Broken Angel

Broken Angel
Episode 237 [SEASON 2]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...~~~...


...•...


#BROKEN ANGEL S2 EPS. 137


...•...


Pertemuan antara Aldi dengan Cat memang tak ada dalam rencana karena mereka tanpa sengaja bertemu di mall sehabis Aldi nonton berdua bersama Kia, tentu saja Aldi tampak senang bisa melihat kembali kekasihnya yang dahulu pergi meninggalkan dirinya disaat ia sedang sayang-sayangnya pada wanita tersebut.


Butuh waktu yang tidak sebentar bagi Aldi untuk bisa melupakan gadis di hadapannya saat ini, ia sampai tidak bersemangat selama beberapa minggu bahkan bulan karena memikirkan Cat. Setelah berhasil melupakan gadisnya, justru sekarang wanita itu malah muncul kembali di hidupnya dan membuat Aldi kembali mengingat kenangannya dahulu.


Cat juga berkaca-kaca begitu melihat pria yang selama ini selalu hadir di dalam pikirannya, ia tidak sanggup berkata apapun saat ini karena hatinya masih syok tak menyangka kalau akan bertemu Aldi secepat ini. Padahal ia masih belum mau menemui pria tersebut dan sedang menunggu waktu yang tepat, namun sepertinya author berkehendak lain.


"Sejak kapan kamu ada di Jakarta? Kenapa kamu gak kabarin aku, apa kamu sengaja untuk menghindari aku?" tanya Aldi menatap mata gadisnya penuh pertanyaan sembari memegang dua pundak Cat dan mencengkeramnya.


Cat terdiam melirik ke arah lain karena tak berani menatap mata lelaki tersebut yang cukup membuatnya gemetar, apalagi cengkeraman Aldi lumayan kuat dan membuat Cat semakin ketakutan. Ia kebingungan harus menjawab apa saat ini, walau semua yang dikatakan Aldi tidak benar.


"Kenapa diam aja? Aku lagi bicara sama kamu loh, bisa kan tatap mata lawan bicara kamu biar sopan?" ujar Aldi tegas memaksa Cat menatap matanya.


Akhirnya Cat terpaksa menatap wajah Aldi setelah pria itu mencengkeram dagu gadisnya, mereka kini saling bertatapan dengan Aldi yang terus mendekat ke wajah Cat dan matanya tampak menyala.


"Kita bicara di cafe aja, sekalian minum sama duduk biar lebih enak ngobrolnya! Kamu mau kan?" ucap Cat menawarkan Aldi berbicara di cafe.


Kini giliran Aldi yang terdiam lalu melepaskan dagu Cat, ia berpikir apakah mungkin ia bisa menerima ajakan Cat untuk berbicara di cafe sedangkan ia masih harus kembali menemui Kia.


"Waduh, gimana ini ya? Kalo gue ikut sama Cat ke cafe, bisa-bisa Kia bakal curiga karena gue lama pergi ke toiletnya! Nanti yang ada dia malah mikir kalo gue ninggalin dia disini, ah elah ribet amat sih!" gumam Aldi bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Cat memasang wajah penasaran sambil mendekat ke arah Aldi, pria itu tampak terkejut saat menyadari wajah Cat sudah berada di dekat wajahnya. Ia pun langsung sadar dari lamunannya lalu salah tingkah, sedangkan Cat terkekeh melihat ekspresi Aldi.


"Kenapa ketawa, ada yang lucu emang?" tegur Aldi saat sadar Cat tengah menertawakan dirinya.


"Gapapa, wajah kamu masih belum berubah ya? Aku suka lihatnya, kamu lucu sama seperti dulu terakhir kali kita ketemu!" ucap Cat tersenyum manis.


"Udah deh gausah sok manis, kamu mending jelasin aja sama aku sebenarnya kenapa kamu gak kasih kabar ke aku kalau mau balik dari Italia?!" ujar Aldi menatap tajam ke arah mata gadisnya.


