
Tiga tahun sesudahnya….
Seorang perempuan cantik yang mengenakan niqab tampak menggandeng dua anak kecil, keluar dari bandara Halim Perdana Kusuma. Tampak ada dua baby sitter mengawal di belakangnya, dan juga ada dua pengawal laki-laki yang juga bersamanya. Tidak lama kemudian, sebuah mobil SUV mewah tampak dibuka pintunya, dan perempuan itu segera masuk ke dalam mobil tersebut.
“Miss… Bareeq dan Tareeq biar duduk Bersama dengan kami di tengah saja Miss.. Nanti akan mengganggu Miss, jika dua-duanya duduk di samping Miss..” dari kursi baris ketiga, baby sitter meminta ijin untuk memindahkan dua anak kecil itu.
“Nanny… Barreq mau duduk sama Mommy..” salah satu anak itu mengucapkan penolakan. Tapi tanpa diminta, Tareeq bergeser duduk ke belakang.
„Sudah nanny.. biar saja Bareeq duduk bersamaku.
Kita juga tidak akan lama, sudah akan sampai di kota Bogor. Istirahatlah dulu... sudah lelah bukan setelah menempuh perjalanan hampir dua hari..” dengan suara lembut, perempuan itu mengingatkan.
„Baik Miss...” tanpa banyak kata, akhirnya baby sitter itu diam. Tampak Tareeq dengan anteng, duduk diapit dua baby sitter.
Perempuan itu mengarahkan pandangan ke luar kaca mobil, dan beberapa kali perempuan itu mengambil nafas panjang. Banyak kenangan masa lalu yang dilihatnya, dari setiap tempat yang dilewati oleh mobil itu.
„Mommy... kita sedang berada dimana Mommy..?’ suara polos Bareeq memecah kesunyian.
Perempuan itu tersenyum, dan menoleh ke arah putranya.
“Kita saat ini berada di Indonesia bareeq, kita akan mengunjungi rumah masa kecil mommy. Tepatnya kita akan menuju ke kota Bogor.., rumah dari opa buyut.” Dengan sabar, perempuan itu menjelaskan.
“Mmmmpph… rumah opa buyut…, bukannya opa ada di Dubai tinggal Bersama kita mommy. Kok jadinya berada di Indonesia..” masih dengan kepolosannya, anak kecil itu mengejar pertanyaan.
„Iya sayang... opa buyut banyak memiliki rumah di berbagai negara. Nanti jika ada kesempatan, mommy akan membawamu kesana sayang.. Kali ini, kita ke kota Bogor dulu, karena mommy akan membawa kalian berdua untuk berziarah ke tempat opa dan oma.” Perempuan itu memberikan kecupan di pipi anak kecil itu.
__ADS_1
„Mommy... Tareeq juga diajak kan Momm...” dari kursi belakang, Tareeq ikut bertanya.
„Hmmmpphh... pastilah sayang. Kalian berdua pasti akan mommy ajak..
Dan nanti malam, opa Andrew juga akan datang kesini, jadi kita akan pergi ke makam bersama-sama. Sesampainya di rumah, kita akan istirahat dulu beberapa waktu. Setelah opa Andrew sampai, kita akan ke makam bersama-sama.” Perempuan itu meraih tangan Tareeq dan kembali membawa si kembar satunya untuk duduk di depan.
Nanny membantu dengan memegang tubuh Tareeq dari belakang. Kedua anak kembar itu memang sangat dekat dengan mommy nya, dan dua baby sitter itu hanya membantu saja.
“Mommy… kali ini
mommy akan membawa kami berdua untuk berkunjung pada oma dan opa. Tetapi... teman-teman Tareeq dan Bareeq di Kinder gaten, mereka memiliki papa. Apakah kami berdua juga memiliki papa Momm…” pertanyaan yang diucapkan Tareeq seperti memberikan tamparan pada perempuan itu.
Air mata menggenang di pelupuk matanya, namun dengan cepat perempuan itu mengusap dengan ujung lengan bajunya. Kesibukan mengurus kehamilan, kuliah online, kelahiran dan membesarkan kedua putranya, ternyata telah mengalihkan perhatian dari suaminya.
