
Java Horizon Ltd
Andrew dan Barra terlihat sedang berdiskusi di ruang kerja Barra. Tampak dua perempuan cantik ikut bergabung bersama dengan mereka. Sangat terlihat dengan jelas, jika dua perempuan itu tampak tertarik pada dua laki-laki dewasa itu. Hal itu bisa terlihat dari sikap dan pandangan mata keduanya yang tampak berbinar menatap Andrew dan Barra.
“Berarti ada dua kota ya yang ada di negara ini yang sedikitpun belum ada merchant kantor distributor produk perusahaan ini. Kota Alavus dan Anjalankoski ..” sambil mengamati map yang ada di layer gadgetnya, Barra berbicara,
“Benar yang kamu katakan Barra..., dua kota itu memang agak unik. Sangat sulit untuk pendatang baru masuk ke wilayah kota tersebut. Kepala District mereka agak keras, dengan alasan untuk melindungi perusahaan asli dari kota tersebut..” perempuan bernama Stephanie menimpali.
“Iya Barra.. aku sendiri pernah memimpin tim riset untuk mencoba ekspansi ke kota tersebut. Tapi belum sampai ada aktivitas apapun, hotel tempat kami menginap sudah didatangi oleh perangkat kota itu.” Fiona ikut menambahkan.
Kedua laki-laki dewasa itu tampak berpikir serius, dan terlihat Andrew membuat coret-coretan di atas kertas kuarto yang ada di depannya. Beberapa saat kemudian...
„Atau kita coba melakukan journey ke kota itu Barra.. Kita join dengan masyarakat setempat, untuk melakukan blind test tentang produk perusahaanmu. Selain itu, bisa mulai dengan approach beberapa pejabat yang ada di kota tersebut, Lagian kamu dekat dengan beberapa pejabat yang ada di pusat Helsinki kan, kenapa tidak kamu mencoba untuk memanfaatkan orang-orang itu…” Andrew memberi saran,
“Benar juga pendapatmu Andrew… aku memang belum berpikir terlalu serius untuk bisa menguasai pangsa pasar di dua kota itu. Karena aku hanya berpikir, jika profit dari beberapa kota di negara ini, juga dari ekspor ke negara lain, sudah melampaui standar minimal keuntungan yang perusahaan ini harapkan..” sambil menghela nafas panjang, Barra menanggapi saran dari sahabatnya itu.
Perempuan bernama Stephanie itu bergeser dan duduk di samping Barra. Laki-laki itu seperti tidak menyadari, tetapi Andrew menatap ke arah suami dari keponakannya itu dengan peringatan. Namun belum sempat Andrew berbicara untuk mengingatkan Barra dengan kata-kata, Fiona juga bergeser mendekatinya. Perempuan itu malah sangat dekat sekali jaraknya dari tempat duduknya.
„Aku ada ide nih And... Barra.. Bagaimana jika kita berempat turun ke dua kota itu, kita bisa discuss dan berkolaborasi nantinya. Aku yakin, dengan empat kekuatan kita jadikan satu, kita akan punya kapabilitas yang lebih. Dibandingkan jika hanya Barra yang datang ke kota itu, meskipun ditemani oleh tim dari perusahaan ini..” Fiona membuat sebuah usulan,
__ADS_1
„Hempphh... menarik juga nih usulan Fiona.. Aku juga agree, kapan kita akan eksekusi.. Pokoknya untuk Barra, apapun akan aku lakukan deh..” Stephanie menimpali.
Barra tersenyum, laki-laki itu menggerakkan posisi duduknya agak ke depan. Rupanya laki-laki itu akan mengambil botol wine dan sloki yang ada di atas meja. Dengan sigap tangan Stephanie meraih sloki Barra, kemudian gadis itu menuangkan wine ke dalamnya. Sebelum menyerahkan sloki ke tangan Barra, tanpa sungkan gadis itu menyesap lebih dulu anggur dalam sloki tersebut.
“Okay.. okay…, nanti akan aku pikirkan. Kapan kita akan bersama-sama melakukan safari ke dua kota itu. Andrew masih lama kan berada di Finlandia..” Barra bertanya pada sahabatnya itu,
„Ga lama sepertinya Barra... aku takut mengganggu bulan madumu dengan istrimu..” secara sarkasme, Andrew mengingatkan status dari sahabatnya.
