
Gwen tampak dengan cermat kembali menelaah kiriman email yang sudah disortir oleh Josephine. Beberapa surat elektronik lainnya di periksa Cynthia, dan juga Hans. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu ruang kerjanya..
„Masuk..” tanpa melihat dulu siapa yang datang, Gwen meminta pengetuk pintu untuk masuk ke dalam.
Terdengar ada suara pintu didorong, dan suara Langkah kaki berjalan ke arahnya. Tidak lama kemudian, suara kursi di depannya ditarik. Gwen tersenyum melihat ternyata Cynthia dan Hans yang datang ke ruang kerjanya.
“Hempphh… tumben tumbenan kalian berkunjung ke ruang kerjaku.. What happened..?” sambil tersenyum, Gwen mengkonfirmasi dua teman baiknya itu.
Agar tidak mengganggu perbincangan mereka, Gwen menurunkan layar laptop yang ada di depannya. Perempuan muda itu tersenyum menatap kedua sahabat baiknya.
“Kangen saja Gwen.. meskipun kita sudah bergabung di tempat yang sama, tetapi kita malah tidak pernah meluangkan waktu untuk ngobrol bertiga.” Hans yang pertama kali memberikan tanggapan.
“Benar sekali Hans… sepertinya kapan kapan kita perlu nih, sekali sekali ngopi bareng. Tapi harus dijadwalkan dulu, biar aku tinggalkan putraku dulu pada papanya.” Cynthia ikut menimpali.
„Ha.. ha.. ha.., aneh aneh saja kalian berdua ini. Kalian bisa pergi ke rumahku kala week end, aku akan siapkan apapun menu permintaan kalian. Juga aku pastikan, aku akan mengungsikan putra putriku, jika kita ingin me time.. Karena untuk ngopi keluar, tanpa ada papanya anak anak, aku sendiri yang agak keberatan..” Gwen tertawa terbahak.
Perempuan itu sama sekali tidak menduga, akan mendengar kata kata seperti itu dari Cynthia dan Hans. Tiba tiba Gwen teringat jika Hans sedang berusaha untuk melakukan pendekatan pada asisten pribadinya, Josephine.
“Hempphh… Hans, apakah tidak ada udang di balik bakwan ya…?” tiba tiba Gwen bergumam sambil tersenyum melihat ke arah Hans.
Cynthia dan Hans yang tidak pernah mendengar pepatah dari negara Indonesia hanya saling berpandangan, dan Hans mengangkat kedua bahunya ke atas.
“Apa yang kamu maksudkan Gwen.. kita tidak tahu makna, dan apa yang disebut sebagai bakwan..” tanpa sungkan, Cynthia langsung melakukan konfirmasi.
__ADS_1
“He.. he.. he.., sorry guys.. Aku keinget jika bergurau dengan Asep suamimu Cynt, atau dengan Aldo sahabat kami. Itu pepatah, apakah ada maksud di balik ajakan kalian untuk ngopi bareng. Tidak perlulah pakai peribahasa, sitiran atau sarkasme. Santuy lah.. katakan saja!” Gwen tertawa kecil, memperjelas apa yang dimaksudnya.
“Hempphh ternyata itu. Tanyalah sama Hans.. Gwen, dia nih yang baru berbunga bunga hatinya, dan sering deg degan karena menahan rasa. Dan belum mengetahui, bagaimana respon dari pihak satunya..” Cynthia langsung melemparkan pada Hans yang hanya senyum senyum di sampingnya.
“Okay… okay.., terus sajalah kalian berdua menggodaku. Aku tidak apa apa kok, I.m fine..” dengan cepat Hans juga memberikan tanggapan.
„Trus gimana kelanjutannya Hans.. kamu jangan stagnan dong. Joshie itu gadis yang sangat potensi untuk diperebutkan, jangan diam menunggu dia mendekatimu dong. Kejar, dan sedini mungkin sampaikan isi hatimu..” Gwen mencoba mempengaruhi laki laki itu.
“Benar Hans.. ayolah. Dari kita bertiga, tinggal dikau sendiri lho yang belum punya gacoan. Ayolah.. segera lamar Joshie, jangan sampai kecewa karena didahului orang.” Cynthia ikut menambahkan,
“He,.. he.. he.., kalian dukung aku dong. Kapan kapan perlulah, kalian membuat agar kami bisa berdua. Tetapi perlu ada peranmu Gwen.. karena gadis itu sangat takjub padamu..” Hans terus terang meminta bantuan pada Gwen.
