Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 147 Dikenalkan dengan Orang Tua


__ADS_3

Selesai makan, Ketika Hans baru membereskan bill di cashier, tiba-tiba Andy datang dan duduk di meja yang ditempati Gwen. Asep menatap tajam pada Andy, namun sangat terlihat jika Andy mengacuhkan tatapan itu. Gwen lebih menahan diri karena menghormati jika anak muda yang baru datang itu adalah adik sepupu suaminya, yang berarti juga adik sepupunya juga.


„Ada And... mau makan siang juga. Aku dan teman-teman baru saja selesai, jadi tidak bisa menemani untuk bergabung.” Basa basi Gwen bertanya pada anak muda itu.


“Tahanlah sebentar dulu Gwen… paling tidak sampai menu pesananku disajikan oleh pelayan. Tega bener, sama adik sepupu lagi..” tidak diduga menggunakan hubungan kekerabatan mereka, Andy membuat Gwen harus menemani anak itu.


“Hempphh… tidak begitu juga kali And... Tidak ada hubungan kekerabatan di kampus ini, begitu kan janji kita. Tapi yah… karena aku masih punya hati dan empati, aku akan menemanimu sebentar saja. Jika makanan dan minumanmu sudah datang, mau tidak mau aku harus bergegas pulang. Kak Barra pasti sudah menungguku di luar..” menggunakan alasan jemputan dari suaminya, Gwen menekan Andy.


“Terserah kamulah… Oh ya Gwen..., by the way, kapan-kapan kita adakan acara yukk. Gathering keluarga dan teman-teman kita, agar kita semakin akrab. Gak afdol dong, masak tanpa sebab yang jelas, kita jadi berjauhan.” Gwen kaget mendengar perkataan Andy. Padahal anak itu yang pergi tanpa sebab dari rumah.


“Kamu tidak salah dengan kata-katamu kan And... Setahuku dan sepanjang aku mengenal Gwen selama ini, tidak pernah tuh yang namanya Gwen berusaha menjauhi teman-temannya. Yang ada malahan kamu sendiri pasti yang sudah meninggalkannya..” mendengar ucapan Andy, Asep yang duduk menemani Gwen dengan Chyntia ikut merasa kesal.


Tangan Gwen memegang lengan Asep, berusaha untuk mengendalikan anak mud aitu. Cynthia juga terlihat kesal, menatap ke wajah Andy yang menurutnya congak.


“Asep… bisa tidak kamu tidak asal nyolot, mengganggu pembicaraan orang lain. Aku dan Gwen itu saudara sepupu Asep.., katakan juga dengan Aldo temanmu yang sombong itu.” Tanpa sadar Andy malah menyebut nama Aldo.


“Woiii… jaga kata-katamu Andy. Bisa-bisanya kamu menyebut nama Aldo kali ini, padahal anak itu tidak tahu apa-apa. Aku dan Aldo sampai kapanpun akan terus melindungi Gwen, dimanapun. Dan kak Barra juga tahu, bagaimana kedekatan kami. Itu saja yang perlu untuk kamu ingat-ingat..” omongan Andy semakin menyulut kemarahan Asep.


Beberapa orang yang sedang makan di food court melihat ke meja mereka, karena suara Asep memang termasuk lantang terdengar. Gwen memijit keningnya yang tidak pusing, merasa bingung harus menengahi kedua orang di dekatnya itu.

__ADS_1


“Sudah… sudah, bisa diam tidak kalian berdua. Ayo Asep.., Cynthia, sepertinya suasana akan semakin panas, jika kita masih bertahan di tempat ini. Andy.. aku cabut kata-kataku yang akan menemanimu sampai pesananmu datang. Semua karena sikapmu sendiri yang menyebalkan, sehingga aku tidak mau bertahan disini.” Dengan cepat, Gwen menarik tangan Asep dan Cynthia. Ketiga anak mud aitu segera berlalu  dari meja tempat mereka duduk.


Di belakang Gwen, Asep dan Cynthia, Andy tersenyum, dan tampak mengamankan sesuatu dari atas meja, dan langsung memasukkan ke dalam sakunya. Sedangkan ketiga anak muda itu, karena merasa jengah dengan Andy, ketiganya langsung pergi dari tempat itu dan menyusul Hans yang masih antri di cashier.


