Broken Angel

Broken Angel
Part 100


__ADS_3

"Jadi,Allena pernah mengonsumsi narkoba?".Rey bertanya dengan hati-hati,ada rasa khawatir dalam diri rey,jika Allena memang benar pernah mengonsumsi narkoba.


Marga,menghela napasnya.Menetralisir rasa penyesalan dalam dirinya yang sudah menjudge masa lalu Allena tanpa mau mendengarkan sedikitpun alasannya dan tanpa perasaan dia malah membentak Allena.


Rey,yang terbawa emosi.Dia bangkit dari duduknya, mencengkram kuat-kuat kerah baju marga."Katakan pada ku,Allena tidak mungkin pernah mengonsumsi narkoba kan?".Gertak Rey.


Marga yang ikut berdiri karena cengkraman kuat tangan Rey pada kerah kemejanya, perlahan dia melepaskan cengkraman tangan Rey.Dia bergeser kearah samping untuk menjaga jarak dengan rey.


"Karena itu,aku memperlihatkan silsilah keluarga andre_".


Bugh


Belum sempat,marga menyelesaikan ucapannya.Tiba-tiba Rey menghadiahi dirinya sebuah bogem mentah.Alhasil dia terjengkang ke belakang.Tertuduk dalam sofa sembari mengusap sudut. bibirnya yang mengeluarkan darah segar.


"Aku bahkan sudah memerintahkan mu untuk menjaga Allena ".Gertak Rey."Tapi,mengapa sampai Allena berjalan kearah yang tak seharusnya?".Rey, bertanya dengan kalap, seakan menumpahkan segala kekesalan nya pada marga.


Marga,tak langsung menjawab pertanyaan rey.Dia membiarkan rey menumpahkan segala kekesalan dan emosi nya.Akan sangat tidak baik apabila dia menjeda ucapan Rey yang jelas dia tengah terbakar oleh rasa amarah nya.


Tak hanya pada marga,di menumpahkan segala kekesalan nya tapi pada benda-benda dan barang-barang yang ada di ruangannya.

__ADS_1


Di lemparkan nya barang-barang ke sembarang arah,dan benda-benda tak bernyawa itu harus menjadi sasaran amukan rey yang tak bisa di kendalikan.


"Arghhh".Teriak Rey,membanting segala benda yang ada di dekatnya.


Marga, membiarkan rey berbuat sesuka hatinya.Bukan dia tidak mampu mencegah,hanya saja dia tak ingin menjadi sasaran emosinya lagi.


"Huh..Huh..Huh.." Rey, terengah-engah,mengatur napasnya yang sudah tak beraturan akibat kelakuannya sendiri.


"Allena, mengonsumsi narkoba jauh sebelum kau memerintah aku untuk mengawasi Allen".Ucap marga, setelah dia rasa emosi rey sudah memudar.


"Maksud mu?".Tanya Rey, mendekat kearah marga."Apa maksud mu dengan Allena yang mengonsumsi narkoba jauh sebelum saat kau ku perintah kan mengawasi Allena?".Tanya nya lagi,meminta penjelasan pada marga.


Marga menundukkan rey di kursi, menuangkan air ke dalam gelas sebelum menyodorkan nya pada rey.


Mau tak mau Rey menerima gelas yang di sodorkan oleh marga padanya.Dia minum dengan sekali tegak.Benar kata marga,dia terlalu emosi hingga menguras tenaganya.


"Menurut pengakuan Allena,dia hanya pernah sekali mengonsumsi narkoba jenis ganja hanya sekali saja".


"Emang pil ekstasi bukan narkoba?".Sentak rey,menyambar ucapan marga.

__ADS_1


Marga,menghela napasnya.Berhadapan dengan rey sama seperti berhadapan dengan Allena, sama-sama sensitif.


"Kan aku bilang nya ganja,bukan pil ekstasi.Pahami dulu setiap katanya, jangan asal menilai dan menyimpulkan sendiri ". Nasehat marga."


"Yah, berarti dengan pil ekstasi.Alkena sudah dua kali mengonsumsi narkoba?".Tanya Rey, tanpa menoleh kearah marga.


"Betul".Jawab marga."Untuk itu, jagalah Allena, jagalah gadis kecil mu seperti janji mu padanya, seperti kau pernah mengatakannya pada ku".pinta marga,menatap rey yang masih menatap lurus ke depan.


Tak ada jawaban dari Rey, seperti dia tengah melamun.Entah apa yang di pikirkan rey,tapi yang pasti dia sudah meminta untuk rey menjaga gadis kecilnya.


Rey,jelas tak menjawab pertanyaan marga.Dia hanyut dalam pikirannya sendiri,tenggelam dalam kenangan yang membuat nya terjebak dalam janji yang tak terucap namun selalu terkenang dalam memori otaknya.


Sayup-sayup dia dengar,suara Allena yang menangis di bawah pohon rindang dengan duduk memeluk lututnya.Amat memilukan saat dia pertama kali melihat Allena kecil.


"Hiks..hiks".Suara tangisan Allena begitu menggema di telinga Rey,begitu menyayat hatinya hingga dia tak sadar telah melangkah mendekat kearah anak gadis itu.


Perlahan tapi pasti,dia mendekat dengan beribu tanya di benaknya tentang apa yang menyebabkan dia menangis sendirian di bawah pohon rindang.


"Rey".

__ADS_1


Pikiran Rey, Tentang masa lalunya harus terputus oleh suara seorang pria yang ada di sampingnya.Membuyarkan semua lamunannya,memutus jejak kakinya yang terdorong oleh rasa penasaran.


"Yah".Sahut Rey,sembari menoleh kearah marga.


__ADS_2