Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 201 Mencari Udara Segar


__ADS_3

MC memandu jalannya acara ceremony yang diselenggarakan oleh keluarga Aldo. Namun yang membuat Barra dan Gwen terkejut, ternyata acara itu sekaligus sebagai acara pertunangan Kayla dan Aldo. Rupanya tanpa sepengetahuan Barra dan Gwen, keluarga Aldo sudah melakukan pendekatan sendiri dengan keluarga Chandra. Tampak kemarahan terlihat di wajah Barra..


“Kak Barra… Kayla sudah bukan anak kecil lagi kak.. Mungkin pikiran Kayla, lebih baik langsung meminta restu pada papa dan mama, dan belakangan baru pada kita kak.. Bukannya, Aldo juga hampir setiap hari datang ke rumah, jadi mungkin sudah menganggap kita merestui hubungan mereka..” melihat ketegangan di wajah suaminya, Gwen tampak meredakan.


„Tapi cara ini tidak fair honey… mereka ternyata tidak menganggapku sebagai kakak kandung Kayla, yang bertanggung jawab pada gadis itu ketika berada di Helsinki. Apa mau keluarga Aldo itu sebenarnya..” tapi perlakuan itu ternyata menyinggung garis batas suaminya.


„Mmmmpph... ataukah nanti kita bisa ajak bicara Aldo dan Kayla setelah acara ini kak. Mungkin mereka berdua memiliki rencana, yang tidak sempat untuk menyampaikan pada kita. Atau bisa jadi, papa dan mama, beserta Om Firman dan tante Helene yang sengaja mempercepat acara ini..” Gwen terus berusaha melunakkan hati suaminya.


Tareeq dan Bareeq sejak tadi hanya diam, dan mencuri tatapan pada papa dan mommy mereka. Kedua anak itu betul-betul bisa bersikap baik, tidak membuat ulah, dan patuh pada kedua orang tuanya.


„Honey... aku akan pulang sekarang juga. Apakah honey dan anak-anak tetap akan berada dalam ruangan ini, silakan saja. Aku tidak akan marah, tetapi sikap sombong keluarga Aldo tidak bisa aku terima untuk saat ini..” tidak diduga, laki-laki suami Gwen itu langsung berdiri.


Gwen seperti merasa dalam kebimbangan, di satu sisi adalah suaminya. Sedangkan di satu sisi, Aldo sahabat baiknya. Namun karena berpikir, jika di tempat itu juga sudah ada papa dan mama mertuanya, akhirnya Gwen tidak memiliki pilihan. Gadis itu mengajak kedua putra mereka, untuk mengikuti suaminya keluar.


„Gwen... mau kemanakah kamu, temani aku please...” baru saja Gwen akan menuju pintu keluar, tiba-tiba terdengar suara Cynthia menghentikannya.


„Pppfftthhh... sorry Cynt.., kali ini maafkan aku ya, please. Aku harus mengikuti suamiku, kewajibanku sebagai seorang istri..” dengan wajah penuh penyesalan, Gwen menolak ajakan Cynthia.


Teman baik Gwen di kampus itu menatap kea rah suami Gwen, dan juga ke arah Bareeq dan Tareeq. Mungkin menangkap ketegangan di wajah keluarga kecil Gwen itu, akhirnya Cynthia memaklumi tindakan Gwen.


„Pergilah Gwen.., keluargamu lebih membutuhkanmu. Tapi kapan-kapan, kita harus bicara..” akhirnya dengan terpaksa, Cynthia melepaskan kepergian sahabatnya itu.

__ADS_1


Gwen tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Gadis itu segera bergegas menyusul suaminya ke depan lobby restaurant. Tidak lama kemudian, Smith sudah datang membawa mobil ke depan pintu lobby..


“Smith… keluarlah. Kamu bisa pulang ke rumah dengan menggunakan taksi, atau minta jemput pada pengawal di rumah. Aku akan membawa mobil sendiri, dengan keluargaku..” dengan kata-kata tegas, Barra mengusir Smith keluar.


Gwen menangkupkan kedua telapak tangan di depan dadanya, meminta permohonan maaf dari sopir pribadi keluarga mereka. Smith tersenyum dan menganggukkan kepala, seperti memaklumi tindakan tuan mudanya. Tanpa bersemangat, Gwen menggandeng tangan kedua putra mereka, kemudian memasukkan keduanya di kursi tengah.


“Kalian berdua duduk di kursi tengah ya, mommy akan menemani papa di kursi depan..” dengan lembut, Gwen meminta ijin pada putranya.


