
...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...
..."BROKEN ANGEL"...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
...~Kalau ada yang lebih indah dari kamu, yasudah pasti aku akan beralih ke dia dan meninggalkan kamu~...
...×××...
#BROKEN ANGEL S3 EPS. 24
...•...
...HAPPY READING....🎉🎉🎉...
...❤️❤️❤️...
Saat di kelas, Sahira kebingungan melihat April yang terus saja bengong dan tampak seperti mencemaskan sesuatu. Ia pun coba menegur April dan berharap kalau gadis tau sesuatu tentang penyerangan ke sekolahnya.
Sahira mendekati April dan sedikit menggeser posisi duduknya lebih dekat ke arah gadis itu, ia berdehem sehingga April pun terkejut lalu menoleh ke arah Sahira dan tersenyum, April langsung berusaha tenang saat Sahira menatapnya curiga.
"Ada apa, Sahira?" tanya April heran.
"Harusnya gue yang nanya sama lu. Ada apa sih bengong mulu daritadi, lagi sakit?" ucap Sahira.
"Eh gak kok, gue baik." ujar April nyengir.
Sahira coba menggunakan kekuatannya untuk mendengar suara hati April, akan tetapi gadis itu rupanya tidak berbicara di dalam hati sehingga Sahira gagal mendapatkan apapun, ia hanya bisa berharap dan menunggu April berbicara.
"Oh gitu, ya bagus deh. Tadinya gue kira lu lagi sakit atau kenapa gitu, abisnya lu daritadi diem aja gak merhatiin ke depan!" ucap Sahira.
Iya, gue gapapa kok." ucap April tersenyum.
"Maaf Sahira, gue sebenernya gak tega ngeliat lu diserang nantinya." batin April.
Ya Sahira pun berhasil mendengar suara hati April barusan dan tersenyum, ia kini tau kalau April memang sudah mengetahui semuanya tentang penyerangan itu, tapi yang ia heran kan mengapa April seperti tidak tega begitu padanya.
"Sahira!"
Tiba-tiba pak Jupri yang sedang mengajar di kelasnya dalam pelajaran kimia, memanggil nama Sahira. Tentu Sahira kaget dan panik karena namanya dipanggil, ia pun menoleh ke depan lalu bertanya ada apa pada gurunya tersebut.
"Kenapa ya, pak?" tanya Sahira penasaran.
"Kamu maju sini! Kerjakan soal di papan tulis, bapak mau tau apa kamu mendengarkan atau tidak. Soalnya daritadi bapak lihat kamu asyik ngobrol aja sama si April itu!" ucap pak Jupri.
"Apa pak? Yah jangan saya dong! Kenapa gak April aja sih pak?" ujar Sahira menolak.
"Heh, kamu kok ngatur saya? Udah sini maju ke depan kerjain soalnya!" ujar pak Jupri.
"Iya pak..."
Akhirnya Sahira terpaksa maju ke depan untuk mengerjakan soal dari pak Jupri, ya walau ia belum mengerti tentang materi yang diberikan pak Jupri barusan, karena ia sendiri tidak fokus menjelaskan dan lebih memikirkan serangan Willy nanti.
Pak Jupri langsung memberikan spidolnya kepada Sahira agar gadis itu bisa segera menjawab soal darinya di papan tulis, Sahira terlihat gemetar dan kebingungan karena ia merasa asing dengan bentuk soal tersebut yang baru pertama kali dilihatnya.
Seisi kelas semuanya fokus memperhatikan Sahira di depan, memang pemandangan yang indah bagi mereka terutama lelaki saat melihat Sahira berdiri di depan mereka, maka dari itu mereka semua langsung fokus menatap ke depan.
"Haish, ini gimana ya jawabnya?" gumam Sahira di dalam hatinya. Ia merasa kebingungan.
Karena tak ada pilihan lain dan takut jika ia ditertawakan satu kelas, Sahira pun terpaksa menerawang jawaban soal itu dengan kekuatannya. Setelahnya, Sahira langsung berhasil menjawab soal tersebut dengan benar.
