Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 238 Dukungan Suami


__ADS_3

Gwen sedang sibuk di belakang meja, melihat foto ruangan client yang meminta pelayanannya untuk membuat desain interior. Hal itu sering terjadi, Ketika Barra sudah berangkat ke perusahaan, dan Sheen sedang tertidur atau diasuh oleh baby sitter. Jadi, meskipun hanya berada di dalam rumah, namun Gwen sangat produktif. Ribuan euro terus mengalir ke rekeningnya, seiring banyaknya permintaan dari client untuk pengerjaan desain kepadanya.


“Bip.. bip.. bip..” tiba-tiba ponsel Gwen berkedip.


Perempuan itu memang sengaja mematikan sinyal ponsel, bahkan getaran juga dimatikannya. Tapi ada lampu berkedip jika ada pesan atau panggilan masuk. Gwen mendiamkannya, karena kerjaannya sangat ini masih nanggung. Perempuan itu berniat untuk menunda, menerima panggilan.


„Hemppphh... ukuran ruangan ini tidak begitu besar, tetapi tidak mungkin jika aku membiarkan orang melihat ukuran ruangan yang sebenarnya. Pemilik merchant harus menambahkan cermin besar sesuai ukuran tembok, sehingga ruangan akan terkesan jauh lebih besar dua laki lipat ukuran aslinya.” Gwen berbicara sendiri.


Dengan cepat, Gwen kemudian membuat coretan dalam draft desain di depannya, dan tidak menunggu lama tampak sebuah ruangan yang terlihat lebih lapang, tergambar di layar laptopnya. Beberapa kali Barra membelikan laptop dengan spec tinggi untuk istrinya, sehingga Gwen merasa nyaman bekerja dari rumah,


„Kerjaanku  sepertinya sudah lebih banyak dikenal orang, terbukti banyak email dan pesan masuk untuk meminta jasa konsultasi. Sepertinya aku tidak bisa lagi menganggap sepele pekerjaan ini, karena aku juga tidak mungkin untuk mengecewakan calon konsumen.” Kembali perempuan itu tampak berpikir serius.


„Tapi aku sudah merasa kewalahan, dan harus mengatur waktu untuk menyelesaikan order dari konsumen. Untuk waktu malam hari, sudah kesepakatan jika waktuku hanya untuk keluarga. Papanya anak-anak pasti akan melakukan protes, jika aku harus menghabiskan hariku untuk pekerjaan ini. Apalagi, uang bukan masalah bagiku, karena kak Barra selalu memenuhi semua keinginanku..” keraguan mulai menghantui Gwen.


„Bip... bip.. bip..” terlihat ponselnya kembali berkedip, tetapi Gwen belum beranjak untuk mengangkatnya. Pekerjaan yang saat ini ada di depannya, sudah mengalami penundaan beberapa waktu, dan tidak mungkin lagi  untuk ditundanya.


“Tring.. tring..” belum juga panggilan ponsel diangkat, notifikasi pemberi tahuan email masuk, juga beberapa kali memberi notifikasi.


Gwen hanya tersenyum kecut, tidak menyangka jika bekerja sendiri, yang dipikirnya santai malah akan menyusahkannya seperti itu.


“Aku sepertinya membutuhkan asisten untuk menbantu pekerjaanku, karena tidak mungkin jika aku hanya sekedarnya saja, waktuku aku gunakan untuk menyelesaikan pekerjaan,. Jika terus terusan seperti ini, bisa jadi customer akan berlari meninggalkanku.” Perempuan itu terus bergumam, dan memijit keningnya sendiri.


Pada saat memutuskan untuk menggunakan ketrampilan yang dimilikinya, Hasil dari belajar di perguruan tinggi, serta hobbynya, Gwen tidak berpikir serumit itu. Perempuan itu hanya berpikir jika hobby nya akan tersalurkan, dan ternyata banyak request terhadap pekerjaannya itu.


“Atau nanti jika papanya anak-anak di rumah, aku bisa mengatakan kesulitanku, Apakah nanti aku diijinkan untuk menggunakan waktu malamku, untuk mengejar target, ataukah aku diperkenankan membuat merchant sendiri, dengan beberapa karyawan yang membantuku.” Kembali Gwen berbicara sendiri.

__ADS_1


Pada akhirnya Gwen tidak memiliki solusi apapun, dan memutuskan untuk mengajak bicara suaminya. Tiba-tiba Gwen teringat pada Cynthia..


