Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 68 Aroma Parfum


__ADS_3

Tidak tahu apa yang dirasakan, Gwen terus menekan tombol L untuk menuju ke lobby hotel. Gadis itu tidak tahu lagi apa yang akan dilakukan. Hanya saja, ada sudut hatinya yang terasa nyeri, dan mendorongnya untuk pergi meninggalkan hotel tersebut. Pikirannya kosong, dan tidak  ada pikiran sedikitpun tentang Barra dan perempuan yang ditemuinya di atas.


“Aku booking kamar hotel setelah keluar dari dalam hotel ini saja. Atau aku bisa mencarinya sambil duduk di kursi lobby, kemudian mencari mobil untuk mengantarkanku kesana.” Sambil berpikir, Gwen berbicara pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba pintu lift berhenti, dan tidak lama kemudian pintu itu terbuka. Gwen segera bergegas keluar dari dalam lift tersebut. Gadis itu Kembali menarik trolly bag, dan segera melangkahkan kaki menuju kea rah sofa. Karena tergesa-gesa, Gwen tidak sadar jika trolly bagnya menabrak seseorang.


“Aduh…” reflek Gwen menengok, karena mendengar ada orang berbicara Indonesia di hotel ini. Padahal keberadaan mereka di New York, dan Ketika Gwen mengangkat wajahnya ke atas…


“Asep… is that you guys…?” gadis itu terkejut melihat keberadaan sahabatnya itu berdiri di depannya.


“Gwen… syukur alhamdulillah, akhirnya kami bisa menemukanmu Gwen..” Asep sangat excited. Tampak kegembiraan terlihat dari wajahnya..


“Kami… what your mean…?” mendengar Asep menyebut nama kami, membuat Gwen mencari tahu lebih lanjut. Asep tersenyum kemudian mengajak Gwen untuk duduk di sofa. Laki-laki itu tidak langsung menjawab, malah terlihat membuka ponsel dan menghubungi seseorang. Beberapa saat kemudian..


“Benar kami Gwen.. aku datang ke New York ini karena kebaikan papanya Aldo. Aku dan Raffi menemani Aldo datang ke negara ini mencarimu. Kami bertiga juga akan mengerjakan Ujian Kelulusan di Embassy, nanti kita bisa berangkat bareng..” Asep kemudian menceritakan apa yang terjadi pada mereka bertiga.


Gwen mendengarkan cerita dari Asep dengan penuh perhatian. Gadis itu tidak menyangka, teman-temannya sangat menghargai persahabatan mereka. Sampai rela menyusulnya ke Amerika, hanya karena dirinya berada di negara itu. Tanpa sadar air mata Kembali menggenang di pelupuk mata gadis itu, gwen sendiri tidak tahu untuk alasan apa air mat aitu keluar. Apakah karena rasa haru karena teman-temannya selalu ada ketika dirinya mengalami kesusahan, ataukah karena sedih melihat perempuan cantik yang mengaku sebagai kekasih suaminya Barra.,


“terima kasih Asep.. kalian memang selalu ada untukku. By the way… kemana Aldo dan Raffi.. apakah kalian menginap di hotel ini juga. Bawa aku ke kamar kalian, aku butuh penampungan malam ini..” Gwen berpikir singkat, dengan bersama ketiga sahabatnya itu, dirinya merasa lebih aman.

__ADS_1


„Kita tunggu Aldo dan Raffi dulu Gwen.. Mereka sedang otw menuju ke tempat ini, tadi sudah kirim chat katanya sedang duduk di pinggir kolam renang..” Asep meminta mereka menunggu kedua sahabat mereka.


Tidak lama kemudian, dari arah kolam renang terlihat Raffi dan Aldo berlari menuju ke arah mereka. Gwen tersenyum gembira, merasa jika Tuhan sangat dekat dengannya saat ini. Di saat dirinya mendapat masalah, pertolongan tepat waktu menghampirinya tanpa susah payah untuk mencarinya.


„Aldo...cidera kakimu sudah sembuh guys...?” melihat Aldo yang bisa berlari mendatanginya, Gwen teringat dengan


cidera akibat kecelakaan di sirkuit Sentul beberapa waktu yang lalu. Gadis itu seakan melupakan upaya Aldo yang menyatakan cinta kepadanya Ketika malam keberangkatan menuju New York. Gadis itu tetap menyambut Aldo dan Raffi, sebagaimana dia biasa menyambutnya.


