
Dua orang berpakaian formal menyambut kedatangan Gwen dan Barra, kemudian membawa pasangan suami istri itu ke ball room. Keduanya di tempatkan di round table depan sendiri, dan sudah duduk di table tersebut, perwakilan dari KBRI yang ada di negara tersebut, dan juga para pejabat Kementrian Pariwisata negara Finlandia.
“Dimanapun penampilan Nyonya Barra selalu mengesankan..” dengan ramah, orang KBRI memuji penampilan Gwen.
“Anda terlalu memuji saya saja Pak.., maaf jika kedatangan saya sedikit terlambat..” dengan sopan, Gwen memberikan tanggapan.
Barra hanya tersenyum, dan mengajak istrinya untuk duduk. Ternyata Barra juga mengenal orang orang yang ada di KBRI, karena sering melakukan meeting dan koordinasi dengan mereka. Tidak menunggu lama, ke enam orang yang ada di round table terlibat dalam pembicaraan seru. Sampai akhirnya, panitia penyelenggara mulai membacakan run down acara satu persatu. Gwen dan semua yang duduk di sekitarnya terdiam, dan melihat kea rah stage yang ada di depan mereka.
“Okay… acara debat panelis yang kita tunggu tunggu akhirnya sudah akan tiba. Kami mohon semua panelis yang sudah menyepakati undangan dari panitia, kami mohon untuk segera menempatkan diri ke depan. Semua audiens menunggu materi dan transfer knowledge dari anda semua. Mari kita meriahkan dengan pemberian applaus untuk lima panelis..” setelah host membacakan acara, ruangan ball room sontak menjadi meriah. Suara tepuk tangan mengiringi lima panelis maju ke atas stage, dan tatap kekaguman pada penampilan Gwen tampak terlihat di wajah semua yang ada di dalam ball room.
“Tuan Barra… ornament tenun ikat dari daerah yang ada di negara kita, ternyata ikut meramaikan acara. Hebat.. hebat..” Tuan Kuncahyo dari negara Indonesia memberikan pujian pada Barra.
“Hempphh… Tuan Kuncahyo terlalu merendah. Sudah menjadi kewajiban bagi semua warga negara Indonesia, untuk tidak melupakan negaranya, dimanapun mereka berada. Kebetulan istriku juga memiliki usaha butik, menggandeng desainer dari Indonesia.
Dengan mengenakannya pada acara ini, sekaligus kesempatan promosi gratis untuk salah satu produk kami..” Barra tanpa diminta, mengenalkan baju rancangan Jacqluinne.
__ADS_1
„Benarkah Tuan Barra... jika begitu. Sekali sekali aku akan membawa rombongan orang orang KBRI untuk mengunjungi work shop dan bengkel Miss Gwen, agar bisa melihat koleksi di perusahaan tersebut.” Dengan wajah bahagia, Tuan Kuncahyo memberikan tanggapan.
Ketika suara panelis mulai terdengar, Barra dan Tuan Kuncahyo dengan focus memperhatikan ke arah depan. Mereka seperti tidak mau kehilangan moment, untuk mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Gwen.
“Seorang perempuan di negara kami Indonesia, harus berdaya, namun tidak boleh meninggalkan kodratnya sebagai seorang perempuan. Harus tetap bisa menjadi seorang istri yang melayani suami, sebagai seorang mommy bagi putra putri mereka. Di slide, saya perkenalkan suami saya tuan Barra, CEO dari Java Horizon Ltd, dan ketiga putra putri saya. Meskipun sebagai seorang pengusaha, saya tidak boleh melupakan kodrat saya sebagai seorang istri, dan juga seorang mommy. Setiap hari, saya menikmati, dan menjalankan passion, hobby saya, namun tetap bisa menghasilkan pundi pundi uang, yang menambah account keluarga kami.” Suara Gwen mengenalkan kesehariannya tampak menghipnotis semua audiens.
