Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 7 Pembicaraan yang Mengejutkan


__ADS_3

Sepulang Sekolah


Aldo hanya melihati saja ketika Gwen naik ke atas motor Ducati yang dikendarai Om Andrew. Terhadap laki-laki dewasa itu, Aldo juga menaruh rasa hormat dan tidak berani bersikap kurang ajar di depannya. Ketika kedua tangan Gwen memeluk pinggang Om Andrew, Aldo hanya tersenyum pahit.


"Hemmph... harusnya tangan halus Gwen melingkar di pinggangku, buka di pinggang Om Andrew," Aldo berguman lirih. Apalagi ketika tangan Gwen melambai meninggalkannya, anak muda itu hanya membalasnya dengan malas.


"Pangeran tampanku masih ada disini ya, untung saja tidak ada Gwenn.. dan aku pulang sedikit terlambat. Jadi aku masih bisa menemani pangeran tampan di sekolah ini. Antarkan aku dong Ald.. aku kebetulan ga bawa mobil nih..." tiba-tiba terdengar suara Alana yang berjalan menghampiri Aldo,


Anak muda itu menoleh ke arah Alana, dan Aldo tersenyum malas melihat gadis itu. Teman sekelas Gwen itu termasuk gadis-gadis yang terlalu agresif mendekatinya, sehingga terkadang malah membuat anak muda itu muak.


"Apakah aplikasi Grabb belum terinstal di iPhone mu Lan... jika belum aku bisa kok bantu kamu pesankan grab ride untuk antar kamu pulang ke rumah." dengan nada yang agak tidak enak didengar, Aldo menanggapi permintaan Alana.


"Jangan gitulah Ald.. kenapa sih kamu selalu bersikap judes padaku ketika tidak ada Gwenn.. Jangan geer ya, aku tahu persis jika Gwen selama ini tidak pernah menganggapmu sebagai cowoknya, makanya sadar diri dong Ald.. jual mahal amat.." Alana bersikap berani pada laki-laki itu.


Tetapi diluar pertimbangannya, tiba-tiba saja tangan Aldo sudah berada dilehernya, dan seperti akan mencekik gadis itu. Beberapa teman mereka hanya melihat mereka dengan tatapan prihatin, tidak ada yang berani memberikan bantuan untuk menolong Alana.


"Kamu ingin menguji kesabaranku Lana.. Aku masih bisa, dan akan tega untuk mencekikmu, jika kamu berani bicara seperti itu lagi kepadaku. Ngaca dulu sana, apakah ada laki-laki di sekolah ini yang akan mau berteman denganmu. Jadi.. jangan suka berkomentar tentang diriku.." dengan kasar, Aldo kembali melepaskan cekalan tangannya di leher Alana, dan gadis itu terlihat pucat,.


"Berrrrr... broom.., broom.." tidak lama kemudian, Aldo menstarter motor Ducatinya, dan anak muda itu segera berlalu meninggalkan gerbang sekolah. Tinggallah Alana yang masih terlihat pucat, dan tidak menyangka jika Aldo akan berani melakukan hal itu pada dirinya.


**********


District 3 Park Avenue...

__ADS_1


Ketika motor Ducati yang dibawa Andrew masuk ke dalam gerbang rumah, Gwen melihat ada mobil Mercedes-Benz V-Class terparkir di halaman rumah, Di samping mobil itu, terlihat ada mobil sport Rolls-Royce warna kuning. Tetapi mengingat kedatangan kakek Chandra ke rumah itu, Gwen tidak begitu mengindahkannya.


"Masuk kamar, mandi dan ikut menemui tamu di depan Gwenn.. Jangan kecewakan Om dan kakek.." kata-kata Om Andrew seperti perintah untuk gadis itu.


"Hemmph.. baik Om.." sahut Gwen singkat, dan gadis itu segera masuk ke dalam rumah lewat pintu samping.


Namun ketika akan masuk pintu, tanpa sadar Gwen bertabrakan dengan laki-laki yang tampak sedang merokok di teras samping.


"Kenapa sih berdiri di tempat ini, lihat-lihat dong ada yang mau lewat.." dengan nada sedikit tinggi, Gwen berteriak.


Laki-laki itu menatap tajam dan memindai gadis yang sudah berani membentaknya itu. Terlihat gadis berseragam SMA, dengan back pack di belakang, dan sepatu Nike di kakinya. Gadis itu terlihat liar, dan sangat jauh dari kesan anggun dan beretika. Namun Gwen tidak mengacuhkannya, gadis itu segera masuk ke dalam rumah, dan langsung masuk ke kamarnya.


