
Beberapa saat setelah Hans menikmati minuman dan camilan seadanya, laki-laki itu dan Gwen saling berpandangan sejenak.
“Hans.. tidak mungkin bukan, jika kamu mendadak datang ke rumahku. Padahal belum pernah sekalipun aku memberi tahumu dimana tempat tinggalku..” setelah melihat tamunya selesai menikmati apa yang disajikan, Gwen mulai bertanya.
“Hempphh… benar katamu Gwen. Jujur saja, aku bored di negara tempat tinggalku. Papa tidak memberiku kebebasan, sehingga aku gabut. Meskipun aku diijinkan mendirikan dan mengelola sendiri perusahaan desain interior, tetapi papa terlalu turut campur Gwen..” akhirnya perlahan Hans menceritakan alasan kedatangannya.
Gwen mengambil nafas beberapa saat. Kemudian perempuan itu tersenyum dan beradu pandang dengan Hans di depannya.
“Jangan pernah berprasangka buruk dengan orang tua Hans.. Mungkin ada maksud, atau kekhawatiran dari papamu, sehingga beliau turut campur untuk mengarahkanmu, Kita saja yang terkadang terlambat dalam menangkap makna yang beliau inginkan.. Bersabarlah, dimanapun seorang papa akan seperti itu..” Gwen berusaha bersikap netral.
Ditinggalkan sejak kecil oleh papa dan mamanya, membuat Gwen memang lebih menghargai kebersamaan sekecil apapun dengan orang tua. Jadi, jika ada orang yang berkeluh kesah tentang sikap kedua orang tuanya, Gwen selalu memposisikan diri dengan keinginannya.
“Benar katamu Gwen… tetapi aku juga ingin dianggap sebagai laki-laki dewasa Gwen.. bukan seperti anak kecil, padahal kita ini sudah lulus kuliah lho..” Hans masih tampak berapi-api.
Menurut pandangan Gwen, Hans memang terkadang masih bersikap seperti anak kecil, yang mungkin disebabkan oleh pola asuh dari kedua orang tuanya. Hal itu bisa dimaklumi, karena sebagai seorang anak tunggal, mungkin kedua orang tuanya masih sangat menganggapnya sebagai seorang bocah. Tapi hal itu masih bisa ditolerir.
‘Iya.. iya.. I know you so well Hans.. Kita out of topic saja ya.., kasihan Uncle dan aunty jika jantungnya berdegup, karena kita bicarakan disini. Kamu datang kesini, pasti karena rekomendasi dari Cynthia ya..” sambil senyum senyum, Gwen menebak kedatangan laki-laki itu ke rumahnya.
„He.. he.. he.., semua benar Gwen. Kemarin sore, Cynthia menelpon dan memberi tahu padaku tentang rencanamu untuk membuka kantor work shop. Yah… dengan alasan untuk berpisah dengan kedua orang tuaku, pagi ini aku langsung terbang kemari Gwen..” tidak ada yang ditutupi, Hans langsung mengaku.
__ADS_1
Gwen tersenyum, dan geleng geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya itu.
“Tapi Hans.. kamu bukanlah anak kecil lagi guys... Apalagi kamu anak tunggal, kemanapun kamu pergi harus minta ijin, dan memberi tahu pada kedua orang tuamu. Setelah kamu memiliki anak nantinya, aku yakin kamu akan memahami kata-kataku.” Tidak mau ada konflik berkepanjangan antara laki-laki di depannya itu dengan kedua orang tuanya, Gwen terus memberikan nasehat.
„Iya Gwen sayang... tapi aku belum mendapatkan kepastian. Apakah kamu menerimaku untuk bergabung dalam perusahaanmu Gwen, sebagai karyawan aku juga mau kok..?? Setelah kamu okay, aku akan pastikan jika papa dan mama akan memberiku ijin untuk bersamamu di negara ini..” ternyata Hans masih menganggap ramah ijin dari orang tuanya.
Mommy Bareeq dan Tareeq malah menjadi bingung dengan sikap sahabatnya yang terkesan kanak kanakan itu. Namun tidak ada yang bisa dilakukannya, karena Gwen juga membutuhkan Hans untuk memperkuat jajaran tim ahli dalam bisnisnya. Akhirnya perempuan itu hanya bisa menghela nafas..
