
Gwen mengendarai Ducati dengan perlahan dan hati-hati. Sejak keluar dari college, dan Ketika berpisah dengan ke empat temannya, Gwen Kembali berpikir tentang sikap sarkasme dan sinis yang dilakukan oleh Andy. Gadis itu mencoba berpikir, apakah ada kata-kata atau sikapnya yang melukai Andy, sehingga anak muda itu selalu sinis kepadanya. Tapi sampai Lelah berpikir, Gwen tidak menemukannya.
“Kenapa Andy jadi bersikap seperti itu kepadaku.., dan haruskah aku memberi tahu kak Barra, tentang sikap adik sepupunya kepadaku..” Gwen bertanya pada dirinya sendiri.
“Tapi jika Andy tahu kalau aku mengadu pada kak Barra, anak muda itu malah bisa menjadi semakin keras bersikap padaku. Aku malah akan menjadi serba salah,.. apa yang harus aku lakukan..”
Kembali Gwen terdiam, dan untung saja traffic light berwarna merah, sehingga Gwen berhenti di belakang tanda penyeberangan. Pikirannya mencoba menelusup kejadian demi kejadian antara dirinya dengan Andy, tapi tidak ada yang layak disebut sebagai penyebab sikap sinis Andy kepadanya.
“Tin… tin.. tin..” rupanya traffic light sudah Kembali berwarna hijau, dan Gwen kurang memperhatikan. Akhirnya setelah menatap dengan permintaan maaf pada pengendara di belakangnya, Gwen perlahan Kembali menjalankan Ducati nya.
Tetapi pikiran tentang perubahan sikap dan tingkah laku Andy terhadapnya, belum bisa hilang dari pikiran Gwen. Gadis itu terus berusaha menelaah perlakuan dan sikapnya terhadap anak muda itu, namun tidak kunjung menemukan penyebabnya,
“Ah sudahlah… aku akan lihat lagi, bagaimana sikap Andy ke depannya. Bisa jadi, tanpa sadar Andy melakukan hal itu padaku karena sedang ada masalah. Aku akan mengajak anak muda itu untuk bicara ke depannya.” Setelah menemukan jalan keluar, Gwen mencoba kembali fokus dengan kendaraanya.
Gadis itu segera meningkatkan kecepatan motornya, dan terus melaju menuju ke rumah di puncak bukit.
*********
Di rumah...
__ADS_1
Sore hari, Barra dan Andy belum sampai rumah. Gwen sengaja menunggu kedatangan Andy di teras rumah, untuk mengajak anak muda itu berbicara. Gadis itu tidak merasa nyaman, karena mereka tinggal satu rumah, tapi tidak saling bertegur sapa,
“Sudah jam 16.30 p.m, tapi Andy belum sampai di rumah juga. Padahal tadi sudah aku cek di sistem informasi kampus, anak itu tidak ada jadwal kuliah sore ini..” sambil membaca novel, Gwen tidak bisa menghilangkan pikiran tentang Andy.
Gadis itu tidak mau, ada miss komunikasi dengan adik sepupu suaminya, sehingga membuat hubungan mereka di rumah menjadi tidak terkondisi. Sudah berkali-kali Gwen berpikir, tapi tetap tidak bisa menemukan sumber kemarahan Andy kepadanya. Makanya dengan mengajak anak muda itu bicara, Gwen merasa akan ada jalan keluar untuk mereka berdua.
“Broom… broom…” tiba terdengan suara mobil berhenti di garasi rumah. Mendengar suara mobil itu, Gwen sudah tahu jika Andy yang sudah sampai di rumah terlebih dulu, daripada suaminya.
“Hempph… akhirnya anak muda itu datang juga. Aku akan mengajaknya bicara, semoga saja Andy mau mengatakan apa sumber kekesalannya padaku..” Gwen meletakkan novel di meja samping tempat gadis itu duduk.
Tidak lama kemudian, di depan gadis itu terlihat Andy memasuki rumah. Tatapan mata mereka bertabrakan, dan Gwen tersenyum menyambut kedatangan anak mud aitu. Dengan kikuk, Andy membalas senyuman itu, dan anak muda itu melanjutkan Langkah kakinya.
“Andy… adakah kamu waktu beberapa saat untukku.. Aku ingin berbicara denganmu And..” dengan tatapan memohon, Gwen menyampaikan keinginannya pada anak muda itu.