Mendengar kata-kata Andrew, Stephanie merasa terkejut. Perempuan itu melihat ke arah barra, dan seperti minta penjelasan dari laki-laki itu.
“Apakah benar yang dikatakan Andrew… kamu sudah memiliki istri Barra..?” Stephanie bertanya dengan reaksi seperti tidak percaya. Ada kekecewaan tersirat di mata perempuan itu,
Fiona juga merasa terkejut, jadilah dua perempuan itu melihat ke arah Barra. Andrew hanya senyum-senyum melihat sahabatnya itu seperti dihakimi oleh kedua perempuan itu. Barra menjadi salah tingkah, tapi akhirnya laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
**********
“Selamat datang Nyonya Santa.. apakah nyonya akan bertemu dengan Tuan Barra…” petugas di customer service segera ikut menyambut kedatangan dua orang itu.
“Iya.. tuan Barra ada di ruangan bukan.. Kamu tidak perlu mengantarku ke atas, kami akan naik sendiri ke atas..” Nyonya Santa segera menjawab pertanyaan perempuan itu.
__ADS_1
“Ada Nyonya… tetapi sepertinya tuan Barra sedang tidak bisa diganggu. Tadi tuan Barra sedang melakukan meeting dengan tim kecil dalam ruangan beliau. Jadi.. sepertinya Nyonya Santa harus menunggu dulu di ruang transit sampai acara meeting tuan Barra selesai,” dengan hati-hati, customer service mencoba menahan perempuan paruh baya itu.
Sedangkan karena para karyawan di perusahaan ini, belum tahu jika atasan mereka sudah memiliki seorang istri, mereka mengacuhkan keberadaan Gwen,. Meskipun mereka merasa kagum dengan penampilan dan kecantikan gadis itu, namun hal itu mereka abaikan dengan adanya mama dari orang nomor satu dalam perusahaan,
“Kamu berani untuk melarangku menemui Barra putraku...” dengan nada sinis Nyonya Santa bertanya pada perempuan itu.
„Saya tidak berani Nyonya Santa... hanya saja sekretaris sudah berpesan untuk tidak mengijinkan siapapun datang ke ruang kerja tuan Barra,.” Dengan penuh ketakutan, karyawan itu memberikan tanggapan.
„Ayolah Gwen... abaikan saja peringatan itu. Mama yakin, Barra tidak akan mungkin marah kepadamu sayang..” nyonya Santai mengabaikan peringatan itu. Perempuan paruh baya itu segera menarik tangan Gwen, kemudian mengajak gadis itu menuju ke pintu lift.
Beberapa karyawan yang ada di lantai satu saling berpandangan, dan mereka akhirnya tidak berani melarang keduanya naik ke atas. Mereka siap untuk mendapatkan teguran dari atasan mereka. Sedangkan Nyonya Santa dan Gwen segera keluar dari dalam lift, begitu pintu lift terbuka di lantai yang mereka tuju.
“Mam… bukankah tadi karyawan sudah mengingatkan kita untuk tidak mengganggu kak Barra mam..” Gwen mencoba mengingatkan mama mertuanya.
“Tenanglah Gwen… Barra tidak akan bisa mengabaikan keberadaan kita di perusahaan. Jangankan hanya meeting, jikapun kamu minta semua asset perusahaan, anak itu harus memberikan kepadamu. Ikuti mama sayang…” sepertinya perempuan paruh baya itu tidak mau mendengarkan ucapan Gwen.
Gadis akhirnya diam dan hanya menghela nafas, dan Ketika terlihat sekretaris putranya akan mencegat keduanya, tatapan tajam dari Nyonya Santa menjadikan perempuan itu mengurungkan niatnya.
“Selamat datang ke perusahaan Nyonya Santa…” sambil tersenyum kecut, sekretaris itu mengucapkan salam pada perempuan paruh baya itu.
__ADS_1
Tanpa menjawab, Nyonya Santa sambil menggandeng tangan Gwen langsung mendorong pintu ruang kerja putranya.
************