Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 55 I love You Gwen...


__ADS_3

Tidak sampai tiga puluh menit perjalanan, Barra dan Gwen sudah sampai di bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta. Mereka diantarkan oleh sopir keluarga, dan menghentikan mobil tepat di depan kedatangan penumpangan non komersil, sehingga mereka tidak bergabung dengan para penumpang lainnya. Sebelum turun dari mobil, mata Gwen terbelalak melihat ada sinar lampu berkelip di teras bandara sisi barat.


“I love you Gwen,” membaca tulisan itu, Gwen terkesiap. Tetapi gadis itu menenangkan pikirannya, bisa jadi itu untuk Gwen yang lain, bukan untuknya. Atau bisa jadi, semua karena ulah Barra suaminya yang ingin memberikan kejutan untuknya. Gadis itu berusaha mengatur perasaan, dan nafasnya agar tetap tenang seperti tidak terjadi apapun.


“Semua sudah kamu bawa honey... semua perlengkapan kecilmu..?” dengan suara pelan dan penuh perhatian, Barra bertanya pada gadis itu.


Gwen tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala. Perlahan Barra membantu istrinya turun dari mobil, dengan memegang tangan gadis itu. Gwen tetap diam, membiarkan apa yang dilakukan suaminya, namun juga tidak menolak apa yang dilakukan oleh laki-laki itu. Sepertinya perlahan, gadis itu mencoba untuk berdamai dengan keadaan.


Pasangan suami istri mulai melangkahkan kaki menuju ke pintu masuk, dengan dua pengawal di belakang mereka.


Baru saja beberapa Langkah ke depan, mata Barra melihat tulisan ucapan cinta untuk istrinya. Laki-laki dewasa itu mengambil nafas dalam, kemudian menatap ke mata istrinya,


„Apa-apaan itu honey... siapa yang melakukannya? Apakah honey tahu…” telunjuk Barra menunjuk ke arah tulisan I love you Gwen… dengan pandangan penuh selidik. Mendapat tatapan curiga seperti itu, dalam hati gadis itu marah.


“Huh… apa maksud tatapan mata kak Barra pada Gwen seperti ini...? Apakah menjadi pihak yang salah kak, ketika ada tulisan seperti itu. Jangan ge er, tidak berarti ucapan itu ditujukan untuk Gwen bukan…” dengan santai, Gwen memberikan tanggapan, dan berjalan lebih cepat meninggalkan suaminya,


Barra juga mempercepat langkahnya, mengimbangi Langkah kaki istrinya. Laki-laki itu mengedarkan pandangan ke sekitar tempat itu, namun tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Akhirnya sambil menghirup nafas panjang, Barra segera merangkul istrinya dan membawanya masuk menuju ke ruang tunggu penerbangan non komersil. Meskipun dalam hati laki-laki itu merasa yakin, jika tulisan itu ditujukan untuk istrinya, namun Barra masih bersikap sabar.

__ADS_1


„Tuan muda... nona muda.., apakah akan ke ruang tunggu dulu, ataukah langsung menuju ke jet...” dari belakang, salah satu pengawal bertanya pada pasangan suami istri itu.,


„Cek dulu.. apakah jet siap untuk berangkat meninggalkan bandara ini. Jika semuanya sudah siap, tinggal take off, kita akan langsung menuju ke pesawat..” dengan tegas, Barra menjawab pertanyaan itu. Gwen tetap diam, tidak memberikan tanggapan apapun. Gadis itu belum bisa menahan detak jantungnya, yang tiba-tiba saja berdegup kencang.


“Siap tuan muda… akan saya cek dulu..” salah satu pengawal berjalan cepat meninggalkan tempat itu, sedangkan satu lainnya tetap berdiri di belakang pasangan suami istri itu mengawasi keadaan.


Beberapa saat terdiam  di depan pintu masuk, dan baru saja Barra akan mengajak istrinya masuk ke ruang tunggu, terlihat di depan mereka ada tiga anak muda berjalan mendatangi mereka. Sebuah buket mawar merah besar, dipadu dengan warna pink membingkai ucapan kata cinta. Gwen terkejut tidak bisa berkata apa-apa melihat ketiga teman sekelasnya itu berdiri di depan mereka.


“Hey… apa-apaan ini…?” tidak diduga, disamping Gwen, Barra berteriak dengan nada keras. Laki-laki dewasa itu melepaskan pegangan pada istrinya, kemudian berjalan  mendatangi Aldo, Raffi dan Asep. Dari belakang, Gwen masih berdiri terpaku, dan merasa tidak percaya melihat ketiga sahabatnya itu. Tiba-tiba saja, Gwen menjadi speechless.