************


Restaurant Huippu


Ternyata Aldo membawa Kayla di  restaurant yang ada di Saariselka, yang membutuhkan waktu satu jam lebih menuju ke tempat itu. Tetapi kening gadis itu berkerut, karena tidak melihat ada perayaan apapun di tempat itu. Padahal sebelumnya Aldo mengatakan, jika mengajaknya untuk menghadiri perayaan amniversary.


“Aldo… you not lie… man..?” gadis itu menoleh dan meminta konfirmasi pada anak muda yang tersenyum menatapnya.


Terlihat Kayla mengambil nafas panjang, tetapi sepertinya gadis itu tidak marah. Kayla memberi kesempatan pada Aldo, untuk membuktikan ucapannya.


“Bagaimana Kayla.. kamu tidak marah bukan..?? Ikutlah denganku ke dalam..” Aldo merangkul bahu adik kandung Barra, yang juga adik ipar Gwen sahabatnya.


Kayla diam tidak memberikan jawaban, tetapi gadis itu menurut pada ajakan Aldo. Keduanya diantarkan waiters restaurant menuju ke private room. Tidak lama kemudian, waiters membuka pintu, dan begitu kedua anak muda itu masuk ke dalam, mata Kayla takjub melihat ke dalamnya. Ruangan itu sudah disulap menjadi tempat perayaan, dan Aldo tidak menjelaskan ada perayaan apa.


“Papa… mama… kenalkan Kayla. Gadis yang pernah Aldo ceritakan mam…” tiba-tiba Aldo membawa Kayla ke depan pasangan paruh baya, yang ternyata Tuan Firmansyah dan Nyonya Helene.

__ADS_1


Pasangan paruh baya itu tersenyum, kemudian memeluk putra laki-lakinya. Tidak berapa lama, keduanya melihat dengan jelas ke arah Kayla.


„Om... tante.. kenalkan nama saya Kayla. Dan maafkan juga, jika saya salah kostum karena Aldo tidak mengatakan pada Kayla, untuk tujuan apa mengajak Kayla ke tempat ini..” Kayla mengenalkan dirinya. Gadis itu merasa malu dengan penampilannya saat ini.


Nyonya Helene melihat ke arah penampilan gadis itu. Kayla datang menggunakan sepatu laras panjang selutut, dengan celana legging dan coat panjang membalut tubuhnya yang semampai. Tas selempang tampak melengkapi penampilannya. perempuan paruh baya itu kemudian tersenyum sambil menatap gadis yang dibawa oleh putranya.


“Tidak Kayla.. kamu sangat cantik dengan penampilanmu ini. Dan wajah serta penampilanmu lebih cantik, dari yang sering diceritakan Aldo pada tante dan Om, Jika dirimu mau, sekarang juga aku akan melamarmu untuk putraku cantik..” Kayla terkejut dengan ucapan dari mama Aldo. Gadis itu melihat ke arah laki-laki yang membawanya itu, dan terlihat Aldo hanya mengulum senyum,


“Tante Helene bisa saja, kami hanya berteman tante. Tidak ada hubungan apapun..” dengan muka merah menahan malu, Kayla menanggapi perkataan dari perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik dan modis itu.


“Hemppphh… tidak apa Kayla. Dengan berteman dulu, nanti juga akan bisa berkembang menjadi hubungan percintaan. Dan om dan tante juga ingin segera menimang cucu, gayung bersambut bukan..” dengan tersenyum, Tuan Firmansyah melanjutkan perkataan istrinya.


“Papa… mama…, jangan membuat Kayla takut dong. Biarkan Aldo sendiri yang menyelesaikan urusan ini pa… ma.. Ayo Kayla, kita mencari tempat duduk, abaikan ucapan papa dan mama ya, jangan diambil hati..” merasa khawatir jika Kayla akan tersinggung, dan mengajaknya pulang, Aldo mencoba mengalihkan focus pembicaraan.


“Kayla ikut dulu tant.. Om..” seperti mendapatkan angin segar, Kayla segera berpamitan.


Nyonya Helene tampak belum rela untuk melepaskan Kayla, tetapi Tuan Firmansyah tampak menahan istrinya agar memberikan kesempatan pada putra mereka untuk berusaha.


***********

__ADS_1


__ADS_2