
Di tempat lain,
Begitu menerima chat yang dikirim Gwen kepadanya, Jacqluinne tampak terdiam. Perempuan itu tidak beranjak dari posisi duduk terakhir, masih mengusap wajah mamanya yang sudah sangat jauh menua. Ada rasa sesak memenuhi rongga dada perempuan itu, namun Jacqluinne sendiri tidak bisa melampiaskannya, Setelah sekian lama pergi dari Indonesia, lebih dari sepuluh tahun, Jacqluinne lebih menutup diri. Perempuan itu menutup akses komunikasi dengan keluarga besarnya. Dan saat ini, wajah mamanya yang sudah tua, terlihat jelas dalam satu frame yang dikirimkan Gwen.
“Mama… betapa egois dan jahatnya aku pada mama... Sampai sejauh ini, Jacqluinne tidak pernah sekalipun bertanya bagaimana kabar mama, maupun anggota keluarga lain di Jakarta.” Jacqluinne mulai mengeluarkan isak tangis.
Apalagi ketika dalam chat, Gwen mengatakan jika papanya sudah lebih dulu meninggalkan mamanya sendirian. Rasa rindu, dan ingin menebus kesalahan sangat membuncah dalam dada perempuan itu. Beberapa saat, Jacqluinne mengeluarkan kesedihan dan kegundahan dengan menangis sendiri.
“Sayang… kenapa kamu menangis sendiri di balkon seperti ini…? Apa yang membuatmu bersedih dan gundah..” tiba-tiba suara Andy di belakangnya, sangat mengejutkan perempuan itu.
Menggunakan ujung cardigan yang dikenakannya, Jacqluinne mengusap air mata yang masih menggenangi di pelupuk matanya. Setelah memastikan air mata sudah menghilang, barulah Jacqluinne membalikkan badan, dan mencoba tersenyum pada suaminya Andy.
“Maaf Andy… aku tidak menunggumu datang. Dimana Mike…, kenapa anak itu juga tidak mencariku kemari..” Jacqluinne berusaha mengalihkan focus pembicaraan.
Namun Andy tidak semudah itu dibohongi. Anak muda itu malah berjalan mendekati istrinya, dan melirik ke tangan Jacqluinne yang tampak menyembunyikan ponsel di tangannya. Mata laki-laki itu tampak memicing, kemudian…
“Bisakah kamu perlihatkan ponselmu padaku sebentar saja sayang.., aku hanya ingin melihatnya sebentar saja…” merasa jika ponsel itu yang menjadi penyebab kesedihan istrinya, Andy mencoba untuk mencari tahu.
Spontan Jacqluinne terlihat gugup, antara memberikan ponsel pada suaminya, atau menyembunyikan apa yang suaminya tabu untuk mengetahuinya. Beberapa saat Andy terlihat menunggu, sampai akhirnya..
“Sudahlah sayang…, jika memang aku suamimu tidak kamu perbolehkan untuk melihat ponselmu, lupakan saja. Kita keluar saja untuk menemui Mike, anak itu menunggu kita di ruang tengah…” Andy tidak mengejar rasa ingin tahunya. Laki-laki muda itu berpikir, jika sudah saatnya pasti istrinya akan memberi tahu apa yang menjadi masalahnya.
__ADS_1
“Andy… maafkan aku!! Bukan maksudku untuk berbohong dan main rahasia denganmu… Hanya saja, kali ini aku merasa sangat sedih, karena teringat dengan mamaku Andy..” menyadari jika suaminya merahasiakan dari rasa ingin tahunya, akhirnya Jacqluinne mendekat kepada Andy. Perempuan itu tanpa bicara menyerahkan ponselnya kepada suaminya. Andy melihat ke wajah istrinya, dan sejenak mereka beradu pandang, namun akhirnya Andy mengambil juga ponsel yang ada di tangan Jacqluinne.
Jacqluinne terdiam sambil mengamati perubahan sikap pada suaminya, namun terlihat sikap Andy datar saja. Tidak terlihat ada gejolak ekspresi perasaan Ketika menggulir pesan demi pesan yang dikirimkan oleh Gwen pada istrinya. Padahal Jacqluinne sudah berdegup keras, membayangkan jika suaminya akan menunjukkan reaksi keras.
“Kita keluar dulu untuk menemani Mike sekarang Jacqluinne.. Kita akan atur waktu beberapa hari ke depan, aku akan membawamu dan Mike untuk bertemu dengan mama Ayun di Indonesia. Aku akan bersimpuh di kaki perempuan paruh baya itu, karena telah memberinya cucu tanpa restu dan ijin darinya.” Kalimat terakhir yang diucapkan Andy, sangat mengejutkan Jacqluinne.
