
Merasa sudah tidak ada schedull di New York, akhirnya Barra memantapkan untuk membawa istrinya tinggal bersamanya di Finlandia. Laki-laki itu sudah mengurus semua tanda tangan pengesahan yang wajib di tanda tangani Gwen terkait dengan urusan sekolahnya. Hanya bisa pasrah, dan mengikuti apa yang diinginkan oleh Barra, Gwen sama sekali tidak ada penolakan. Gadis itu seperti sudah mati rasa, apalagi merasa jauh dengan keluarga dan sahabatnya.
“Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi di luar negeri, selain hanya mengikuti keinginan kak Barra. Semoga saja keputusanku ini tepat, tidak ada penyesalan di kemudian hari.” Gwen berusaha memantapkan hatinya.Ketika ada keraguan yang muncul, dengan cepat Gwen mencoba menepis keraguan tersebut.
“Aku harus segera bersiap, sepertinya nanti malam aku sudah harus mengikuti kepergian kak Barra. Heh…., Finlandia.. negara antah berantah mana itu, dan apa yang akan aku lakukan di negara itu, belum ada bayangan bagiku. Aku merasa semakin jauh dari peradaban, berada di tempat baru dan asing hanya sendiri..” tanpa sadar, air mata menggenang di pelupuk mata Gwen. Tampak bayangan kelam ketakutan menghantui gadis itu..
Semangat yang sudah dibangunnya tadi seakan lenyap, membayangkan negara mana yang akan ditujunya Bersama dengan suaminya. Meskipun ada keraguan dalam hati gadis itu, tetapi mengingat hubungan baik kak Barra, juga keluarganya dengan keluarga Atmadja Group.., akhirnya Gwen berusaha Kembali menenangkan hatinya.
“Aku masukkan saja dulu semua pakaian dan perlengkapan ke trolly bag. Jadi jika kak Barra mengajak pergi, aku sudah siap.” Gwen segera bergegas bangkit dari posisi duduknya. Gadis itu mengambil tumpukan baju yang ada di wardrobe, kemudian memindahkan ke dalam trolly bag.
Ajakan Barra ke Finlandia untuk menetap di negara itu, belum pernah didiskusikan dengannya. Kepergian itu terasa mendadak bagi Gwen, apalagi hampir semua perlengkapan maupun pakaian masih ada di kota Bogor, di rumah keluarga Atmadja. Tetapi gadis itu berpikir, sudah tidak mau lagi untuk berdebat. Apalagi ketiga sahabatnya sudah tahu identitasnya sekarang, dan meskipun Gwen yakin jika mereka tidak akan membocorkan statusnya, tetapi Gwen sendiri yang tidak akan mampu melihat mereka dengan berdiri tegak.
“Apa yang sedang kamu kerjakan honey..?” tiba-tiba dari pintu kamar, terlihat Barra berjalan masuk dan bertanya pada gadis itu.
„Haruskan Gwen menjelaskan kak, bukankah kak Barra bisa melihat apa yang saat ini Gwen lakukan. Heh...” dengan nada kurang enak didengar, Gwen menanggapi suaminya tanpa melihat langsung ke wajah laki-laki dewasa itu.
Terlihat Barra mengambil nafas, dan laki-laki itu kemudian mengangkat trolly bag yang masih dalam posisi terbuka ke atas ranjang. Tanpa bicara, Barra ikut merapikan pakaian dan barang pribadi Gwen yang sudah diletakkan gadis itu ke dalam trolly. Ketika menyentuh pakaian dalam istrinya, tanpa sadar Barra senyum-senyum sendiri tanpa suara.
„Kenapa kak Barra senyum-senyum dari tadi, apakah ada yang lucu..?” dengan sikap curiga, Gwen akhirnya bertanya pada laki-laki dewasa itu.
„Hemmph... tidak ada honey, teruskan saja aktivitasmu..” dengan kalimat pendek, Barra memberi jawaban.
__ADS_1
Gwen melihat ke arah tatapan Barra, dan ternyata tangan laki-laki itu menyentuh dan menata pakaian dalamnya. Sontak Gwen panik, dan gadis itu berlari mendatangi suaminya yang sedang duduk berjongkok di lantai.
“Jangan sentuh kak, tidak perlu kak Barra membantu Gwen… “ saking semangatnya karena malu, tanpa sadar Gwen terjatuh di depan Barra. Laki-laki yang sedang jongkok itu tidak bisa menguasai keseimbangannya, dan tubuhnya terjengkang ke belakang. Gwen yang juga tidak siap, sukses mendarat di atas tubuh laki-laki itu. Pakaian
dalam Gwen yang sudah tertata rapi, Kembali berhamburan keluar dari dalam trolly.
