
...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...
..."BROKEN ANGEL"...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
~Helo, i love you. Oke, bye! Thanks for watching...~
...×××...
#BROKEN ANGEL S3 EPS. 25
...•...
...HAPPY READING....🎉🎉🎉...
...❤️❤️❤️❤️...
"Gimana, kamu sekarang percaya kan sama aku? Aku tuh gak ada hubungan apa-apa sama Saka, kemarin dia cuma minta ngobrol sama aku. Dan aku juga gak enak buat nolaknya, udah kan?" ucap Sahira.
Lucas pun terdiam sembari menggaruk keningnya, ia merasa bersalah telah menuduh yang tidak-tidak kepada Sahira pacarnya.
"Iya aku minta maaf ya, aku sadar dan tau kalau aku itu salah sama kamu. Harusnya aku gak langsung percaya sama foto yang dikirim Edrea, maaf banget ya!" ucap Lucas tersenyum manis.
"Oh jadi Edrea yang kirim foto pas aku lagi makan sama Saka kemarin? Ish, nyebelin deh tuh anak!" ujar Sahira geram.
Lucas kembali tersenyum lalu meraih satu tangan pacarnya dan menggenggamnya erat, ia juga mengusap wajah Sahira lembut lalu membelai bibirnya yang sedang manyun, sepertinya Lucas memang sudah percaya pada Sahira.
"Udah jangan ngambek! Mulai sekarang aku bakal lebih percaya sama kamu deh, maaf ya!" ucap Lucas berusaha merayu gadisnya.
"Iya, tapi aku kesel aja sama Edrea. Dia itu kayaknya selalu aja deh berusaha buat ngerusak hubungan kita, padahal dulu dia sendiri yang minta aku buat deketin kamu!" ucap Sahira.
"Entahlah, kayaknya otak dia konslet lagi gara-gara waktu itu sempat kerasukan." ucap Lucas.
Sahira malah terkekeh mendengar perkataan Lucas tentang otak Edrea yang konslet, tapi kalau dipikir-pikir memang benar bisa saja semua itu terjadi karena sejak Edrea dipengaruhi oleh Wilona, sifatnya jadi kembali seperti dulu lagi.
Lucas pun merangkul gadisnya dari samping lalu mengecup kening Sahira, satu jarinya ia gunakan untuk menarik dagu kekasihnya itu hingga ia dapat melihat dengan jelas kecantikan wajah Sahira yang sedari tadi terus menunduk cemberut.
"Kamu lebih indah kalau tersenyum, jadi jangan cemberut lagi ya!" ucap Lucas.
"Iya, makanya kamu harus lebih percaya sama aku dong! Kamu kan tau sendiri kalau aku emang tulus cinta dan sayang sama kamu," ucap Sahira.
"Iya manis, aku salah dan aku minta maaf. Aku juga kan udah janji tadi sama kamu!" ucap Lucas.
Sahira manggut-manggut lalu membenamkan wajahnya di pundak sang kekasih sembari melingkarkan tangan pada pinggang Lucas, sedangkan Lucas terus mengusap punggung Sahira lalu mengecup puncak kepala gadisnya.
"Sekarang kita makan yuk! Kali ini aku traktir deh sebagai permintaan maaf," ucap Lucas.
Sahira langsung mengangkat kepalanya dan menatap Lucas dengan mata berbinar serta senyum terurai di bibir, nampaknya Sahira terkejut dengan perkataan Lucas yang ingin mentraktir dirinya.
"Kamu serius?" tanya Sahira memastikan.
"Ya iya dong, emang cuma Saka aja yang bisa traktir kamu? Aku yang jadi pacar kamu juga bisa kali, jangankan makan satu kantin ini aku beliin kalo buat kamu mah!" jawab Lucas.
"Hahaha, iya deh yang sultan." ujar Sahira tertawa.
"Oke, kamu mau makan apa?" tanya Lucas.
"Umm... pempek aja deh, kebetulan aku masih kenyang dan belum terlalu kepengen makan yang berat-berat!" jawab Sahira.
