
"Hah,mudah sekali mengelabui loe".Gumam Allena setelah kepergian rey.
Dia berjalan keluar rumah sakit dengan perasaan lega karena akhirnya dia terbebas dari penguntit dan peganggu hidup nya setelah mamahnya.
"Peganggu macam dia,memang pantas untuk di basmi". Gertak Allena.
Dia memang sudah terbebas dari Rey,tapi ternyata tak semudah itu berlari dari orang yang memiliki IQ tinggi.Satu masalah sudah terlewati,timbul masalah baru.Yah,Allena di Landa kebingungan saat dia menyadari bahwa dia tidak membawa dompet,tidak pula membawa iPhone nya sebagai alat komunikasi.
"CK,keluar dari kandang buaya,malah masuk ke kandang singa.Satu masalah terlewati,ini malah timbul banyak masalah".Keluh allena.
Kebingungan melanda diri Allena,bukan dia tidak mengetahui arah jalan pulang, melainkan dia menggunakan apa untuk dia bisa pulang.
Di saat itu pula, pikirannya mengarah pada telpon rumah sakit yang bisa dia pinjam untuk menghubungi supir pribadinya.
"Kau memang cerdas, Allena".Ucap Allena, tersenyum sumringah sembari melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
"Mbak boleh saya pinjam telponnya?". Tanya allena,pada perawat yang berjaga di meja administrasi.
"Untuk keperluan apa yah?".Tanya perawat itu,sopan.
"Gak usah banyak nanya,gue butuh banget nih".Sahut Allena,ketus.
Perawat itu mau tak mau memberikan izin pada Allena untuk menggunakan telepon seluler milik rumah sakit.
Kring..Kring..Kring .
__ADS_1
Pada panggil pertama belum ada sahutan dari sebrang sana.Hanya berupa suara dering telpon saja yang memekakkan telinganya.
Kring...Kring..Kring
Allena,tak mau menyerah begitu saja.Dia panggil kembali hingga telpon itu berhasil terhubung di telpon seluler supir pribadinya.
"Cepat loe kesini,jemput gue di rumah sakit sehat Medika di jalan melati no.100".Teriak Allena, tanpa basa-basi setelah panggilan nya terhubung.
Tanpa, menunggu jawaban dari orang yang ada di sebrang sana.Allena, mematikan sambungan telpon secara sepihak.
"Nih,gue udah selesai Ama urusan gue".Ucap Allena,sembari menaruh kembali gagang telpon.
"Astaghfirullah". Perawat itu hanya bisa mengucapkan istighfar kala, dengan tidak sopan nya Allena melenggang pergi tanpa permisi bahkan tidak mengucapkan kata terima kasih sedikitpun.
Begitulah sikap Allena, terbiasa hidup sendiri.Melakukannya secara mandiri,tumbuh dewasa tanpa didikan etika dan sopan santun,tidak pula tanpa didikan agama.Membuat Allena tidak tau sopan santun.
Allena, tengah berada di luar halaman rumah sakit,sambil sesekali melihat kearah jalanan.Mencari tau sosok supir nya yang dia nanti-nanti sejak beberapa menit lalu ini.
"Akhirnya si kutu kupret datang juga".Teriak allena.
Yah,tak lama setelah Allena mengomel sepanjang dia baru saja sampai di depan rumah sakit.Supir pribadinya telah datang.
"Nona Allena". Teriak histeris supir pribadi Allena.
"Apa?".
__ADS_1
"Apa nona, memiliki penyakit yang serius?".Tanya supir pribadi, mendekat kearah Allena.
Allena,mundur satu langkah."Gak usah sok peduli,loe sama gak peduli nya sama bokap gue". Gertak Allena.
Supir Allena,menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."Maaf non".Hanya kata itu yang keluar dari mulut supir pribadi Allena.
"Gak akan ku maafkan,mana kuncinya?". Tanya allena sembari menengadahkan tangannya.
"Ku-kun-kun-ci?".Gugup sekali supir pribadi Allena.
"Patung Liberti,ya iya lah kunci.Gue mintanya juga kunci, bego".
"Tapi,non".
"Mana?".
Ragu sekali supir pribadi Allena memberikan kunci mobil, takut kejadian kemarin terulang kembali dan mungkin ini tidak bisa lagi di toleransi.
"Gue bilang kunci,yah kunci".Gertak Allena.
Supir pribadi tak menuruti permintaan Allena,dia masih bersikukuh tidak ingin gegabah lagi dalam mengambil keputusan.Tapi,lagi allena selalu berhasil mendapatkan apa yang di inginkannya.
Dia mengambil paksa kunci mobil dari tangan supir pribadinya, dengan beberapa perlawanan."Akhirnya dapat juga".Teriak Allena senang.
Tanpa banyak kata,Allena melesat pergi dengan membawa mobil Alphard nya Sedangkan sang supir merintih kesakitan setelah mendapatkan perlawanan dari Allena.
__ADS_1
"Kalah lagi kalah lagi".Keluh sang supir.
Menatap kepergian Allena dengan rasa sakit dan memikirkan nasib kerjanya.