
Malam Harinya
Barra dan Gwen sedang bersantai di ruang tengah, setelah mereka melakukan makan malam bersama. Karena lutut Barra masih nyeri akibat aktivitas snow boarding di Lapland, pasangan suami istri itu tidak ada acara keluar. Mereka diam di dalam rumah, setelah mereka sampai ke rumah dari bekerja di perusahaan.
“Kak Barra… besok pagi Gwen harus sudah berada di college.. Ada pengarahan dari pihak college, untuk pembekalan bagi mahasiswa baru. Jika kak Barra repot, Gwen bisa ke college sendiri naik motor. Di garasi, Gwen lihat ada sepeda motor tidak terpakai..” sambil makan kwaci, Gwen memberi tahu suaminya.
„Apa yang honey katakan, naik motor sendirian ke college…?? Hempph… aku tidak akan mengulang kesalahan dua kali sayang.. Sangat berbahaya naik motor sendiri di negara ini, apalagi honey juga belum hafal medan. Jika besok kak Barra sibuk, aku akan tugaskan Smith untuk mengantar dan menjemputmu berangkat dan pergi ke college.” Seperti membaca apa yang diinginkan istrinya, Barra sudah membatasi hal itu.
Teringat laki-laki itu denga napa yang dilakukan istrinya dengan teman-teman sekolahnya Ketika di kota Bogor. Dengan mata sendiri, Barra menyaksikan bagaimana dengan lihainya Gwen berpacu mengendarai Ducati di sirkuit Sentul, dan juga berangkat pergi kuliah. Berada di Finlandia, Barra akan sangat berhati-hati untuk menjaga dan mengawasi istrinya.
“Kenapa sih kak, sedikitpun kak Barra tidak memberikan kebebasan pada Gwen.. Toh, jelas tujuan Gwen kemana, college bukan. Jalan berangkat dan pulang juga jelas, dan Gwen lihat jalanan lumayan sepi.” Gwen tampak protes dengan keputusan sepihak suaminya.
“Bukannya begitu honey… tolonglah sekali ini saja honey menurut padaku. Lain waktu, jika honey sudah sering berangkat dan pergi, aku akan pertimbangkan honey untuk berangkat dan pulang sendiri. Untuk kali ini…, menurutlah dulu. Atau… by the way, berlatihlah mengemudi mobil dengan Smith honey… agar lebih aman membawa mobil, daripada sepeda motor di negara ini.” Barra masih berusaha membujuk gadis itu.
Gwen diam saja, tiba-tiba saja mood gadis itu seperti menguap. Barra yang menyadari jika istrinya tengah merajuk, berusaha untuk membujuk kembali gadis itu.
“Honey… jangan berpikir tidak-tidak tentang keputusanku sayang.. Semua aku lakukan, karena rasa khawatir dan rasa cinta seorang suami pada istrinya. Jangan berpikir aneh-aneh sayang, dan nanti jika sudah beberapa saat, ada saatnya honey akan bisa menempuh perjalanan sendiri. Tapi untuk kali ini saja, menurutlah pada suamimu..” Barra memegang dagu istrinya, dan dengan sabar laki-laki itu mencoba memberi pengertian pada gadis itu
Terdengar Gwen mengambil nafas Panjang, kemudian…
__ADS_1
“Iya kak Barra… kurang patuh apalagi Gwen pada kak Barra.. Apapun yang kak Barra inginkan, Gwen taat bukan..” akhirnya senyuman Kembali terbit di bibir gadis itu.
Hati Barra Kembali merasa hangat, sudah bisa melihat kembali senyum cerah muncul di dalam rumah. Beberapa hari merasa lebih dekat dengan istrinya, Barra seperti mengalami ketergantungan dengan gadis itu.
“Tet.. tet…” tiba-tiba terdengar bel pintu berbunyi. Merasa tidak punya janji dengan siapapun, Barra dan Gwen saling bertatapan,
“Apakah kak Barra ada janji dengan seseorang mala mini..?” Gwen bertanya lirih.
„Tidak honey.. lebih baik aku memeluk istriku, dari pada mengatur janji dengan seseorang malam-malam begini.” Sambil tersenyum menggoda, Barra menjawab pertanyaan istrinya.
