
Andrew terhenyak mendengar permintaan penuh harap dari keponakannya itu. Gadis itu sama sekali tidak ingin show up, dan Andrew seakan menyadari jika keponakan di depannya itu seperti berubah menjadi dewasa dalam sejenak. Namun meskipun ada permintaan untuk tidak mengabarkan kabar baik itu, dalam hati Andrew bertekat tidak akan tinggal diam. Ada rencana sendiri di hati laki-laki itu...
"Hemmph.. sudahlah Gwen... kita harus rayakan pertemuan siang ini. Kita keluar makan siang dulu.., kamu harus merasakan kuliner khas negara ini.." Andrew mengajak keponakannya untuk bergeser ke tempat lain.
"Om Andrew... habis Maghrib Gwen sudah harus berada kembali di ball room. Ada jamuan gala dinner dari penyelenggara, yang juga akan dihadiri oleh Presiden Singapura dan Ketua Parlemen, serta Ministry Education. Gwen tidak bisa meninggalkan acara Om, ataupun terlambat." Gwen memberi tahu acara yang masih harus diikutinya.
Sebenarnya bisa saja Andrew memaksa keponakannya, dan menghubungi Commitee untuk memberikan dispensasi pada Gwen. Namun untuk menghargai upaya gadis itu, akhirnya Andrew membatalkan niatnya. Laki-laki itu melihat ke arah jam tangan yang ada di pergelangan tangan, dan akhirnya hanya bisa menghela nafas.
"Sudah gini saja, Om akan antar kamu balik ke hotel sekarang. Kita akan makan siang di restaurant hotel, banyak makanan khas disajikan di restaurant itu. So.. kita bisa merayakan, tetapi juga tidak akan membuatmu terlambat sayang.." akhirnya Andrew mengambil jalan keluar.
Gwen tersenyum menyambut gembira ajakan dari Om nya itu. Tidak lama kemudian Andrew kemudian mengambil tas cangklong kecil, untuk tempat gadget dan dompetnya.
"Come on gwen... kita let.s go..." setelah perlengkapan dibawa, Andrew segera mengajak keponakannya untuk pergi. Laki-laki itu merangkul bahu keponakannya, dan mereka keluar dari dalam ruangan.
"Good afternoon young master..." beberapa karyawan yang berpapasan dengan mereka berdua, berhenti dan mengucapkan salam,
Andrew tidak menjawab, hanya tersenyum sambil mengangkat tangannya ke atas. Perbincangan di antara karyawan melihat Andrew dan Gwen sangat seru, mereka berpikir jika tuan muda mereka yang masih lajang, sudah menemukan tambatan hati. Hanya saja beberapa di antara mereka menyayangkan, karena merasa gwen masih terlalu muda untuk tuan muda mereka.
"Cantik sih... sangat serasi, dan wajahnya sangat mirip dengan wajah tuan muda. Tapi masih teralu kecil, dan belum terlihat sisi dewasanya dari gadis itu..." terdengar salah satu karyawan membicarakan Andrew dan Gwen.
__ADS_1
"Benar.. tapi wajah gadis itu tidak ada wajah Orientalnya. Wajahnya cantik, mungil, seperti campuran wajah Asia Indonesia, dengan keturunan Eropa..." satu karyawan lagi terdengar menimpali.
Para karyawan itu terus membicarakan Andrew dan Gwen, dan mereka tidak tahu keberadaan Miss Laura yang ada di belakang mereka. Perempuan itu sengaja diam, dan menunggu sampai para karyawan yang bergunjing itu melihat ke arahnya.
"Uhuk... uhuk..." karena tidak ada yang menoleh ke arahnya, akhirnya Miss Laura batuk-batuk.
Sontak beberapa karyawan yang sedang bergosip membicarakan tuan muda mereka itu menengok ke belakang. Ketika melihat keberadaan miss Laura sedang bersedekap dan melihat ke arah mereka, para karyawan itu menjadi salah tingkah.
"Maaf kita tidak tahu Miss... jika ada Miss Laura ada di belakang. Apakah ada yang bisa kami bantu Miss...?" salah satu karyawan segera mengajak bicara perempuan itu.