"Udah pak, bener kan?" ucap Sahira kembali ke pak Jupri lalu menyerahkan spidolnya.
Pak Jupri terkejut saat melihat jawaban dari Sahira yang lengkap sekali, namun ia heran lantaran cara Sahira menjawab itu berbeda dengan yang ia ajarkan tadi, ia pun kembali menahan Sahira yang hendak kembali ke tempat duduknya.
"Eh eh, tunggu!" ucap pak Jupri.
__ADS_1
"Apa lagi pak?" tanya Sahira malas.
"Kamu dapet cara ini darimana? Perasaan saya tadi ngajarinnya gak kayak gini!" ujar pak Jupri.
"Waduh! Gawat nih!" batin Sahira cemas.
"Kenapa diam?" tanya pak Jupri.
Sahira pun kebingungan tak tau harus menjawab apa pada pak Jupri, tak mungkin jika ia mengatakan pada pak Jupri dan semua teman-temannya kalau ia mendapatkan jawaban itu dengan kekuatannya.
"Saya sebenarnya udah belajar ini pak di tempat les, nah disana cara yang dipakai itu kayak gini." jawab Sahira ngarang.
"Ohh, tapi bukan berarti kamu gak mau perhatikan saya dan asik ngobrol sama April! Gimanapun juga kamu harus tetap perhatikan pelajaran dari saya, supaya banyak cara yang bisa kamu dapatkan!" ucap pak Jupri.
"Iya pak, maaf." ucap Sahira pelan.
"Yasudah, kamu boleh kembali sana!" ucap pak Jupri.
Sahira pun berjalan menuju tempat duduknya dengan perasaan lesu dan kesal, padahal yang tidak memperhatikan pak Jupri bukan hanya dia melainkan April juga, tapi yang dipanggil ke depan justru hanya ia sendiri tanpa April.
"Ngeselin banget sih guru disini, pengen rasanya aku sihir tuh kepalanya biar gak botak!" batin Sahira.
•
•
Sementara itu, Nur juga sama cemasnya dengan Sahira. Ya bidadari itu tidak bisa fokus memperhatikan pelajaran karena terus saja terpikirkan dengan penyerangan yang akan dilakukan Willy bersama teman-temannya nanti.
Nur pun meminta izin pada Bu Suci, guru bahasa Inggris yang sedang mengajar di kelasnya untuk pergi ke kamar mandi.
Nur ingin menenangkan pikiran sejenak dan membasuh mukanya, ia sepertinya terlalu panik untuk saat ini dan tidak bisa fokus dalam pelajaran karena pikiran itu, ia khawatir sekali kalau seluruh teman-teman di sekolahnya akan menjadi korban.
Nur berjalan menyusuri lorong melewati berbagai kelas yang ada disini dengan wajah lesu, ia berpikir bagaimana caranya untuk bisa mencegah serangan itu dan menyelamatkan temannya, karena baginya hal itu lebih penting dari keselamatannya.
"Semoga aja ratu punya cara buat bantu aku dan Sahira dalam melawan Willy, karena kan gak mungkin kalau aku gunakan kekuatan aku di hadapan mereka semua." batin Nur.
Sesampainya di toilet, Nur malah bertemu dengan Imeh yang baru keluar dari dalam sana.
"Lu apaan sih? Gue salah apa coba sama lu? Terus juga kenapa lu sampe segitunya benci sama Sahira?" ujar Nur emosi.
"Lu nanya sama gue? Yakin lu gak tau apa alasan gue benci sama Sahira? Udah jelas-jelas karena si Sahira itu nyebelin dan dia kegatelan sama my Lucas dari dulu sampe sekarang!" ujar Imeh.
"Ohh, hahaha. Kalau cinta lu gak dibalas dan lu gak bisa milikin Lucas, jangan salahin Sahira dong! Salahin tuh diri lu sendiri, kenapa Lucas bisa sampe gak suka sama lu!" ujar Nur.