Gwen tersenyum, tapi tidak menjawab dengan kata kata. Perempuan itu hanya mengacungkan ibu jari pada laki laki itu. Cynthia ikut tertawa melihatnya. Ketiga teman kuliah yang saat ini menjadi partner kerja itu, betul betul meluangkan waktu untuk berbincang sampai jam kantor selesai,
***********
Karena jam kerja sudah selesai, dengan santai Barra masuk ke perusahaan tempat istrinya, untuk menjemput Sheen dan istrinya. Gwen berjalan keluar dengan mendorong stroller menuju ke arah suaminya, dan tampak baby sitter menenteng barang perlengkapan putri pasangan suami istri itu.
“Putri papa Sheen.. mau gendong papa sayang..” Barra terlihat gembira, dan ingin langsung mengangkat tubuh Sheen dari atas stroller.
“Pap.., pap..,” dengan pengucapan yang masih cadel, Sheen memanggil papanya. Anak kecil itu mengulurkan kedua tangannya ke arah papanya.
“Uluh uluh putri papa yang cantik..” Barra segera mengulurkan tangan ke arah putrinya. Tidak lama kemudian, Sheen sudah berpindah dalam gendongan papanya.
__ADS_1
Tangan mungil anak kecil itu, mengusap rahang papanya, dan Barra memainkan bibir mengajak putri kecil itu bermain, Gwen tersenyum, dan terus mendorong stroller menuju ke mobil mereka yang sudah menunggu di depan bangunan Gedung perkantoran istrinya.
“Masuklah dulu honey…, ke kursi depan saja. Pangku Sheen, dan biarkan nanny di kursi tengah sendiri. Papa akan memegang Sheen dulu..” begitu baby sitter membuka pintu depan, Barra meminta istrinya untuk masuk ke mobil terlebih dahulu.
“Baik pa…” Gwen segera menurut apa yang diminta oleh suaminya,
Setelah Gwen merasa nyaman duduk di kursi depan, tanpa bantuan car seat, Barra menyerahkan Sheen ke tangan istrinya. Setelah memberikan ciuman di kedua pipi putrinya, Barra perlahan menutup pintu, dan berjalan memutar untuk duduk di belakang kemudi,
“Pap.., pap..” melihat papanya duduk di samping, dan di belakang kemudi, Sheen berusaha menggapai tangan papanya.
„Sheen sayang.. papa baru menyetir, tidak bisa untuk diganggu sayang. Itu lihat di depan sayang.. bunganya bagus tuh..” Gwen mencoba mengalihkan focus bocah kecil itu.
Perlahan Barra sudah menjalankan mobil, keluar dari halaman kantor work shop dan bengkel itu. Laki laki itu tersenyum melihat ke arah istri dan putrinya. Sesaat kemudian, Sheen sudah mulai bisa focus, dan mengalihkan perhatian dari papanya.
“Momm.. Reeq,” dengan suara cadel, Sheen bertanya tentang kedua kakaknya.
Untungnya Gwen mendampingi tumbuh kembang putrinya, perempuan itu bisa memahami apa yang ditanyakan oleh anak kecil itu.
“Kakak ada di rumah sayang, tadi sekolah dan dijemput oleh Uncle Smith. Pasti saat ini, kak Tareeq dan kak Bareeq sudah menunggu kita di halaman, Makanya Sheen patuh ya, biar kita segera bisa sampai di rumah..” dengan sabar, Gwen memberikan tanggapan dengan pertanyaan putrinya.
“Kak.. mah..” Sheen mempertegas.
“Iya sayang… jika Sheen sabar, dan tidak banyak buat ulah, papa akan cepat sampai di rumah sayang. Ayuk… Sheen tetap di pangkuan mommy, atau mommy pindah ke tengah dengan nanny..” melihat putrinya yang sudah mencondongkan tubuh, dan kedua tangannya ke arah papanya, Gwen dengan sabar menghadapinya.
__ADS_1
Sheen tampak tidak merespon, tetapi bocah kecil itu sudah mulai sedikit tenang. Barra tersenyum ketika menoleh dan beradu pandang dengan istrinya,
********