"Syukur alhamdulillah... akhirnya punggungku bisa merasakan empuknya king size bed di kamar.." tanpa melepas sepatu seperti biasanya, Gwen langsung menjatuhkan punggung di atas ranjangnya. Bahkan tas punggung hanya dilempar sembarangan, dan terjatuh di atas lantai. Perlahan Gwen langsung memejamkan mata, dan hal itu berlangsung hampir tiga puluh menit berlalu.


Gadis muda itu membuka matanya, dan ketika melihat Om Andrew berdiri di depannya, Gwen tersenyum dengan tatapan mata puppy eyes..


"Peace Om.. jangan marah, nanti cepat tua. Om Andrew belum menikah kan.. he.. he.." Gwen langsung beranjak dari atas ranjang dan langsung berlari meninggalkan Om nya.


Tinggallah Andrew yang hanya geleng-geleng kepala melihat sikap konyol keponakannya. Laki-laki itu kemudian mengambil tas sekolah Gwen yang tergeletak di atas lantai, kemudian meletakkannya di atas meja. Tidak lupa, Andrew juga merapikan sepatu Nike yang tercecer di lantai, kemudian keluar dari dalam kamar.


*********


Di ruang tamu

__ADS_1


Kakek Atmadja dan kakek Chandra tersenyum melihat kedatangan Gwen ke ruang tamu. Meskipun tanpa make up di wajahnya, tapi wajah Gwen terlihat cantik dan bersinar. Gadis itu segera menyalami kedua kakeknya, kemudian duduk di kursi yang ada di samping Om Andrew.


"Gwenn... kenapa kak Barra tidak kamu ajak salaman??? Yang lainnya sudah, sekarang kasih jabat tangan untuknya." dengan suara pelan, ANdrew mengingatkan keponakannya itu.


Gwen melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Om nya, dan betapa terkejutnya gadis itu, ketika melihat laki-laki yang hampir bertubrukan dengannya di teras samping itu yang memiliki nama Barra. Tapi Gwenn tidak berani menolak perintah dari Om nya, dengan malas Gwenn mendatangi Barra kemudian mengajak laki-laki itu berjabat tangan.


"He.. he.. he.., keponakanmu Andrew.. inikah Gwenn kecil putri kak Jack dulu." sambil menerima uluran tangan dari Gwenn, Barra tampak berkomentar.


"Benar Barra, ini keponakanku Gwenn putri kak Jacky dan kak Sophia." sahut Andrew lirih. Pertanyaan itu mengingatkan Andrew pada kakak kandung, dan juga kakak iparnya.


Tampak Gwen mengacuhkan, dan segera kembali ke tempat duduknya setelah berjabat tangan dengan Barra. Kedua laki-laki tua itu tampak saling berpandangan, kemudian tersenyum bersama. Beberapa saat kemudian,


"Baiklah Chandra.. semuanya sudah berkumpul, dan kita akan melanjutkan pembicaraan kita beberapa hari yang lalu. Saat ini sudah ada Barra, Gwen, dan juga Andrew yang langsung terbang dari Singapura ketika aku menyampaikan maksudku. Aku atau kamu dulu yang akan bicara Chan.." tiba-tiba kakek Atmadja memulai pembicaraan.


"Benar Madja... kita harus segera menyampaikan keinginan kita. Kamu saja yang menyampaikan pada anak-anak, aku hanya menambahkan saja." Chandra menanggapi,


Kakek Atmadja tersenyum, kemudian melihat satu persatu ke semua yang berada di dalam ruangan itu, kemudian..


"Nak Barra... Gwen, dan juga kamu Andrew.. Kalian mungkin bertanya-tanya, untuk apa kami berdua mengajak kalian untuk berkumpul di sore ini. Aku dan Chandra sudah berumur, dan tidak tahu akan sampai kapan umur kami di dunia ini. Tetapi sebelum kami berdua pergi, kami ingin mengumpulkan balung pisah dan menyatukan kembali." Atmadja melanjutkan kata-katanya, dan laki-laki itu mengambil nafas sebentar.


"Untuk itu, kami berdua memiliki keinginan mulia, untuk menyatukan putraku Barra, dengan cucu keluarga ini yaitu Gwen.. Kami akan menikahkan kalian berdua dalam waktu yang tidak lama..." kata-kata Chandra terakhir, yang menimpali ucapan kakek Atmadja sangat mengejutkan Barra dan Gwen.


"What.., apakah Gwen tidak salah dengar kek..?" dengan mata melotot, Gwen berteriak meminta penjelasan.

__ADS_1


*********


__ADS_2