"Dih, songong banget lu! Maksud lu, gue ini kalah dari Sahira gitu? Enak aja, jelas-jelas gue lebih segalanya dari si cewek gak jelas itu!" ujar Imeh.
"Hahaha, iyain aja deh cewek halu! Awas ah gue mau masuk ke dalam, ngalangin jalan orang aja!" ujar Nur langsung maju ke depan melewati Imeh dan mendorong sedikit tubuh gadis itu.
"Ish, emang bener-bener lu ya! Gak ada bedanya sama temen lu yang nyebelin itu!!" ujar Imeh.
Nur tidak meladeni perkataan Imeh barusan dan memilih masuk ke dalam toilet menuntaskan keinginannya, tentu saja Imeh merasa kesal karena tindakan Nur tapi ia hanya bisa menghentakkan kaki menahan amarah yang tak tersampaikan.
"Awas aja lu, gue bakal laporin ke Edrea!" ujar Imeh.
Imeh pun pergi dari sana dan kembali ke kelasnya dengan perasaan jengkel, tampaknya ia masih kesal pada Nur dan ingin membalas perbuatan Nur tadi padanya, ya tentunya dengan bantuan Edrea serta temannya yang satu yakni Sonya.
Sementara Nur geleng-geleng kepala di dalam toilet mendengar ucapan Imeh barusan, ia bingung haruskah ia menyelamatkan Imeh dan teman-temannya juga nanti saat terjadi penyerangan ke sekolah.
"Ah kayaknya gausah gue tolong deh cewek kayak dia mah! Justru lebih bagus kalo dia gak selamat, abis nyebelin sih!" gumam Nur.
...•••...
Istirahat telah tiba, Sahira akhirnya bertemu dengan Lucas di bawah saat mereka sama-sama hendak pergi ke kantin. Tentu ini jadi kesempatan yang pas untuk mereka membicarakan salah paham yang terjadi diantara mereka.
Sahira tersenyum saat berpapasan dengan Lucas disana, ia berharap kekasihnya itu bisa membantu ia untuk menyelamatkan orang-orang di sekolah tersebut dari serangan Willy, namun Lucas tampak berekspresi dingin dan kesal pada gadisnya.
"Lucas, kamu tuh kenapa sih?" tanya Sahira.
"Harusnya aku yang tanya sama kamu. Kamu ngapain kemarin berduaan sama Saka di kantin? Romantis banget lagi, pake makan berdua segala!" ujar Lucas.
__ADS_1
"Hah? Kamu tau darimana?" tanya Sahira heran.
"Gak penting soal itu, sekarang kamu jawab dan jelasin ngapain kamu berduaan sama Saka! Apa kamu suka sama dia? Mentang-mentang aku lagi diskors, kamu enak-enakan berdua sama dia di kantin makan bareng!" ujar Lucas.
"Kas, jangan gitu dong! Kamu tuh cuma salah paham, kita bicara di kantin yuk!" ucap Sahira.
"Kamu tinggal jawab aja, gausah pake segala ke kantin! Aku cuma mau jawaban dari kamu, ngapain kamu berduaan sama Saka!" ucap Lucas.
"Ya jangan disini dong! Aku malu dilihatin orang-orang, mending kita cari tempat yang enak di kantin buat ngobrol berdua!" ucap Sahira.
"Haish, yaudah iya. Yuk kita ke kantin!" ujar Lucas.
Lucas langsung menarik tangan Sahira dan mencengkeramnya kuat, ia membawa gadis itu ke kantin dengan tergesa-gesa karena rasa amarah yang ada di tubuhnya saat ini, tentu Sahira hanya bisa diam mengikuti agar tak membuat kehebohan.
Sesampainya di kantin, mereka langsung duduk di sebuah tempat yang masih kosong dan memang biasa mereka tempati. Lucas meminta Sahira segera duduk, sedangkan ia juga duduk di samping gadisnya masih dalam keadaan emosi.
"Sekarang jawab!" ujar Lucas tegas.
