Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 47 Kejutan Pagi


__ADS_3

Gwen segera meraih handuk kimono yang sudah disiapkan di dalam kamar mandi, dan segera mengenakan di tubuhnya. Karena panik, gadis itu tidak mengenakan apapun di dalamnya, dan langsung menuju ke arah pintu kemudian membuka pintu dari dalam. Gwen sesaat bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, karena Barra tiba-tiba merangsek masuk ke dalam kamar mandi, kemudian mendekap istrinya dengan erat. Sesaat gadis itu tersadar, karena merasa ada sesuatu yang keras mengenai pahanya, dan sontak Gwen berusaha mendorong tubuh Barra ke belakang. Namun... pelukan Barra semakin erat, dan perlahan menyudutkan tubuh Gwen ke dinding di belakangnya. Hembusan nafas hangat yang memburu dari hidung Barra mengenai leher Gwen, dan membuat tubuh gadis itu merinding.


"Kak... kak Barra sadarlah, apa yang kakak lakukan ini..." dengan jantung yang tiba-tiba berdegup kencang, Gwen memberanikan diri bertanya pada laki-laki itu.


"Tolong aku honey... biarkan sesaat saja aku memelukmu.." masih dengan suara serak yang membuat bulu kuduk berdiri, Barra berbisik di telinga istrinya. Tubuh Gwen seperti terkena magnet, sesaat tubuhnya seperti terkena aliran listrik, bingung dan tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Hanya tatapan panik ketakutan, dengan jantung berdebar yang sesaat dirasakan oleh Gwen.


Tiba-tiba tanpa aba-aba dan permisi, bibir Barra meraup bibir kenyal Gwen, dan kembali gadis itu tidak mampu melepaskan diri. Keterkejutan membuat bibir Gwen terbuka, dan dengan cepat lidah Barra masuk dan mengabsen setiap inchi mulutnya. Kaki Gwen terasa lemas, gadis itu seperti tidak punya tenaga, merasa shock dengan rasa baru yang tiba-tiba seakan datang dan menyerangnya tiba-tiba. Tangan Barra sudah tidak bisa dikondisikan, karena Gwen hanya mengenakan handuk kimono, dan tidak ada pakaian dalam, tangan laki-laki itu menerobos masuk ke dalam kimono itu.


"Hentikan kak... stop it...!" Gwen merintih, mencoba menghentikan tindakan suaminya yang semakin berani. Kembali dengan lemah, karena rasa gugup atas keberingasan suaminya Gwen berusaha mendorong dada Barra. Perlahan air mata mulai mengalir dari pelupuk mata gadis itu, dan sesaat sepertinya Barra menjadi tersadar.


"Maafkan aku honey... aku kebawa perasaan. Keluarlah segera, jangan sampai hasratku melampaui akal sehatku.." dengan suara berat dan serak, akhirnya Barra masih dengan nafas terburu mendorong istrinya, dan satu tangannya memutar handle pintu. Dengan penuh ketakutan, Gwen berlari keluar dari dalam kamar mandi.


Barra tersenyum pahit, dan melihat masih ada genangan air di bath up, laki-laki itu langsung masuk ke dalamnya, dan berendam beberapa saat. Sambil berendam, laki-laki itu senyum-senyum sendiri membayangkan apa yang baru saja dialaminya dengan Gwen. Dalam hati Barra merasa malu telah memperlakukan anak kecil dengan adegan seperti itu, tetapi dalam hatinya juga muncul dorongan untuk menuntut hak lebih pada istrinya,


"Maafkan aku Gwen... aku hampir kehilangan akal sehat. Meskipun apa yang aku lakukan tidak salah, dan membuatmu terkejut, tetapi aku tidak ingin memaksamu untuk melakukannya. Aku menghormatimu Gwen, dan ingin dengan suka rela kamu melayaniku tanpa paksaan.." sambil memijit kepala bagian depannya, Barra berbicara sendiri.

