
Dalam mobil Porsche
Barra melirik ke kursi samping, dan terlihat Gwen sedang melamun mengalihkan pandangan keluar kaca mobil. Laki-laki itu beberapa saat terdiam, bingung akan memulai pembicaraan dari mana. Banyak rencana dalam hati dan pikirannya, namun ketika berdekatan dengan istrinya, isi pikiran itu seakan lenyap begitu saja.
"Kita cari makan dulu yah... honey pasti lapar sepulang sekolah. Biasanya jika lapar, orang akan terdorong untuk marah-marah saja. Aku ingin suasana rumah kali ini anteng, tidak ada amarah di dalamnya..." tiba-tiba Barra mengajak bicara pada Gwen.
Gadis itu menoleh ke samping, dan pasangan suami istri itu beradu pandang. Sebenarnya dalam hati, Gwen merasa bersalah dengan sikapnya terhadap Aldo tadi, tetapi dirinya juga tidak menginginkan hal itu terjadi. Sebelum lulus dari SMA, Gwen ingin merahasiakan status pernikahannya dengan Barra, karena tidak mau menghebohkan sekolah favorit tempatnya menuntut ilmu.
"Ada apa honey, apa yang kamu pikirkan. Sepertinya ada yang mengganjal dalam pikiranmu... apakah karena anak muda bernama Aldo yang sudah mengganggu pikiran." Barra kembali mengajak bicara.
"Hempph..." sahut Gwen singkat.
"Kenapa tidak kamu katakan saja pada anak muda itu, jika sebenarnya kamu sudah menikah. Aku yakin, jika Aldo memang laki-laki yang jantan, dia akan menerima kenyataan meskipun itupun pahit baginya. Sudah berapa lama kalian pacaran... hingga kedatanganku merenggut semuanya," Barra bertanya dengan nada datar.
Gwen menatap tajam ke arah suaminya, sesaat keduanya saling bertatapan. Karena sedang dalam posisi mengemudi, Barra kembali mengarahkan pandangannya ke depan.
"Apakah tidak bisa kak, bicara jika memang tahu kenyataan aslinya. Gwen dan Aldo tidak pernah menjalin hubungan apapun, kami memang bersahabat sangat dekat. Jika memang Aldo adalah pacar Gwen... , maka pastilah Gwen akan berjuang agar bisa bersatu. Bahkan hambatan apapun, termasuk ancaman kakek Altmadja dan Om Andrew akan Gwen tentang..." dengan nada judes, Gwen menanggapi kata-kata Barra.
Barra tersenyum dalam hati dan merasa lega, ternyata kedatangannya pada Gwen tidak dalam posisi merebut gadis itu dari laki-laki lain. Meskipun pada awalnya Barra juga tidak menyetujui perjodohan itu, tetapi ketika tahu gadis yang dijodohkan padanya adalah Gwen, akhirnya Barra tidak bisa menolaknya. Sejak Gwen kecil, mereka berdua selalu bermain bersama, tetapi ketika papa dan mamanya kala itu memintanya untuk melanjutkan studi di luar negeri, mereka akhirnya terpisah.
__ADS_1
"Syukur alhamdulillah... berarti aku pertama dong di hatimu honey..." muncul keusilan Barra, laki-laki itu malah menggoda istrinya.
"Ge er sekali, memangnya kita ini pasangan suami istri beneran.., bukankah kita ini hanya pasangan suami istri dalam kertas saja. Kapanpun status ini bisa berubah... tanpa ada persetujuan dari salah satu pihak, hubungan ini tidak akan bisa lanjut..." dengan judes, Gwen memalingkan wajah dari laki-laki itu. Gadis itu kembali melihat ke luar kaca mobil.
"Saat ini honey belum bisa menerimaku, tapi seiring jalannya waktu, aku janji kita akan bisa menyatukan hati kita. Jujur...., akupun tidak tahu apakah ada rasa cinta dalam hatiku ketika menerima paksaan dari papa untuk menikah dengan Gwen... tapi sebagai laki-laki dewasa aku akan menjalaninya. Aku akan membuatmu bertekuk lutut kepadaku, percayalah..." sambil mengulum senyum, Barra kembali mengemudikan mobil dengan benar,
Gwen mengabaikan kata-kata yang diucapkan suaminya, gadis itu tetap dalam posisi melihat keluar kaca mobil. Apapun yang dilakukan oleh Barra, tidak dipedulikannya.