"Yaudah, sama apa lagi? Minumnya?" tanya Lucas.
"Es cendol," jawab Sahira sambil tersenyum.
"Oke, aku pesenin ya? Kamu tunggu disini aja, jangan kemana-mana loh!" ujar Lucas.
"Iya..."
Lucas pun bangkit lalu pergi memesan makanan serta minuman yang diinginkan Sahira, sedangkan gadis itu memperhatikan Lucas dari sana sambil tersenyum, kemudian senyumnya itu perlahan hilang karena ia teringat pada serangan dari Willy nanti.
"Apa aku masih bisa lihat senyum kamu lagi?" batinnya merasa sedih.
__ADS_1
•
•
Lucas telah kembali dari warung tempat ia memesan dan duduk di samping Sahira, ia terheran-heran mengapa Sahira tampak sedih dan menempelkan wajahnya di atas meja, ia pun berusaha bertanya pada Sahira dengan sedikit mengelusnya.
"Hey, kamu kenapa?" tanya Lucas pelan.
Sahira langsung mengangkat kepalanya dan menatap Lucas saat mendengar suara pria itu, ia hendak mengatakan semua tentang penyerangan Willy kepada pacarnya itu, namun ia bingung bagaimana cara menjelaskannya pada Lucas.
"Kas, aku mau bicara..." ucap Sahira.
"Bicara apa, sayang? Udah bicara aja gausah takut!" ucap Lucas tersenyum.
"Tapi, jangan disini! Terlalu banyak orang, aku gak mau mereka denger pembicaraan kita!" ucap Sahira.
"Emang apa sih yang mau kamu bicarain sama aku? Kayaknya penting banget deh, apa ini soal hubungan kita atau identitas kita? Kamu jangan bikin aku penasaran dong, sayang!" ucap Lucas.
"Nanti aja aku omongin pas kita selesai makan, aku rasa waktunya juga masih cukup kok." ucap Sahira.
"Hah? Emang soal apa sih?" tanya Lucas.
"Nanti juga kamu tau kok," jawab Sahira.
Lucas makin dibuat penasaran dengan tingkah Sahira yang seperti itu, namun apa boleh buat kalau Sahira belum mau menceritakannya sekarang. Ya Lucas harus bersabar lebih dulu menanti sampai makanannya sampai dan habis.
Tak lama kemudian, seorang pelayan muncul lalu menaruh pesanan mereka di atas meja dan pergi kembali ke tempat mereka. Sahira memandang ke arah pelayan itu dengan tatapan kasihan, ia tak habis pikir kalau sampai orang-orang tak bersalah itu terkena akibat dari penyerangan Willy nanti.
"Sayang, kamu sebenarnya kenapa sih? Kok aku lihat kamu pandangin pelayan itu segitunya?" tanya Lucas.
"Aku gapapa, nanti aku bakal cerita kok." jawab Sahira sedikit terkejut.
Akhirnya Sahira langsung memakan pempek miliknya dan meminum es cendol yang ia pesan, sedangkan Lucas masih penasaran dan terus saja memandangi Sahira, ia khawatir ada sesuatu besar yang disembunyikan oleh gadisnya itu.
Setelah selesai makan, barulah kini Sahira mengajak Lucas ke tempat yang sepi dan aman bagi mereka untuk bicara berdua mengenai serangan itu.
"Nah sekarang ayo cerita!" ujar Lucas.
"Iya iya, tapi janji ya kamu jangan teriak karena kaget? Aku gak mau ada yang dengar," ucap Sahira.
Sahira mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembusnya perlahan, ia menoleh sejenak ke kanan maupun ke kiri untuk memastikan kalau tidak ada orang satupun disana, karena ia khawatir ucapan antara ia dan Lucas didengar orang lain.
"Jadi gini, aku dapat info dari Nawal. Katanya Willy udah mempersiapkan sesuatu buat nyerang sekolah kita, dia sama gengnya akan datang kesini saat kita semua lagi asyik belajar di kelas." ucap Sahira.
