
Di depan pintu kamar tempat Barra dan Gwen sedang berpelukan, berdiri Andrew sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah pasangan suami istri itu. Gwen memerah pipinya, dan meraih bantal untuk menutup wajahnya. Sedangkan Barra dengan geram, segera mengangkat tubuhnya ke atas, laki-laki itu duduk sambil menatap ke arah Andrew dengan amarah.
“Tidak bisakah kau ketuk pintu dulu sebelum kamu masuk ke dalam Andrew….” Dengan nada kesal, Barra memberi teguran pada sahabatnya itu,
“Ha.. ha.. ha…, Barra, Barra… kamu seperti tikus kecemplung got. Lagian juga.., kamu yang undang Stephanie dan Fiona datang ke perusahaan, tetapi kamu malah berasyik masyuk dengan istrimu dalam kamar. Lebih tidak tahu malu siapa… tunda dulu bisa juga kan. Kapan kamu harus menyenangkan istrimu, dan kapan kamu harus menyelesaikan dulu pekerjaanmu.” Sambil tertawa terbahak, Andrew malah menguliahi Barra.
Barra berdiri, satu tangannya menarik selimut kemudian menutup Gwen dengan selimut tersebut. Melihat hal itu, Andrew malah tidak bisa berhenti tertawa.
“Kamu kenapa Barra… apakah kamu lupa, jika Gwen adalah keponakanku. Sejak kecil aku yang mengasuhnya, jadi apapun yang ada pada diri Gwen aku sudah melihatnya. Tidak perlulah kamu protective Gwen terhadapku…” dengan cengengesan, Andrew malah menggoda sahabatnya itu.
Tetapi memang apa yang dikatakan oleh laki-laki itu ada benarnya. Sebagai pengganti kakaknya, Andrew memang turut bertanggung jawab dalam membesarkan gadis itu. Terkadang mereka harus berdua, Barra harus membantu keponakannya beradaptasi dengan situasi yang menimpanya. Dan sekarang, sahabatnya Barra yang akhirnya meminang Gwen.
“Sudahlah… jangan buat istriku semakin malu..” akhirnya Barra mengalah, Laki-laki itu segera berdiri, dan melangkahkan kaki menuju ke arah pintu.
Andrew tersenyum, dan karena melihat Gwen yang tidak mau memberikan komentar apapun, akhirnya laki-laki itu segera mengikuti Barra Kembali ke ruang kerja. Begitu mereka masuk ke ruang kerja, Barra hanya melihat keberadaan Fiona dan Stephanie. Tidak ada mamanya di tempat itu,
“Andrew… kemana mama..?” laki-laki itu bertanya tentang keberadaan mamanya,
„Tante Santa sudah pulang, dan akan langsung ke airport karena Om Firmansyah juga dalam perjalanan ke airport. Tante minta agar Gwen pulang bersama kita nantinya. Sudah… duduklah dulu, kita akan lanjut discuss karena nanti malam aku sudah harus pergi dari Finlandia. Aku akan berkunjung ke Italia, mencoba menjajagi kemungkinan produk perusahaanku mendapatkan tempat tidak di negara itu…” sambil berjalan menuju kursi, kemudian duduk, Andrew menanggapi pertanyaan Barra.
Tidak menunggu lama, Barra kemudian ikut duduk di samping laki-laki itu. Fiona dan Stephanie menatap Barra seperti tidak berkedip, mereka sepertinya ingin mendengar sendiri dari mulut laki-laki itu, jika dirinya sudah menikah.
__ADS_1
“Hey… how about you Stephanie… Fiona..?? Kenapa kalian menatapku seperti ini, come on… kita lanjutkan discuss kita terakhir. Jangan khawatir, mama sudah pulang dengan driver dan tidak akan mengejutkan kalian..” sambil tersenyum lebar, Barra bertanya pada dua perempuan itu.
“Tidak ada masalah dengan tante Santa, wajar untuk sikap seorang mama… Tapi, apakah benar yang tadi kita dengar dari mamamu, dan Andrew juga mengiyakan. Gadis kecil itu adalah istrimu..?” dengan penuh selidik, Stephanie bertanya.
“Yap… gadis itu bernama Gwen, dan dia adalah istriku. Aku mencintainya Stephanie.. seluruh hidupku mulai sekarang akan aku lakukan untuk membuatnya bahagia..” Andrew kaget mendengar pernyataan dari sahabatnya itu. Laki-laki itu tidak menyangka, baru menikah beberapa bulan dengan Gwen, Barra sudah meyakini jika Gwen adalah untuknya. Ada terselip rasa bahagia dalam diri laki-laki itu, merasa jika Gwen sudah mendapatkan jodoh yang tepat untuknya.