"Iya iya, kemarin tuh aku—"
"Hahaha.... cie yang lagi marahan. Semoga bisa secepatnya kalian putus ya! Soalnya kalian itu gak ada cocok-cocoknya sama sekali, gak ada chemistry-nya gitu loh!" ujar Edrea yang tiba-tiba muncul disana.
Sontak Lucas bertambah emosi karena Edrea datang lalu membuat kerusuhan disana, ia paling tidak suka pada orang yang ikut campur ke dalam urusannya.
"Heh, lu ngapain sih kesini? Jangan ganggu gue yang lagi ngobrol sama pacar gue! Mending lu pergi sana, cari aja orang lain yang bisa lu ganggu!" bentak Lucas menatap Edrea dengan tajam.
"Kamu kok tega sih ngomong begitu sama aku? Harusnya kamu tuh lebih pilih aku dibanding dia, karena dia gak pantas buat kamu!" ujar Edrea.
"Edrea, gue udah bicara baik-baik ya sama lu. Jangan sampe gue bertindak kasar dan usir lu secara paksa dari tempat ini, sekarang cepat pergi!" ujar Lucas makin dibuat emosi dengan Edrea.
"Yaudah iya, aku pergi. Gapapa deh untuk sekarang kamu ngusir aku, yang penting hubungan kalian berdua bisa secepatnya putus!" ucap Edrea.
Edrea pergi dengan perasaan jengkel walau sedikit merasa senang saat melihat Sahira dan Lucas tengah dirundung masalah, ia yakin kalau hubungan mereka pasti akan kandas dalam waktu yang tidak lama dari sekarang.
Sementara Lucas kini kembali menatap ke arah Sahira untuk meneruskan perbincangan mereka yang sempat tertunda karena Edrea.
"Dah, sekarang kamu lanjutin ucapan kamu!" ucap Lucas tegas.
Sahira tersenyum kemudian meraih tangan Lucas yang ada di sampingnya lalu menggenggam tangan itu dengan erat dan mengelusnya lembut.
"Aku itu...."
...•••...
Disisi lain, April datang menemui Putra sesuai janji mereka pagi tadi saat baru datang. Ya April tak memiliki pilihan lain selain mengikuti perkataan Putra untuk bisa selamat dari serangan Kirana yang sebentar lagi akan muncul.
Putra langsung tersenyum dan bangkit dari jongkoknya saat melihat April muncul disana, ia pun bergerak mendekati gadis itu yang sudah sedari tadi ia tunggu kehadirannya disana.
"Akhirnya datang juga...." ucap Putra.
"Iya, sorry lama. Tadi gue cari situasi aman dulu, supaya gak ada yang ngikutin gue." ucap April.
"Iya gapapa, yaudah yuk!" ucap Putra.
"Kita mau kemana?" tanya April bingung.
"Lu gimana sih? Ya kita kabur lah dari sini, emang lu mau kena dampak serangan angin itu? Kekuatannya dahsyat loh, bahkan bisa rubuhin bangunan sekolah ini!" ucap Putra.
"Iya gue inget, maksud gue kita mau kabur kemana?" ucap April.
"Ohh, ya ke tempat yang lebih aman. Tenang aja, tempat itu udah disediain sama anak-anak the darks buat kita ngungsi disana selama penyerangan itu terjadi nanti!" ucap Putra.
"Oh oke, gue ikut aja sama lu." ucap April.
"Yuk!" Putra tersenyum lalu menggandeng tangan April yang mulus dan mengajaknya pergi dari sana ke tempat yang lebih aman.
Sebenarnya April masih tidak tega pada Sahira teman sebangkunya itu, ia ingin sekali memberitahu Sahira tentang penyerangan nanti dan memperingati Sahira untuk kabur, akan tetapi itu semua sulit untuk ia lakukan mengingat ia adalah adik dari Willy.
Mereka berdua pun berhasil kabur dari dalam sekolah dengan memanjat tembok samping yang tingginya lumayan, untunglah persiapan kabur itu sudah direncanakan oleh Putra sejak semalam sehingga mereka bisa leluasa kabur dari sana.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...