Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 44 Cidera


__ADS_3

Beberapa Saat kemudian


Barra bergerak cepat, laki-laki itu dengan sigap memanggil tenaga kesehatan dari rumah sakit termahal di Jakarta untuk menuju ke sirkuit Sentul. Tenaga kesehatan datang dengan mengendarai helikopter dan langsung turun di pintu finish. Teman-teman kelas Aldo dan Gwen mengira, jika fasilitas kesehatan itu merupakan layanan yang disediakan oleh sirkuit, dari biaya sewa yang mereka bayarkan. Tetapi ketika tim security dan petugas jaga mengatakan jika fasilitas itu tidak dicover oleh sirkuit, mereka menjadi bingung,


"Kamu tidak apa-apa kan Aldo..?" dengan panik tanpa menghiraukan larangan suaminya, Gwen segera berlari mengejar petugas yang memasukkan Aldo ke dalam helikopter.


"Aku tidak apa-apa Gwen, hanya terkejut dan terpeleset saja. Jangan terlalu mengkhawatirkanku..." dengan senyum malu, Aldo mencoba menenangkan gadis itu.


"Dokter.. apakah anak ini harus dibawa ke rumah sakit untuk dicek kesehatannya, atau bisa dilakukan disini saja pemeriksaannya.." untuk mencegah istrinya ikut ke dalam helikopter, Barra mengajak bicara dokter yang ikut datang ke lokasi. Tangan laki-laki itu memegang lengan bagian atas Gwen, mencoba menahan istrinya agar tidak terlalu dekat dengan Aldo,


"Tidak perlu tuan muda, di sirkuit ini pula kami akan melakukan pemeriksaan. Fasilitas kesehatan yang kami bawa cukup lengkap, jadi tuan muda Barra tidak perlu mencemaskannya. Tidak sampai satu jam, kami sudah selesai melakukan tindakan.." Gwen terkejut dan menatap ke arah suaminya, ketika mendengar dokter memanggil nama Barra pada suaminya.


Semua yang ikut berkerumun melihat lebih dekat terkejut, dan mereka baru tahu jika ternyata laki-laki yang datang untuk mencari Gwen lah, yang mendatangkan petugas kesehatan tersebut,


"Kamu sudah dengan bukan honey... kita mundur dulu, dan ajak teman-temanmu yang lain, Beri kesempatan pada dokter untuk melakukan pemeriksaan, dan juga tindakan." sambil tersenyum tulus, Barra mengajak bicara pada Gwen.


Gadis itu diam tidak menjawab, tetapi kemudian melihat ke arah teman-temannya yang lain. Satu tangan Gwen memanggil Asep, dan laki-laki itu mendekat kepadanya.

__ADS_1


"Bagaimana Gwen.. apa yang harus aku lakukan..?" sambil melirik ke arah Barra, laki-laki itu bertanya.


"Suruh semua teman kita menyingkir dulu, beri ruang agar petugas pekerjaan selesai melakukan pemeriksaan. Atau yang ada kesibukan lain, mereka diminta pulang saja lebih dulu, Semakin banyak orang disini, dokter malah semakin tidak leluasa untuk melakukan tindakan. Cukup kita-kita saja yang memastikan agar Aldo mendapatkan perawatan sebaik-baiknya." Gwen mengajak bicara Asep.


Anak muda itu menganggukkan kepalanya, kemudian berjalan dan memberi tahu teman-temannya. Tidak lama kemudian, kerumunan itu bubar, dan tinggallan Asep, Raffi, Alana serta Novi dan Robert yang masih tinggal di tempat tersebut. Tetapi mereka tidak menyalahkan siapapun, karena mereka mengamati sendiri jalannya pertandingan. Dengan Gwen berada di boncengan laki-laki yang bernama Barra itu, bisa dipastikan jika tidak ada kecurangan dalam pertandingan.


