Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 32 Berkunjung ke Perusahaan Keluarga


__ADS_3

The Intercultural School


Dengan tatapan kecewa dan marah, Aldo keluar dari ruang kerja Wakil Kepala Sekolah Bidang Akademik. Laki-laki itu adu ketegangan dengan wakil kepala sekolah, karena merasa tidak ada informasi dan penjelasan secara resmi dari pihak sekolah, tentang adanya Olimpiade Kimia dan Fisika. Namun wakil kepala sekolah dengan gamblang menjelaskan, dan mengatakan jika kegiatan ini rutin selalu ada setiap beberapa tahun. Informasi kemenangan di tingkat nasional juga sudah diinformasikan, hanya saja karena permintaan dari Gwen, tidak disebutkan siapa siswi yang mewakili dari pihak sekolah.


"Bukkk..." hantaman bogem mentah Aldo mengenai samsak gantung di arena berlatih Muay Thai yang ada di sekolah. Fasilitas olah raga di sekolah ini memang sangat lengkap, berusaha mengakomodir semua keinginan dan hobby dari masing-masing siswa. Tidak dipungkiri, dengan besarnya uang masuk dan SPP bulanan di sekolah ini, sekolah berusaha memenuhi tuntutan semua fasilitas.


"Hey Aldo... what happen guys..." melihat Aldo yang tampak marah melampiaskan emosi, Raffi dan Asep berlari menghampiri anak muda itu.


"Bukk... bukk... buk..." tetapi anak muda itu mengacuhkan panggilan teman-temannya. Beberapa kali, Aldo terus menghantam samsak tersebut. Akhirnya beberapa teman akrab dari laki-laki itu menunggunya di pinggir, dan melihat dengan tatapan cemas.


Beberapa saat kemudian, akhirnya dengan nafas terengah-engah, Aldo menghentikan pukulan pada samsak gantung tersebut. Asep dan Raffi segera memegangi tubuh anak muda itu, kemudian mengajaknya untuk duduk di kursi yang ada di pinggir tempat tersebut. Terlihat Alana segera mendatangi Aldo, dan memberikan air mineral pada laki-laki itu.


"Minumlah dulu Ald.. apa yang membuatmu marah seperti ini..." sambil memberikan botol minuman, Alana bertanya dengan cemas.


Aldo membuka segel botol air mineral, kemudian minum beberapa teguk secara langsung dari botol tersebut. Setelah itu, Aldo meletakkan botol tersebut di samping tempatnya duduk,


"Asep... aku harus secepatnya menuju ke negara SIngapura sore ini juga... Atur penerbangan untukku..." Asep kaget dengan permintaan tiba-tiba dari sahabatnya itu.

__ADS_1


"Okay.. okay..., tidak masalah untuk pesawatnya Aldo.. Tapi ada apakah kamu akan ke negara itu, ada tujuan tidak. Kita sudah kelas XII Aldo.. dan ingat ada latihan ujian minggu ini. Kamu tidak bisa mengacaukannya, hanya karena tindakan impulsive seperti ini..." Asep berusaha menasehati anak muda itu.


"Sebentar.. sebentar.., aku bisa menangkap sumber dari kemarahan Aldo sepertinya. Hanya Gwen yang bisa menyebabkan Aldo menjadi seperti ini... apakah kata-kataku benar Aldo. Aku lihat sudah sejak kemarin, Gwen tidak datang ke sekolah, dan kemungkinan besar Gwen ada di negara yang ingin  didatangi Aldo, yaitu SIngapura. Benar bukan ucapanku.." Raffi tiba-tiba menimpali.


Mendengar ucapan Raffi, Aldo menatap ke mata anak muda itu. perlahan Aldo menganggukkan kepala, mengiyakan pernyataan yang dikatakan Raffi. Asep dan Raffi akhirnya menghela nafas lega, tetapi reaksi tidak suka terlihat di wajah Alana. Gadis itu merasa, apapun yang dia lakukan untuk menarik perhatian Aldo, selalu kalah jika dibandingkan dengan Gwen.


"Oh my God... Aldo. Jika memang Gwen berada di negara Singapura, jangan-jangan Gwen yang menjadi wakil dari sekolah, untuk mengikuti Olimpiade Fisika dan Kimia. Tanpa kita ketahui, Gwen sudah lolos kualifikasi di tingkat nasional, berarti kita sebagai sahabatnya Gwen harus bersyukur dong Aldo.. Pertanyaanmu, kegundahanmu, kenapa tiba-tiba Gwen mengacuhkan, dan seakan memutus komunikasi dengan kita, terjawab sudah  bukan. Gadis itu men drill dirinya dengan persiapan, sehingga terkesan mengabaikan kita." Asep menanggapi reaksi yang ditunjukkan Aldo.


