
Keesokan Paginya..
Gwen yang sedang menemani suaminya break fast di meja makan outdoor, tampak tersenyum Ketika melihat Bareeq, Tareeq, dan Mike berlari mendatanginya. Wajah ketiga bocah kecil itu terlihat sangat fresh, dan mereka seperti menemukan kebahagiaan..
“Mommy… papa, good morning…” ketiga bocah itu dengan serempak menyapa pasangan suami istri itu.
“Morning kids.. bagaimana istirahat kalian tadi malam. Apakah kalian menikmati waktu istirahat tadi malam..?” Gwen tidak langsung menjustifikasi apa yang dilakukan oleh anak-anak itu tadi malam. Tetapi pelan-pelan, perempuan itu ingin mereka menceritakan sendiri alasan apa sampai mereka tidur di lantai.
“Iya mommy… asyik. Uncle Aldo dan aunty Kayla, mengajak pada kami untuk sesekali merasakan tidur tidak di dalam kamar. Karena kami juga kecapaian momm... bahkan Mike yang tertidur terlebih dulu, Tareeq dan Bareeq akhirnya ikut juga. Dan ternyata momm.., Uncle dan Aunty ikut juga tidur Bersama kami. Akhirnya kami ramai-rame mommy...” dengan bahagianya, Bareeq bercerita tentang apa yang mereka lakukan tadi malam.
Perempuan itu tersenyum, dan menyetujui apa yang diucapkan suaminya tadi malam. Untuk laki-laki, sesekali mereka memang butuh untuk melanggar kebiasaan, yang mungkin menjadi travelling atau healing bagi mereka.
„Baguslah kalau begitu sayang... ayuk kalian segera duduk, dan ikut sarapan bersama dengan mommy dan papa..” Gwen tersenyum, memberikan tanggapan pada ketiga anak kecil itu.
„Okay mommy...” ketiga bocah itu segera menarik kursi, kemudian mereka duduk. Barra membantu memegang kursi-kursi itu, merasa khawatir jika kursi akan tergeser, ketika ketiga anak itu duduk di atasnya.
„Mommy ambilkan ya.. Mike.. makanan apa yang akan kamu makan untuk mengisi perut.. Sandwich, atau nasi goreng..” menyadari keadaan Mike, anak itu mendapatkan giliran pertama ditanya oleh Gwen.
“Nasi goreng saja mommy. Dengan telur mata sapi, dan sosis goreng..” ada binar bahagia di mata Mike. Anak itu memang jarang mendapatkan perlakuan lembut dari seorang mommy, jadi merasa terapresiasi dengan perlakuan mommy Bareeq dan Tareeq.
__ADS_1
Gwen dengan cekatan mengambil dua centong nasi goreng ke atas piring, kemudian telur mata sapi, dan beberapa potong sosis ikut disajikan di atasnya. Dengan senyuman keibuan, Gwen memberikan piring ke depan meja Mike.
“Makanlah sayang, jangan lupa berdoa dulu, agar semua yang masuk ke tubuh kita menjadi berkah..” Gwen mengusap kepala anak itu.
Tanpa menunggu lagi, Mike melakukan apa yang diperintahkan oleh mommy Gwen. Barra tersenyum melihat bagaimana istrinya bersikap lembut pada anak dari saudara sepupunya itu. Meskipun kedua orang tua Mike telah melukai hati istrinya di masa lalu, namun Gwen seakan sudah melupakan semuanya.
“Bareeq, Tareeq, apakah mommy perlu ambilkan untuk kalian..?” melihat kedua putra kandungnya sudah mengambil nasi goreng, Gwen bertanya dengan lembut,
“No mommy… kita bisa ambil sendiri kok.. Mommy ambilkan orange juice saja ya untuk Bareeq..” dengan sopan, Bareeq menolak tawaran dari mommy nya.
Tanpa menjawab, Gwen kemudian mengambil scatcher yang berisi orange juice, kemudian menuangkan di tiga gelas milik ketiga anak kecil itu. Mike langsung mengambil gelas, dan meminum beberapa teguk minuman tersebut, Barra tersenyum, dan mengusap lembut rambut di kepala anak itu. Sesaat laki-laki itu teringat dengan papa anak itu, yang beberapa hari lalu meminta bantuannya untuk membawa kembali istrinya. Karena kebesaran hati istrinya Gwen, akhirnya Barra ikut memberikan bantuan. Dan sampai pagi ini, belum ada sedikitpun kabar dari pasangan suami istri itu.
