Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 56 Apakah Begitu Berharganya Mawar Ini??


__ADS_3

Sesampainya di rumah


Aldo seperti orang kesetanan, semua barang di dalam kamarnya hancur karena menjadi pelampiasan dari anak muda itu. Para pembantu dan penjaga di rumah itu, tidak berani mencegah apa yang dilakukan oleh tuan muda mereka. Asep mengambil langkah tegas, laki-laki itu memberi tahu papa dan mama anak muda itu, memberi tahukan apa yang terjadi. Asep merasa, dirinya dan Raffi tidak mampu menghentikan tindakan nekat dari anak muda itu, dan juga tidak mau menjadi pihak yang akhirnya disalahkan,


“Temani terus putra Om, Asep... kali ini Om dan Tante belum bisa terbang mendadak ke Indonesia. Tapi jangan khawatir, psikiater sedang dalam perjalanan menuju ke rumah. Untuk barang yang rusak, abaikan saja. Anggap


saja, memang semua barang itu sudah usang. Dan memang sudah layak untuk digantikan dengan barang baru,” Tuan Hendrawan, papa Aldo dengan santai menanggapi keadaan putranya.


Laki-laki itu dan juga istrinya memang terlalu menghabiskan waktu untuk mengejar dunia, mungkin hal yang sama juga terjadi pada kehidupan para pengusaha di Indonesia. Mereka seperti tidak tersadarkan, akan tanggung jawab anak yang diamanahkan kepada mereka.


“Baik Om.., Asep hanya memberi tahu Om saja, agar tidak ada pihak yang nantinya disalahkan, jika terjadi sesuatu dengan Aldo.” Mendengar jawaban dari papa sahabatnya itu, Asep sebenarnya merasa prihatin. Namun tidak ada yang bisa dilakukan oleh anak mud aitu,


“Tidak akan terjadi Asep…, Om dan Tante akan bisa menerima semuanya. Toh… kami juga tidak bisa berada di Bogor dalam waktu dekat bukan. Tapi secepatnya, Om dan tante akan datang, dan setelah nanti Aldo lulus High Senior School, Om akan membawa Aldo ikut dengan kami di Canada.” Tuan Hendrawan menenangkan Asep.


Anak muda itu hanya mengambil nafas dalam, berusaha bisa mencerna dan menerima kata-kata dari keluarga Aldo. Dengan prihatin, akhirnya Asep mengakhiri panggilannya dan kemudian kembali ke kamar untuk menemui Aldo dan Raffi,


„Minumlah dulu Aldo... tenangkan pikiranmu. Apakah kamu tadi mendengar kata penolakan dari Gwen... tidak bukan? Masih ada harapan Aldo... dengan kekayaan papamu, kami yakin kamu akan bisa mengejar Gwen dimanapun. Lagian, kepergian Gwen kali ini ke Amerika untuk tugas dari sekolah, bukan untuk pergi meninggalkan kita selamanya..” Raffi berbicara perlahan, Anak muda itu mengulurkan air mineral pada anak muda itu.


Mungkin sudah merasa bisa terkendali, Aldo menerima gelas dari tangan Raffi, kemudian langsung menenggaknya sekaligus. Setelah itu, Aldo Kembali terdiam.


“Aldo… kamar ini berantakan. Kita pindah kamar tamu dulu yuk, biar kamar ini dibersihkan dulu oleh pembantu rumah tangga.” Asep mengajak sahabatnya itu untuk pindah kamar. Aldo menatap ke arah Asep sebentar, kemudian anak muda itu menghela nafas.

__ADS_1


„Terima kasih Asep..., Raffi.., kalian tidak meninggalkanku saat aku rapuh seperti ini. Kenapa kakiku harus sakit, jika tidak dalam kondisi seperti ini, aku pasti sudah bisa mengejar Gwen dan membawanya kembali kepadaku.” Aldo ternyata masih mengingat Gwen. Laki-laki muda itu tiba-tiba tersenyum kecut.


„Sudahlah Aldo... pasti akan ada hikmah di balik semua ini. Kita pindah dulu, nanti akan kita bicarakan lagi. Tadi Om Hendrawan mengatakan jika akan ada psikiater yang datang ke rumah untuk memeriksamu. Kita harus bekerja sama Ald... karena aku dan Raffi tidak ingin kamu minum obat tidak jelas dari psikiater itu. Jika melihatmu sudah stabil, pasti psikiater akan menghentikan pemberian obat kepadamu.” Asep menyampaikan hasil pembicaraanya pada anak muda itu. Raffi ikut menguatkan, anak muda itu juga menganggukkan kepalanya,.