__ADS_1


Butuh beberapa saat agar Barra bisa kembali menenangkan dirinya. Laki-laki itu mematikan kran air hangat, dan menyalakan air dingin serta digunakannya untuk berendam. Hampir saja Barra tidak bisa menguasai hasrat manusia purba dari dalam dirinya, dan hampir menggunakan Gwen sebagai pelampiasan,


************


Setelah berganti baju dan menyiapkan semua perlengkapan, Gwen membawanya ke ruang tengah. Dari kejadian yang baru dialaminya bersama dengan suaminya, membuat gadis itu menjadi ketakutan tidak berani lagi masuk ke dalam kamar. Meskipun Gwen belum pernah melakukannya, tetapi dalam pelajaran Biologi, gadis itu pernah mempelajarinya, dan bisa mendeskripsikan apa yang terjadi pada suaminya tadi.


"Non... mau sarapan dulu, atau masih menunggu tuan muda Barra untuk sarapan...?" masih berdiri terbengong di samping sofa ruang tengah, Gwen dikejutkan dengan pertanyaan dari pembantu rumah tangganya.


"Sendiri saja bik.., kak Barra masih repot, padahal Gwen harus segera pergi ke sekolah. Persiapan ke Amerika Sabtu besok untuk ikut Olimpiade, sehingga Gwen harus menyelesaikan urusan perijinan dengan guru-guru yang lain Bik.." Gwen berusaha membuat alasan, dan melangkahkan kaki menuju ke arah dapur.


Bibik Darmi bergegas menuju ke ruang makan mendahului nona mudanya. Gwen berjalan santai mengikuti perempuan itu di belakangnya, kemudian duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh perempuan paruh baya itu. Tidak lama kemudian satu mug berisi teh manis panas, minuman kesukaan yang harus ada di setiap paginya sudah diletakkan Bibik Darmi di depannya.


"Baik non... sebentar lagi Bibik siapkan.."


Gwen mengambil gagang mug di depannya, kemudian perlahan mengangkat dan menyesap minuman tersebut dengan hati-hati, karena masih panas, Sambil menunggu nasi goreng disiapkan, Gwen mencomot tahu pong yang sudah tersaji di atas meja tersebut., Tidak lama kemudian Bibik Darmi sudah meletakkan piring berisi nasi goreng di depan Gwen, tapi perempuan paruh baya itu terlihat tersenyum dan menganggukkan kepala. Gwen belum menyadari hal itu.

__ADS_1


"Cup... selamat pagi honey..." tiba-tiba tanpa permisi, Barra memberikan kecupan di kening Gwen, dan sontak membuat gadis itu malu dan terbelalak. Di depan meja, terlihat bik Darmi tersenyum kemudian menyingkir dari ruang makan.


"Ppfftttt.... Bisa tidak sih kak... tidak main sosor seperti itu. Lihat-lihat tempat dong, ada orang juga disini.." merasa malu dan jengkel, Gwen membuat teguran pada suaminya,


"Ada orang, Bik Darmi ya...?? Mmmmphh... berarti jika tidak ada orang, aku bebas yang mencium istriku kapan saja. Okay berarti nanti aku tunggu di kamar ya honey... kita bisa lakukan ciuman hangat seperti pasangan suami istri lain..." dengan senyum smirk, Barra menggoda istrinya.


Mata Gwen melotot seperti mau keluar, dan tangan kanan gadis itu mencubit pinggang suaminya dengan sangat  keras....


"Aaaaawww.... sakit honey.." tidak diduga ternyata Barra membuat jeritan.


Dari arah dapur, Bibik Darmi berlari kembali menuju ke arah ruang makan. Perempuan paruh baya itu merasa panik, dan berlari menghampiri dua majikannya.


"Ada apa Tuan Muda.. apakah ada pecahan gelas atau piring yang melukai tuan muda..." dengan panik, Bibik Darmi bertanya pada tuan muda Barra.


"Lebay... sudah bik kembali ke dapur saja... ada pemain watak dalam rumah ini sekarang. Lebay... " sambil memanyunkan bibir, Gwen membuat sindiran, dan terlihat Barra senyum-senyum seperti tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


"Owalah... ya sudah, ya sudah... Bibik kembali ke dapur lagi saja. Bibik pikir ada kejadian yang tidak diinginkan di ruang makan, sampai bibik harus tinggalkan kompor.." sambil tersenyum, bibik Darmi berjalan meninggalkan pasangan suami istri muda itu.


************


__ADS_2