
...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...
..."BROKEN ANGEL"...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
...1...2....3....PLAY!...
...•...
#BROKEN ANGEL S3 EPS. 3
...~~~...
...HAPPY READING....🎉🎉🎉...
...🌺...
KRIIIINNGGGG.... KRIIIINNGGGG....
Bel masuk berbunyi, seluruh murid baik kelas 1 sampai kelas 3 sekalipun langsung bergegas memasuki kelas mereka masing-masing walau tampak lambat karena mereka tidak bersemangat belajar dan lebih ingin menghabiskan waktu bermain bersama teman demi menambah jumlah pengangguran di negeri ini.
Sahira yang dari sebelumnya sudah berada di kelas kini bersikap santai saja sembari mengetuk-ngetuk meja mengenakan jarinya, ia melihat ramai murid di kelasnya yang berbondong-bondong masuk kesana lalu duduk di tempat mereka masing-masing dan suasana kelas pun mulai ramai dari yang tadinya sepi sunyi karena hanya ada beberapa orang.
April yang merupakan teman sebangku Sahira pun juga masuk lalu duduk di samping Sahira dan tak lupa juga menyapanya, Sahira membalas dengan senyum manisnya tanpa berbicara sedikitpun karena ia sudah mengetahui kelicikan wanita tersebut yang bekerjasama dengan Kirana dan abangnya.
"Sahira, jam pertama kita pelajaran apa ya?" tanya April coba memulai obrolan.
"Umm... matematika sih, masa lu gak inget pelajaran paling digemari murid-murid itu?" ujar Sahira.
"Yeh sejak kapan MTK jadi idaman murid-murid? Yang gue tau malah mereka pada pusing bahkan pingsan setiap kali belajar MTK, duh masih pagi udah harus belajar MTK aja!" ujar April.
"Hahaha, santai aja kali! Hari ini kan cuma ngulang materi yang kemarin, gak ada ulangan!" ucap Sahira.
"Ya iya sih, tapi tetep aja sampe sekarang gue belum bisa paham sama materi MTK ini! Bukan salah Bu Meli juga sih, emang kadar otak gue yang kecil jadinya gue gak bisa nangkep dah tuh yang diucapin sama Bu Meli...!!" ujar April.
"Hadeh, ada-ada aja lu Pril...." ujar Sahira tertawa kecil.
Tak lama kemudian, Saka si cowok cool juga masuk kesana bersama dua sohibnya yaitu Fathul & Rojak yang kini memang lebih serang bersama Saka sejak pria itu keluar dari geng wild blood dan tidak bersama mereka lagi.
Saka mampir sejenak ke meja Sahira yang memang hanya berjarak dua kotak dari tempat duduknya, ia membungkuk meletakkan kedua tangan di atas meja lalu menatap Sahira dari jarak agak dekat dan tersenyum sembari menaikkan alisnya.
"Dih, lu ngapain si Saka? Jangan genit-genit deh sama Sahira, nanti abis lu sama Lucas!" ujar April.
"Ssshhh!" Saka langsung menaruh telunjuk di bibirnya meminta April diam.
"Siapa juga yang godain Sahira? Gue tuh cuma mau ngeliat wajah wanita yang dulu sempat mengisi hati gue, tapi sayang dia malah memilih bersama lelaki lain!" ucap Saka.
"Ya ampun, kasian amat sih sadboy kelas yang satu ini!" ucap April geleng-geleng kepala.
Sahira hanya bisa diam mendengar perbincangan antara kedua teman kelasnya itu, ia sungguh tak menyangka kalau ternyata Saka belum benar-benar bisa melupakan kejadian itu dimana dulu dia mencintai Sahira.
"Saka, lu mau ngapain kesini?" tanya Sahira.
"Hahaha, gak ada kok! Kan tadi gue dah bilang, kalo gue cuma mau lihat wajah lu!" jawab Saka.
"Oh, ya oke deh..." ucap Sahira.
Sahira pun memalingkan wajahnya menatap April di sampingnya karena ia tak tahu harus bagaimana saat ini, ya ia hanya bisa pasrah sembari menunggu Bu Meli yang akan mengajar disana masuk kelas sehingga Saka pun pergi dari sana.