„Baik momm...” sahut Bareeq dan Tareeq bersamaan.


Setelah memastikan kedua putranya duduk dalam keadaan aman, perlahan Gwen menutup pintu mobil. Gadis itu segera membuka pintu mobil bagian depan, dan kemudian masuk ke dalamnya.


*********


Barra ternyata membatalkan keinginan untuk naik ke daerah pegunungan, mengingat mereka tidak memiliki perlengkapan untuk menahan udara dingin. Laki-laki itu membawa mobilnya menuju ke Sibelius Park, sebuah taman dengan monument karya seni yang indah. Sea view terlihat dari area ketinggian di tempat itu.


“Hati-hati honey, awasi anak-anak sebentar. Aku akan menghubungi pengelola villa untuk menyiapkan kamar untuk kita. Sudah sangat lama aku tidak berkunjung ke tempat ini, padahal aku memiliki villa di tempat ini..” sikap Barra berubah 360 derajat.


Jika di acara pertunangan Aldo dan Kayla, laki-laki itu terlihat sangat mengerikan. Namun di tempat ini, sikap suami dan kebapakan dari suami Gwen itu sangat terlihat. Sikap dingin dan amarahnya seakan menghilang, dan berganti dengan kelembutan dalam memperlakukan istri dan kedua putranya.


“Kenapa kak Barra tidak pernah bercerita jika ada villa di tempat ini kak.. Gwen sangat menyukai, dan pernah bermimpi punya rumah dengan view lautan lepas seperti ini..” tidak dibuat-buat, Gwen memang menyukai pemandangan laut. Tatapan gadis itu sangat mengagumi keindahan alam di depannya.

__ADS_1


“Benar momm… Bareeq juga sangat menyukainya. Angin juga sangat kencang di tempat ini, tapi sangat menyegarkan..” Bareeq merentangkan kedua tangan ke kanan dan ke kiri. Tareeq juga mengikuti apa yang dilakukan saudara kembarnya.


“Aku sangat senang honey… jika kalian bertiga menyukainya. Ayo kita masuk ke dalam, akan aku perlihatkan bagaimana kamar kalian semuanya. Ada balkon dengan view menghadap ke lautan juga..” dengan senyum Bahagia, Barra mengajak istri dan kedua putranya masuk ke dalam.


Ada dua maid yang menyambut kedatangan mereka, dan terlihat mereka sangat senang dengan kedatangan majikan mereka ke tempat ini.


“Honey… kenalkan mereka adalah Aini, dan Bibi Moo. Jika membutuhkan sesuatu, hubungi mereka..” sebelum mengajak istri dan kedua putranya, Barra mengenalkan Gwen pada maid di rumah ini.


“Hi Bibi Moo…, Aini, bantu kami ya selama di tempat ini..” dengan ramah, Gwen menyapa keduanya.


“Dengan sangat senang hati Nyonya Muda.., dan juga Tuan kecil. Kami akan melayani keluarga Tuan Muda..” Bibi Moo yang lebih tua, memberikan tanggapan.


Gwen tersenyum, kemudian menepuk punggung kedua maid tersebut. Melihat suami dan kedua putranya sudah menaiki tangga, akhirnya Gwen mengikuti mereka. Tidak lama kemudian, Barra sudah membawa mereka ke kamar utama.


„Woww... sangat indah sekali  lautan terlihat dari balkon ini..” begitu Gwen melihat ke arah balkon, teriakan kekaguman keluar dari bibirnya.


„Benar mommy...., dari kamar kita juga sangat indah..” Bareeq menyahuti.


„Mmppphh... kamar kita? Memangnya kita tidak tinggal dalam satu kamar, bukankah kamar ini sangat luas, cukup untuk kita berempat..” menyadari ucapan kalimat kedua putranya, Gwen mencari tahu.


„Honey... kedua putra kita sudah semakin besar. Mereka juga membutuhkan privacy sayang, sama seperti kita. Tetapi jangan khawatir, kamar mereka berdua berada di samping kamar kita, dan ada connecting door. Jika honey khawatir, bisa memperhatikan mereka, Ketika mereka sedang tertidur.” Mengetahui apa yang dipikirkan istrinya, Barra menjelaskan.

__ADS_1


Gwen segera bergeser melihat kamar kedua putranya melalui connecting door. Setelah memastikan, jika dia bisa mengawasi, akhirnya tidak ada pilihan bagi Gwen, selain mengiyakan.


**********


__ADS_2