Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 207 Pasrah


__ADS_3

Koridor rumah sakit


Barra tampak prihatin melihat istrinya Gwen yang tertidur dengan bersandar pada dinding rumah sakit. Di pangkuan istrinya, tampak kepala Bareeq dan Tareeq berada di pangkuan. Seperti mengetahui kesedihan yang sedang dialami suaminya, Gwen mengambil alih urusan keluarga dan sedikitpun tidak merepotkannya. Beberapa kali, Barra dan papanya meminta gadis itu untuk membawa kedua putranya, untuk beristirahat di kamar rawat inap mamanya. Namun, dengan alasan tidak mau meninggalkan mereka, Gwen menolak.


“Barra… kamu sungguh beruntung bisa mendapatkan istri sebaik Gwen.. nak. Dengan usia semuda itu, dengan dua putranya, Gwen dapat menempatkan dan memposisikan dirinya dengan sangat baik. Papa bangga memiliki menantu sebaik itu..” tiba tiba tuan Chandra mengajak laki laki itu bicara.


Barra tersenyum bangga, kemudian...


„Iya pa... Barra juga masih ingat. Mamalah yang mengejar Barra waktu itu, untuk segera menikah dengan Gwen. Padahal Barra yang ingin mencoba untuk menundukkan Gwen dulu, tapi papa dan mama yang terus mendesak. Dan ternyata, semua itu ada hikmahnya pa... meskipun ada juga kendala dalam pernikahan kami, tapi untungnya kami berdua bisa melaluinya dengan baik. Bahkan hubungan kami semakin mesra dan semakin erat..” sambil tersenyum Bahagia, Barra menanggapi kata kata papanya..


“Benar katamu Barra… keluarga kita betul betul beruntung. Papa juga sudah menyelidiki suami adikmu Kayla.. Papa tahu, jika sebelumnya Aldo juga menaruh hati pada istrimu, namun mereka bisa mengatasi masalah mereka dengan sangat baik. Dan papa lihat, Aldo juga sangat menyayangi adikmu Kayla.. Tuan Firman dan istrinya juga sangat menyayangi Kayla sebagai menantunya..” lanjut tuan Chandra sambil tersenyum pula.


Kedua laki laki itu terdiam, dan mereka tenggelam dalam lamunannya. Perlahan Barra berdiri, kemudian meninggalkan papanya untuk menghampiri istrinya Gwen. Laki laki duduk di atas lantai, dengan menghadap ke wajah istrinya. Tiba tiba Gwen membuka matanya perlahan..


“Ada apa kak Barra.. apakah kakak membutuhkan bantuan Gwen..” gadis itu merasa bingung, karena tiba tiba melihat suaminya duduk di depannya.


“Sssttt… lanjutkan tidurmu honey.. Aku hanya senang melihat wajah istriku yang cantik, tidak ada keluh kesah dari bibir yang sudah menjadi candu bagiku.. Semua itu seperti sebagai obat semua kelelahanku.” Sambil memegang telapak tangan Gwen, dan menciumnya, Barra memuji istrinya.


“Gwen tidak bisa membalas gombalan kak Barra.., istirahatlah kak. Temani papa, biarlah Gwen menemani Bareeq dan Tareeq disini..” melihat papa mertua duduk sendiri dan melamun, Gwen meminta suaminya untuk menemani papanya.

__ADS_1


„Tenanglah honey... papa yang memintaku kesini untuk menemanimu. Biarkan aku sebentar saja..” Barra menyandarkan kepala di pangkuan depan istrinya, sedangkan di sisi kanan, dan kiri ada kepala dari dua putranya,


Gadis itu tersenyum, perlahan tangan Gwen menyugar rambut di kepala suaminya. Tampak kelelahan terlihat di wajah laki laki itu, dan perlahan  Gwen memberikan usapan beberapa kali. Tidak menunggu lama, tiba tiba Barra sudah tertidur dengan tenang, bahkan Gwen sampai kaget melihatnya. Bukan hanya Gwen, ternyata tuan Chandra juga mengamati perilaku putranya. Melihat Barra langsung tertidur setelah menyentuh kulit istrinya, laki laki itu mengulum senyum di bibirnya. Ada kebahagiaan terlihat di wajah Tuan Chandra yang sudah mulai renta, melihat putra putri, serta cucunya juga berada dalam kebahagiaan. Perlahan, tanpa sadar tuan Chandra juga menyandarkan kepala di dinding, laki laki itu ternyata ikut tertidur.