“Untuk itu, para wanita di negara Finlandia. Tetaplah berdaya, namun jangan lupa untuk tetap menjaga kodrat seorang perempuan, seorang wanita sebagai penerus keluarga anda semua. Kuncinya adalah, bersyukur, bekerja keras sebagai ibadah, dan gunakan hobby anda semua sebagai hal yang bisa anda kembangkan.” Lanjut Gwen.
Tepuk tangan kembali membahana di seluruh ball room, sesaat Gwen menyampaikan materinya. Terlihat Tuan Kuncahyo tersenyum puas, melihat pemateri tidak melupakan untuk mengangkat, dan mengenalkan negara Indonesia di depan khalayak.
*******
Beberapa saat kemudian..
Selepas acara diskusi panel, Gwen masih ditahan di ball room. Banyak audiens yang ingin berfoto bareng dengan perempuan itu, bahkan Barra harus tersingkir di pinggiran. Selain itu, Josephine dibantu Hans juga tampak kewalahan, mendapatkan order langsung pakaian, dan desain interior perusahaan mereka.
__ADS_1
“Uluh uluh… kasihannya kakakku yang paling ganteng, harus tersingkir dari samping kak Gwen. Bisa jadi slebritis di negara ini nih kak Gwen.., dan pamor kak Barra tersaingi dengan ketat..” melihat kakak kandungnya bersandar di dinding, dan tampak mengamati istrinya, Kayla yang datang dengan didampingi Aldo, tampak menggoda laki laki itu.
“Ini namanya bertukar peran adikku yang cantik. Dan kakak selalu percaya, jika istriku tidak akan pernah meninggalkanku sendiri, karena istriku tidak akan pernah bisa jauh dari kakakmu ini..” sambil tersenyum, Barra memberi tanggapan atas godaan adik kandungnya.
“Iya benar yang dikatakan kak Barra sayang... Gwen tidak akan pernah bisa mengabaikan kak Barra, aku mengenali karakter dan watak gadis itu. Gwen tidak akan pernah mau melepaskan apa yang sudah ada dalam genggamannya. Kita bisa lihat sebentar lagi..” ternyata Aldo ikut menguatkan pernyataan dari kakak iparnya.
Barra hanya mengulum senyum dengan tetap bersandar di dinding, dan matanya masih mengawasi gerak gerik istrinya. Tidak lama kemudian, seperti yang sudah diduga dalam hati Barra dan Aldo, terlihat Gwen tampak kebingungan mencari keberadaan suaminya. Begitu melihat keberadaan suaminya, perempuan itu tersenyum kemudian mengacungkan kedua telapak tangan dengan menangkupkan di depan dadanya, menyibak kerumunan audience yang tadi berbincang dengannya. Tidak lama kemudian, perempuan muda itu sudah berada di depan suami dan adik iparnya,
“Syukurlah kalian masih menunggui Gwen di tempat ini. Jika tidak, Gwen pasti akan kebingungan untuk menemukan kalian..” senyuman Gwen mengiringi kata katanya.
“Hempphh… ya tidak mungkinlah kak, masak kak Barra bisa meninggalkan kak Gwen di tempat keramaian seperti ini. Bisa bisa melayang, jika kehilangan istrinya..” Kayla langsung memberikan tanggapan.
“Kamu bisa saja Kay.. ayolah kita cari yang lainnya. Joshie dan Hans ada dimana, kenapa aku tidak melihat keberadaan mereka di tempat ini..” Gwen yang sudah direngkuh bahunya oleh Barra, tampak mencari keberadaan asisten pribadinya.
“Mereka kebanjiran order honey… seperti dugaanmu. Ternyata desain rancangan Jacqluinne tampak disukai oleh para tamu yang hadir, terlebih setelah mereka melihatmu tampil dengan busana itu. Kita datangi mereka sekarang, semoga saja mereka sudah selesai.” Tidak mau mengecewakan istrinya, Barra segera mengajak Gwen mencari asistennya.
__ADS_1
**********