Broken Angel

Broken Angel
Episode 310 [SEASON 3]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


...~Aku bisa menemukan yang lebih manis dari gula, yaitu senyummu sayangku~...


...×××...


...~Aku bisa menemukan yang lebih memabukkan dari minuman alkohol, yakni wajahmu gadisku~...


...×××...


...~Dan aku juga bisa menemukan yang lebih candu dari rokok, yaitu berduaan denganmu cintaku~...


...×××...


#BROKEN ANGEL S3 EPS. 55


...•...


...HAPPY READING...🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Akhirnya Nur dan Rara pun pergi dari kerajaan langit itu untuk menyusul raja Nuril serta ratu Keira yang lebih dulu pergi ke nirwana. Mereka berdua tampak sangat cemas dan panik, terlebih mereka tau betul kalau pasukan raja Nuril tentunya tidak banyak dan kalah dari pasukan milik Wilona yang berjumlah sangat banyak di nirwana sana.


Namun, perjalanan mereka terhenti lantaran ada seorang bidadari yang tiba-tiba muncul menahan laju mereka di depannya. Ya itu adalah Nawal si bidadari muda yang lucu dan masih polos, namun terkadang Nawal juga bisa menjadi biang masalah.


"Tunggu!" ucap Nawal menahan Nur dan Rara sembari berhenti di depan mereka.


"Nawal...??" Nur serta Rara kaget secara bersamaan, mereka pun saling memandang dengan mulut terbuka serta mata terbelalak karena terkejut dengan kemunculan Nawal yang tiba-tiba itu.


"Kalian mau pada kemana?" tanya Nawal menatap penasaran ke arah Nur dan Rara.


"Eee ini kita mau ke nirwana. Tadi kata salah satu pelayan disini, ratu sama raja Nuril pergi kesana berdua. Kita sebagai bidadari nya ratu Keira, gak mau dong kalau sang ratu sampai kenapa-napa nantinya! Apalagi disana ada Wilona sama ratu Sofia, mereka itu kan kekuatannya lumayan!" jawab Nur.


"Iya Nawal, mending kamu ikut kita deh sekalian! Kita bantu ratu Keira sama raja Nuril disana, yuk!" sahut Rara mengajak Nawal ikut dengannya.


"Hah? Aku aja abis pulang dari sana, ngapain aku harus ikut kalian lagi kesana?" ucap Nawal.


"Jadi, kamu tadi ikut sama ratu dan raja Nuril ke nirwana?" tanya Nur dengan mulut menganga karena terkejut mendengar perkataan Nawal.


Nawal hanya mengangguk tanda iya.


"Haish, terus kenapa kamu malah tinggalin ratu disana berdua sama raja Nuril? Emang kamu ini gak punya rasa peduli ya sama ratu kita? Harusnya kamu tetap disana dong, bantu mereka!" ujar Nur.


"Nur, tenang dulu! Aku datang kesini justru disuruh sama ratu Keira buah jemput kalian," ucap Nawal.


"Hah? Maksudnya ratu butuh bantuan kita buat lawan Wilona sama ratu Sofia?" tanya Nur.


"Enggak kok. Kamu gausah takut! Ratu Sofia itu udah dimasukin ke dalam penjara sama raja Nuril, nah kalau ratu Wilona sekarang juga udah jadi ratu kita loh! Makanya ratu Keira suruh aku kesini buat jemput kalian dan ajak kalian kesana untuk ikut rayain diangkatnya Wilona jadi ratu nirwana!" jelas Nawal.


"Hah??" Nur dan Rara kembali terkejut bersamaan.


"Kok bisa sih? Kenapa Wilona malah diangkat buat jadi ratu nirwana?" tanya Nur heran.


"Iya ih, apa sih yang terjadi disana tadi?" sahut Rara.


"Ah kalian banyak nanya nih! Tapi gapapa deh, aku berasa jadi artis yang banyak ditanyain sama wartawan. Aku bakal jawab pertanyaan kalian dan jelasin kenapa Wilona sekarang diangkat jadi ratu nirwana bareng ratu Keira!" ucap Nawal.