“Hempphh… atau aku bisa berbicara pada Asep ya, meminta ijin agar Cynthia membantuku. Desain karya Cynthia juga diakui oleh beberapa Profesor di kampus, jadi tidak ada salahnya aku mencoba meminta bantuannya. Tapi mmmppphh… hanya saja, Cynthia sedang bersiap untuk melahirkan bayi yang dikandungnya..” pikiran Gwen kembali buntu.


Merasa pusing, Gwen malah kemudian mengabaikan pekerjaannya. Perempuan itu kemudian berdiri, dan setelah melakukan strectching sebentar, kemudian berjalan ke arah ranjang. Akhirnya Gwen malah memutuskan untuk berbaring, dan mulai memejamkan matanya perlahan.


*************


Malam Harinya


Meskipun tubuhnya terasa Lelah, Gwen masih melayani Barra seperti biasa. Perempuan itu membantu melepaskan dasi, dan juga melepaskan kancing kemeja. Hanya saja, penampilan Gwen tidak bisa mengelabui pandangan suaminya. Karena di wajah perempuan itu, sangat jelas terlihat ada gurat kelelahan membayang.


“Honey.., aku melihat malam ini, istriku terlihat sangat lelah. What happend..., apakah anak-anak banyak membuat masalah hari ini..?” dengan kata-kata lembut seperti biasanya, Barra bertanya pada istrinya.


“Tidak apa-apa pa.. mommy merasa sangat sehat kok hari ini. Hanya sedikit Lelah saja, tapi bukan karena disebabkan oleh anak-anak.”akhirnya Gwen menjawab pertanyaan dari suaminya.


Barra mengerenyitkan alis, kemudian memegang tangan Gwen dan memberinya ciuman di punggung tangan perempuan itu.


“Honey siapkan lemon tea panas dulu ya, papa mau mandi dulu. Setelah itu kita bicara, aku tidak ingin istriku merasa kelelahan seperti ini, dan sebagai suami aku kecolongan, tidak mengetahuinya.” Barra meminta istrinya untuk menyiapkan minuman.


“Baik kak..” tanpa banyak kata, Gwen kemudian berjalan meninggalkan suaminya keluar dari dalam kamar mereka..


Barra tersenyum lembut, dan laki-laki itu kemudian berjalan menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


**********

__ADS_1


Beberapa Saat kemudian..


Barra dan Gwen duduk di atas sofa di kamar mereka. Gwen membaringkan tubuh dan menyandarkan punggung dalam kehangatan suaminya. Tampak Barra baru saja menyelesaikan minuman hangatnya.


“Honey.. lanjutkan ceritamu tadi.. Kita harus mencari solusi, sebelum apa yang kamu rasakan tadi membesar. Katakan..” Barra kembali memancing istrinya.


“Hemppphh… begini pa.. Tapi sebenarnya Gwen sungkan untuk berceritan dengan papa, karena dari awal, Gwen bekerja free lancer hanya sebagai sampingan saja..” Gwen berkata lirih.


Barra tersenyum, kemudian menundukkan wajah dan memberikan ciuman di kening perempuan itu.


“Apakah istriku ini sudah mulai kewalahan, karena banjir order honey..?” tidak diduga ternyata kalimat terakhir yang diucapkan Barra, tepat seperti yang dirasakannya.


Gwen mengangkat tubuhnya, kemudian membalikkan wajah menatap ke wajah suaminya.


“Kenapa honey terkejut…?? Hempph… honey, honey, aku ini suamimu. Tidak akan ada yang dapat kamu sembunyikan dariku honey.. Tanpa honey sadari, papa selalu mengecek dan mengawasi pekerjaanmu. Semakin dikenalnya akunmu, dan namamu, kepercayaan customer semakin banyak terhadapmu. Hal itu akan mendorong usahamu menjadi besar.., hanya saja..” laki-laki itu menghentikan kalimatnya.


“Hanya saja apa pa..?? Apakah Gwen harus berhenti..?” tampak kekhawatiran jelas terlihat di wajah cantik Gwen.


Tiba-tiba Barra menyentil ujung hidung Gwen, dengan menggunakan ujung jarinya, Gwen malam semakin menatap dengan kebingungan.


“Tidak honey,,, bukankah istriku bekerja bisa membantu keuangan suami. Putra kita tiga, dan untuk itu, kita harus mencari uang sebanyak-banyaknya untuk keperluan mereka. Tentu saja papa tidak akan mengurangi kesenanganmu honey…, tapi papa akan membantumu.” Barra tersenyum dan memberi tanggapan atas kebingungan istrinya.


Gwen merasa tidak percaya dengan kata-kata suaminya, tapi Barra hanya tersenyum dan kembali memberikan ciuman di keningnya.


********

__ADS_1


__ADS_2