Akan tetapi, tiba-tiba Melia selaku ketua kelas disana masuk dan memberi kabar kurang mengenakkan bagi Sahira namun sangat menggembirakan bagi para murid lainnya di kelas itu.
"GURU-GURU ADA RAPAT, GUYS....!!!" teriak Melia dengan sangat heboh sambil meloncat.
"YUHUUU....!!!"
"YES FREECLASS, ASOYYY...!!!"
"BISA TIDUR!"
"BISA NGEGAME!"
"BISA NGEN..."
Ya seketika suasana kelas jadi riuh dan berisik merayakan ketidakhadiran Bu Meli karena rapat, Sahira pun sampai menutup telinganya lantaran disana sangat berisik.
__ADS_1
Hampir semua murid berteriak kegirangan, hanya Sahira serta Saka yang mungkin diam saja dan anteng-anteng disana berduaan.
"Free class nih, akhirnya gue bisa bebas lihatin lu terus tanpa takut dimarahin guru!" ucap Saka.
"Umm... kenapa lu gak main game aja bareng temen-temen lu? Gue mau baca novel nih, jangan disini ya!" ucap Sahira coba mengusir secara halus.
"Ohh, kalo gitu gue ikut baca novel dong! Kebetulan gue juga suka baca-baca gituan, gapapa kan?" ucap Saka malah ingin tetap disana.
Sahira yang merasa tidak enakan hanya bisa manggut-manggut mengiyakan perkataan Saka, pria itu langsung menarik satu kursi di dekatnya lalu duduk disana tanpa rasa bersalah sedikitpun pada si pemilik kursi yang baru saja hendak duduk.
"Ish, Saka! Itu kursi gue, kenapa ditarik...??!!" bentak Nurul si pemilik kursi.
"Pinjem bentaran!" ucap Saka dengan santai.
Sahira pun menepuk jidatnya melihat Saka yang terus berusaha melakukan apapun demi bisa dekat dengannya, ia tak mengerti mengapa Saka sekarang jadi aktif kembali mendekati dirinya padahal dia sudah memiliki Grey.
"Kalau gue gak bisa milikin Grey, itu artinya jodoh gue ya lu Sahira..." batin Saka.
...•••...
Sementara itu, kelas Lucas juga tak kalah ramainya dengan kelas Sahira saat Bruno si ketua kelas disana memberitahu mereka kalau guru-guru sedang ada rapat sehingga tidak bisa mengajar dalam waktu dekat ini mungkin sekitar 1 jam atau bisa lebih.
Lucas langsung saja beraksi bersama teman-teman cowoknya di kelas itu, ya ada Jack yang merupakan anggota wild disana satu-satunya yang sekelas dengan Lucas setelah Alan & Aldi lagi-lagi harus berbeda kelas dengan Lucas.
"Jack, gitar mainin gitar!" ucap Lucas kini duduk di bangku belakang sembari mengangkat satu kakinya ke atas.
"Siap, bro!"
Jack pun langsung mengambil gitar miliknya yang sengaja ia bawa setiap ke sekolah jaga-jaga bila ada waktu kosong seperti ini, itulah fungsi gitar yang sebenarnya ya ges ya yakni untuk mengisi waktu luang jika tidak ada guru.
"Nah, lu yang mainin gih biar ciwik-ciwik pada rame ngumpul disini juga!" ucap Jack menyerahkan gitarnya pada Lucas.
"Ah ogah! Mending kalo yang dateng cakep kayak Megan sama Dinda, lah kalo si Imeh gimana?" ujar Lucas menolak.
"Hahaha, ya gapapa bro! Udah main aja itung-itung ngisi waktu kosong, daripada kesel push rank tapi kalah mulu gara-gara dapet tim nub!" ucap Jack.
"Iya dah, sini...."
Akhirnya Lucas mau bermain gitar milik Jack setelah dipaksa dan juga karena tak ada pilihan lain, ia pun mulai memetik senar gitar di tangannya dan terciptalah alunan musik merdu yang dimainkan Lucas membuat seisi kelas terdiam seketika.
