
Di dalam pesawat..
Barra menghampiri istrinya yang tampak masih belum mengantuk. Perempuan itu masih membaca majalah, dan duduk di samping Sheen yang sudah tertidur di sampingnya, demikian juga dengan kedua putranya yang lain. Barra langsung duduk di samping istrinya, kemudian mengangkat dan memindahkan majalah yang ada di pangkuan Gwen.
“Sudah malam honey… istirahatlah dulu. Perjalanan masih jauh, kemungkinan besok tengah malam, kita baru akan bisa landing di bandara Soekarno Hatta.. “ dengan penuh perhatian, Barra meminta istrinya untuk istirahat.
“Mmmmppphh… tapi belum mengantuk pa. Tadi sore, mommy ikutan papa minum hot black coffee, dan sekarang mata mommy masih jernih.” Gwen membuat alasan.
Barra memegang leher istrinya, kemudian menyandarkan kepala Gwen di dada laki laki itu. Sambil tersenyum, Barra menundukkan wajahnya ke bawah dan memberikan ciuman di kening perempuan itu.
“Honey… papa bisa kok membuat honey untuk cepat tidur. Dan kita tidak pernah mencobanya bukan..” dengan tatapan smirk, tiba tiba Barra melihat kea rah Gwen.
Perempuan itu terkejut, dan sangat memahami Bahasa isyarat dari suaminya. Dalam keadaan apapun, Barra tidak akan pernah bosan, dan akan selalu meminta hubungan intim dengan istrinya itu. Kedua tangan Gwen berusaha menjauhkan kedua tangan suaminya yang sudah mulai bergerilya.
“Papa.. ingat pa, kita saat ini sedang di udara. Ada pramugari, dan juga pilot di depan. Bagaimana jika mereka tahu, akan ditaruh dimana muka kita pa..” Gwen sengaja membuat alasan,
„Lihat juga pa, ada Tareeq dan Baareq yang sudah semakin juga, dan Sheen yang ada di samping kita. Mereka bisa terbangun pa..” lanjut Gwen.
„Hemppphh... begitukah..??? tapi gimana ini honey.., papa tidak bisa menahannya lagi. Adanya tantangan, malah membuat papa semakin bersemangat sayang. Dan semua kekhawatiran yang honey ungkapkan, sangat mudah untuk mengatasinya..” masih dengan senyuman, Barra tidak berhenti mendekati istrinya.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Gwen, tangan laki laki itu meraih remote, dan beberapa saat kemudian connecting door menuju ke ruang cock pit dan pelayanan tiba tiba tertutup dengan sendirnya. Barra meraih tangan istrinya, dan sekali tekan, ternyata ada sekat pintu pembatas antara mereka dengan ketiga anak mereka.
“Pa… emmmppphh..” tanpa bisa menghindar lagi, mata Gwen sudah mulai meredup.
Barra menarik tangan istrinya, kemudian membawa perempuan itu beberapa Langkah ke depan. Tidak lama kemudian, Barra membaringkan tubuh Gwen di atas bed lipat yang ada di dalam pesawat. Di tempat itu, Gwen sudah tidak bisa berkutik, selain hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh suaminya. Apalagi sentuhan tangan dan bibir laki laki itu sudah mulai mengendus, dan membuat tubuh perempuan itu menjadi lemas.
“Emmmmppphh… papa, ugh…” Ketika bibir laki laki itu memberikan jilatan di sepanjang area leher, mata Gwen sudah mulai meredup dan tidak bisa melihat lagi secara jelas.
Pakaian atas yang dikenakan Oleh Gwen sudah terlepas kancing, dan perlahan kedua tangan Barra berada di punggung perempuan itu, dan melepaskan pengait yang ada di punggung.
“Honey…, kamu adalah canduku sayang.. Mmmpphh… slurp..” melihat tubuh istrinya yang sudah polos, suara serak Barra sudah semakin tidak terkendali.
Tidak akan ada yang bisa menghalangi keinginan laki laki itu, apalagi suhu udara dingin membuat suasana mendukung, untuk aktivitas intim pasangan suami istri itu. Hanya de**sah nafas, dan lenguhan yang terdengar di atas bed itu. Dan untungnya, Gwen mengenakan head phone di telinga ketiga putranya, sehingga irama erotis mereka tidak terdengar oleh putra putri mereka.