"Tidak ada, yang perlu kalian lakukan sekarang adalah, kembali ke ruang kerja kalian masing-masing. Lanjutkan pekerjaan kalian, dan jangan suka menguping pada atasan. Jika kalian tahu, yang bersama dengan tuan muda Andrew adalah nona muda perusahaan ini juga, Miss Gwen Alvaretta." mendengar penjelasan dari Miss Laura, para karyawan itu terkejut.
***********
Tidak sampai lima belas menit di perjalanan, mobil sudah membawa Gwen dan Andrew memasuki depan lobby hotel. Petugas hotel segera membukakan pintu mobil untuk mereka berdua, dan Andrew serta Gwen segera keluar dan langsung masuk ke dalam lobby hotel. Andrew menggandeng tangan keponakannya, dan langsung membawa gadis itu menuju ke restaurant hotel. Tempat duduk yang menghadap ke kaca arah luar dipilih Andrew, dan merekapun segera duduk.
"Selamat siang... apakah yang perlu kami bantu..." seorang waiters memberikan menu book, dan kedua orang itu segera mengambil dan membuka-bukanya.
"Salmon steak.. french fries, dan lemon squash..." Gwen menyebutkan menu pesanannya.
__ADS_1
"Tenderloin dengan kematangan medium. Untuk minum, hot lemon tea.." Andrew juga segera menyampaikan menu pesanannya. Selain main menu, Andrew juga menambahkan appetizer, dan dessert. Beberapa saat kemudian...
"Commitee penyelenggara kegiatan Olimpiade betul-betul hebat dan bisa dipercaya Gwen.., salah satu indikator bisa dilihat dari fasilitas akomodasi untuk boarding peserta. Hotel ini sangat mahal, dan masuk jajaran tiga besar hotel termahal di negara Singapura. Sangat layak, untuk menjaring scientifist muda..." sambil menunggu menu mereka disajikan, Andrew berkomentar tentang commitee.
"Iya sih Om... service dari Jakarta sampai Singapura very good.. Bahkan ketika baru penjaringan, kualifikasi peserta di Jakarta kemarin, juga bisa dibanggakan." Gwen menanggapi kekaguman Om nya.
"Hempph dan sangat layak untuk keponakan Om tercinta, semuanya layak untukmu sayang..." Andrew terlihat puas, dan sangat bersyukur keponakan yang sejak kedua orang tuanya meninggal, diasuhnya dengan kasih sayang.
Dari arah pantry, terlihat waiters sudah mendorong meja berisi makanan dan minuman yang dipesan oleh dua orang itu. Andrew dan Gwen diam, dan melihat ketika waiters meletakkan makanan dan minuman di depan mereka. Seperti biasa, Andrew mengambil piring gadis itu, kemudian memotong salmon steak menjadi potongan-potongan kecil, sehingga memudahkan Gwen untuk menikmatinya. Kebiasaan itu selalu dilakukan oleh Andrew sejak Gwen masih kecil.
"Thank.s Om.." dengan wajah cerah, Gwen segera menusukkan garpu ke potongan salmon, dan gadis itu mulai menikmati makanan yang dipesannya.
"Mmmmph... lembut banget Om steaknya. Daging salmonnya juicy, dan masih terasa aroma segar daging mentahnya, tapi tidak amis." Gwen terlihat menikmati menu yang dipesannya, dan gadis itu berkomentar tentang makanan tersebut.
"Iya Gwen... aneka steak yang ditawarkan di restaurant ini memang terkenal. Jika week end, jangan harap kita akan bisa dapat giliran masuk, jika belum reservasi jauh hari sebelumnya." Andrew mengiyakan.
Paman dan keponakan itu mengomentari puas hampir semua makanan yang mereka pesan. Tidak ada luapan rasa kecewa dari menu pilihan mereka, baik dari minuman maupun makanannya.
"Miss Gwen... tidak aku sangka, kita dapat bertemu di tempat ini..." tiba-tiba dari arah samping, terlihat Chakra menghampirinya. Tampak dua orang paruh baya berada di belakang anak muda itu.
__ADS_1
************