"Yaudah, jelasin!" ucap Nur.


"Iya, jadi gini...."


Nawal pun menjelaskan semua yang terjadi di nirwana tadi antara ratu Keira serta Wilona sampai Wilona diangkat sebagai ratu nirwana juga oleh ayahnya alias raja Lingga.


Nur serta Rara perlahan mengerti dan manggut-manggut mendengarkan cerita dari Nawal yang cukup jelas itu, mereka pun paham mengapa Wilona sekarang bisa menjadi ratu nirwana.

__ADS_1


...•••...


Lucas dan Sahira berhenti tepat di depan pintu sebuah ruang mayat, mereka meyakini dokter Septian ada disana setelah melacaknya. Namun, mereka juga tak tahu apa yang dilakukan Septian di dalam sana dengan para mayat yang ada di ruangan tersebut, mungkin saja Septian hendak memakan mayat-mayat disana atau entahlah.


Mereka mendekat dan menempelkan telinga ke dekat pintu tersebut untuk memastikan apa yang hendak dilakukan dokter Septian disana, namun tak terdengar suara apapun dan yang ada hanyalah suara kresek kresek tidak jelas. Tentu saja Lucas dan Sahira pun tampak kebingungan, namun mereka yakin sekali kalau memang Septian ada disana.


Akhirnya Sahira meminta pada Lucas kekasihnya itu untuk membuka pintu tersebut dengan kekuatannya, ya karena ia telah coba membukanya, namun ternyata pintu itu terkunci.


"Sayang, kamu buka dong!" ucap Sahira.


"Oke sayang, kamu minggir gih!" ucap Lucas.


Sahira pun mengangguk dan memberi ruang bagi Lucas untuk dapat membuka pintu tersebut.


Tentu saja Lucas langsung bergerak maju ke depan mendekati pintu itu dan bersiap membukanya, namun ia sempat menoleh sekilas ke arah Sahira dan tersenyum tipis yang membuat gadis itu terheran-heran tak mengerti mengapa Lucas malah seperti itu padanya.


"Nih kamu lihat ya!"


"Simsalabim terbuka!"


"Simsalabim terbuka!"


"Yah, gak bisa sayang! Aku udah berusaha sekeras tenaga, tapi pintunya tetep gak kebuka!" ucap Lucas menoleh ke arah Sahira dengan nafas tersengal.


"Ish, gak lucu tau! Buka yang bener sayang! Kamu mah daritadi bercanda mulu! Kapan seriusnya atuh ih?!" bentak Sahira kesal sembari menjewer telinga kekasihnya agar bisa serius kali ini.


"Aduh aduh! Iya iya sayang, aku serius kok!" ucap Lucas kesakitan saat telinganya ditarik.


"Yaudah cepetan!" bentak Sahira.


"Hehehe..." Lucas justru nyengir.


Akhirnya Lucas pun mengambil ancang-ancang untuk membuka pintu dengan kekuatannya, kali ini ia serius dan tak mau bercanda lagi. Ya karena ia takut kalau Sahira akan marah kembali padanya, biarpun niatnya adalah ingin membuat Sahira merasa tenang dan tidak panik seperti sekarang.


Braakkk...


Lucas pun berhasil membuka pintu tersebut dengan kekuatan yang ia miliki, tanpa basa-basi mereka langsung masuk ke dalam sana dan celingak-celinguk mencari keberadaan dokter Septian yang mereka yakini ada disana bersama para mayat yang siap dikuburkan.


"Sayang, itu kan dia..." ucap Sahira sambil menunjuk ke arah dokter Septian berada.


Lucas menoleh ke arah yang ditunjuk Sahira, matanya terbelalak seketika setelah melihat sosok tersebut yang tinggi dan besar seperti bukan dokter Septian yang ia kenal. Lucas pun meminta pada Sahira untuk diam dengan menempelkan telunjuk pada bibirnya, lalu perlahan mereka maju mendekati dokter Septian.