"Hah? Yaelah cuma Willy mah kecil, tanpa kekuatan dari Dimas juga aku bisa kok hajar dia!" ucap Lucas.
"Haish, dengerin dulu! Masalahnya bukan cuma Willy dan teman-temannya, tapi ada seseorang dari mereka yang menguasai kekuatan angin. Kita kan gak mungkin lawan mereka pake kekuatan kita, yang ada identitas kita bisa ketahuan!" ucap Sahira.
"Identitas apa...??" tiba-tiba Kania muncul dari arah belakang mereka dengan tampang keheranan.
Sontak Sahira dan Lucas menoleh secara bersamaan lalu terkejut saat melihat Kania sudah ada disana memandang mereka, tentu mereka bingung harus menjelaskan apa pada Kania.
...•••...
Alan berusaha menghibur gadisnya yang sedari tadi terus saja merenung cemberut, walau ia juga tidak tau apa yang terjadi dengan Nur sampai dia terus manyun begitu, sudah berulang kali ia bertanya pada Nur tapi tak ada jawaban darinya.
Alan pun hampir frustasi karena setiap hiburan yang ia berikan pada Nur selaku gagal, gadis itu masih saja melamun dengan wajah cemberut dan dagu yang ditopang menggunakan kedua tangan, padahal mereka saat ini tengah berada di taman sekolah.
"Sayang, kamu tuh sebenarnya kenapa sih? Aku bingung loh sama kamu, aku salah apa?" ujar Alan.
Seketika Nur menoleh ke arah kekasihnya dengan tatapan sedih, sebenarnya ia menyesal karena sudah bersikap cuek pada Alan hari ini. Namun, ia juga bingung harus bagaimana karena sebentar lagi pasti Willy akan datang menyerang kesana.
"Kamu gak ada salah, akunya aja yang lagi bm. Maaf ya, tapi kayaknya aku mau ke kelas." ucap Nur.
Nur bangkit dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan Alan disana, akan tetapi pria itu langsung segera berdiri mencekal lengan sang kekasih dan menahan Nur agar tidak pergi dari sana karena ia masih ingin berbicara dengannya.
"Jangan Nur! Aku masih mau bicara sama kamu disini, tolong jangan pergi ya!" ucap Alan memohon.
"Tapi, aku lagi gak mood. Nanti yang ada kamu malah jengkel gara-gara aku cuekin terus, mending aku pergi aja ya?" ucap Nur.
"Gapapa kok, kamu cerita aja sama aku ada masalah apa! Aku bakal dengerin kok," ucap Alan.
"Gak ada masalah apa-apa, aku juga gak tau kenapa mood ku gak enak begini. Mungkin emang karena aku lagi malas aja kali," ucap Nur.
__ADS_1
"Yaudah, kamu tetep disini aja!" ucap Alan.
"Kamu yakin?" tanya Nur.
"Iya yakin kok, lebih baik kamu cuekin aku tapi kamu disini sama aku. Daripada kamu jauh dari aku, karena aku gak bisa!" jawab Alan penuh keyakinan.
"Bisa aja kamu. Yaudah deh aku tetep disini, tapi jangan marah ya kalau aku cuekin kamu!" ucap Nur.
"Iya sayang, aku mana bisa sih marah sama kamu? Kan kamu pacar aku yang paling cantik dan bikin aku terpesona, gak mungkin aku marah sama kamu!" ucap Alan sambil tersenyum.
"Hahaha, dasar tukang gombal!" ujar Nur.
"Yaudah, duduk lagi yuk!" ucap Alan.
Nur mengangguk, lalu Alan mengajak Nur untuk duduk kembali di kursi sana. Mereka saling pandang sembari berpegangan tangan, Nur merasa sedih jika nanti kekasihnya akan menjadi korban dari penyerangan yang dilakukan Willy.
"Aku harus bagaimana nanti? Apa mungkin aku berbuat nekat demi menyelamatkan Alan?" gumam Nur di dalam hatinya.
Mereka memang hanya banyak diam disana tanpa berbicara yang tidak penting, ya itu karena suasana hati Nur yang masih belum bisa tenang dan terus saja kepikiran mengenai serangan Willy, sedangkan Alan juga diam saja membiarkan Nur sampai tenang.