Aldo terlihat diam, dan berusaha mencerna kata-kata yang dikatakan sahabatnya itu. Setelah beberapa saat, terlihat jika anak muda itu sudah bisa menerima informasi tersebut. Aldo kemudian berjalan meninggalkan tempat tersebut, dan semua temannya mengikuti anak muda itu.


Singapura


Tahapan demi tahapan Olimpiade sudah dilalui Gwen tanpa hambatan yang berarti. Uji coba di laboratorium, penyelesaian rumus, presentasi maupun ujian tulis dikerjakan gadis itu dengan cepat. Tidak tahu kenapa, Gwen merasa semua energinya mengalir keluar, dan dengan lancar bisa menyelesaikan semua soal dengan cepat dan benar. Beberapa pengawas dan pemantau terlihat senang dengan kerja gadis itu...


"Gwen... hari ini kita akan diberikan waktu oleh Commitee untuk waktu bebas. Aku yakin, kamu tidak berpikiran untuk kembali menghabiskan waktumu di dalam hotel saja bukan." selesai mengerjakan tugas terakhir, Chakra mendatangi Gwen dan bertanya pada gadis itu. Sebenarnya Chakra ingin mengajak Gwen berjalan-jalan, tetapi melihat Gwen terlalu diam, anak muda itu mencoba memancing gadis tersebut.


"Tidaklah Chakra.. tapi aku punya rencana untuk siang ini. Aku akan mampir ke tempat Om ku, dan menyerahkan undangan ini. Jujur Chakra.. tidak sepertimu, kedua orang tuamu sudah berada di negara ini, yang sejak awal meskipun kalian tidak berada dalam satu hotel, kamu sudah mendapatkan support penuh dari mereka. Sedangkan aku, tidak ada siapapun bukan yang menemaniku..." Gwen tersenyum kecut. Tetapi gadis itu juga tidak bisa menyalahkan siapapun, dirinya memang tidak memberi tahukan pada kakek dan juga Om nya, jika dirinya ikut Olimpiade.

__ADS_1


Begitu tahu jika babak penyisihan tingkat Asia di adakan di Singapura, Gwen berpikir akan memberikan kejutan untuk Andrew, dan akan mampir ke perusahaan untuk mengejutkannya.


"Mmmph begitu ya Gwen.. padahal aku tadi akan mengajakmu ke Pulau Sentosa dengan papa dan mamaku. tapi yah... karena kamu sudah ada acara sendiri, jadi batal deh..." dengan senyum kecewa, Chakra membatalkan niatnya.


"He.. he.. he.., sorry ya Chakra, aku tidak bisa menemanimu. Berbahagialah dengan keluargamu Chak.. jangan kecewakan mereka. Kamu harus bersyukur, masih memiliki dua orang tua yang lengkap, yang selalu siap menemani untuk kesuksesan karirmu ke depan.." Gwen tersenyum tipis. Meskipun ada sedikit rasa iri dalam hatinya, namun dengan cepat gadis itu bisa menutupinya. Dia tidak mau, jika anak muda yang baru berkenalan dengannya beberapa hari itu, mengetahui jika statusnya sudah yatim piatu.


"Baik Gwen.., maybe next time aku akan bisa mengenalkanmu pada mama dan papaku.." dua anak muda itu kemudian berpisah.


Gwen langsung menuju ke pintu akses keluar, dan lewat pintu lift gadis itu turun menuju ke arah lobby. Gadis itu sudah mempelajari akses untuk menuju ke perusahaan Om Andrew. Dengan pengetahuannya itu, tanpa ragu Gwen langsung menuju ke Palm Biomedical Park, tempat dimana perusahaan keluarga Atmadja memegang saham terbesar di perusahaan itu. Sebenarnya Andrew juga memiliki beberapa perusahaan sendiri di beberapa negara, namun dengan kemajuan teknologi, laki-laki muda itu bisa memanfaatkan teknologi virtual untuk mengakses kegiatan operasional perusahaan.,


"Are you Miss Gwen... I am the driver assigned to pick you up." dengan sikap sopan dan hormat, ada seorang laki-laki yang bertanya pada gadis itu.


Memang Gwen sudah menghubungi sekretaris perusahaan keluarganya, tetapi meminta untuk merahasiakan kedatangannya ke negara itu dengan paman dan juga kakeknya,


"Yap... segera antarkan saya.." begitu Gwen menjawab, secara otomatis pintu mobil terbuka dan gadis itu segera masuk ke dalamnya.


***********

__ADS_1


__ADS_2