
Ke empat anak muda itu segera menyusuri area garden, dan sesekali mereka berhenti untuk mengambil gambar di sekitar. Hamparan bunga warna warni, dikelompokkan sesuai dengan kelompoknya, dan terlihat sangat rapi. Ternyata banyak pengunjung yang berada di dalam garden tersebut, tetapi kebanyakan para wisatawan, bukan penduduk yang sudah tinggal di Finlandia seperti ke empat anak muda itu.
“Gwen… di area sana, kumpulan tanaman bunga Hortensia jika kamu akan melihatnya..” Andy berteriak memberi tahu Gwen, karena gadis itu masih berhenti mengambil beberapa gambar.
“Iyakah… okay aku akan segera menyusulmu Andy..” mendengar bunga Hortensia disebut, Gwen segera bangkit dari posisi jongkoknya. Gadis itu mengikuti Andy, sedangkan Aldo dan Asep mengikut di belakang Gwen.
Tidak lama kemudian, Kembali mata Gwen dimanjakan dengan lautan hamparan bunga Hortensia dengan berbagai warna. Ada yang putih bersih, putih kehijauan muda, ungu, dan bahkan ada yang berwarna pink.
“Luar biasa sekali, kenapa dalam satu tanaman bisa ada warna warni bunganya..” Aldo yang semula mengabaikan keberadaan bunga jenis itu, jadi ikut tertarik mengamatinya.
“Itu bukan jenis bunga yang berbeda Aldo.. Bunga Hortensia memang memiliki perubahan warna, sesuai dengan usia dari bung aini. Jika warna sudah ungu menuju ke arah pink, berarti usia bunga ini sudah akan berakhir. Di negara kita, bung aini banyak tumbuh di pegunungan yang memiliki udara dingin.” Dengan jelas Gwen menerangkan pada Aldo.
Aldo tampak tertarik, anak muda itu ikut memegang bunga bokor tersebut, dan merasakan Ketika air yang ada di kelopak Bunga membasahi telapak tangannya.
“Sangat menakjubkan sekali ya, di Indonesia Dinas Lingkungan Hidup ataupun pelaku usaha tanaman, tidak berpikir untuk melakukan pengelolaan secara professional. Jika kita melihat areal yang ada disini, betul-betul membuat iri kita sebagai warga negara Indonesia.” Aldo ikut berkomentar.
Asep dan Andy malah seperti menjadi pengantar dua anak muda itu, dan Andy menahan sendiri semua rasa kesalnya. Tapi melihat bagaimana Gwen Bahagia menikmati semua keindahan itu, Andy menjadi ikut merasa senang. Beberapa saat rombongan kecil anak mud aitu berada di hamparan Bunga Hortensia.
“Andy.. aku ingin lihat koleksi kaktus.. adakah di tempat ini..?” tiba-tiba Gwen bertanya pada adik sepupunya.
__ADS_1
„Kalau mau lihat kaktus ada di ruang kaca yang hangat Gwen... karena dengan suhu udara dingin, bahkan sering ada salju, kaktus kurang cocok ada di kebun outdoor seperti ini. Kita bisa masuk ke ruang kaca yang ada di sudut sana..” Andy seperti menguasai medan lokasi kebun bunga ini. Anak itu tahu persis, ada dimana tanaman yang ingin dilihat oleh Gwen dan kedua temannya.
“Ayuk..” akhirnya ke empat anak muda itu mulai mendatangi dan masuk ke dalam ruang kaca.
Ternyata tidak hanya tanaman kaktus, tetapi banyak tanaman unik terutama di daerah tropis, banyak tumbuh di dalam ruangan berkaca. Ke empat anak muda itu tampak asyik dan fokus mengamati semua tanaman yang ada di dalam ruangan tersebut,
„Drrtt... drttt..” tiba-tiba ponsel Gwen bergetar. Gadis itu segera mengambil ponselnya, dan melihat siapa yang melakukan panggilan kepadanya. Ternyata Barra yang sedang melakukan panggilan..
“Assalamu alaikum, ada apa kak Barra..” dengan manis, Gwen menyapa suaminya.
