Broken Angel

Broken Angel
Episode 246 [SEASON 2]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...~~~...


...•...


#BROKEN ANGEL S2 EPS. 146


...•...


"Kenapa diam? Cepat minggir dan beri jalan untuk kami, karena kami ingin masuk ke dalam!"


Suara teriakan itu terdengar jelas di telinga Sahira yang tengah rebahan, ia pun bangkit karena penasaran suara siapa kiranya itu apalagi terdengar kalau suara tersebut seperti tengah marah-marah dan ingin masuk ke dalam kamarnya.


Sontak Sahira yang dibuat penasaran langsung memijakkan kakinya ke lantai, ia memakai kembali sandal kacanya lalu berjalan keluar sambil terus menatap ke depan karena penasaran sekali. Walau sebenarnya ia sudah berjanji akan tetap di dalam apapun yang terjadi, ya tapi rasa penasaran itu mengalahkan segalanya.


"Siapa sih yang teriak-teriak itu? Terus kenapa juga dia mau masuk ke kamar ini? Emangnya dia gak tahu apa kalau ada aku disini??" gumam Sahira terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Ceklek...


Pintu dibuka oleh Sahira dari dalam, kedua pelayan yang berjaga di depan sontak terkejut begitupun dengan Nuril serta para bidadari disana yang menganga melihat sosok Sahira yang mereka cari ternyata benar ada disana.


"Sahira...??" ujar Nur tampak syok, ia sampai menutupi mulutnya sangking terkejutnya.


"Benar kan, pasti kamu ada disini!" sambungnya seraya berjalan menghampiri Sahira, ia sungguh gembira dapat melihat sahabatnya kembali.


Sahira yang juga sudah lama tak bertemu dengan para sahabat bidadari nya, pun turut bergembira serta menyunggingkan senyum manis di wajahnya. Namun, ia teringat pada perkataan Dimas yang mengatakan kalau para bidadari sudah dicuci otaknya oleh seseorang yang jahat.


Nur terus maju mendekati temannya itu, senyum juga terus terukir di wajahnya diikuti kedua tangan yang terangkat lalu hendak meraih tangan milik sahabatnya disana. Namun, tiba-tiba Sahira menghindar dan mundur menjauh dari Nur dengan menunjukkan wajah takutnya.


"Jangan mendekat! Aku gak mau disentuh sama kamu, cepat pergi!" ujar Sahira panik.


Sontak Nur terkejut dan menoleh ke wajah teman-temannya, semua disana juga terkejut sekaligus tak percaya mendengar perkataan yang keluar dari mulut Sahira. Kegembiraan itu kini berubah menjadi tanda tanya besar, mengapa Sahira bisa sampai mengatakan hal itu pada mereka?


Nur berusaha mendekat kembali ke arah Sahira dan meraih tangan bidadari itu, akan tetapi Sahira malah semakin menghindar dan juga berteriak keras memperingati Nur untuk menjauh dengan raut wajahnya yang seperti ketakutan sekaligus panik.


"Sahira, kamu kenapa? Ini kita sahabat kamu, masa kamu gak ingat sama kita? Aku Nur dan ini Nawal, mereka semua sahabat-sahabat kamu di nirwana!" ucap Nur coba menjelaskan pada Sahira.


"Gak, kalian bukan lagi sahabat aku! Cepat kalian semua pergi dari sini, atau aku terpaksa menghabisi kalian semua!" ucap Sahira lantang.


"Sahira, kamu bicara apa sih? Aku ini Nur sahabat kamu, kita semua 9 bidadari nirwana!" ucap Nur masih tak mengerti mengapa Sahira begitu.


Sahira malah geleng-geleng kepala sembari menyunggingkan senyum aneh di bibirnya, tentu para bidadari disana makin terheran-heran belum bisa memahami apa yang terjadi pada Sahira sampai ia tak mengenali satupun diantara mereka.


"Cepat pergi...!!" teriak Sahira keras.


"Sahira, tenanglah! Mereka ini sahabat-sahabat kamu, mereka bukanlah musuhmu!" ucap Nuril coba membantu menjelaskan pada Sahira.