"Iya aku bakal jelasin ke kamu semuanya, tapi gak disini karena gak enak kalo ngobrol sambil diri kayak gini! Kita ke cafe dekat sini aja ya? Biar lebih enak juga buat ngobrol-ngobrol panjang, kamu mau gak?" ucap Cat terus menunjukkan senyum manisnya.


Aldi lagi-lagi terdiam sembari menelan saliva kasar, ia membuang muka dan menggaruk hidungnya yang tak gatal karena bingung dengan jawaban dari pertanyaan Cat padanya.


Cat yang melihat lelaki itu kebingungan pun nampak heran karena ini sudah kedua kalinya Aldi memasang wajah bingung seperti itu, ia jadi curiga kalau Aldi sedang menyimpan sesuatu darinya.

__ADS_1


"Kenapa, kok malah diem sih? Aku nanya loh sama kamu, tadi kan katanya mau minta penjelasan dari aku giliran udah aku kasih kesempatan buat bicara malah kamunya diem aja! Sebenarnya kamu ini lagi mikirin apa sih, tinggal jawab mau atau enggak aja susah banget perasaan?" ujar Cat heran.


"Bukannya gitu, aku cuma males aja harus ke cafe cuma buat ngobrol soal alasan kamu yang gak ngabarin aku kalau udah di Jakarta! Mending kita atur waktu aja buat ketemu lain kali di tempat biasa kita nongkrong, aku minta nomor hp kamu!" ucap Aldi mengambil ponsel dari kantong jaketnya.


"Ohh bilang aja kalo kamu gak ada uang Aldi, udah sih tenang aku yang bakal traktir kamu nanti! Kamu gak perlu khawatir, lagian kalau besok-besok takutnya aku malah sibuk dan gak bisa ketemu kamu! Ini aja aku ngemall buat refreshing sebelum mulai aktivitas sehari-hari aku besok, kalau emang kamu mau denger penjelasan aku yaudah ayo sekarang aja kita ke cafe!" ujar Cat.


Aldi pun garuk-garuk kepala karena bingung harus apa, akhirnya mau tidak mau ia menerima ajakan Cat karena menurutnya gadis itu lebih penting dibanding Kia yang sebenarnya tak ia sukai.


...•••...


Sementara itu, Willy pulang ke rumah dengan kondisi suntuk dan tampak lelah. Seluruh tubuhnya terlihat buruk bahkan wajahnya penuh memar, ia terus memegangi luka lebam di pipinya sembari meringis sedikit menahan sakit yang lumayan perih.


April sang adik muncul sembari memegang mangkuk berisi camilan di tangannya, ia duduk di samping Willy lalu tampak heran melihat wajah abangnya yang penuh luka lalu kondisi tubuhnya juga kusam dan celananya sobek-sobek.


"Bang, lu kenapa sih? Pulang-pulang kok jadi kayak begini? Duh pasti abis tawuran lagi ya? Yah elah bang, masih aja lu kayak begitu jadi orang! Udah dong tobat jangan berantem mulu, pikirin masa depan lu!" ujar April menceramahi abangnya.


"Ah diem lu! Gue lagi luka bukan diobatin malah diceramahin, mending sana lu ambil kotak obat terus obatin nih luka-luka memar di muka gua!" ucap Willy kesal mengepalkan tangannya.


April tersentak kaget karena suara abangnya begitu menggelegar di telinganya, ia sampai tidak bisa berkata apa-apa dan mulutnya berhenti mengunyah lalu meletakkan mangkuk cemilan di atas meja.


Tanpa basa-basi April langsung pergi ke belakang mengambil kotak obat sesuai perintah Willy, ia tak mau membuat abangnya marah lagi karena telinganya bisa pengang jika mendengar suara bentakan Willy kembali.