“Kenapa mommy tampak bersedih, jika pertanyaan Tareeq membuat mommy sedih, tidak perlu dijawab Momm… Suatu saat, Bersama Bareeq, Tareeq akan mencari papa sendiri.” Dengan polos, karena tidak ingin membuat mommy nya bersedih, Tareeq membatalkan pertanyaannya.
*********
District 3 Park Avenue
Bibi Surti, Mbok Darmi serta penjaga rumah tampak heboh menyambut kedatangan Gwen Kembali ke rumah. Semula mereka tidak mengenali penampilan baru Gwen, tetapi Ketika gadis itu mengangkat niqabnya ke atas, barulah orang-orang itu mengenali majikannya.
“Non… wajah Non tambah cantik dan matang saat ini. Dan simbok tidak menyangka sudah ada dua jagoan ganteng dalam kehidupan Non Gwen…” mbok Darmi sangat terharu melihat kemunculan Kembali gadis itu di depannya.
Teringat dalam ingatan dua perempuan paruh baya itu, Ketika Gwen kecil menangis saat kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaaan. Di tangan kedua ART itulah, Gwen tumbuh menjadi anak yang cerdas, meskipun kenakalan selalu menyertainya.
__ADS_1
“Mbok… Bi…, kenapa menatap Gwen sambil menangis seperti ini. Apakah bibi dan Simbok tidak suka, dengan kedatangan Gwen Kembali. Kenalkan mbok, Bik… ini Bareeq dan Tareeq putra kembarku. Baru kali ini, Gwen bisa membawa mereka berdua kembali ke Bogor..” sambil tersenyum, Gwen mengenalkan kedua putranya.
Tanpa disuruh, mendengar perkataan mommy nya pada dua perempuan itu, Bareeq dan Tareeq berjalan mendekati keduanya.
„Grannie... namaku Bareeq..” dengan polosnya Bareeq mengulurkan tangannya.
“Namaku Tareeq grannie..” Tareeq mengikuti apa yang dilakukan kembarannya.
„Kalian sangat lucu dan menggemaskan sekali...” kedua ART senior rumah itu, bergantian memeluk dua anak itu.
Gwen tersenyum melihat kedua putranya bisa langsung akrab dengan dua ART di rumah Bogor. Melihat hal itu, Gwen menjadi merasa lebih tenang.
“Mbok Darmi… Bik Surti…, saya akan membersihkan tubuh dulu di kamar. Titip anak-anak ya, dan bantu dua baby sitter itu untuk menempati kamar mereka.” Gadis itu kemudian memberi pesan pada dua ART.
“Baik Non… akan simbok atur semuanya. Selamat beristirahat..”
Gadis itu kemudian melangkahkan kaki menuju kamarnya. Ada keharuan terlihat di pelupuk matanya, dan ketika membuka pintu kamar, aroma harum wangi kesukaan menyeruak masuk ke indera penciumannya.
“Hempphh… kamar ini masih sama dengan yang dulu, masih dengan wangi yang sama. Aku sangat menyukainya..” gadis itu berucap lirih.
Perlahan Gwen melihat kea rah bed, dan sekilas gadis itu mengingat bagaimana Ketika awal-awal pernikahan, dia dan Barra tidur di atas bed itu. Kejudesan dan kegalakan menghadapi suaminya membuatnya tersenyum malu saat ini. Tetapi begitu mengingat Kembali akhir dari pernikahan mereka, hanya kesedihan yang menghampiri gadis itu.
“Aku akan mandi dulu saja, baru akan menyempatkan untuk tidur sebentar. Jika Om Andrew berangkat dari Singapura siang nanti, jam 14.00 pasti sudah akan sampai di rumah ini.” Mengingat ada janji untuk berkunjung ke makam kedua orang tuanya, akhirnya Gwen segera bergegas masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Meskipun kamar mandi ini sudah lama tidak digunakan, namun semua peralatan terlihat baru dan terawat dengan baik. Bahkan di walk in closet, semua pakaian Gwen kala masih duduk di High Senior School masih tertata dengan baik.
********