"Kita sergap dia dari belakang! Awas, jangan sampai kamu bikin suara atau keributan selama kita berjalan ke dekat dia!" ucap Lucas.


"Iya,"


Glomprang...


Baru saja Lucas mengatakan itu, namun justru kali ini ia sendiri lah yang membuat keributan dengan tak sengaja menyenggol alat-alat yang ada di dalam ruangan tersebut. Sahira pun tampak melongok karena dokter Septian menoleh setelah mendengar suara bising tersebut.


"Kamu sih, ish!" bentak Sahira.


Lucas hanya nyengir dan mengangkat dua jarinya.


...•••...


Willy pulang ke rumahnya dengan tampang ceria dan merasa puas setelah berhasil menghajar anak-anak wild blood di jalanan tadi, ya walaupun tidak ada Lucas disana yang memang sangat ia benci. Namun, melihat mereka kesakitan saja sudah membuat Willy senang dan puas, karena menurutnya itu juga akan meninggalkan luka dan kesedihan di hati Lucas.


Willy pun melangkah ke arah pintu rumahnya, setelah memarkir motor di teras dan melepas helmnya. Willy memang minta izin pulang lebih dulu pada Dans, karena ia ingin menggunakan waktu di hari libur ini untuk menemui Kania. Ya Willy hingga kini masih saja terus berusaha untuk mengambil hati Kania dan berharap gadis itu mau menerimanya.


Namun, sebelum datang ke rumah Kania tentunya Willy ingin membersihkan badannya lebih dulu yang berkeringat dan beberapa terdapat luka akibat perkelahiannya dengan geng wild blood. Willy juga tak mau jika Kania nantinya merasa ilfeel padanya dan semakin menjauhinya, walau semuanya sama saja dan tidak akan merubah sesuatu apapun itu.


Ceklek...


Willy pun membuka pintu rumahnya dan perlahan melangkah masuk ke dalam sembari celingak-celinguk mencari keberadaan adiknya, ia menutup kembali pintu dan menguncinya dari dalam agar tak ada yang bisa masuk begitu saja ke dalam rumahnya disaat ia tengah mandi.


"Kemana sih si April?" gumamnya.


Disaat Willy baru hendak melangkah menaiki tangga, tiba-tiba saja April muncul dan memanggil namanya dari belakang, membuat Willy terhenti langkahnya lalu menoleh sejenak ke belakang. Terlihat April tengah berjalan ke arahnya sambil tersenyum tidak jelas.

__ADS_1


"Ternyata lu ada di rumah. Gue pikir lu kemana gitu, abisnya nih rumah kayak sepi banget!" ujar Willy.


"Iya bang, gue abis mandi." jawab April.


"Ohh, iya sih kelihatan dari rambut lu yang basah sama wangi tubuh lu. Tapi, lain kali kalo mau mandi tuh pintu dikunci lah! Misal nanti ada maling yang mau masuk kesini gimana?" ujar Willy.


"Enggak kok, kita kan tinggal di tengah hutan. Mana ada coba maling yang nyasar sampe kesini? Lagian kalo misal gue kunci, nanti lu masuk ke dalamnya gimana? Yang ada lu malah marah-marah lagi nyalahin gue!" ucap April.


"Yaudah iya, ada apaan lu manggil gue?" tanya Willy.


"Eee gue mau nanya sesuatu sama lu, bang." jawab April sedikit gugup.


"Ohh, yaudah kita duduk di sofa!" ucap Willy.


April mengangguk setuju. Lalu, mereka berdua pun melangkah menuju sofa ruang tamu dan duduk disana berdampingan untuk siap berbincang.


"Mau nanya apa lu?" ucap Willy penasaran.


"Umm, ini masalah Saka. Dia kan meninggalnya gak wajar, gue heran aja kenapa dia bisa meninggal dalam keadaan kayak gitu? Kabarnya, bagian tubuhnya aja banyak yang kepisah." ucap April.


"Ya emang sih, gue juga heran. Tapi, sebenarnya apa yang mau lu tanyain ke gue?" ucap Willy.


"Eee lu gak ada hubungannya kan bang, sama kematian Saka ini?" tanya April.