*********
Gwen masih kelelahan, dan dengan malas masih bersandar di dada suaminya. Mengingat tempat, mereka hanya beberapa saat saja bereksplorasi dalam aktivitas memabukkan itu. Selebihnya mereka masih bermesraan, dengan tetap berpelukan setelah melakukan aktivitas intim mereka.
“Apakah honey kelelahan sayang…?” melihat istrinya yang masih terkulai lemas, Barra bertanya dengan lembut. Sebuah kecupan di kening perempuan itu, Kembali diberikannya.
__ADS_1
“Tidak begitu papa… tapi sensasi apa yang tadi kita lakukan masih terasa pa.. Bahkan degup jantung mommy masih terdengar sampai saat ini..” karena khawatir jika aktivitas akan membangunkan ketiga putra mereka, Gwen memang tidak bisa focus sepenuhnya, dalam melakukan hubungan intim.
Jadi di tengah serangan dari suaminya, perempuan itu kurang bisa focus, selain hanya merasakan kenikmatan saja. Dan untungnya Barra menyadari hal itu, dan mendapatkan sesuatu yang lebih menggetarkan dari biasanya.
“Tapi honey… aku menyukainya, karena lebih terasa beda dari biasanya. Apakah honey mau mencobanya lagi, mumpung masih malam..?” dengan tidak tahu malu, Barra malah menggoda istrinya dengan tatapan mesum.
“Aaaaawww… no.., no.., no… “ secepat kilat, Gwen langsung bangun dari posisi tidur di atas tubuh polos suaminya.
Tangan Barra terulur ingin menahan agar istrinya tidak menjauh pergi darinya, namun perempuan itu lebih cepat berdiri. Tatapan peringatan dialamatkan perempuan itu pada laki laki itu, dan Barra hanya senyum senyum saja melihatnya.
„Hempphh... sudahlah honey, jangan khawatir. Papa tahu dan paham sayang, bersihkan tubuhmu di kamar mandi terlebih dahulu, sehingga besok Ketika bangun bisa langsung mengerjakan sholat Shubuh. Papa akan beristirahat dulu untuk menunggu honey disini..” pada akhirnya, Barra meminta istrinya untuk Kembali berkemas.
Tanpa menjawab, hanya tersenyum malu, Gwen segera menyambar handuk dan bergegas menuju ke kamar mandi. Padahal biasanya, jika mereka menempuh perjalanan jauh dengan menggunakan pmereka lakukan, mau tidak mau mereka harus membersihkannya. Jika tidak, akan menghalangi aktivitas mereka untuk beribadah.
“Istriku terlalu imut, dan sangat menggemaskan. Aku tidak bisa melepaskannya sendirian, karena aku tahu akan banyak mata laki laki yang menatapnya penuh minat.” Tanpa sadar, Barra berkomentar tentang istrinya. Senyuman cerah terbit di bibir laki laki itu. Terlihat ada kebanggaan Ketika laki laki itu melamun tentang istrinya.
Untung saja, selama mereka di Helsinki, Gwen selalu menahan pandangan matanya, dan sangat jarang bergaul dengan teman laki laki asing. Perempuan itu selalu meminta persetujuannya, jika merasa ada teman laki laki mendekat, dan memintanya untuk menjadi mitra.
„Aku tidak mengecewakan istriku, jika aku tidak mau kehilangan dirinya untuk selamanya. Aku memang sudah terlalu Bucin padanya, dan aku pikir hal yang sama juga terjadi pada istriku. Kehadiran putra putri kami, aku harap semakin bisa merekatkan hubungan kami dalam keluarga.” Kembali Barra bergumam pelan.
__ADS_1
Laki laki itu kemudian berdiri, dan karena masih belum mengenakan pakaian, Barra menyambar selimut tipis kemudian mengikatkan di pinggangnya. Tanpa berpikir panjang, laki laki itu berjalan menuju ke bath room yang ada di dalam pesawat pribadi itu. Namun karena istrinya Gwen masih berada di dalam, laki laki itu duduk di kursi yang paling dekat dengan bath room, untuk menunggu istrinya keluar.
***********