Begitu Barra dan juga Aldo meninggalkan rumah, Kayla mengajak kakak iparnya untuk bicara. Gwen mengajak adik iparnya untuk bicara di teras samping, bisa menikmati matahari pagi. Di tengah suhu udara dingin, terkena sinar matahari memang merupakan sesuatu yang menggembirakan,
„Apa yang akan kamu bicarakan padaku Kayla.., sepertinya ada sesuatu yang penting..?” ketika mereka sudah duduk, Gwen tidak sabar bertanya pada adik iparnya,
„Mmmppphh iya kak... hanya mau tahu saja. Aku sudah mendengarkan alasan apa sampai Mike berada di rumah ini..” sahut Kayla.
Gadis itu terdiam sebentar sambil menselonjorkan kaki di atas kursi, kemudian..
__ADS_1
“Dan yang membuatku tidak habis berpikir, tidak masalah jika kak Gwen dan kak Barra hanya memberi pertolongan dengan menampung, dan membantu untuk mengasuh Mike di rumah ini. Karena bagaimanapun, masih ada darah keluarga yang mengalir dalam pembuluh darah kami. Namun apa kakak tidak berpikir, betapa jahatnya Jacqluinne di masa lalu, dan kalian berdua malah memberikan pertolongan kepadanya..” lanjut gadis itu.
Kayla memang kaget, dan spontan berbicara tinggi, ketika mendapat cerita tentang alasan keberadaan Mike di rumah. Namun kakak kandungnya Barra, juga tidak memberikan respon atas pertanyaannya. Bertanya sendiri pada kakak iparnya, mungkin gadis itu akan lebih mendapatkan kejelasan.
“Kayla… kita harus menghentikan dendam, tidak baik untuk menahan perasaan benci dan dendam berlebihan. Mungkin saja, dengan kebaikan dan budi baik yang kita berikan, hati Jacqluinne akan tergerak, dan perempuan itu benar-benar insaf. Lupakan semuanya Kayla, aku tidak apa-apa, bagaimanapun Andy sudah mengakui semua kesalahannya. Tidak baik untuk memperpanjang masalah bukan..” Gwen menjelaskan pada Kayla.
Bukannya merasa puas dengan jawaban yang diberikan oleh kakak iparnya, Kayla malah terlihat kecewa mendengar jawaban itu. Tetapi gadis itu juga tidak bisa melakukan apa-apa, karena semua keputusan keluarga kakak kandungnya, ada di tangan mereka itu sendiri.
“Baiklah kak, semoga niat baik kak Barra dan kak Gwen membuahkan hasil. Namun menurutku, kita tidak boleh terlalu terlena kak. Kak Gwen dan kak Barra harus lebih berhati-hati, karena tidak ada salahnya.” Merasa tidak bisa mempengaruhi kakak iparnya, akhirnya Kayla hanya bisa menyampaikan uneg-unegnya.
„Iya tentu saja Kayla.. pengalaman buruk di masa lalu, membuat kita harus selalu waspada, dan tidak akan menjadi sesuatu yang lucu, jika sampai kesalahan itu terulang lagi. Kamu dan Aldo tidak perlu khawatir, aku dan kak Barra akan bisa menghadapi sendiri semua masalah kami..” sambil tersenyum, Gwen mengusap punggung Kayla.
Kayla tersenyum nyengir, dalam hati gadis itu, Kayla berpikir yang penting sudah menyampaikan apa yang mengganjal di hatinya. Jikapun nanti akan terjadi kekeliruan, dia dan Aldo juga tidak akan tinggal diam. Mereka bertekad akan membantu kedua kakaknya,
„Oh ya kak... by the way, bagaimana dengan kandungan kak Gwen..?? Baik saja bukan, karena aku amati, kaki kak Gwen sudah terlihat bengkak..” Kayla tiba-tiba mengalihkan focus pembicaraan.
“Alhamdulillah tidak ada yang perlu dikhawatirkan Kayla.. Mungkin akhir minggu ini, aku sudah akan melahirkan bayi ini. Dan untuk kaki bengkak, itu juga bukan sesuatu yang penting untuk dikhawatirkan, karena merupakan hal yang biasa terjadi dalam kehamilan di trimester akhir. Nanti, pada saatnya kamu juga akan mengalaminya sendiri Kayla..” dengan tenang, Gwen memberikan tanggapan,
*******
__ADS_1