Sudah selesai, sepertinya tidak banyak yang lolos. Hanya ada 25 berkas, yang diberi tanda istriku jika mereka lolos. Periksa lagi semuanya, dan ambil  di atas meja dekat sofa.” Barra langsung memberikan tanggapan.


„Ya Tuan... tadi Miss Gwen juga sempat bicara pada saya. Miss Gwen menghendaki karyawan kita di bagian front line yang Bernama Josephine, untuk dibawa oleh Miss. Jadi saya bermaksud, ingin sekalian merekrut satu dari berkas lamaran ini, dan akan saya persiapkan sebagai pengganti Josephine. Tetapi jika Tuan Barra mengijinkannya..” Charly sekaligus melaporkan apa yang tadi istri Boss nya katakan.


“Okay…, turuti apa yang dikehendaki istriku, jangan persulit dia.” Barra langsung mengakhiri panggilan secara sepihak,


**********


Beberapa Saat kemudian..


“Hemmpphh.. aku pikir honey tidur sayang.. Ini aku sudah bawakan menu nasi dari Bali Brunch, dan juga ada es doger. Honey pasti akan teringat Bogor..” Barra meletakkan makanan dan minuman di atas meja.


“Benarkah pa..” seperti yang sudah diduga oleh laki-laki itu, Gwen sangat antusias.


Perempuan itu kemudian berdiri dari posisi duduknya, dan mendatangi suaminya yang meletakkan makanan dan minuman di atas meja. Barra menarik kursi untuk diduduki istrinya, kemudian menarik satu lagi untuk dia sendiri duduk.


“Mmmmppphh… manis banget pa, santannya kental, persis seperti di Indonesia, gurih.” Gwen yang sudah menyendok es doger memberikan review pada minuman itu.

__ADS_1


Barra tersenyum, dan laki-laki itu kemudian mengambil mangkok berisi es doger punyanya. Seperti Gwen, Barra juga tertarik ingin menikmati minuman itu. Tidak terduga, kedua pasangan dewasa itu seperti anak muda, yang tampak menikmati setiap sendok dari es doger. Mungkin keduanya sedang merindukan Indonesia, terutama kulinernya.


“Papa menyinggung Indonesia, tiba-tiba saja mommy jadi ingin kembali ke Jakarta. Kita bisa menikmati asinan, soto Betawi, dan es doger sepuasnya. Tapi dalam waktu dekat ini, kita akan repot jika pulang ke Indonesia, mengingat usia Sheen.” Gwen mengingat tanah kelahirannya.


“Tidak akan lama honey, setelah mendekati satu tahun usia Sheen putri kita, papa pasti akan membawa kalian untuk pulang, dan berlibur di Indonesia.” Barra menimpali.


Mendengar kata liburan, Gwen menjadi teringat dengan janjinya pada Tareeq dan Bareeq. Perempuan itu pernah berjanji akan membawa kedua putranya untuk melakukan diving di pulau Lombok, Ketika anak itu membuat prestasi. Barra mengerutkan kening, melihat lamunan istrinya, karena sampai sendoknya berhenti.


“Honey… apakah ada yang mengganggu pikiranmu sayang..?? Kenapa honey jadi melamun,” Barra mengajukan pertanyaan langsung pada istrinya.


“Pffttthhh… maaf.” Gwen tersentak kaget, mendapat pertanyaan dari suaminya.


“Tidak pa… mommy hanya teringat dengan janji mommy pada putra kita. Kala itu, tanpa sadar mommy menjanjikan untuk mengajak mereka melakukan diving, dan snorkling di pulau Lombok pa.. Makanya mendengar kata liburan, mommy jadi teringat akan janji itu..” akhirnya Gwen tersenyum malu, dan menceritakan apa yang ada dalam pikirannya.


„Mmppphhh begitukah... kita tinggal berangkat saja honey. Hal kecil, kita bisa langsung membawa pesawat pribadi, dan landing di bandara Lombok. Setelah puas menikmati pulau itu, kita bisa berpindah ke Labuan Bajo, dan baru menuju ke Jakarta.” Ternyata gayung bersambut, Barra merespon dengan bagus apa yang dikatakan istrinya.


Gwen melihat ke wajah suaminya, seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan laki-laki itu. Tetapi Barra malah tersenyum, dan menganggukkan kepalanya.


“Lanjutkan makan siangmu honey.. aku akan mewujudkannya segera. Target mendesak kali ini adalah membangun work shop dan bengkel kerja untukmu, dan memantau proses recruitment yang dilakukan Charly..” tanpa merasa beban, Barra langsung mengiyakan apa yang diinginkan oleh istrinya.


„Baik papa… terima kasih untuk semuanya..” Gwen segera melanjutkan makan siangnya yang sudah tertunda, begitu juga dengan Barra.

__ADS_1


*********


__ADS_2