"Enggak, kalian semua bukan sahabat aku lagi! Kalian sudah dipengaruhi oleh makhluk jahat yang mencuci otak kalian, cepat pergi dan jangan harap kalian juga bisa mencuci otak ku!" ujar Sahira.


Nur dan yang lainnya saling pandang karena masih tak mengerti ada apa dengan Sahira saat ini, sedangkan Sahira masih tetap menatap tajam ke arah mereka seperti orang yang ketakutan.


...•••...


Sepulang sekolah, Alan serta Jack masih mencari-cari dimana keberadaan Lucas karena hingga kini pria itu tak kunjung kembali juga ke sekolah dan bahkan tas miliknya sampai harus dibawakan oleh mereka.


Ya keduanya sudah mengecek UKS tempat Edrea dirawat berpikir mungkin Lucas masih disana, akan tetapi Lucas juga tak ada disana dan Edrea memberitahu mereka bahwa Lucas sudah pamit sejak bel berbunyi sebelumnya.


"Jack, kita cari Lucas kemana lagi ya? Udah seluruh sekolah kita puterin loh, tapi Lucas juga belum ketemu-ketemu!" ujar Alan heran.


"Gak tau nih, gue juga bingung harus cari Lucas kemana lagi!" sahut Jack sambil garuk-garuk kepala.


"Yaudah kita coba ke markas aja dulu dah, kita sekalian minta bantuan sama anak-anak! Siapa tau dengan begitu Lucas bisa cepet ketemu, yok!" usul Alan sembari menepuk pundak Jack.


Jack setuju dengan usul dari Alan sambil manggut-manggut, mereka pun pergi bersama-sama menuju markas wild blood dengan motor mereka masing-masing tanpa memperdulikan Aldi yang memang sedang sibuk mengurus urusannya sendiri.

__ADS_1


Sayang sekali, mereka malah bertemu dengan Edrea dan teman-temannya ketika hendak menuju parkiran mengambil motor mereka.


"Eh eh Alan, Jack!" ujar Edrea memanggil mereka sembari mencegah jalan dua pria itu.


"Ya, kenapa?" tanya Alan dingin.


"Gimana, Lucas udah ketemu?" ucap Edrea panik.


"Belum, sekarang kita mau coba cari dia ke tempat lain karena kita gak berhasil temuin Lucas disini! Lu doain aja semoga Lucas bisa cepat ketemu, gue yakin dia juga pasti gak akan kenapa-napa!" ucap Alan menasehati Edrea disana.


"Oke, eh tapi kalo gue ikut nyari juga boleh gak?" tanya Edrea menawarkan bantuan.


"Eee... baiknya sih jangan, gue gak mau libatin perempuan karena takutnya malah membahayakan!" jawab Alan menolak tawaran Edrea.


"Yah, gue bisa jaga diri kok! Ayolah, gue khawatir banget sama kondisi Lucas! Lu tenang aja, gue juga gak bakal nyusahin kalian kok!" ucap Edrea terus berusaha memohon pada Alan.


"Gak bisa, Edrea! Udah deh jangan maksa jadi orang! Biarin gue sama anak-anak wild blood yang cari Lucas, lu tunggu aja info dari kita!" tegas Alan.


"Iya bener, soalnya ini tuh bahaya! Bisa aja Lucas sekarang lagi ada sama musuh wild blood, nanti kalo lu ikut malah bikin riweh!" sahut Jack.


Edrea pun terdiam menunduk sedikit merasa sedih sekaligus kesal karena tidak diperbolehkan ikut menemani Alan & Jack mencari Lucas, sedangkan kedua pria itu langsung pergi melewati Edrea menuju motor-motor mereka untuk segera melaju.


Imeh & Sonya menyadari kalau Edrea tampak kecewa, mereka pun mendekati gadis itu untuk mencoba menghiburnya agar tidak terlalu sedih. Imeh merangkul pundak Edrea dari belakang, sementara Sonya ikut menyemangati Edrea sekaligus memberikan ide atau usul.


