Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 21 Gundah


__ADS_3

Merasa malu dengan yang terjadi pada dirinya tadi pagi, Gwen langsung masuk ke kamar mandi untuk bersiap berangkat ke sekolah. Gadis itu mengutuk dirinya sendiri, karena bisa-bisanya tanpa dia tahu dan sadar, sampai pagi dirinya tidur dalam pelukan suaminya Barra. Tetapi, sifat kekanak-kanakan yang masih suka gengsi, dan keras hati, tidak membuat gadis itu berpikir bijak. Gwen malah tidak mau lagi bertemu dengan Barra, sehingga ketika gadis itu keluar dari kamar mandi dan tanpa sengaja berpapasan dengan Barra, Gwen tidak menyapa laki-laki itu.


"Aku harus segera berkemas, dan pergi ke sekolah. Mumpung Om Barra masih mandi, aku akan menyelinap keluar memanggil Grab Taxi untuk mengantarku ke sekolah.." otak gadis itu bermain dengan cepat.


Setelah beberapa menit berkemas, Gwen segera melaksanakan apa yang ada dalam benaknya. Gadis itu berjinjit dan menenteng sepatunya. Sambil bersembunyi, Gwen memesan mobil dari aplikasi online. Setelah memastikan mobil yang akan menjemputnya, sudah dalam perjalanan ke arah rumahnya, gadis itu segera berlari keluar menuju ke jalan.


"Non Gwen... mau kemana pagi-pagi begini..?" penjaga gerbang berteriak menyapa gadis itu.


Tetapi Gwen mengangkat jari telunjuk kemudian  menempelkan di depan bibirnya, sebagai isyarat agar laki-laki itu diam. Merasa ngeri dengan sikap majikannya jika sudah seperti itu, penjaga gerbang akhirnya tidak memperpanjang rasa ingin tahunya. Tidak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan gerbang, dan Gwen langsung masuk ke dalamnya,


"The Intercultural School ya mbak..." seperti biasa, driver taksi memastikan tujuan dari penumpangnya.


"Benar pak, langsung menuju ke sekolah ya. Mumpung masih pagi, belum macet.." sahut Gwen yang kemudian mengenakan sepatunya.


Dari kaca depan, driver mobil memperhatikan tingkah gadis itu. Melihat bagaimana Gwen tergesa-gesa, yang mengenakan sepatu di dalam mobil, kemudian juga menyisir rambut di dalam mobil tersebut, menandakan jika ada sesuatu dengan gadis itu.


"Hemmph... mbak Gwen tidak sedang melarikan diri dari rumah kan..?" tiba-tiba Gwen menghentikan aktivitasnya, kemudian mengangkat wajahnya dan melihat ke arah driver tersebut.


"Kenapa masnya bisa bertanya seperti itu..? Apakah penampilan saya pagi ini, menandakan jika saya sedang melarikan diri dari rumah.." dengan polosnya, sambil memasukkan kembali sisir ke dalam tas, Gwen balik bertanya,

__ADS_1


"Mungkin saja iya mbak, karena sepertinya tidak mungkin buka. Mbak Gwen keluar dari rumah mewah sebesar itu, bahkan rumah itu tergolong rumah paling mewah dan paling besar di komplek. Masak iya sih, rumah sebesar itu tidak ada sopir, atau tidak ada mobil untuk mengantar mbak ke sekolah. Apalagi sangat jelas, tadi mbak Gwen keluar dari pintu gerbang seperti sedang mengendap-endap." lanjut driver tersebut.


Mendengar hal tersebut, Gwen tersenyum sendiri karena mengiyakan perkataan dari driver tersebut. Namun gadis itu tidak membenarkan ucapan tadi.


"Langsung ke sekolah saja ya pak, karena ada kalanya seseorang itu ingin sesuatu yang berbeda dari rutinitas sehari-harinya mas... Yah.. untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang lain saja." sahut Gwen mengakhiri pembicaraan. Gadis itu kemudian melihat keluar dari kaca mobilnya..


"Benar mbak.." sahut sopir, dan karena melihat bagaimana ekspresi gadis itu dari kaca depan, akhirnya sopir sudah tidak lagi kepo, dan banyak bertanya pada Gwen.