“Ada hal apa Gwen.., apakah ada sesuatu yang penting, sehingga kamu mengajakku untuk bicara..” Andy mencoba menegaskan, tapi anak muda itu masih berdiri pada posisinya.
„Duduklah dulu Andy.., please...!! Tidak nyaman bukan, jika kita ngobrol, tapi dengan posisi aku duduk, dan kamu berdiri di depanku. Orang yang tidak tahu permasalahan, bisa membuat kesimpulan yang tidak-tidak tentang kita..” sambil tersenyum dan mencoba menyabarkan dirinya, Gwen menanggapi perkataan laki-laki itu.
Andy tetap terdiam, tapia nak muda itu sudah mau diajak bekerja sama. Perlahan Andy melangkahkan kakinya, kemudian duduk di kursi yang ada di hadapan Gwen. Beberapa saat kedua anak muda itu terdiam, dan Gwen masih senyum-senyum menatap pada anak muda itu.
__ADS_1
„Cepat katakan apa maumu Gwen... aku ingin cepat sampai ke dalam kamar. Tubuhku membutuhkan waktu untuk istirahat...” dengan nada datar, Andy segera meminta Gwen untuk berbicara.
„Hempph... tidak masalah Andy, tapi apakah kamu lupa dengan status kita di dalam rumah ini. Panggil aku dengan sebutan kakak, aku harap kamu tidak terlalu pikun melupakan kesepakatan kita..” masih sambil tersenyum, Gwen berusaha mengingatkan anak muda itu.
„Baiklah kakak Gwen... cepat katakan maumu sekarang..” dengan intonasi nada yang agak tinggi, Andy memberikan tanggapan,
Gwen kembali tersenyum, dan menghela nafas perlahan. Kemudian..
„Andy.. memperhatikan sikapmu padaku, dan juga dengan kak Barra akhir-akhir ini, apakah ada yang salah pada kami berdua. Tanggapanmu kepada kami, terkadang aku merasakan ketus. Apalagi tadi di college, kamu malah over protective pergaulanku dengan teman-teman kampus, padahal kak Barra saja mengijinkanku. Bisakah kamu menjelaskan apa yang menjadi alasanmu.” Akhirnya Gwen menyampaikan apa yang ingin dikonfirmasi pada anak itu.
„Kenapa kak Gwen pusing mikirkan hal itu..? Bukankah wajar bukan, jika sebagai adik sepupu kak Barra, aku ikut menjaga dan mengawasimu Ketika kak Barra tidak ada. Hal seperti itu saja dipermasalahkan…” bukannya menjelaskan baik-baik, Andy masih bersikap ketus pada gadis itu,
“Hempph… terima kasih Andy, atas perhatianmu padaku. Tetapi ada baiknya, lain kali kamu bisa bersikap lebih lunak bukan, dan berusaha mencari tahu terlebih dahulu, sebelum memutuskan bersikap yang terkesan arogan. Kak Barra juga kenal dengan Aldo dan Asep, karena Ketika mereka berdua datang ke negara ini, kak Barra menemaniku datang ke apartemen mereka. Jadi aku rasa, tidak perlu bukan kamu terlalu over protective seperti itu.” panjang lebar Gwen mencoba menjelaskan.
Tetapi bukannya Andy menjadi lunak, selesai Gwen berbicara, anak muda itu malah langsung berdiri. Tanpa pamit, Andy melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut.
„Hey... And, tidak sopan kamu meninggalkanku seperti itu. Aku belum selesai bicara, hargailah aku sebagai kakak sepupumu..” Gwen berteriak mencoba menghentikan anak muda itu.
“Sudahlah kak… tidak perlu ada yang kita bicarakan lagi. Kapanpun kamu tidak akan bisa mengubahku, dengan siapapun kamu dekat, dan aku akan merecokimu terus,” tanpa menoleh, Andy melanjutkan Langkah kakinya.
__ADS_1
Gwen tidak dapat berbuat banyak, gadis itu hanya mengambil nafas panjang, dan membiarkan Andy berjalan meninggalkannya. Merasa tidak ada lagi yang akan dilakukan di teras, akhirnya Gwen ikut berdiri. Gwen melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamarnya.
********