
Meskipun sudah mengucapkan terima kasih, namun Barra belum mengajak Gwen bicara. Sepanjang perjalanan, Barra mengacuhkan gadis itu, dan Gwen malah menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mobil. Gadis itu memejamkan matanya, dan dari belakang kemudia, Barra hanya melihat ke arah gadis yang sama sekali seperti tidak punya etika dan tata krama itu. Tidak lama kemudian, mobil yang dikemudikan Barra akhirnya sampai di halaman rumah keluarga kakek Atmadja.
"Hempph.. gadis barbar ini malah tidur..." setelah menghentikan mobil, Barra terdiam beberapa saat. Laki-laki itu menengok ke samping, melihat ke arah Gwen tertidur. Tidak tahu mengapa melihat Gwen yang tampak terlelap., dan tidak menyadari jika mereka sudah sampai di halaman rumah.
Dengan sabar Barra membuka pintu mobil, kemudian laki-laki itu keluar. Namun bukannya langsung masuk ke dalam rumah, namun Barra malah berjalan memutar di depan mobil. Laki-laki itu membuka pintu mobil tempat Gwen duduk, kemudian mengangkat gadis itu dan membawanya ke dalam. Gwen sama sekali tidak tersadarkan ketika Barra tengah menggendongnya. Dari ruang tengah, kakek Atmadja melihat bagaimana cucu menantunya masuk ke dalam rumah sambil menggendong cucunya.
"Gwen tertidur di dalam mobil lagi, kebiasaannya memang seperti itu. Jika biasanya, Andrew yang melakukannya, sekarang kamu yang menggantikan tugas Om nya Gwen.. Barr.." laki-laki itu hanya tersenyum ketika kakek Atmadja menceritakan tentang kebiasaan buruk gadis itu.
Tanpa bicara, Barra langsung membawa tubuh Gwen ke kamarnya, dan langsung membaringkan tubuh gadis itu di atas ranjang. Dengan sabar, Barra membantu gadis itu melepaskan sepatu dari kakinya. Namun ketika melihat jika Gwen masih mengenakan pakaian seragam SMA nya, laki-laki itu berhenti,
"Tahan dirimu Barra.. kamu harus bersabar. Kamu tidak boleh melakukannya pada gadis ini, belum saatnya. " batin laki-laki itu bergejolak, ada pertentangan dalam dirinya ketika tangannya akan membuka kancing baju Gwen.. Setelah hanya berdiri beberapa saat, akhirnya Barra melangkahkan kaki keluar dari dalam kamar. Laki-laki itu lebih suka untuk menahan gejolak hasrat laki-lakinya, daripada melakukan tindakan yang tidak akan diampuni oleh gadis itu. Sambil mengendalikan dirinya, Barra langsung menuju ke arah ruang belakang.
"Bi Surti... bantuin Gwen ya.., aku tidak tahan mencium aroma bau keringatnya. Lepaskan baju ganti gadis itu, dan jika dia tidak terbangun, seka tubuhnya dengan menggunakan air hangat. Gadis itu terlihat sangat capai.." dengan alasan tidak tahan dengan bau keringatnya, Barra memerintah ART rumah keluarga itu.
"Baik tuan Barra... Bibi Surti akan segera ke kamar non Gwen..." perempuan paruh baya itu langsung bergegas menuju ke kamar majikan perempuannya.
Barra langsung berjalan menuju ke pintu samping, dan laki-laki itu segera keluar menuju ke teras samping rumah. Laki-laki itu duduk di kursi yang ada di teras tersebut, kemudian Barra menyalakan rokok.
"Aku tidak mengira akan begini susahnya mengurus anak kecil. Apakah keputusanku menerima perjodohan ini merupakan sesuatu yang salah?" kembali Barra berpikir sendiri.
__ADS_1
Ada gejolak batin yang dirasakan oleh laki-laki itu, karena menghadapi istrinya. Baru dua hari tinggal bersama dengan istrinya, sudah dua kali pula Gwen kabur darinya.