“Sudah Gwen… papa dan mama datang dari Canada, dengan membawa Dokter Spesialis dan juga akupuntur dari Chinesse. Akhirnya kakiku segera pulih setelah mendapatkan perawatan. Aku tidak menyangka, tanpa mencarimu kita sudah dipertemukan Kembali gwen..” dengan senyum Bahagia yang terlihat jelas dari sorot matanya, Aldo menanggapi pertanyaan gadis itu. Tetapi anak mud aitu pandai menempatkan diri. Meskipun tidak ada balasan tentang pernyataan cintanya kala itu, namun Aldo tetap datang menemui gadis itu.


“Iya Ald… kalian memang sahabatku yang bisa aku andalkan. Dalam keadaan apapun kalian tetap membersamaiku..” dengan penuh rasa haru, Gwen juga menanggapi.  Gadis itu melihat kea rah tiga sahabatnya itu satu persatu sambil tersenyum haru.


“Eh.. tadi Gwen bilang untuk membawanya ke kamar kita saja. Kita ke atas lagi yukk, dan melanjutkan berbincang di atas..” agar mereka lebih leluasa berbincang, Asep mengingatkan Kembali ajakan Gwen tadi.


Akhirnya ke empat anak muda itu segera berjalan Kembali menuju pintu lift, dan Gwen mengajak mereka untuk menggunakan lift khusus agar tujuan mereka menjadi lebih cepat. Wajah Aldo tampak bersinar cerah penuh kebahagiaan, sedangkan Gwen tampak menyembunyikan kesedihannya.


**********


Malam harinya

__ADS_1


Barra kembali ke Pant House.., dan melihat keberadaan kekasihnya Jacqluine di dalam ruangan, laki-laki itu menghela nafas. Laki-laki itu tidak memiliki ketegasan untuk melarang perempuan itu, yang hampir setiap malam selalu tidur di dalam Pant House bersamanya. Akhirnya karena Jacqluine berada dalam kamar yang berbeda, Barra akhirnya membiarkannya.


“Kamu sudah datang sayang… bagaimana pertemuan dengan para colleuga.  Ada perkembangan baru bukan untuk bisnismu sayang..” Jacqluine bertanya pada laki-laki itu. Seperti biasa, perempuan itu berusaha untuk menarik laki-laki itu dalam pelukannya.


Tetapi seperti biasanya laki-laki itu menghindar darinya. Barra bergeser menjauh dari tempat duduknya, karena merasa risih dengan sikap perempuan itu.


“Aku Lelah beb… mau istirahat dulu. Jika kamu merasa nyaman di ruangan ini, kamu bisa tinggal, Namun jika tidak, kamu juga boleh kembali ke Marriot. Tapi maaf beb.. aku tidak bisa mengantarkan ke hotel..” Barra kemudian berdiri dan menuju ke kamarnya.


Merasa diacuhkan, Jacqluine berdiri dan memeluk tubuh laki-laki itu dari belakang.Wajah perempuan itu mencium punggung laki-laki itu.


“Jangan seperti ini beb… kita tidak boleh. Jagalah jarak, agar tidak terjadi sesuatu yang negatif pada kita..” untungnya Barra masih memiliki pertahanan diri yang kuat. Laki-laki itu melepaskan kedua tangan perempuan itu yang melingkar di pinggangnya, kemudian berjalan meninggalkan Jacqluine sendiri. Jacqluine terlihat kecewa, dan menatap punggung Barra yang berjalan meninggalkannya.


Barra langsung membuka pintu kamar, dan melihat king size bed, laki-laki itu segera menuju ke atas ranjang tersebut. Laki-laki itu langsung merebahkan tubuhnya di atas bed. Tetapi beberapa saat kemudian, hidung Barra tampak mengendus sesuatu..


“Hemmph… kenapa aku seperti mencium parfum Gwen.. Apakah ini hanya ilusi saja...” seperti orang bingung, Barra terus mengendus bantal dan sprei yang ditidurinya.


Sesaat laki-laki itu merasa bingung, tapi Barra tidak menemukan tanda-tanda keberadaan dari istrinya di dalam kamar. Mencium aroma parfum istrinya, menjadikan laki-laki blank.


“Bisa jadi karena aku merindukan kepolosan dan keusilan Gwen di sisiku., Jadi tanpa sadar, aku seperti membaui parfum gadis itu..” akhirnya Barra membuat kesimpulan sendiri.

__ADS_1


Laki-laki itu tersenyum, kemudian mengambil selimut dan menyelimuti tubuhnya. Entah karena factor kelelahan, ataukah karena aroma parfum Gwen yang tertinggal, Barra menjadi cepat tertidur lelap. Tidak lama kemudian, dengkuran lirih sudah terdengar di kamar tersebut, menandakan jika laki-laki itu sudah terbenam dalam peraduan.


**********


__ADS_2