
Beberapa saat Barra meluapkan kebahagiaan dengan dua putranya, Gwen tidak beranjak dari sisi mereka. Ada kekhawatiran dalam hati perempuan itu, takut jika Barra akan membawa kedua putranya. Selain itu Om Andrew juga pasti tidak akan membiarkannya. Tapi tidak lama kemudian…
“Bareeq… Tareeq… bersihkan badan dulu, kemudian istirahat ya. Ikut nanny… besok papa akan mengajak kalian berdua jalan-jalan ke kota ini..” sepertinya Barra ingin menyelesaikan urusan tertunda dengan Gwen. Laki-laki itu mengalihkan focus kedua putranya..
“Siap papa… Tapi pa…, Bareeq dan Tareeq malam ini papa tidur bersama kami. Rasanya sangat hangat jika papa ikut bersama kami, menemani kami tidur. Sama seperti anak-anak lainnya pa... Papa mau ya..” sebelum kedua anak itu mengikuti nanny.., keduanya menindas papa mereka.
Gwen kaget, dan perempuan itu menatap mata kedua putranya dengan tajam, untuk mendisiplinkan mereka. Namun keduanya sengaja tidak menatap ke arah mommy-nya..
“Nanti kita pikirkan sayang.., karena papa harus minta ijin dulu dengan mommy kalian..” sambil tersenyum smirk, Barra melirik ke arah Gwen yang masih resmi berstatus sebagai istrinya.
“Papa baik deh… siaaaapp…” dengan senyum senang, Tareeq dan Bareeq segera mengikuti nanny mereka.
Sepeninggalan dua anak kembar itu, suasana di sofa tamu kembali dingin. Barra dan Gwen tidak ada yang memiliki inisiatif untuk memulai pembicaraan. Bahkan Gwen terus menundukkan wajah, tidak berani beradu pandang dengan suaminya. Dan Barra terus menatap wajah istrinya yang tampak rapat mengenakan kerudung dan abaya, sambil mengulum senyum. Tiba-tiba Barra mendekat, dan tanpa permisi laki-laki itu meraih tangan Gwen. Namun... Barra kaget karena dengan cepat Gwen mengibaskan tangannya.
„Jangan asal pegang tangan Gwen kak… please..” dengan suara lirih Gwen menolak pegangan tangan suaminya.
“Why… kita masih suami istri honey.. secara agama dan secara hukum, aku masih menganggapmu sebagai istriku. Meskipun bertahun-tahun kamu meninggalkanku sendiri tanpa pesan, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku cinta kamu honey…” Barra mencoba mencari penjelasan.
__ADS_1
“Hempphhh… apa kata kak Barra... Istri...??? Maaf kak, rasa Gwen sudah mati, ketika dengan mata kepala sendiri, Gwen menyaksikan kebejatan kak Barra. Berada dalam satu selimut bersama dengan perempuan ******.., yang sudah hilang urat malunya, tanpa mengenakan pakaian..” seketika itu juga Gwen kehilangan kontrol. Gadis itu sudah tidak bisa mengendalikan perasaannya. Emosi dan amarah yang sudah selama bertahun-tahun ditahannya, seketika pecah saat ini. Air mata menetes deras dan mengalir ke pipi lembut gadis itu.
Melihat hal tersebut, Barra segera berdiri dan duduk di samping gadis itu. Tanpa minta ijin, Barra mendekap gadis itu. Merasa jika laki-laki itu sudah berlaku kurang ajar, kedua tangan Gwen berusaha mendorong dada Barra untuk menjauh darinya. Namun.. tenaga Barra jauh lebih kuat, dekapan laki-laki itu semakin erat ke tubuh mungil gadis itu. Akhirnya beberapa saat, tenaga Gwen melemah. Gadis itu menangis tersedu di dada suaminya, dan dengan penuh emosi yang mendalam, Barra mencium pucuk kepala Gwen berkali-kali.
„Honey... kita perlu bicara berdua saja. Ikutlah denganku keluar dari hotel ini… akan aku berikan bukti padamu sayang. Aku akan buktikan, jika aku selama ini tidak bersalah. Semuanya hanya salah paham...” setelah melihat istrinya sudah bisa mengendalikan diri, perlahan Barra mengajak Gwen untuk bicara.
Gwen diam tidak menanggapi kata-kata yang diucapkan oleh suaminya. Tapi gadis itu sudah mulai bisa mengendalikan dirinya. Bahkan ketika Barra melepaskan pelukannya, kemudian meraih dan memegang kedua tangannya, Gwen diam saja.