Aldo terdiam, anak muda itu menghela nafas kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan itu. Kemudian anak muda itu menatap ke arah Asep dan Raffi.


“Kita keluar dari dalam kamar ini saja.. benar ucapan kalian. Kamar ini sudah tidak layak untuk istirahat..” akhirnya Aldo sendiri yang mengajak kedua anak muda itu untuk keluar dari dalam kamar. Ketiganya kemudian melangkahkan kaki menuju ke pintu keluar.


*********


Dalam private jet


Gwen masih menangis terisak, ketika mengingat kembali apa yang baru saja terjadi di pintu masuk ruang tunggu non komersil.


„Honey... apakah begitu berharganya buket bunga mawar itu, sampai sejak tadi tidak mau lepas dari tanganmu sayang...?” tiba-tiba, Barra berkomentar tentang pegangan erat Gwen pada bunga itu.


Gwen tidak bereaksi, gadis itu hanya melirik ke arah suaminya, tapi kemudian mengabaikan laki-laki itu kembali.


„Hempph... bukan apa-apa honey.., tidak mungkin juga aku akan marah pada bunga di tanganmu itu. Hanya saja, jika ada ulat di sela-sela kelopak tangan, atau di daun yang masih ada. Apakah tidak sayang, jika tangan istriku tiba-tiba gatal karena tersentuh ulat bulu tersebut..” sambil tersenyum, Barra menggoda istrinya. Tetapi ekspresi laki-laki itu tetap tenang.


Mendengar kata ulat, tiba-tiba menjadikan Gwen bereaksi. Tanpa bicara apapun, gadis itu melemparkan buket bunga ke kursi yang ada di depannya. Dari samping tempatnya duduk, Barra tersenyum. Laki-laki dewasa itu kemudian membungkukkan tubuhnya ke depan, ternyata laki-laki itu meraih tissue. Tanpa permisi, Barra mengusap sisa air mata yang masih tergenang di kelopak mata istrinya.

__ADS_1


“Gwen bisa sendiri…” gadis itu berbisik lirih, menolak perlakuan suaminya.


“Ssshh… ssstt…, biarkan aku yang melakukannya honey. Biar bersih tidak tersisa air matanya…” Barra memberi isyarat agar gadis itu menjadi diam.


Laki-laki dewasa itu melanjutkan mengusap air mata, dan tanpa sadar kedua pasang mata itu saling bertatapan. Barra terkesiap, melihat mata bening istrinya, sampai beberapa saat laki-laki itu tidak bisa mengalihkan pandangan dari Gwen.


“Sialan… sinar mata, dan mata istriku sangat bening sekali. Kenapa, semakin lama berdekatan dengan Gwen, ada sesuatu yang bergejolak dalam hatiku. Apakah aku sudah benar-benar jatuh cinta pada istri kecilku ini...” dalam hati, Barra berbicara sendiri.


„Excuse me tuan muda... nona muda, mau mengantarkan minuman panas…” tiba-tiba pasangan suami istri itu dikagetkan dengan suara pramugari yang mengantarkan makanan, dan minuman kepada mereka.


Sontak, Gwen langsung mendorong dada Barra untuk menjauh darinya.


Tetapi bukan Barra Namanya, jika laki-laki itu tidak usil. Di depan pramugari, Barra malah memberikan kecupan di pipi istrinya., Wajah Gwen menjadi merah, dan gadis itu mengalihkan pandangan keluar kaca jendela di sampingnya untuk mengurangi rasa malu,


„Letakkan di depan sini saja, makanan apa yang kamu bawakan untuk kami..” Barra memerintah pramugari untuk mendekatkan minuman ke depannya.


„Lasagna dan pasta tuan muda.. Apakah tuan muda dan nona muda menghendaki menu yang lain. Secepatnya akan saya siapkan..” sambil meletakkan makanan dan minuman di hadapan pasangan suami istri itu, pramugari menjelaskan.


“Ini saja cukup, kembalilah ke tempat asalmu.” Barra menjawab cepat.


Begitu pramugari meninggalkan mereka berdua, Barra kemudian mengangkat tempat lasagna, kemudian menggunakan sendok kecil mengambil, dan tanpa permisi menyuapkan makanan itu ke bibir Gwen. Gadis itu menatap sebentar, tetapi karena memang Gwen merasa lapar akhirnya gadis itu menerima suapan itu.

__ADS_1


***********


__ADS_2