“Wa alaikum salam.., kamu ada dimana honey.. Aku sudah menunggumu beberapa saat di rumah, karena akan mengajakmu keluar mumpung besok pagi week end.” Ternyata Barra sudah menunggu di rumah, dan hal itu membuat gadis itu terkejut.
“Iyakah… tunggu honey, aku akan menyusulmu. Dan sekalian kita berangkat, kita akan healing, refreshing..” tanpa mendengar jawaban persetujuan istrinya, Barra mematikan panggilan secara sepihak.
Begitu Barra mengakhiri panggilan, Gwen Kembali mengamati deretan tumbuhan kaktus yang ada di dalam ruang kaca tersebut.
**********
Setelah merasa capai mengelilingi kebun bunga, akhirnya Gwen mengajak pulang rombongan. Tanpa berpikir apapun, ke empat anak mud aitu keluar melalui pintu keluar. Tapi tiba-tiba Andy melihat ke arah Gwen,..
__ADS_1
“Ada apa And.. kenapa kamu melihatku seperti itu..” merasa bingung dengan tatapan Andy, Gwen mengkonfirmasi anak muda itu. Bahkan Aldo dan Asep ikut melihat kea rah Andy, padahal mereka tidak tahu apa yang ditanyakan oleh Gwen.
“Kamu minta kak Barra untuk menjemputmu kesini ya Gwen..” tanya Andy tiba-tiba.
“Gak sih, memang kenapa. Aku hanya bilang sama kak Barra, jika Gwen saat ini sedang bersama Andy, Aldo dan Asep.” Karena memang tidak meminta suaminya untuk datang menjemput, Gwen menjawab dengan santai.
“Hemppph… dasar bucin. Tengok tuh Gwen ke depan..!” Andy dengan muka kesal meminta Gwen melihat ke arah depan. Aldo dan Asep ikut melihat kea rah depan.
Tampak dari arah depan, senyuman Barra yang sedang berjalan mendatangi ke empat anak muda itu tampak merekah. Gwen segera menghampiri suaminya, keduanya saling berpelukan, dan di depan tiga anak muda itu, Barra memberikan ciuman di kening istrinya. Andy dan Aldo tampak melengos, seperti tidak mau melihat adegan intim menurut mereka itu.
“Terima kasih Andy, Aldo dan Asep sudah menemani istriku jalan-jalan ke taman bunga ini. Aku malah belum pernah berkunjung ke tempat ini, sekarang istriku sudah bersama dengan kalian bertiga berwisata di tempat ini..” masih merangkul Gwen dengan tangan kanannya, Barra mengucapkan terima kasih pada tiga anak muda itu.
„Santai saja kak..., jika kak Barra tidak ada waktu untuk menemani Gwen berjalan-jalan. Jangan khawatir kak, aku bisa kok menggantikan kakak untuk menyenangkan Gwen.” Mendengar kata-kata yang diucapkan Andy, kening Aldo berkerut. Tapi bukan porsinya untuk mengingatkan anak mud aitu, ada Barra suami Gwen yang lebih berhak untuk mengingatkannya.
“Jaga tutur bicaramu Andy, aku tidak pergi untuk bermain. Tapi aku bekerja menjalankan perusahaan, dan Gwen juga tahu itu. Kedatanganku ke tempat ini, untuk menjemput Gwen dan menepati janjiku padanya. Aku akan mengajak Gwen untuk melihat Aurora, yang pernah aku janjikan kepadanya beberapa minggu yang lalu. Mumpung besok week end, aku akan menepatinya saat ini..” tidak diduga, ternyata dengan nada sinis, Barra menjelaskan maksud kedatangannya.
„Kak Barra sabar.., Andy tidak bermaksud beneran kok, hanya menggoda kita saja. Kita berangkat saja yuk kak, biar Ducati dibawa Andy pulang..” agar suasana tidak menjadi panas, Gwen mengalihkan focus suaminya.
“Okay honey… Aldo, Asep, Andy.. aku dan Gwen berangkat dulu.” Di bawah penglihatan tiga anak muda itu, tanpa ragu Barra merangkul istrinya dan membawa Gwen masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
*********