Benar saja seperti yang dikatakan oleh Jack tadi, kebanyakan cewek-cewek datang kesana berkumpul bersama Lucas dan temannya untuk menyaksikan permainan gitar Lucas yang memang menarik perhatian mereka semua.
"Aduh, Lucas kamu jago banget sih main gitarnya!" puji Dinda salah satu siswi yang ikut ke belakang.
"Ya iya dong, sini kamu mau aku ajarin juga gak?" ujar Lucas modus.
"Boleh boleh boleh..." ujar Dinda bersemangat.
Akan tetapi, seorang wanita muncul dari belakang menahan Dinda yang ingin mendekati Lucas bahkan sampai mencengkeram tangan wanita itu hingga Dinda meringis kesakitan.
"Enak aja lu mau deketin Lucas, jangan modus ya! Cuma gue yang boleh begitu sama Lucas, lu mah jauh-jauh gih sana!" ujar wanita yang tak lain adalah Imeh.
Ekspresi Lucas pun langsung berubah 180 derajat melihat kemunculan Imeh disana, suasana hatinya mendadak berubah dan tak ingin lagi bermain gitar bahkan ia menyerahkan gitar itu pada Jack lalu bangkit dari duduknya dengan wajah datar.
"Eh Kas, kamu mau kemana?" tanya Imeh.
"Bukan urusan lu! Oh ya, dan stop jangan ganggu gue lagi atau deketin gue lagi...!!" bentak Lucas sembari mengacungkan telunjuknya ke arah Imeh.
Lucas pun pergi begitu saja dari sana melewati rombongan Imeh serta beberapa siswi lainnya disana, nampaknya ia amat sangat kesal karena Imeh sudah mengganggu mood bermain gitarnya hingga kini alunan musik indah itu hilang.
"Ah lu sih, Meh! Makanya jangan kegatelan jadi cewek, kan si Lucas jadi marah tuh!" ujar Dinda.
"Yeh, berani lu sama gue?" ujar Imeh emosi.
"Ngapain gue takut sama lu, ha??"
"Ohh, rasain nih dasar cewek gatel!"
"Lu tuh yang gatel...!!"
Akhirnya mereka berdua terlihat dalam perkelahian jambak-jambakan ala wanita, semua yang ada disana malah mendukung mereka untuk terus seperti itu karena menganggap itu sebagai hiburan bagi mereka setelah Lucas pergi dari sana.
"Ayo, Dinda! Jangan mau kalah sayang, lawan terus!" teriak Jack menyemangati wanita itu.
"Eh semprul! Bukannya dipisahin, malah disuruh lanjut terus! Gimana sih lu?" ujar Doyok.
"Hahaha, abis seru bre..." ucap Jack tertawa.
__ADS_1
"Iya juga sih, nonton ah!"
•
•
Kini Lucas ada di kamar mandi lantai 2 dekat kelasnya sendirian, ia mengambil air dari wastafel lalu membasuhnya ke muka untuk menghilangkan rasa stress sekaligus pusing akibat kelakuan Imeh yang kembali ke setelan pabrik yakni mendekati dirinya lagi.
Padahal ia sudah merasa sangat senang dan tenang saat Imeh berubah dan mulai rela mengikhlaskan dirinya untuk Sahira, akan tetapi seiring berjalannya waktu Imeh malah berubah kembali bahkan begitu juga dengan Edrea sang mantan yang semakin menjadi-jadi untuk mendekati dirinya.
"Aaarrgghh! Pusing banget gue...!!"
Lucas berteriak sembari memukul-mukul meja wastafel dengan telapak tangannya, ia kemudian menyeka rambutnya ke belakang dan menatap dirinya sendiri melalui cermin dengan mata melotot serta nafas tersengal-sengal.
"Lucas?"
Tiba-tiba sebuah suara lembut khas wanita muncul di telinganya dari arah luar kamar mandi, ya Lucas pun segera menoleh lalu syok melihat Kania berdiri disana menatapnya dengan wajah terheran-heran.
"Kania?"
Gadis itu masuk ke dalam mendekati Lucas masih dengan tatapan penasaran serta bola mata yang terus melirik kesana-kemari seperti mencari sesuatu, Lucas yang ada disana ikut merasa heran dengan tingkah Kania karena tak mengerti siapa yang sedang dicari oleh Kania disana.