"Edrea, jangan sedih! Gimana kalo kita cari Lucas bertiga aja?" ucap Sonya memberi usul.


"Nah iya tuh bener, siapa tau justru malah kita yang berhasil temuin Lucas dibanding mereka!" sahut Imeh menyetujui usul dari Sonya.


"Boleh juga ide lu, yaudah kita sama sama cari Lucas pake mobil gue!" ucap Edrea kembali sumringah.


"Nah gitu dong, senyum lagi!" ucap Imeh.


Akhirnya mereka bertiga pergi menuju parkiran mobil tentunya untuk pergi mencari Lucas yang saat ini belum diketahui keberadaannya oleh mereka.


...•••...


Beruntunglah baginya, setelah sekian lama mencari akhirnya muncul Tiara serta Andini yang merupakan salah dua sahabat sejati Kania. Tanpa basa-basi lagi, Aldi pun langsung menghampiri mereka berdua tentu untuk menanyakan dimana keberadaan Kania saat ini yang masih belum bisa ia temukan.


"Eh Tiara, Andini! Kalian pada lihat Kania, enggak?" ucap Aldi dengan nafas mulai tersengal.


Tiara dan Andini saling memandang sambil menaikkan kedua bahu mereka secara bersamaan, rupanya mereka tidak mengetahui dimana Kania karena memang duo racun ini lebih suka berduaan dibanding bersama ketiga temannya yang lain.


"Sorry, Al! Kita gak tahu dimana Kania, coba aja cari ke kelasnya siapa tau dia masih disana!" jawab Tiara mewakili Andini juga.


"Ohh, iya juga sih gue belum cek ke kelasnya! Yaudah makasih ya, sorry udah ganggu!" ucap Aldi. "Eh bentar bentar, kalian kan sekelas sama Kania masa iya gak lihat?" sambung Aldi baru menyadari kalau Tiara & Andini sekelas dengan Kania.


"Eh iya juga ya, kok gue bisa lupa sih? Iya iya tadi gue lihat Kania masih di kelas kok, kalo gak salah dia lagi ada kerja kelompok gitu disana!" ucap Tiara nyengir.


"Ah gimana sih kalian?" ujar Aldi kesal.


"Hehe maaf Aldi, gue lupa! Lu juga sih Din, harusnya lu ingetin gue dong!" ujar Tiara.


"Lah kalo lu lupa, apalagi gue?" ucap Andini.


"Udah udah gausah ribut, gue duluan ya!" ucap Aldi.


"Iya, oke!" ucap Tiara & Andini bersamaan.


Aldi langsung bergerak cepat pergi dari sana menuju tangga di dekatnya, ia menaiki anak tangga langsung sekaligus tiga bukan satu-satu karena kelamaan.


Tak terasa kini ia sudah berada di depan kelas Kania, dan memang gadis itu masih ada di dalam sana bersama para teman kelasnya yang juga ramai.


"Bener ternyata Kania ada di kelas, tapi kayaknya dia lagi sibuk deh... apa mungkin dia mau ketemu gue?" gumam Aldi sambil melirik melalui jendela kelas.


Setelah menimang-nimang, akhirnya Aldi nekat untuk masuk ke dalam menghampiri Kania yang tengah duduk sembari mengetik melalui laptop bersama teman-temannya. Ada sekitar 4 orang disana dan kebanyakan lelaki yang duduk di atas meja dekat Kania, Aldi tampak tidak senang melihatnya.


"Kania...."

__ADS_1


Kania beserta keempat temannya disana langsung menoleh ke asal suara, mereka menatap tubuh seorang pria yang berdiri disana dengan heran. Sedangkan Aldi maju ke dekat mereka lalu berhenti tepat di samping Kania, ia bahkan meminta para lelaki yang sedang duduk di atas meja untuk turun.


"Gue mau bicara sama lu, berdua!" ucap Aldi menatap wajah Kania yang masih terduduk disana.


"Duh, gue gak bisa! Emangnya lu gak lihat gue lagi kerja kelompok sama yang lain?" ucap Kania.