“Maaf mas Barra… kami tidak ada urusan dengan anda. Aldo ada keperluan dengan Gwen…” tiba-tiba Asep menghadang Barra, dan menghentikan laki-laki itu yang akan mendatangi Aldo.


“Gwen…. Terimalah buket mawar ini dariku, aku yang memilihnya sendiri untukmu…!” tiba-tiba dengan nada lirih dan tersendat, Aldo menyerahkan buket pada Gwen.


Terlihat tatapan amarah di mata Barra, melihat dengan mata kepala sendiri istrinya mendapatkan pernyataan cinta dari laki-laki lain. Tetapi laki-laki itu hanya terdiam, ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Gwen. Sebagai seorang laki-laki yang lebih dewasa, Barra berusaha mengendalikan dirinya, untuk tidak mudah terpancing dengan keadaan itu,


“Terima kasih Aldo… bunganya cantik sekali.. Bagaimana kamu akan segera sembuh, jika malam-malam begini, bukannya istirahat, kamu malah datang ke bandara dan memberiku kejutan bunga mawar yang sangat cantik ini. Terima kasih Aldo... kamu selalu ada untukku...” Gwen berusaha menekan perasaanya, gadis itu menerima buket dari tangan Aldo. Tetapi Gwen berusaha untuk tetap netral, dan pura-pura tidak tahu dengan semua ucapan dari Aldo untuknya. Beberapa kali, di depan Aldo dan juga suaminya, gadis itu mencium aroma harum dari kelopak bunga mawar itu.

__ADS_1


„Bunga mawar ini tidak pantas untuk menyaingi kemurnianmu Gwen... aku datang ke sini, bukan hanya untuk mengantarkan kepergianmu ke Amerika. Aku memberanikan diri, untuk mengungkapkan perasaanku kepadamu. Aku cinta kamu Gwen... I love you...” dengan ucapan lirih, tiba-tiba Aldo menurunkan lututnya ke bawah. Laki-laki muda itu meletakkan lutut dan kakinya ke bawah. Dengan tatapan memuja, Aldo menatap Gwen ke atas.


Gwen terkejut dengan perlakuan Aldo yang tiba-tiba itu, dan sampai tidak menyadari jika Barra sudah berjalan mendekat kepadanya.


“Bug… bug…” tiba-tiba dua pukulan menghantam tubuh Aldo, dan anak muda itu terjengkang ke belakang. Melihat hal itu...


“Kak Barra… apa yang kakak lakukan pada Aldo…?” Gwen berteriak dengan penuh kemarahan pada suaminya. Tetapi sepertinya Barra sudah gelap mata, laki-laki dewasa itu tidak menanggapi teriakan Gwen, dan beberapa pengawal yang tadi bersama dengan mereka berlari mendekat. Namun tangan Barra diangkat, memberikan isyarat agar para pengawal tidak memperparah keadaan.


Tanpa bicara, Barra kemudian mengangkat tubuh istrinya, dan langsung membawanya menuju ke private jet yang sudah dikondisikan siap untuk berangkat.


Raffi dan Asep berlari untuk menghindarkan Aldo dari pukulan Barra, dan tatapan Aldo menatap laki-laki yang memukulnya tadi dengan pandangan marah juga,


“Gwen… tunggu aku.. I love you... girl..” sambil tertatih, Aldo terus berteriak mengucapkan perasaanya pada Gwen.


Tetapi Gwen tidak bisa berbuat apapun, dalam gendongan suaminya gadis itu mencoba untuk diam, tidak memperkeruh keadaan. Gadis itu hanya menangis, dan isak tangis yang keluar dari bibirnya, tidak membuat Barra


menjadi berhenti. Laki-laki itu terus membawa masuk Gwen ke dalam private jet yang sudah menunggu mereka.

__ADS_1


Aldo Kembali menjatuhkan kakinya ke lantai. Dengan kondisi kakinya yang masih sakit, laki-laki itu merasa lemas dan tidak mungkin untuk mengejar Gwen. Akhirnya dengan dipegangi Raffi dan Asep, yang juga menahan agar anak muda itu tidak bertindak di luar nalar, mereka melihat private jet itu perlahan meninggalkan Bandara Halim Perdana Kusuma.


******


__ADS_2