Perempuan itu menatap ke wajah suaminya seakan tidak percaya, namun Andy hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, seakan membenarkan apa yang dikatakan padanya. Akhirnya Jacqluinne mendekati Andy, dan memeluk tubuh suaminya dengan erat, kemudian keduanya segera berjalan keluar untuk menemani buah hati mereka.
**********
Beberapa hari sesudahnya, dengan wajah bersinar Jacqluinne dan Mike berjalan dengan suaminya di Vantaa Helsinki International Airport. Ternyata Andy tidak main main dengan janjinya pada Jacqluinne. Tidak sampai menunggu berminggu-minggu dari terakhir kali berbincang dengan istrinya, laki-laki itu sudah mengurus semua perlengkapan, dan sampai tiket keberangkatan mereka menuju Indonesia. Laki-laki itu memilih penerbangan komersil, karena merasa kurang cukup dana jika harus mengurus penerbangan private. Namun hal itu, sudah membuat hati istrinya Jacqluinne sangat Bahagia, karena mimpi untuk bisa bertemu dengan mama Ayun di Jakarta, sebentar lagi akan terkabulkan,
Andy tersenyum, kemudian mengusap kepala putranya.
“Tidak akan sampai tiga puluh menit lagi jagoan papa, karena jadwal penerbangan kita pada pukul 10.55 a.m. Sekarang jarum jam masih di angka 10.20 a.m, tidak akan lama lagi..” dengan sabar Andy menjelaskan.
“Apakah putra mama sudah tidak sabar ingin segera terbang sayang..?” Jacqluinne ikut menyahut.
“He.. he.. he.., Mike ingin segera bertemu dengan Oma… Mommy. Pasti Oma akan kaget ketika bertemu dengan Mike nantinya..” ternyata anak kecil itu sudah membayangkan bagaimana pertemuannya nanti dengan Oma Ayun.
“Benar sayang… Oma pasti akan sangat terkejut melihatmu sudah tinggi besar. Dan pastinya Oma juga akan senang, bisa melihat cucu laki-lakinya yang tampan sepertimu..” Jacqluinne membesarkan hati putranya.
__ADS_1
Andy tersenyum mendengar komunikasi antara istri dan putra laki-lakinya. Laki-laki itu merengkuh bahu Jacqluinne, dan bertiga mereka berpelukan erat. Tiba-tiba terdengar suara announcent yang memberi informasi, jika pesawat yang akan mereka naiki sudah diperbolehkan untuk boarding.
“Kita harus segera masuk ke pesawat sayang… Bersiaplah..” Andy melepaskan pelukan pada istri dan putra laki-lakinya. Dengan sigap, Andy segera mengambil dua tas kabin kemudian segera menggandeng tangan Mike, dan mengajaknya segera beranjak dari tempat tersebut,
Jacqluinne tersenyum Bahagia, dan perempuan itu segera berjalan disamping kanan putranya. Terlihat dari belakang, keluarga kecil dengan satu putra tampak berjalan beriringan, dan senyuman tidak pernah lepas dari bibir mereka.
“Selamat pagi, mohon untuk menunjukkan tiket pesawat dan passport serta visa untuk penerbangan internasional…” di depan gate, tampak petugas bandara memeriksa kelengkapan masing-masing penumpang.
Dengan cepat Andy, mengeluarkan ponsel, kemudian menunjukkan e boarding pass, dan juga e passport serta e visa untuk perjalanan menuju ke Indonesia.
“Okay… that rights… silakan perhatikan putra anda, Jangan sampai tersesat, dan selamat menikmati perjalanan..” dengan ramah, petugas bandara mempersilakan Andy beserta istri dan putranya, untuk masuk ke dalam pesawat.
Jacqluinne menggandeng tangan Mike masuk ke pesawat lebih dulu, barulah Andy mengikuti di belakangnya. Untung kursi mereka ada di barisan depan, tiga baris dari depan, sehingga mereka tidak perlu bersusah payah untuk masuk ke dalam.
“Mike mau duduk di tengah, atau mau duduk dekat jendela sayang..” sebelum masuk, Jacqluinne bertanya pada putranya.
“Pinggir saja mommy, biar nanti papa bisa lebih dekat dengan mommy..” dengan polosnya, Mike langsung masuk di barisan kursi, kemudian duduk di dekat jendela.
Jacqluinne dan Andy saling berpandangan dan tersenyum, kemudian perempuan itu masuk ke dalam mengikuti putranya. Barulah Andy duduk di pinggir sendiri, dengan Jacqluinne duduk di kursi tengah.
***********
__ADS_1