"Alan...." ucap Nur pelan sembari menatap Alan.
"Ya kenapa?" tanya Alan.
"Kamu harus janji sama aku, kalau kamu akan baik-baik aja!" ucap Nur.
"Iya, aku janji kok!" ucap Alan tersenyum.
Nur pun juga tersenyum kemudian diluar dugaan memeluk tubuh kekasihnya dari samping sembari membenamkan wajahnya pada bahu Alan, tentu saja Alan merasa bingung namun senang dan mulai mengusap punggung gadisnya.
...•••...
Disisi lain, Putra dan April sudah berhasil keluar dari sekolah lalu pergi menuju tempat perkumpulan anggota the darks yang sedang bersiap menanti aba-aba dari Kirana untuk mulai menyerang sekolah Sahira serta Lucas disana.
Tampak Willy juga sudah ada disana, ia tersenyum saat melihat adiknya berhasil kabur dari sekolah dengan selamat dan tidak akan terkena akibat serangan angin nanti, ia langsung menghampiri April kemudian memintanya menunggu disana.
"April, lu tunggu disini ya! Gue gak mau lu sampe kenapa-napa, jadi lu disini aja!" ucap Willy.
April hanya mengangguk tanpa berbicara, ia masih terus memikirkan nasib Sahira disana yang nantinya akan diserang secara mendadak oleh Kirana serta para anggota the darks, jujur ia sangat tidak tega menyaksikan itu karena Sahira adalah temannya.
Akan tetapi, untuk sekarang ini hanya menurut yang bisa dilakukan oleh April. Karena tak mungkin jika ia melawan perkataan Willy, ia takut Willy justru akan marah padanya dan tidak mau melindungi dirinya lagi atau bahkan mengusirnya dari sana.
Willy mengantar April untuk duduk di sebuah sofa yang tersedia disana, ya saat ini mereka semua tengah memantau kondisi sekolah dari jauh di tempat kosong yang sudah disewa oleh Dans, barulah nantinya mereka akan maju menyerang.
"Nah lu disini aja! Nanti gue bakal balik kok buat jemput lu, sekaligus ambil barang-barang lu yang ketinggalan di sekolah!" ucap Willy.
"Iya," ucap April singkat dan pelan.
Disaat Willy hendak pergi menemui teman-temannya, April langsung menahan abangnya dan coba berbicara pada Willy disana.
"Tunggu, bang!" ucap April.
"Kenapa?" tanya Willy menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah April.
"Lu yakin mau nyerang mereka?" ucap April.
"Hahaha, lu kenapa sih? Ya yakin lah, dendam gue ini harus terbalaskan! Gue gak mau mereka enak-enakan bebas gitu aja, mereka harus rasain apa yang gue rasakan!" ucap Willy tegas.
"Tapi bang, dendam itu gak bagus. Lu harus belajar buat memaafkan dan mengikhlaskan!" ucap April.
Tatapan Willy berubah menjadi tajam dan menjurus ke arah mata adiknya, ia mendekat lalu mencengkeram rahang April dengan erat dengan tubuh bergetar karena emosi yang meluap.
"Maksud lu apa? Kenapa lu jadi berubah kayak gini? Jangan-jangan lu udah diracunin sama mereka!" ujar Willy emosi.
"Sabar, bang! Lepasin dong!!" ucap April.
Willy melepaskan tangannya dari April dengan kasar membuat gadis itu memegangi rahangnya yang sakit karena cengkeraman Willy, ia kembali mendekati April lalu berbicara padanya kalau ia tidak suka jika adiknya itu membela musuh-musuhnya.
"Denger ya, gue gak suka lu ngomong begitu! Lu sebagai adik harusnya dukung gue dong, bukannya mojokin gue!" bentak Willy emosi.
"Iya iya, gue kan cuma ngingetin." ucap April.
"Udah lah!" Willy yang kesal langsung pergi begitu saja meninggalkan April disana dengan perasaan jengkel.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...