"Stacy... kenapa kamu pergi meninggalkanku, yang akhirnya menjadi penyebab hidupku seperti ini. Pernikahannya dengan Gwen sebenarnya hanya pelarianku saja, tetapi mengingat bagaimana hubungan papa dan Om Atmadja, aku tidak mungkin akan mengecewakan mereka." Barra terus berpikir sendiri, dan hanya senyuman pahit yang muncul dari bibir laki-laki itu.
*******
Tengah malam
Gwen yang tertidur sejak masuk ke rumah, tiba-tiba membuka matanya. Sejenak gadis itu merasa linglung, dan perlahan Gwen baru sadar jika dia sudah berada dalam kamarnya. Gadis itu mulai mengingat-ingat apa yang terjadi pada dirinya, dan...
"Bukankah terakhir kali aku tidur di dalam mobil, ketika Om Barra menjemput ku dan bertemu denganku di tengah jalan? Tapi kenapa aku bisa sampai di ranjang kamarku, oh no... no.." Gwen tersentak mengingat kembali kebersamaan terakhir dirinya dengan Barra.
Gwen mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, tetapi ketika melihat ke arah sofa di dalam kamar tersebut, Gwen tidak melihat keberadaan Om Barra. Tetapi tiba-tiba mata Gwen terbelalak melihat suaminya ternyata tidur satu ranjang dengannya. Jantung Gwen menjadi berdebar keras, dan gadis itu melihat ke dalam selimutnya.
"Oh my God... apa yang sudah dilaksanakan laki-laki kurang ajar ini. Apakah dia yang sudah mengganti pakaianku.. Ya Allah.." wajah Gwen bertambah pucat, karena melihat jika pakaian dalamnya juga sudah berganti yang baru.
Tiba-tiba saja amarah seakan menguasai Gwen, tanpa pikir panjang kaki panjangnya mendorong dengan keras ke arah suaminya.
"Aaaawww... Om Barra kejammmm... pergi dari ranjang ini..." spontan Gwen berteriak keras, dan...
__ADS_1
"Bukk..." tubuh Barra yang sedang tertidur terjatuh ke bawah ranjang.
"Hey... apa yang terjadi? Barbar sekali kelakuanmu Gwen..." Barra yang merasa terkejut karena tubuhnya tiba-tiba terjatuh berteriak pada Gwen yang memandangnya dengan tatapan marah.
"Harusnya Gwen yang bertanya pada Om, apa ya g sudah Om lakukan pada Gwen..." bukannya takut mendengar kata-kata keras yang diucapkan Barra, Gwen malah semakin berani menantang laki-laki itu.
Sesaat Barra terdiam, tapi melihat kemarahan istrinya, tiba-tiba muncul ide iseng pada dirinya. Sambil tetap menatap mata istrinya yang juga menatapnya tajam, Barra naik ke atas ranjang. Kaki itu semakin mendekati istrinya..
"Apa yang akan Om lakukan, belum cukupkah Om Barra melecehkan Gwen..." melihatnya tatapan mesum yang tiba-tiba terlihat di mata laki-laki itu, mendadak Gwen menjadi merasa ketakutan.
Gadis itu memundurkan tubuhnya ke belakang, tetapi dengan sekali gerakan tiba-tiba saja tubuh Barra sudah berada di atasnya. Gwen sama sekali tidak bisa bergerak karena kedua tangan suaminya diletakkan di kanan kiri tubuhnya, dengan posisi mengungkung gadis itu.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan dari suamimu istriku... apakah kamu menginginkan belaian dariku.." dengan senyum smirk, Barra menggoda istrinya.
"Pergi... pergi Om dari tubuh Gwen..." gadis itu berteriak dengan kedua tangannya mendorong dada suaminya. Untung saja kamar itu dilengkapi dengan peredam suara, sehingga kegaduhan di dalam kamar itu tidak sampai terdengar oleh kakek Atmadja.
Melihat penolakan gadis yang berada di bawah tubuhnya itu, malah membuat Barra seperti kehilangan akal. Laki-laki itu menundukkan wajahnya ke bawah, dan tidak lama kemudian... ciuman kasar diberikan laki-laki itu di bibir istrinya.
*********
__ADS_1