Stephanie merasa terkejut dengan keterus terangan Barra, tanpa sungkan kepadanya dan Fiona, Barra mengutarakan isi hatinya. Perempuan itu mengambil nafas Panjang…
“Sudahlah.,. abaikan kehidupan Barra. Kita lanjut discuss saja, dan yang lebih penting Barra. Kamu harus memberikan pengertian pada istrimu, bahwa kita ini kolega yang sering harus ketemu dan pergi Bersama, Jangan sampai, istri kecilmu itu bertindak seperti anak seusianya, marah-marah tidak jelas pada kita..” Fiona menengahi.
Barra mengangkat tangan tanda setuju dengan pernyataan Fiona, dan merekapun akhirnya melanjutkan diskusi mereka.
*********
Gwen melamun ketika paman dan suaminya sudah kembali ke ruang kerja. Pikiran gadis itu ngelantur kemana-mana, dan sesekali Gwen merasa malu dengan kejadian-kejadian intim yang dilakukan dengan suaminya. Ada keinginan untuk melanjutkan, tetapi ada ketakutan yang tiba-tiba mengikutinya.
“Kenapa akhir-akhir ini aku merasa nyaman jika berdekatan dengan kak Barra... Ada rasa seperti perlindungan yang aku dapatkan ketika kak Barra berada di sampingku...” pikiran Gwen mengembara bersama dengan suaminya.
Beberapa saat gadis itu kembali termenung..
„Apakah perlu aku untuk mencoba memberikan kesempatan lebih untuk kak Barra..? Aku belum pernah menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri sepenuhnya pada suamiku. Masih ada kegamangan, dan juga rasa takut untuk menerima kak Barra..” Gwen bergumam sendiri.
__ADS_1
Bayangan-bayangan bagaimana suaminya berusaha mendekati, dan mengarah pada hubungan suami istri kembali memenuhi otak gadis itu. Kesabaran Barra dalam mengendalikan hasrat, hanya untuk menjaga agar dirinya tidak kesakitan. Ataupun belum rela, juga terlihat jelas.
“Kak Barra… maafkan Gwen, karena belum bisa menjadi istri yang baik. Padahal dibalik sikap tegas kak Barra.. sebenarnya kak Barra selalu memperhatikan setiap detail apa yang Gwen lakukan..” terdengar Gwen berbicara pada dirinya sendiri. Gadis itu terdiam untuk beberapa saat. Kebaikan-kebaikan suaminya muncul dalam pikiran gadis itu.
“Aku mungkin harus mulai menghilangkan ketakutanku. Aku akan memberikan kesempatan pada kak Barra, hak suamiku harus aku berikan.” Akhirnya pada titik kesimpulan, Gwen akan mencoba untuk bersikap pasrah pada suaminya.
Sepertinya Gwen berusaha untuk mematikan
keinginannya, keinginan masa muda Bersama dengan teman-teman seusianya.
Meskipun ada keraguan dalam diri gadis itu, namun Gwen berusaha untuk
meyakinkan dirinya. Gadis itu kemudian beranjak bangun dari posisi tidurnya,
dan duduk di tepi ranjang.
“Aku akan menyusul kak Barra ke ruang kerja, ada Om Andrew disana. Aku pasti akan bisa menyesuaikan berada disana. Seperti yang tadi diutarakan mama Santa, aku tidak bisa lengah membiarkan kak Barra untuk didekati perempuan lain. Melihat kedekatan kak Barra dan Om Andrew di dalam ruangan tadi, aku harus menjadi waspada pada dua perempuan itu.” Sambil berdiri, Gwen berbicara sendiri.
Sebelum keluar menuju ruang kerja suaminya, Gwen merapikan pakaian yang sempat acak-acakan karena ulah suaminya. Dengan menggunakan sisir, gadis itu juga merapikan rambut yang tadi sudah di blow oleh karyawan butik yang tadi dikunjunginya dengan Nyonya Santa. Setelah merasa semuanya kembali seperti awal Gwen datang, gadis itu beranjak menuju ke ruang kerja melalui connecting door di belakang sofa. Perlahan tangan Gwen memutar handle pintu, dan tidak lama kemudian ke empat orang yang berada di ruang kerja Barra menoleh ke arah gadis itu.
„Honey...,” Barra memanggil istrinya, kemudian laki-laki itu berdiri dan berjalan menghampiri istrinya.
__ADS_1
************