"Kamu lagi cari siapa?" tanya Lucas heran.
"Orang, aku penasaran ini tuh sebenernya toilet cewek atau cowok sih? Kok kamu yang cowok malah pake toilet ini, padahal di depan ada tandanya!" jawab Kania tampak terheran-heran.
"Hah? Yang bener??" ujar Lucas kaget.
"Ya iyalah, Lucas! Makanya kalo mau masuk toilet tuh lihat-lihat dulu, jangan main masuk gitu aja! Gue heran loh kok bisa seorang Lucas yang notabenenya pemimpin di sekolah ini, salah masuk toilet?" ujar Kania.
"Heh, hubungannya apa pemimpin sekolah sama salah masuk toilet? Gausah ngada-ngada deh, pemimpin sekolah kan juga bisa salah!" ucap Lucas menatap mata Kania dari jarak dekat.
"Ya iya sih, yaudah sana keluar! Gue mau pake toiletnya, nanti kalo ada yang lihat bisa salah paham!" ucap Kania.
"Iya..."
"Hah?? Kania, Lucas...???"
Baru saja mulut Kania menutup setelah mengatakan hal tersebut, dan itu semua sudah kejadian karena ternyata Edrea berdiri di depan toilet menyaksikan momen saat Lucas berdiri di dekat Kania dan tengah menatap gadis itu.
"Waw, gue gak nyangka..." ucap Edrea.
Lucas mengusap wajahnya kasar karena ia tahu ini pasti akan menjadi masalah besar, sedangkan Kania reflek menjauhkan tubuhnya dari Lucas dan berusaha menjelaskan pada Edrea kalau ini semua tak seperti yang dikiranya.
"Jangan salah persepsi dulu, Edrea! Gue sama Lucas gak sengaja ketemu disini, tadi gue—"
"Tadi apa, ha? Udah ketangkap basah berduaan di toilet pas jam kosong, masih aja ngeles!" potong Edrea dengan cepat dan tegas.
"Edrea! Kalo ngomong jangan asal, ya!" bentak Lucas.
"Apa sih, Lucas? Aku gak ngomong ngasal loh, emang kenyataannya kan kalian berduaan di toilet! Kalian tuh mau apa sih, mau bikin skandal baru?" ucap Edrea tersenyum licik.
Lucas tampak sangat emosi, tangannya terkepal dan matanya menatap tajam ke arah Edrea serta tubuhnya pun mulai bergetar disertai urat-urat yang muncul keluar karena sangking emosinya ia.
"Lucas, jangan!" ucap Kania menahan Lucas yang ingin mendekati Edrea, ia menggenggam tangan pria itu berusaha menenangkannya.
"Kenapa? Dia udah kelewatan!" ujar Lucas.
"Edrea juga perempuan, kamu gak boleh kasar sama perempuan!" ucap Kania mengingatkan.
Lucas pun mengurungkan niatnya yang ingin memberi pelajaran pada Edrea disana, Kania sedikit tenang karena Lucas sudah bisa mengontrol emosinya dan ia langsung melepas genggamannya dari lengan pria tersebut.
"Gue kasihan sih sama Sahira kalo sampe dia tahu pacarnya punya hubungan gelap sama sahabatnya sendiri, parah parah..." cibir Edrea.
"Heh, Edrea! Lu tuh bisa gak, gausah ikut campur urusan orang dan bicara yang enggak-enggak? Jangan sampe mulut lu gue tabok dan lu gak bisa lagi ngomong kayak gitu...!!" ancam Lucas.
"Hahaha, Lucas Lucas... kamu udah salah masih aja ngebelot, ya? Udah deh saran aku mending kamu putusin Sahira, terus balikan sama aku!" ucap Edrea.
"Dasar gila! Lama-lama bisa stress gue kalo ada disini...!!" bentak Lucas.
Akhirnya Lucas memilih pergi meninggalkan dua wanita itu disana tanpa berpikir panjang, ia mendorong sedikit bahu Edrea agar gadis itu memberinya jalan untuk lewat.
"Awwhhh!" rintih Edrea.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1