„Hemppphh... terserah apa yang kamu katakan deh Hans.. Aku tidak akan menganggapmu sebagai karyawan, demikian juga dengan Cynthia. Aku akan memperlakukan kalian berdua sebagai partner team, dengan profit sharing yang jelas. Dan yang perlu kamu pahami Hans, usahaku sudah jalan dengan layanan secara online, dan aku katakan masih tahapan start up. Untuk itu, mungkin profit sharing yang nantinya aku bagi, belum memenuhi standarmu.” Gwen mengatakan di awal. Perempuan itu tidak mau, terjadi konflik internal di kemudian hari, karena alasan profit sharing.
“Yakin padaku Gwen… asalkan kita bisa bergabung kembali, aku tidak begitu peduli dengan tawaran salary..” untungnya baik Cynthia dan Hans, memang punya relationship yang bagus dengan Gwen. Tanpa banyak permintaan, Hans langsung menyetujui apa yang diutarakan oleh sahabatnya itu. Gwen tersenyum bahagia, karena merasa jika keinginannya diperlancar. Tanpa banyak bekerja, tim baru sudah terbentuk dengan mudah,
*********
Setelah Barra mengetahui siapa laki-laki yang berkunjung ke rumahnya, dan juga mengetahui maksud kedatangannya, Barra mengatur hotel untuk menginap laki-laki itu. Hans menolak, tetapi Barra tetap memaksa. Di malam hari, Barra bahkan mengatur dinner time dengan Hans dan juga mengundang Cynthia dan Asep untuk bergabung. Bahkan untuk menghargai Aldo, Barra juga mengundangnya dengan adik kandungnya.
“Terima kasih papa… ternyata papa selalu support semua keinginan Gwen..” dengan mata berkaca kaca, Gwen berterima kasih pada suaminya.
Tanpa meminta pada suaminya, ternyata Barra sudah memberikan hadiah untuk istrinya. Barra memahami kesibukan istrinya, selain mengasuh ketiga buah hati mereka, juga menyelesaikan pekerjaan mereka yang banyak. Sehingga Gwen tidak memiliki waktu untuk bergabung dalam circle pertemanan, dengan orang lain.
__ADS_1
“Tidak perlu seperti itu honey.., semua ini layak untukmu. Sebagai seorang suami sudah tugasku bukan, untuk mencoba memahami dan menyenangkan hati istrinya..” Barra mengerling dan memberikan ciuman di kening Gwen.
“Iya pa… tetapi semua ini masih terlalu amazing untuk Gwen. Dalam sekejap, Gwen sudah dikelilingi oleh orang-orang yang baik, dan selalu well come untuk keberhasilanku..” Gwen tetap menatap suaminya dengan penuh rasa terima kasih.
“Semua layak untukmu honey… ANggap saja semua adalah karma baik, atas semua perilaku baikmu di masa lalu honey. Tidak perlu berpikir terlalu jauh tentang hal ini, kita berdua adalah support system.” Barra selalu merendah di hadapan istrinya.
Gwen tersenyum, dan tidak diduga, perempuan itu menjinjitkan kedua kakinya, dan tanpa kata memberikan ciuman singkat di bibir suaminya. Barra terkejut dengan sikap impulsive istrinya, namun Ketika laki-laki itu tersadar untuk membalas ciuman itu, Gwen sudah menjauh darinya.
“Hempphh… honey curang. Okaylah untuk permulaan, warming up… Bersiaplah, pasti Tareeq dan Bareeq juga sudah selesai bersiap. Kita harus segera menuju ke restaurant, untuk melakukan dinner bareng dengan keluarga kita honey..” sambil melihat jarum di jam tangannya, Barra akhirnya mengajan Gwen untuk segera Bersiap.
Perempuan itu menganggukkan kepala, dan tidak lama kemudian tangan Barra sudah merangkul pinggang perempuan itu. Pasangan suami istri itu segera keluar dari dalam kamar untuk menuju ke ruang tengah. Persis dengan yang dikatakan Barra, ternyata putra mereka, Bareeq dan Tareeq sudah siap untuk berangkat. Dan karena usia, pasangan suami istri itu memang sengaja tidak membawa Sheen ikut bersama mereka.
“Papa.., mommy.., kita sudah siap untuk berangkat sejak tadi..” Tareeq memberi tahu pada kedua orang tuanya.
„Good job sayang, kita langsung ke mobil yukk, keburu malam..” Gwen segera mengulurkan tangan, dan kedua bocah itu segera menggandeng tangan mommy nya.
Ke empat orang itu segera berjalan menuju ke halaman depan. Smith sudah menyiapkan mobil SUV untuk mereka, dan Barra akan mengemudikan sendiri mobil tersebut.
*********
__ADS_1