
Kaki Gwen dan Andy yang menggunakan sepatu laras Panjang untuk di salju, menapaki jalanan di luar Igloo. Suhu udara dingin menyeruak ke kulit, tapi Barra segera mendekap istrinya agar gadis itu bisa beradaptasi dengan suhu udara tersebut. Untung saja keduanya sudah mengenakan pakaian tebal, sarung tangan, dan sepatu laras panjang sehingga dapat mengurangi suhu udara dingin yang berhembus,
“Apakah bangunan yang tertutup salju di depan itu kak, sebagai pertanda selamat datang untuk memasuki Kampung Santa Claus.” Setelah hampir sepuluh menit mereka berjalan di atas salju, Gwen bertanya pada suaminya.
“Benar honey… jika honey mau, di dalam bangunan itu akan banyak Pernik-pernik untuk perayaan Natal. Honey juga bisa menghias pohon natal, tapi memang tidak ada sih dalam keyakinan yang kita anut.” Barra menjelaskan,
“Tidak kak.., Gwen hanya akan melihat-lihat saja koleksi pernik-pernik di dalamnya. Setelah itu, Gwen tertarik untuk kembali bermain snow boarding. Apalagi kata kak Barra, ada papan seluncur yang ditarik oleh rusa sungguhan, sepertinya menarik. Gwen akan mencobanya kak..” Gwen tidak tertarik dengan atraksi menghias pohon natal, tetapi lebih menyukai aktivitas out doornya.
Tapi jika hanya sekedar ingin tahu saja, gadis itu masih ingin melihatnya. Paling tidak ada pengalaman yang bisa diperolehnya di tempat ini.
“Ga pa pa honey…, apalagi kalau menjelang Natal di bulan Desember honey.. Tempat itu sangat ramai sekali, bahkan Santa Claus benar-benar memberikan kado pada pengunjung, sesuai dengan pesan yang dituliskan, dan dikirimkan ke kampung ini..” Barra lanjut bercerita.
“Woww… berarti banyak sekali uang yang berputar di tempat ini. Dari mana tempat ini bisa mendapatkan dana sebesar itu ya kak, karena Gwen pernah mendengar, ada pengunjung yang meminta mobil sungguhan, dan akhirnya permintaan itu menjadi kenyataan.” Gwen tampak tertarik mendengar cerita tentang kampung ini.
“Jangan salah honey… banyak perusahaan yang diminta dana corporate social responsibility yang tidak sedikit. Perusahaan kita juga sama. Tapi rasanya sangat menyenangkan, bisa ikut berpartisipasi, ikut berbagi kebahagiaan dengan sesama, Jika di negara kita, Ketika Hari Raya Idul Fitri, bagaimana banyak orang mendapatkan kebahagiaan karena banyak pula yang berbagi.” Lanjut Barra.
Di depan bangunan, tampak patung salju yang berhiaskan ornament Natal, dan pohon cemara kecil berdiri di depannya. Barra merangkul pinggang Gwen, dan mengajak gadis itu untuk masuk ke dalam bangunan. Begitu mereka sudah berada di dalam bangunan, Gwen merasa seperti masuk ke dalam cerita dongeng. Meskipun ornament dan hiasan di dalam bangunan itu cocok untuk anak kecil, namun Gwen juga menyukainya. Tampak di atas kursi besar, seorang Santa Claus duduk dan tersenyum menyambut kedatangan pasangan suami istri itu.
__ADS_1
“Honey… cobalah, sepertinya ini lucu..” tiba-tiba Barra memasangkan topi khas Natal berwarna merah dan putih ke kepala Gwen.
“Hempphh… lucu sih kak, tapi tidak usah aneh-aneh ya kak. Gwen merasa agak kurang nyaman saja, dengan hiasan ini..” takut suaranya terdengar di telinga pengunjung yang lain, Gwen berbisik di telinga suaminya.
“Okay… okay, kita keluar saja dari tempat ini yah...” merasa istrinya sedikit kurang nyaman berada di dalam bangunan, dengan sabar akhirnya Barra mengajak gwen keluar lagi.