Sedangkan Willy malah senyum melihat adiknya langsung kabur ke dapur, namun lukanya bertambah perih ketika ia tersenyum membuatnya harus kembali merasakan sakit di wajahnya.


"Awhh! Sial banget emang tuh orang, padahal gue sama the darks udah bantu dia buat balas dendam ke Aldi eh malah seenaknya aja dia ngamuk-ngamuk begitu sampe ngehajar gue! Awas aja lu Saka, gue pasti bakal balas perbuatan lu!" batin Willy tampak kesal sembari mengepalkan tangannya, urat di lehernya pun juga terlihat karena ia sedang emosi.


Perlahan April mulai mengoleskan obat merah pada luka di wajah abangnya, terdengar suara rintihan kesakitan muncul dari mulut Willy saat lukanya disentuh oleh April.


"Awh, sakit!" ujar Willy.


"Tahan bang, ini gak terlalu lama kok! Justru kalo lu terus teriak begitu malah nambah sakit dan gue ngobatinnya juga jadi gak bener, diem dulu ya sebentar tahan aja!" ucap April.


"Ah iya iya, bawel lu!" ujar Willy.


April pun memasang wajah jutek sembari memutar bola matanya karena kesal pada abangnya, namun ia tetap lanjut mengobati luka-luka di wajah Willy yang diakibatkan karena Saka memukuli pria itu.


"Bang, emang lu berantem sama siapa lagi sih? Perasaan gak ada bosen-bosennya lu berantem cari ribut sama orang, lihat sendiri kan hasilnya gimana?" ujar April penasaran.


"Kali ini bukan gue yang cari masalah duluan, dia noh tiba-tiba dateng temuin gue terus hajar gue tanpa ada penjelasan apa-apa! Karena kaget kan gue jadi gak bisa ngehindar, sue banget emang tuh orang!" ucap Willy emosi.


"Ah yang bener? Paling juga lu lagi yang cari masalah, udah sih jujur aja sama gue!" ujar April tidak percaya dengan apa yang dikatakan Willy.


Willy langsung mencubit lengan adiknya keras dan melotot ke arah April, mungkin ia kesal karena April tidak percaya dengannya.


"Awh, sakit bang!" rintih April sembari mengelus-elus bekas cubitan abangnya.

__ADS_1


"Lagian suruh siapa lu gak percaya sama gua? Itu balasannya karena lu udah gak percaya sama abang sendiri, masih mending cuma gue cubit belum gue pentung lu pake pacul!" ujar Willy.


"Buset sadis amat lu bang!" ucap April.


"Udah ah cepet lanjut obatin gue!!" ujar Willy.


April manggut-manggut sambil memanyunkan bibirnya, akhirnya ia pun kembali mengobati luka di wajah abangnya dengan obat merah. Namun, kali ini April mengobatinya sambil emosi dan menekan kuat kapas berisi obat merah itu ke wajah Willy.


Tentu saja Willy langsung berteriak kesakitan karena ulah adiknya itu, sedangkan April sendiri malah tertawa terbahak-bahak merasa puas telah berhasil membalas perbuatan abangnya. Ya terjadilah perang antara abang dan adik itu disana, yang sudah tentu pemenangnya adalah tidak ada.


...•••...


Disisi lain, Saka masih belum menyerah untuk bisa mendapatkan hati Grey kembali karena ia hingga saat ini masih mencintai Grey sepenuh hatinya. Baginya, Grey adalah sosok wanita kedua yang mampu masuk ke hatinya setelah Sahira dan tentunya Grey juga adalah wanita yang bisa membuat Saka moveon dari Sahira.


Kini Saka sampai di depan rumah Grey sembari membawa setangkai mawar merah sebagai tanda permintaan maaf dirinya pada Grey, ia berjalan pelan menuju gerbang rumah itu sambil menghembuskan nafasnya kasar berharap bisa diterima disana.


"Permisi, pak tolong bukain dong!" ucap Saka memanggil seorang satpam yang ia lihat di pos.