"Duduklah dulu honey.. kamu pasti  capai berdiri sejak tadi.." tiba-tiba dari belakang Barra menepuk bahu istrinya. Gwen menoleh ke belakang, dan tidak tahu dari mana datangnya di belakang gadis itu sudah ada dua kursi, dan karena tidak mau berdebat, Gwen segera duduk di atas kursi tersebut.


"Minumlah... honey pasti haus.." setelah gadis itu duduk, Barra mengulurkan satu botol air mineral, dan Gwen langsung mengambil botol tersebut kemudian menenggak air tersebut sampai setengah botol. Barra tersenyum melihat sikap bar bar istrinya itu.


**********


"Asep, Raffi.. kalian pastikan Aldo aman sampai di rumah dulu ya, Aku akan pulang lebih dulu..." sebelum Barra menjalankan motor, Gwen berpesan pada Asep dan Raffi.


"Okay... tidak perlu kamu khawatir Gwen... kami akan memastikan Aldo sampai di rumah." Asep menanggapi perkataan Gwen.


Tiba-tiba saja, Asep, Raffi dan Robert berjalan mendekati Ducati, yang sudah ada Gwen dan Barra di atasnya. Gwen terkejut, dan merasa khawatir jika ketiga temannya itu akan membuat perhitungan pada suaminya. Tetapi belum sampai Gwen bicara untuk mencegah mereka...

__ADS_1


"Mas.. terima kasih ya kerja cepatnya. Dan maafkan tingkah laku kanak-kanak kami," Asep mewakili teman-temannya meminta maaf pada Barra, dan hal itu cukup membuat Gwen terkejut.


Barra tidak menjawab, tetapi laki-laki itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Di depan teman-teman Gwen, Barra menarik tangan Gwen dan melingkarkannya di pinggang sambil memegangi tangan itu dengan tangan kirinya. Tidak lama kemudian, Barra segera menjalankan motor meninggalkan tempat itu. Beberapa teman Gwen dan Aldo itu saling berpandangan, tetapi mereka tidak berani bersuara.


"Broom... broom...." Ducati warna merah itu membelah jalanan kota Sentul, dan kemudian memasuki kota Bogor. Gwen memeluk erat pinggang suaminya, dan menyandarkan kepala di punggung laki-laki itu. Barra senyum-senyum sendiri mendapatkan pelukan dari gadis itu, sesaat anak muda itu tersenyum sendiri seperti anak usia belasan tahun.


"Hempph... aku tidak menyangka, aku akan memiliki istri yang imut dan menggemaskan seperti ini. Kapan ya, aku bisa menjalani kehidupan suami istri, sama dengan suami istri pada umumnya.." sambil terus memutar gas motor, Barra berpikir sendiri.


"Kita mau makan dulu, atau langsung pulang ke rumah honey..." Barra mengajak bicara istrinya. Tetapi beberapa saat menunggu jawaban, tidak ada suara dari gadis itu.


Dahi Barra berkerut, dan laki-laki itu kemudian mengurangi kecepatan motornya dan berhenti sejenak di pinggir jalan. Barra menengok ke belakang, dan senyuman muncul dari bibir laki-laki itu, melihat Gwen yang tertidur pulas dalam boncengannya.


"Aku harus hati-hati membawa motor ini, akan sangat kasihan bagi Gwen jika dirinya aku bangunkan. Apalagi malam juga semakin larut, memang lebih baik segera sampai di rumah dan beristirahat." setelah berpikir sebentar, akhirnya Barra sudah mengambil keputusan,


Perlahan dengan satu tangan memegangi punggung istrinya, Barra kembali menjalankan motor dengan perlahan-lahan. Sambil menjalankan  motor, laki-laki itu terus senyum, seperti anak SMA pacaran dengan gadis yang dicintainya. Tidak sampai tiga puluh menit perjalanan, akhirnya mereka sudah masuk komplek perumahan tempat mereka tinggal. Barra segera mencepatkan laju motor yang dikendarainya, dan langsung menghentikan motor di depan teras masuk ke dalam rumah.


***********

__ADS_1


__ADS_2