************


Keesokan paginya..


Barra tersentak kaget ketika melihat pintu ruang ICCU terbuka dari dalam. Petugas medis tampak berlari memanggil dokter jaga, dan seketika tuan Chandra beserta semua yang ada di luar ruang ICCU ikutan panik. Beberapa saat kemudian, dua dokter sudah masuk ke ruang perawatan mama Barra, dan mereka kembali menunggu.


„Tenanglah kak... mama berada di tangan yang tepat. Dokter pasti akan segera memberi pertolongan pada mama..” Gwen menepuk nepuk bahu suaminya, mencoba menguatkan suaminya.


„Keluarga nyonya Chandra, perlu kami informasikan. Pasien menolak tindakan lanjutan dari dokter, dan kemungkinan untuk pulih tidak ada 5%. Saat ini, pasien menghendaki untuk bertemu dengan keluarga. Namun hanya maksimal dua orang yang bisa masuk ke dalam..” tiba tiba petugas medis memberikan informasi yang membuat Barra dan tuan Chandra menjadi lemas.


“Masuklah Barra dengan istrimu.. Papa akan menemani Bareeq dan Tareeq di luar..” di luar dugaan, dengan tatapan pasrah dan ikhlas, tuan Chandra memberi kesempatan pada putra dan menantunya..


Mendengar hal itu, Gwen menjadi merasa tidak enak.. Untungnya Bareeq dan Tareeq sudah terbangun, dan keduanya duduk bersandar pada sandaran kursi, dan melihat polos pada mommy nya.


“Papa… kenapa bukan papa dan kak Barra saja yang masuk ke dalam..?” Gwen bertanya dengan lirih.

__ADS_1


Tuan Chandra menggelengkan kepala sambil tersenyum…


“Pergilah Gwen… papa menunggu di luar saja. Papa sudah hafal dan akrab dengan apa yang akan mamamu katakan. Biarlah untuk kali ini, papa menemani Bareeq dan Tareeq, dan jika masih ada waktu, pastilah papa akan menemui papamu..” Gwen terhenyak mendengar kata kata papa mertuanya.


Tapi suaminya Barra sudah merangkul bahu, dan mengajaknya masuk ke dalam. Melihat mama mereka terbaring lemah, Barra segera menggandeng Gwen menemuinya. Nyonya Santa tersenyum melihat kedatangan putra dan menantunya.. Tangan perempuan itu terulur, seakan ingin meraih Gwen.., dan gadis itu mengerti isyarat tersebut.


“Gwen ada disini mam..” gadis itu tersenyum, dan mencoba menahan air mata yang akan keluar.


Gadis itu meraih tangan mama mertuanya, dan menempelkan di pipinya sambil dipegangi.


“Cucu cucuku sangat menggemaskan, mama titip jaga mereka dengan baik menantuku.. Mama juga titip Barra, awasi dia…” dengan terbata, nyonya Santa mengajak menantunya berbicara.


Gwen tidak mampu berkata kata, dan air mata yang sejak tadi ditahannya, perlahan mengalir melalui sudut matanya. Perempuan paruh baya itu memberi isyarat pada Barra agar mendekat kepadanya..


“Putraku… jaga istrimu.. Jangan pernah menyakiti hati istrimu, jika ingin melihat mama tersenyum.. Uhukk…” dengan nafas tersengal, nyonya Santa mengajak putranya bicara.


“Pasti mama… Gwen adalah istri yang sangat Barra cintai, dan dialah surga bagi Barra mam..” terlihat Barra berusaha untuk menahan dirinya agar tidak menangis.


Saat ini, mamanya tidak membutuhkan ada kesedihan di depan matanya. Perempuan paruh baya itu pasti ingin melihat senyuman, dimana putra dan suaminya memberikan dukungan untuk dirinya. Merasa ada sesuatu yang ganjil denga napa yang saat ini terjadi pada mamanya, Barra menepuk punggung Gwen. Laki-laki itu bejalan menuju ke pintu keluar.

__ADS_1


************


__ADS_2