
Base Camp
Ketika Aldo datang berboncengan dengan Gwen, semua yang duduk di base camp bertepuk tangan. Mereka tidak mengira, jika Gwen yang biasa kemana-mana sendiri dengan Ducatinya, kali ini datang dengan dibawa oleh Aldo pentolan mereka. Seperti tidak terjadi apa-apa, Gwen langsung turun dari boncengan Aldo, kemudian berjalan menghampiri orang-orang di tempat itu. Gadis itu melakukan toss dengan menepukkan telapak tangan, dengan telapak tangan beberapa orang di tempat itu,
"Loe ga datang sih Gwen tadi malam, Aldo juga... Akhirnya balapan di Sirkuit dibatalkan, dan si Komang kecewa sampai menendang motor balapnya. Dengar-dengar sih, hari ini Komang dan Made balik lagi ke Denpasar.." salah satu teman kedua anak muda itu, bercerita tentang keadaan tadi malam,
"Upss... sorry ya broo.., aku tiba-tiba sih tidak bisa keluar dari rumah. Kakek dan Om ku keduanya ada di rumah, jadi pengawasan untukku lumayan ketat. Kalian tahu sendiri kan, kemarin saja pergi dan pulang sekolah, aku dikawal sama Om ku." tanpa bercerita apa-apa, Gwen menanggapi celoteh temannya.
"Sudah.., sudah, tidak perlu dibahas lagi.. Ada makanan gak, jika ga ada tolong dong keluar carikan makan buat kami. Gwen tuh... dari pagi belum makan, tadi sempat aku tawari makan, tapi katanya makan bareng-bareng di base camp saja.." Aldo memutus pembicaraan itu. Karena anak muda itu yang pergi dengan Gwen tadi malam, meskipun gadis itu tidak bercerita, namun Aldo tahu jika Gwen sedang memiliki masalah.
Aldo kemudian menarik kursi, kemudian menepuk bahu Gwen memberinya isyarat agar gadis itu duduk di kursi tersebut, Gwen tersenyum, kemudian mendudukkan pantatnya di kursi tersebut.
"Atau pesan grab saja gimana Ald.. yang penting tidak jauh dari sini. Pasti ga akan lama juga antrinya, karena kalau datang sendiri, selain berdesakan dengan pengunjung lainnya, malah sering lebih lambat penangannya," Asep yang sering menjadi suruhan Aldo, menyampaikan gagasannya.
"Terserah yang penting, tidak pakai lama.." sahut Aldo yang kemudian duduk dan membaringkan tubuhnya di kursi panjang yang ada di tempat itu.
"Nasi padang saja Sep.. di Nasi Kapau Sakato. Aku pesankan nasi gule tunjang, tambah tahu pong ya.., untuk minum jeruk panas saja.." Gwen mengusulkan juga.
"Okay.." Asep langsung mendata pesanan masing-masing yang ada di tempat itu. Kemudian anak muda itu masuk ke aplikasi Grab food, dan memesan makanan untuk semua yang ada di tempat itu.
"Asep... sudah aku kirimkan wallet saldo OVO ke akunmu. Cek..!" meskipun Asep tidak mengatakan, ternyata Aldo sudah tanggap, Laki-laki itu mentransfer sejumlah dana ke akun wallet Asep.
__ADS_1
"Yap.., thank you Ald.." sahut Asep.
Sambil menunggu nasi padang yang dipesan Asep, mereka berbincang tentang banyak hal. Tetapi Gwen lebih banyak diam, dan bertemu dengan teman-temannya dengan segala celoteh mereka, sedikit melupakan kegetiran yang dialami dalam hidupnya. Ingin rasanya Gwen melupakan apa yang sudah terjadi padanya, dan menganggap jika pernikahan dirinya dengan Barra tadi pagi, hanyalah merupakan mimpi buruk untuknya.
"Gwen... bicara dong. By the way.. sejak tadi aku amati, kamu kok diam saja hanya lebih banyak mendengar kami berbicara. Tidak biasanya.." Celline yang mengamati perubahan dalam diri Gwen, bertanya pada gadis itu.
"Kalian saja yang bercerita, aku lagi Galau.. Makanya aku minta Aldo untuk membawaku kesini, tahu sendiri bukan jika ada Om ku di rumah, motorkupu tidak bisa aku bawa keluar.." Gwen membuat alasan.