***********
Panti Asuhan Hidayah
"Kamu sering datang kemari honey..." sambil menemani jalan istrinya, Barra bertanya pada gadis itu, Tampak kekaguman terbersit di matanya.
"Ga..." sahut Gwen singkat.
"Kak Gwen..." tiba-tiba dari dalam panti, berlari tiga anak kecil, dan satu anak laki-laki yang langsung memeluk tubuh Gwen. Barra melihat hal itu dengan letupan kebahagiaan di dadanya. Melihat seorang Gwen yang selalu kaku di depannya, saat ini bisa luruh di hadapan anak-anak kecil ini.
"Kevin... Ira...., Chacha sudah mandi ya. Kak Gwen bisa mencium harum sabun mandi nih..." Gwen menanggapi anak-anak kecil itu dengan balik bertanya.
__ADS_1
"Sudah kak... tadi kami juga sudah mengaji sore sesudah sholat Ashar berjamaah... Oh ya kak, ini siapa...?" dengan polosnya jari Chacha menunjuk ke arah Barra. Gwen terdiam, dan bingung bagaimana akan memperkenalkan suaminya pada anak-anak itu.
Barra tersenyum, dan untungnya laki-laki dewasa itu bisa memahami kebingungan istrinya. Barra menurunkan tubuhnya, kemudian berjongkok dan memegang tiga anak kecil itu.
"Kenalkan ya, karena kita belum saling kenal. Kakak ini suaminya kak Gwen... kenalkan namaku kak Barra..." tanpa meminta persetujuan dari Gwen, Barra langsung mengenalkan diri tanpa menutupi identitas dirinya. Gwen hanya menghela nafas, sangat menyayangkan hal tersebut, namun gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya gadis itu hanya bisa pasrah saja.
Tiga anak kecil itu dengan cepat mengulurkan tangan, dan Barra menyambut uluran tangan-tangan mungil itu. Barra mengusap kepala ketiga anak itu, dan tanpa sadar air mata mulai menggenang di pelupuk mata Gwen. Gadis itu bisa merasakan kesedihan anak-anak itu, yang tumbuh tanpa kasih sayang dari kedua orang tuanya. Gwen pun juga merasakan hal itu, meskipun Om Andrew dan kakek Atmadja berusaha menggenapi kasih sayang itu, namun keduanya sering pergi ke laur negeri, dan hanya meninggalkannya dengan Bibik Darmi.
"Wah... ini ada tamu ya... Kevin, Ira, Chacha... kenapa kak Gwen tidak diajak masuk ke dalam..." tiba-tiba terdengar suara ibu pengasuh dari dalam bangunan panti.
Gwen mengalihkan pandangan, dan tanpa diketahuinya sapu tangan sudah mengusap air matanya yang menggenang. Gadis itu melihat ke arah suaminya, dan terlihat Barra tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Tidak baik jika dilihat ibu pengasuh, jika kamu menangis honey.." Barra berbisik di telinga Gwen. Gadis itu segera menuju ke arah bu Asih, ibu pemilik panti asuhan Hidayah. Barra mengikuti di belakangnya, dengan menggandeng tiga anak kecil itu.
"Membawa teman kemari ya nak Gwen... ayuk masuk dulu ke dalam.." Bu Asih mengajak Gwen untuk masuk ke dalam.
Gwen menyalami perempuan paruh baya itu, kemudian mencium tangannya. Barra juga melakukan hal yang sama, dan tanpa minta ijin pada Gwen.. tiba-tiba...
"Kenalkan Bu... saya Barra, suami dari istri saya Gwen..." suara mengenalkan diri suaminya sangat mengejutkan Gwen, dan gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa, hanya menatap tajam pada suaminya,
__ADS_1
***********