Braakkk...


Willy menggebrak meja dengan keras sembari beranjak dari tempat duduknya.


"Maksudnya apa? Lu nuduh gue yang bunuh Saka, ha??!!" bentak Willy emosi.


April pun tampak ketakutan melihat ekspresi abangnya yang terlihat sangat marah, ia berusaha menenangkan hati Willy agar tidak semakin emosi dan mengatakan kalau ia hanya bertanya.


...•••...


Disisi lain, Nur bersama Rara dan Nawal sudah sampai di nirwana secara bersamaan. Mereka bertiga pun langsung pergi menuju tempat dilaksanakannya acara pengangkatan Wilona sebagai ratu dari nirwana, ya Nur dan Rara kini sudah bisa menerima kalau Wilona akan menjadi ratu mereka bersama dengan sang ratu Keira.


Mereka bertiga pun berhenti tepat di hadapan ratu Keira yang tengah mengawasi para bidadari disana, mereka memberi hormat pada sang ratu lalu bertanya mengenai acara pelantikan ini. Ya karena mereka juga ingin bantu-bantu seperti bidadari yang lainnya, walau sudah ada banyak bantuan disana sepeti para bidadari merah milik Wilona.


"Salam ratu! Maaf kalau kami terlambat datang, tapi apakah masih ada yang bisa kami lakukan saat ini?" ucap Nur berbicara pada ratunya.


"Kalian akhirnya sampai. Nur, aku sudah menunggumu sedari tadi disini. Apa tugas yang aku berikan tadi sudah berhasil kau laksanakan dengan sempurna?" tanya Keira.


"Tenang saja, ratu! Aku dan Rara telah membawa siluman Sita ke dalam penjara, tentu saja dengan bantuan Lucas serta Sahira!" jawab Nur.


"Baguslah! Lalu, dimana keberadaan Sahira serta Lucas saat ini? Mengapa mereka tidak ikut dengan kalian untuk datang kemari dan mengikuti acara pelantikan adikku sebagai sang ratu?" tanya Keira penasaran setelah tak melihat Lucas dan Sahira di barisan para bidadari tersebut.


"Eee itu dia ratu, mereka saat ini masih mengejar dokter Septian dan membantunya untuk bisa sembuh dari racun ular yang diberikan Sita. Mereka meminta kami untuk pergi lebih dulu membawa Sita ke penjara, tentu agar siluman itu tak bisa berbuat macam-macam lagi." jelas Nur.


"Lalu, apa ada yang menjaga Sita di penjara langit sekarang?" tanya Keira lagi.


"Umm, sudah ada para penjaga disana, ratu. Namun, jika ratu memintaku untuk menjaganya, maka aku bersedia untuk melakukan itu, ratu!" jawab Nur.


"Ya, sebaiknya kamu tetap disini! Tapi, biar Rara yang kembali kesana dan jaga siluman itu!" ujar Keira.


"Baiklah, ratu! Kalau begitu aku permisi dulu untuk kembali ke istana langit, salam bahagia semuanya!" ucap Rara berpamitan.


"Iya, hati-hati kamu!" ucap Nur tersenyum.


Setelah Rara pergi kembali ke kerajaan langit, kini ratu Keira menoleh ke arah Nur serta Nawal yang ada di belakangnya dan mulai berbicara untuk meminta mereka melakukan sesuatu.


"Nur, Nawal. Sekarang aku minta pada kalian berdua untuk membantu yang lainnya menyiapkan pesta, aku ingin acara pelantikan ini berjalan lancar dan sesuai harapan!" ucap ratu Keira.


"Baiklah, ratu!" ucap Nur dan Nawal bersamaan.


"Ya, pergilah! Kalian temui raja Nuril, lalu tanya padanya apa yang harus kalian lakukan untuk membantu yang lain!" ujar ratu Keira.


"Sendika, ratu!" ucap mereka lagi bersamaan.


Nur dan Nawal pun pergi dari sana meninggalkan sang ratu sendirian untuk menemui Nuril dan menanyakan tugas mereka.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2