"Sudah.. biarkan kali ini Gwen istirahat...! Di rumahnya lagi banyak tamu, tadi aku lihat banyak mobil parkir di halaman rumahnya. Makanya mungkin merasa tertekan, Gwen memintaku untuk membawanya kesini.." Aldo bertindak seolah menjadi penolong bagi gadis itu.
"Okaylah kalau begitu..." sahut Celline.
*********
"Ada apa Gwen... kenapa melihat mobil mewah di depan itu kamu tiba-tiba pucat...?" sambil menahan tangan Gwen, Aldo bertanya.
"Tidak apa Ald.. aku hanya ingin pergi sebentar dari tempat ini. Tapi apakah tidak ada jalan keluar dari sini, selain harus lewat jalan itu.." menyadari jika base camp itu berada di sudut gang buntu, Gwen bertanya dengan tatapan was was.
"Aku ada kunci untuk masuk ke pintu gerbang di belakang kita ini. Karena asset di belakang itu, milik papaku yang saat ini masih kita kosongkan." Gwen kaget mendengar penjelasan dari sahabatnya itu, tetapi sudah tidak ada waktu lagi untuk mendengar cerita kelanjutannya.
Tiba-tiba pintu mobil Porsche dibuka dari dalam, dan ketika ada satu kaki keluar, Gwen melengoskan pandanganya kemudian mendorong punggung Aldo untuk menuju ke arah pintu gerbang tersebut. Aldo yang penuh tanda tanya, namun untung saja laki-laki muda itu paham dengan yang diinginkan oleh Gwen. Aldo merogoh saku celana, dan mengeluarkan dompetnya kemudian..
__ADS_1
"Ayo ikuti aku.." ucap Aldo sambil menggandeng tangan Gwen.
Teman-teman kedua anak muda itu memandang Aldo dan Gwen yang berjalan meninggalkan mereka. Namun mereka tidak peduli, karena tatapan mata mereka bersinar melihat ada mobil mewah yang berhenti di depan mereka.
"Gila... mobil siapa tuh. Woww... gagah sekali penumpangnya, dan Oh My God... very very handsome..." Celline langsung berceletuk melihat Barra yang keluar dari dalam mobil. Satu kaca mata hitam merk Ray-Ban Olympian Deluxe, tampak bertengger di atas kedua matanya, dan menambah tampan wajah laki-laki itu.
Teman Gwen dan Aldo bernama Celline itu langsung berdiri dari posisi duduknya, dan gadis itu segera merapikan pakaian. Tampak jelas terlihat, gadis itu seakan beraksi untuk menarik perhatian Barra..
"Gwen..., where are you going...?" tiba-tiba bibir laki-laki itu berbicara, dan bertanya pada Gwen.
Aldo dan semua yang ada di base camp kaget, karena ternyata laki-laki tampan dewasa itu bertanya pada Gwen. Gadis yang dipanggil itu menghentikan langkahnya, dan Aldo sampai menoleh kepadanya. Tanpa bicara, Gwen membalikkan badan dan menatap ke arah Barra. Ada rasa ketakutan yang dirasakan Gwen saat ini, ketakutan jika sampai Barra membuka statusnya di depan teman-temannya.
"Lepaskan cekalan tanganmu pada Gwen.. tidak bisa sembarang itu, laki-laki bisa seenaknya memegang tangan seorang anak gadis.." tiba-tiba juga, Barra dengan suara tegasnya menegur Aldo yang masih terlihat menggandeng tangan Gwen.
Tanpa diminta, Gwen segera melepaskan tangan Aldo yang memegang pergelangan tangannya. Aldo tidak bersuara, laki-laki muda itu hanya menatap ke wajah Gwen yang terlihat pucat.
"Gwen... siapa dia, apakah itu pamanmu...?" merasa ragu, Aldo bertanya dengan suara pelan pada Gwen. Tetapi gadis itu sudah berjalan mendekat ke arah Barra. Dan Barra kemudian mengawal Gwen yang berjalan mendekat ke mobil yang diparkir tidak jauh dari situ.
Semua teman Gwen yang ada di base camp, seperti speechless tidak bisa bicara. Mereka termasuk Aldo, hanya memandang punggung Gwen yang sudah masuk ke dalam mobil.
**********
__ADS_1