"Sebentar doang kok, please!" ucap Aldi memohon.


Kania bingung harus apa, ia melirik Diandra yang ada di sampingnya dan juga memandang tiga pria teman sekelompok nya seperti bertanya apakah ia boleh pergi untuk berbicara dengan Aldi atau tidak.


"Gimana, mau gak?" tanya Aldi sudah tidak sabar.


"Eee..."


"Udah gapapa, Kania! Lu ladenin aja sana si Aldi, biar sisanya gue sama yang lain yang kerjain!" ucap Diandra memotong perkataan Kania sembari menepuk pundak gadis itu.


Kania pun malah semakin dibuat bingung, tentu ia merasa tidak enak jika pergi begitu saja meninggalkan teman-temannya kerja kelompok sendirian tanpa dirinya.


"Duh jangan deh, gue gak enak lah! Nanti gue dibilang cuma numpang nama, kan bakal jelek image gue di kelas!" ujar Kania.


"Hahaha, hadeh Kania... lu kan daritadi udah kerja terus tuh ngetik sama nyari materi, tuh biarin mereka bertiga lanjutin kerjaan lu yang tersisa!" ujar Diandra.


"Bener kata Diandra, udah lu ikut aja sama gue!" ucap Aldi menimpali ucapan Diandra.


Diandra mengangguk saat sekali lagi Kania menoleh ke arahnya, namun lagi-lagi gadis itu masih saja ragu karena ia tak tahu apa yang hendak dibicarakan oleh Aldi padanya.


Akhirnya karena tidak sabar lagi menunggu jawaban dari Kania, Aldi pun langsung meraih tangan Kania dan menariknya secara paksa.




Aldi terus menarik Kania sampai kini mereka berada di taman sekolah yang cukup sepi, barulah Aldi melepaskan genggaman tangannya dari Kania dan gadis itu tampak memegangi lengannya yang terasa sakit bahkan memerah karena tarikan Aldi.


"Ish, lu udah gila ya? Mau bikin tangan gue putus?" ujar Kania kesal pada Aldi.


"Iya iya, maaf ya cantik! Sini gue elus-elus biar sakitnya ilang..." ucap Aldi coba bersikap lembut pada gadis itu, ia meraih tangan Kania dan mengusapnya lembut sembari meniupnya.


"Udah udah, gausah!" ujar Kania langsung saja menarik tangannya dari genggaman Aldi.


"Lu mau bicara apa?" tanya Kania ketus.


"Duduk dulu!" ucap Aldi memberi isyarat melalui kepalanya meminta Kania untuk duduk disana.


Kania mendengus kesal lalu duduk pada bangku yang tersedia, begitupun Aldi yang menyusul duduk tepat di samping gadis itu. Aldi tersenyum menatap wajah Kania dari samping sambil menggeser posisi duduknya untuk mengikis jarak antara ia dengan Kania, gadis itu diam saja walau tahu Aldi ingin mendekati dirinya.


"Lu makin gemesin aja deh, kalo lagi ngambek!" ucap Aldi sedikit tertawa sambil terus memandang wajah cantik Kania.


"Gausah ngawur kemana-mana, langsung aja ke intinya! Lu mau bicara apa sama gue, Aldi?" ucap Kania masih tetap jutek.


"Iya iya, gue tuh cuma mau...." Aldi sengaja menggantung ucapannya untuk memancing Kania.


"Mau apa?"


"Mau...."


Karena kesal pada Aldi yang terus saja menggantung ucapannya, Kania sampai mencubit pinggang Aldi hingga pria itu menjerit kesakitan namun justru merasa senang karena cubitan itu datang dari wanita yang mampu menghuni hatinya.


"Awh, sakit! Kok lu tega sih cubit bestie sendiri?" ujar Aldi menahan tawanya.


"Bodo!"


"Hahahaha...."


Pria itu tertawa terpingkal-pingkal disana menyaksikan ekspresi gemas dari Kania, sedangkan Kania sendiri masih tampak kesal dan memanyunkan bibirnya sambil melipat tangan di depan.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2