“Honey…” tiba-tiba Barra berucap lirih. Gwen terkejut dan beralih menatap mata suaminya, dan keduanya akhirnya saling berpandangan untuk beberapa saat.
Berada dalam posisi berhadapan di atas lantai dengan Gwen di atas, tiba-tiba gadis itu merasakan ada bagian tubuh suaminya di bawah perut yang terasa bergerak-gerak. Menyadari apa yang terjadi, Gwen tersentak dan mencoba mengangkat tubuhnya ke atas. Namun dengan cepat pula Barra menahannya untuk tetap dalam posisi tersebut.
„Tolong aku honey... tetaplah dalam posisi ini untuk beberapa saat.” Dengan suara serak Barra membuat permintaan. Gwen diam, tidak berani bergerak sedikitpun.
Tiba-tiba saja, tanpa minta ijin Barra meraup bibir mungil yang basah yang ada di atas dadanya dengan menggunakan bibirnya. Gwen tidak mampu untuk menolak, karena dengan cepat Barra mengunci bibir mungil Gwen. Lidah laki-laki itu mengabsen rongga mulut istrinya, dan gadis itu merasakan suatu sensasi yang lain. Ada rasa ingin melanjutkan tidak hanya sekedar ciuman, dan Gwen ikut menikmati pagutan itu sampai merasa sulit untuk bernafas. Beberapa saat, karena melihat Gwen kesulitan untuk bernafas, Barra akhirnya melepaskan pagutannya itu.
Gwen menatap Kembali mata suaminya, dan dengan pipi merah menahan malu, gadis itu menganggukkan kepalanya ke bawah. Tetapi tidak lama kemudian, Gwen merasa mendapatkan kesempatan. Dengan cepat, Gwen meloloskan diri dari pelukan suaminya, dan kembali berdiri.
************
Malam harinya
Gwen dan Barra akhirnya malam ini akan menuju ke Bandara Helsinki Vantaa, yaitu bandara internasional utama di Finlandia yang ada di pusat kota Helinski, Finlandia. Tidak ada protes dari gadis itu, selain hanya pasrah mengikuti kemauan suaminya.
__ADS_1
“Kenakan baju dingin honey… suhu udara di Helinski lebih dingin, karena di bawah nol derajat celcius..” Barra memberikan baju hangat pada istrinya.
“Hempph .. iya kak, masih hangat dalam pesawat. Nanti jika pesawat sudah akan landing, Gwen akan mengenakannya.” Tanpa melihat ke arah suaminya karena masih merasa malu, dengan kejadian tadi siang di Pant
House, Gwen menanggapi Barra.
Laki-laki dewasa itu tersenyum, kemudian duduk di depan istrinya. Tangan Barra diulurkan ke dagu Gwen, kemudian menyentuh dagu gadis itu dan menggerakkan untuk berhadapan dengannya.
„Honey... janganlah bersikap seperti itu. Kita ini pasangan suami istri sayang.., tidak etis jika kita bicara tanpa saling memandang.” Barra berucap lirih sambil tersenyum,
Gwen memberanikan diri menatap suaminya, dan Barra tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Ppppfft… Gwen malu kak..” ucap gadis itu lirih, dan Ketika Gwen akan kembali menundukkan wajahnya ke bawah, tangan Barra menahannya,
„Tidak perlu ada rasa malu sayang... aku akan menunggumu sampai kapanpun kamu siap untuk menerimamu honey.. Aku tidak akan melakukan pemaksaan kepadamu, meskipun kamu adalah istriku, dan kamu wajib memberikan pelayanan kepadaku..” kembali Barra berbicara menenangkan istrinya.
„Maaf kak... Gwen belum sanggup dan belum mampu. Apalagi ada kak Jacqluine bukan dalam kehidupan kak Barra, aku tidak akan menjadi perebut kak...” Barra terkejut dengan ucapan istrinya. Tetapi mendengar ucapan gadis itu, Barra hanya tersenyum.
“Tenang honey.. aku akan sabar. Hari ini aku sudah cukup puas, bisa memegang dan menata pakaian dalam honey ke trolly bag. Suatu saat aku pasti akan merasakan isinya bukan..” tiba-tiba dengan mata mengerling, Barra menggoda Gwen.
Wajah Gwen kembali merona malu, gadis itu mencubit pinggang Barra kemudian menarik tangan dan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
**********