Satpam itu langsung bangkit kemudian hendak menghampiri Saka, akan tetapi suara teriakan seorang wanita menghentikannya.


"Tahan, Surya!" ujar seseorang dari arah belakang.


Satpam yang bernama Surya itu berhenti kemudian menoleh, ia langsung melipat kedua tangannya di depan untuk memberi hormat pada majikannya yang tak lain adalah Alice sang mama Grey.


Alice memasang wajah jutek ketika melihat Saka ada di depan gerbang rumahnya, wanita itu memang sangat tidak menyukai Saka dekat-dekat dengan putrinya karena dianggap tidak pantas bagi seorang Grey mendapatkan lelaki seperti Saka.


"Mau apa lagi kamu kesini? Saya kan sudah bilang jangan pernah datang lagi ke tempat ini, kamu itu harusnya sadar dong bukannya malah balik lagi sambil bawa-bawa bunga kayak gitu! Buat siapa coba itu bunganya, ha? Jangan bilang buat Grey, udah deh mending kamu pergi dan gausah temuin Grey lagi apalagi pake acara kasih bunga segala!" ujar Alice terus nyerocos tanpa memberi Saka kesempatan untuk berbicara.


"Tapi tante, saya cinta sama Grey! Saya akan terus memperjuangkan cinta saya ini, tante gak bisa halangi saya untuk melakukan ini semua! Biar bagaimanapun Grey berhak memilih siapa yang akan menjadi pendampingnya, kalau memang dia gak milih saya baru deh saya akan menjauh darinya!" ucap Saka tenang.


"Apa kamu bilang? Cinta? Kalau kamu memang cinta sama Diwi putri saya, seharusnya waktu itu kamu datang tepat waktu untuk temui saya dan suami saya disini! Tapi apa? Kamu malah datang terlambat, itu yang kamu bilang cinta ha?? Udah deh gausah sok drama merasa paling tersakiti, kamu itu gak akan bisa memiliki putri saya sampai kapanpun! Karena Grey hanya untuk Alex seorang, buktinya sebentar lagi Grey juga bakal dijemput Alex buat jalan keluar! Mending kamu pergi sekarang sebelum Alex datang, saya gak mau Alex cemburu!" ucap Alice.


Mendengar itu entah kenapa perasaan Saka seperti sakit dan tersentak, cintanya memang sulit untuk digapai karena saingannya adalah orang tua Grey sendiri. Saka pun diam menunduk meratapi nasibnya yang menyedihkan, namun ia tetap berusaha kuat dan bangkit kembali untuk memperjuangkan cintanya.


"Saya gak akan pergi tante, sebelum saya bisa menemui Grey dan bicara sama dia! Saya yakin kok Grey itu mau ketemu sama saya, karena saya tahu Grey juga mencintai saya sama seperti saya mencintai dia tante!" ucap Saka tegas.


"Hah? Kamu jangan mimpi deh ya, siapa deh nama kamu?" ujar Alice tertawa.


"Saka, tante!" jawab Saka pelan.


"Ya itu dia, kamu jangan kebanyakan ngayal ya jadi orang, Saka! Mana mungkin putri saya yang cantik jelita dan glamor itu suka sama kamu, mendingan kamu sadar deh dan pergi dari sini terus jangan pernah kamu datang lagi kesini! Karena Grey tidak akan mau lagi ketemu cowok kayak kamu, cepat pergi sana!" ujar Alice.


"Saya kan udah bilang tante, saya gak mau pergi dari sini sebelum saya ketemu Grey! Bahkan saya akan terus disini sampai besok sekalipun, selama saya belum ketemu Grey!" ucap Saka penuh keyakinan.


Alice geleng-geleng kepala melihat sikap keras kepala pria itu, akhirnya ia capek sendiri mengusir Saka dari rumahnya karena pria itu kekeuh tidak mau pergi dari sana.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2