Tidak sampai lima belas menit perjalanan, terlihat gerbang The Intercultural School sudah terbuka. Tetapi karena memang masih pagi, terlihat belum banyak orang yang lalu lalang masuk ke dalam sekolah tersebut,


*************


Barra keluar dari dalam kamar mandi, dan aroma semerbak parfum Gwen terendus di indera penciumannya. Tubuh laki-laki itu terhenti dan seperti bergetar mencium aroma parfum di pagi hari. Tiba-tiba saja, sesuatu dari bagian tubuhnya kembali bergejolak, bereaksi dengan aroma tersebut.


"Fu**ck it..., jangan bangun guys... bukan saatnya.." Barra bergumam, kemudian melanjutkan lagi aktivitasnya.


Laki-laki itu kemudian bersiap, dan melihat jarum jam yang masih di angka enam, Barra berpikir jika Gwen menunggunya di meja makan. Barra segera bersiap, dan tidak lama kemudian dengan pakaian santai laki-laki itu keluar menuju ke meja makan.


"Selamat pagi tuan Barra.., kenapa nona Gwen tidak sekalian diajak keluar untuk sarapan pagi tuan.. Setiap pagi, padahal non Gwen itu selalu minta dibuatkan nasi goreng oleh Bibi." Barra kaget dengan pertanyaan dari ART keluarganya itu. Seketika laki-laki itu seperti speechless karena tidak tahu bagaimana akan bersikap.

__ADS_1


"Non Gwen lagi ingin sendiri bik... Tadi juga sudah menyampaikan padaku, biarlah aku sarapan sendiri saja, buatkan kopi hitam ya Bik... tanpa gula." untuk menjaga nama istrinya, Barra menelan sendiri kekecewaab terhadap Gwen. Laki-laki itu tidak mau jika istrinya kena marah dari kakeknya, karena malah akan semakin runyam hubungan mereka.


"Baik tuan... tunggu sebentar." Bibik Surti segera membuatkan kopi sesuai permintaan dari suami nona mudanya.


Barra mengoleskan butter ke roti gandum, kemudian memotongnya kecil-kecil dengan menggunakan pisaunya. Besok pagi, hari terakhir laki-laki itu di Bogor, karena harus segera kembali ke Finlandia untuk membereskan beberapa hal. Barulah dua minggu lagi, Barra bisa kembali ke Indonesia.


"Hempph apakah sebegitu menyebalkan diriku di mata gadis seusia Gwen... Kenapa gadis itu terlihat seperti menolakku, dan bahkan selalu muncul pertengkaran jika aku sedang bersamanya." dalam hati sambil menikmati potongan roti, Barra berbicara sendiri.


"Terus.. apakah aku akan mencoba untuk mempertahankan pernikahan ini... hempph. Ternyata dengan ataupun tanpa memiliki istri, hidupku tetap sama juga. Tetap kosong, tetap kering seperti biasanya.." Barra merasa semakin nelangsa. Kembali laki-laki itu terdiam...


"Damn girl... siapapun hanya bisa menyakiti hati saja... Dari pada aku hanya terbuai dengan harapan kosong dari perempuan bernama Jacqluin... aku nikmati saja dulu apa yang ada. Sepertinya Gwen masih bisa untuk diarahkan, meskpun perbedaan usia kami 11 tahun, aku akan bisa menundukkannya. Hanya saja, aku memang harus lebih banyak bersabar." dalam hati akhirnya Barra membuat keputusan.


"Ini kopinya tuan Barra, apalagi yang bisa Bibi buatkan untuk tuan..." lamunan laki-laki itu dibuyarkan oleh kedatangan Bibi Surti yang mengantarkan kopi pesanannya.


"Terima kasih Bik, cukup kopi ini saja. Bibik bisa kembali ke belakang.." sambil mengambil cangkir kopi, Barra meminta ART itu untuk meninggalkannya.


"Baik tuan.."


Setelah menyeruput kopi hitam itu beberapa tegukan, dan potongan sandwich di piring juga sudah habis, akhirnya laki-laki itu langsung berdiri. Merasa bingung dengan apa yang dikerjakannya, akhirnya Barra mengambil kunci mobil sport, dan juga gadget kemudian pergi keluar. Tidak lama kemudian, laki-laki itu sudah masuk ke dalam Roll Royce, dan segera menyalakan mobil dan membawa mobil itu keluar dengan cepat,

__ADS_1


************


__ADS_2