Tetapi baru beberapa Langkah, Ketika pasangan suami istri itu mendekati pintu, terlihat Andy, Aldo dan juga Asep akan memasuki bangunan tersebut. Gwen merasa kaget, begitu juga dengan Barra, keduanya saling berpandangan. Namun tiba-tiba…
“Andy.., apakah ini kesengajaan, kamu dan dua sahabat Gwen sengaja membuntuti kami dengan ikut datang ke Lapland..?” dengan tatapan tajam, Barra bertanya pada adik sepupunya. Tiba-tiba saja perasaan tidak nyaman akan sikap Andy pada istrinya, kembali mengganggu Barra.
„Apa-apaan sih kak Barra ini… Bukankah Lapland ini tempat umum, siapapun yang berkunjung ke Finlandia punya hak untuk datang kesini. Ingat kak Barra.., Aldo dan Asep itu baru kali ini berkesempatan untuk datang ke negara ini. Saat ini sudah akan menjelang akhir bulan Maret, dan untuk bisa menikmati Aurora masih harus menunggu di bulan September, Oktober. Tidak salah bukan, jika kami bertiga akhirnya melakukan travelling ke tempat ini..” penjelasan Andy bisa diterima oleh Gwen. Namun Barra tetap curiga dengan maksud kedatangan ketiga anak muda itu.
“Kak Barra.. sudahlah, biar saja jika Andy punya niat seperti itu. Kita malah bisa jalan bareng, tapi terserah mereka bertiga juga. Kalau mereka masih mau lihat-lihat ke dalam rumah Santa, biarkan saja. Kita lanjutkan saja rencana kita..” agar keributan mereka tidak mengganggu pengunjung yang lain, Gwen menarik tangan Barra dan mengajaknya keluar.
Di depan tiga anak muda itu, Barra menunjukkan kepemilikannya terhadap Gwen. Laki-laki itu melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu. Wajah Andy terlihat merah padam menahan marah, dan hal itu tidak bisa disembunyikan dari Aldo dan Asep. Tapi lagi-lagi, dua anak mud aitu bersikap tidak peduli terhadap perubahan wajah Andy.
“Asep.. aku tidak mengira, ternyata Gwen bisa bersikap semanis itu pada suaminya. Gwen yang kita kenal sejak dulu, sudah sangat berubah jauh dari semua sikapnya. Anak itu bisa menjadi lebih penurut di depan suaminya, begitupun juga suaminya sangat memperhatikan gadis itu.” Tanpa sadar, Aldo berucap pada Asep.
__ADS_1
„Benar Aldo.. aku juga merasakannya. Keintiman pasangan suami istri itu, jujur membuatku iri.” Asep menanggapi.
Dua anak muda itu masih mengabaikan keberadaan dan perasaan Andy, keduanya malah ikut keluar dari bangunan rumah Santa. Menyadari kedua teman yang datang bersamanya berjalan keluar, Andy mengejar dua anak mud aitu.
“Aldo… Asep, kenapa kalian berdua meninggalkanku..” Andy berteriak memanggil dua anak muda itu.
Aldo tidak menjawab panggilan itu, hanya Asep yang menoleh ke belakang, dan menggunakan tangannya anak muda itu mengajak Andy. Dengan bersungut, akhirnya Andy mengikuti Aldo dan Asep berjalan menyusul Barra dan Gwen.
********
Beberapa Saat Kemudian…
Barra memanggil kereta salju yang bisa memuat lima orang penumpang, dan satu orang sais yang akan membantu mengemudikan kereta tersebut. Tampak enam ekor rusa yang menarik kereta tersebut, dan Barra memandang hal itu akan menjadi cukup kuat, jika digunakan untuk menarik kereta yang akan berisikan enam orang,
“Kita naik honey…” Barra mengulurkan tangan membantu Gwen duduk. Mereka duduk di kursi tengah.
“Naiklah kalian, agar kereta segera berangkat..” Gwen bersuara memberi tahu ketiga anak muda itu agar segera naik.
__ADS_1
Tanpa bicara apapun, Aldo dan Asep segera menempati tempat duduk di belakang Barra dan Gwen, dan tinggal satu kursi tersisa bersebelahan dengan sais. Dengan bersungut, akhirnya Andy naik dan duduk di sebelah sais tersebut.
***********