Terlihat ART berlari menuju ke pintu depan untuk membukakan pintu. Barra dan Gwen tetap bersikap cuek, dan seakan tidak memusingkan tamu yang datang berkunjung. Tidak lama kemudian..
Gwen tersentak, intonasi kata anak muda itu hampir mirip dengan penelpon yang membuatnya kesal tadi siang di perusahaan suaminya. Terlihat di depannya, anak muda berjalan menghampiri Barra suaminya, kemudian berpelukan dengan suaminya,
“Andy… kapan kamu sampai di Helsinky bro,..” setelah Barra melepaskan pelukan, laki-laki itu bertanya pada anak muda itu.
“Lah.. sudah tadi pagi kak, aku menginap di Hilton Strand. Tadi siang sebenarnya aku sudah berkunjung ke perusahaan kak Barra, tetapi ketika mencoba menghubungi kak Barra, malah ada suara gadis yang judes malah menutup phone dengan tidak sopan.” Tanpa sadar, karena tidak mengetahui siapa pelakunya, anak muda bernama Andy itu mengadukan sikap Gwen istrinya,
Barra terdiam, dan bibir laki-laki itu mengeluarkan senyuman. Barra melirik ke arah istrinya, yang masih terlihat cuek mengabaikan dirinya dan adik sepupunya itu.
__ADS_1
“Honey… apakah ketika aku tadi meeting, ada yang melakukan panggilan padaku..?” dengan suara lembut Barra bertanya pada Gwen.
“Hempph.. ada kak, tapi nada bicaranya sok, malas Gwen meladeni. Ya sudah... daripada aura positif Gwen menguap dan mubadzir, Gwen matikan saja phone nya. Kabel koneksi, sengaja Gwen cabut, malas jika orang itu melakukan panggilan lagi. Pikir Gwen, jika memang urgent, kenapa tidak telpon langsung ponsel kak Barra.” Tanpa memperhatikan pada anak mud aitu, Gwen dengan santai memberi jawaban.
“Ha… ha.. ha.., Andy…, ternyata istriku yang cantik ini yang sudah mengabaikanmu tadi siang. Ayuk kenalkan, ini istriku Gwen.. Dan Gwen... kenalkan pada adik sepupuku honey... Kalian ini seusia, dan sama-sama akan masuk ke perguruan tinggi tahun ini..” akhirnya Barra menyadari apa yang sebenarnya sudah terjadi, laki-laki itu malah tertawa terbahak, menganggap lucu apa yang telah terjadi.
Andy kaget melihat gadis cantik yang ada di sebelah kakak sepupunya itu. Tampak ada perbedaan usia yang cukup jauh, tetapi untuk menghormati sepupunya, Andy mengulurkan tangan mengajak Gwen berjabat tangan.
„Cantik... maafkan sikapku tadi siang ya, lagian kenapa kamu tidak katakan, jika kamu adalah istri dari kakak sepupuku..” Andy terlihat cengar cengir.
„Hempph... untung saja kamu adalah adik sepupu suamiku. So.. secara itungan aku lebih tua dari kamu, call me… mbak okay.. Jangan berlaku kurang ajar pada pihak yang lebih tua..” dengan judes, Gwen memberikan tanggapan.
“What you talking about girl….?” Andy kaget, dan anak muda itu sampai berteriak.
„Ha.. ha.. ha.., mati kutu kali ini Andy... Ikuti kemauan kakak iparmu, panggil dia dengan sebutan mbak, atau kak... okay..” melihat hal itu, Barra kembali tertawa terbahak. Tetapi tidak mungkin jika saat ini dirinya lebih memihak pada adik sepupunya. Bisa-bisa jatah malam ini, tidak akan diberikan oleh istrinya.
„Lah... ini kak Barra kenapa ikut-ikutan mengintimidasiku. Meskipun secara keluarga, kamu lebih tua, tapi aku yakin jika usia kita sepantaran. Aku tidak salah bukan, paling-paling kamu juga barusan merayakan sweet seventeen, terlihat dari sikap kasarmu padaku tadi siang..” tanpa sadar, Andy malah mengejek Gwen.
Tidak diduga, bukannya menjawab, Gwen malah menjulurkan lidah dan memonyongkan bibir, memberi ejekan balik pada anak muda itu. Barra hanya tertawa lucu melihat sikap istri dan keponakannya. Seketika suasana di ruang tengah terdengar hangat malam ini.
__ADS_1
********