„Ikutlah denganku honey... please. Kita tinggalkan sejenak kedua putra kita disini, kita akan urai kesalah pahaman ini. Please honey.., dengarkan permintaanku saat ini. Jika nantinya, honey tetap menganggapku bersalah, apapun akan aku terima segala konsekuensinya..” Barra terus membuat permohonan pada gadis itu.
Setelah berpikir sesaat, dan ingin segera mengurai konflik internal di antara mereka, akhirnya Gwen menyanggupi. Perlahan gadis itu menganggukkan kepala lemah. Kebahagiaan terlihat di mata Barra, dan tanpa permisi laki-laki itu memegang dagu istrinya, dan memberikan ciuman mendalam di bibir istrinya. Mendapat perlakuan intim seperti, cukup membuat Gwen kaget, namun kelembutan dan pagutan Barra sudah lama dirindukannya. Akhirnya pasangan suami istri itu tanpa sadar berciuman di kursi tamu.
*******
Gwen tidak bisa menghilangkan rasa rindunya, ketika dalam perjalanan melewati jalan-jalan yang dulu selalu dilewatinya setiap hari. Ada keharuan merasuk ke dalam hatinya, melihat pemandangan dan jalanan yang masih sama dengan empat tahun lalu. Barra sengaja tidak menyela perhatian istrinya, dalam diam laki-laki itu terus menggenggam dan mencium tangan istrinya di sepanjang perjalanan. Tidak lama kemudian, akhirnya mobil yang dikemudikan Smith memasuki gerbang dan berhenti di depan teras…
“Selamat datang Tuan Barra…” penjaga rumah, dan beberapa maid menyambut kedatangan dua orang itu.
__ADS_1
Dengan pakaian yang dikenakan saat ini, para penjaga dan maid tidak bisa mengenali penampilan Gwen. Namun Ketika Gwen tersenyum.., Claire langsung mengenali perempuan itu..
“Miss Gwen… is that you…?” dengan ekspresi kaget, Claire menyapa Gwen. Gadis itu tersenyum dan menganggukkan kepala.
Satu persatu maid dan para penjaga menyalami gadis itu, dan terlihat ada kebahagiaan di mata mereka Ketika melihat nona keluarga ini sudah kembali pulang. Tampak sinar kebahagiaan dan rasa senang yang terpancar dari wajah Barra, dan laki-laki yang sudah lama kehilangan senyumnya ini tampak lebih memukau hari ini.
“Kembalilah ke tempat kalian berada, aku akan membawa istriku kembali. Claire.. siapkan minuman dan makanan untuk Miss disini..” dengan nada bicara tegas, Barra membuat pengaturan.
“Ba… baik Tuan..” para penjaga dan maid akhirnya bergegas meninggalkan pasangan suami istri itu.
Barra tersenyum kemudian melihat kea rah istrinya..
“Kamu lihat bukan honey… suasana di rumah kita masih sama, dengan ketika honey masih berada di tempat ini empat tahun yang lalu. Kembalilah honey… jangan hukum aku, dengan ketidak bersalahanku..” tampak Barra Kembali memohon.
“Kak Barra… apakah kakak lupa, untuk tujuan apa kak Barra membawa Gwen Kembali..?” masih meragukan kesetiaan suaminya, Gwen Kembali menanyakan.
“Hemppphhh…. Jangan khawatir honey… Aku akan tunjukkan, jika kejadia beberapa tahun yang lalu itu adalah kesalahan.. Ikutlah denganku…!” Barra meraih pinggang istrinya. Gadis itu mencoba menghindar, namun pegangan Barra malah semakin menguat. Akhirnya Gwen hanya bisa pasrah, mengikuti kemana laki-laki itu membawanya.
__ADS_1
Barra mengajak Gwen langsung ke lantai dua, dan mengajak gadis itu masuk ke dalam ruang kerjanya. Laki-laki itu mendudukkan istrinya di sofa, dan sebelum meninggalkan Gwen, Barra Kembali memberikan kecupan di kening gadis itu. Di bawah tatapan tajam Gwen, Barra hanya tersenyum, kemudian berjalan menuju ke LED televisi yang ada di dalam kamar tersebut. Beberapa saat kemudian…., LED mulai menyala. Dengan cepat, tangan Barra memilih menu dan akhirnya CD yang selalu tersimpan rapi itu diputar Kembali.
*********