Broken Angel

Broken Angel
Part 72


__ADS_3

Allena bukannya tidak tau orang yang telah memberikan uang sebanyak itu.Dia tau, bahkan dia juga mengenali pria itu,hanya saja dia tak mungkin memperkenalkan diri secara langsung.Biarlah itu menjadi masa lalunya.Toh, dengan mengamen saja sudah membuat Allena bahagia.


Rey,dia tentu tidak mengenali sosok Allena yang memiliki suara merdu nan khas,tengah banting stir menjadi seorang pengamen demi bisa bertahan hidup dan demi sesuap nasi.


Tak peduli,hujan turun,panas terik matahari, dalam keadaan sehat atau sakit.Allens terus berjuang melawan kerasnya dunia dengan dua anak kecil sebagai motivasi nya.


Tak dapat di pungkiri oleh Allena,memang pada awalnya sangat sulit bagi dia yang terbiasa di manjakan oleh harta dan kemewahan.Tapi,hidup di jalanan menyadarkan arti rasa bersyukur.Yah,andai harta kekayaan yang di milikinya sebanding dengan cinta dan kasih sayang yang di berikan untuknya dari orang tuanya.


Lagi-lagi hidup harus di hadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sulit.Harus,memilih diantara dua pilihan.


Allena,dia memilih pergi dari rumah penuh kesengsaraan itu.Memulai hidupnya dengan rasa bahagia dan terlepas dari jeratan orang-orang dewasa yang penuh dengan ambisi dan egois.


Allena dan bocah perempuan itu terus berjalan dengan sesekali tersenyum.Malam ini, mereka sudahi saja pekerjaan mereka,kembali ke rumah untuk beristirahat sejenak sebelum esok hari harus kembali berjuang.


"Kak,kita mau beli makan apa?".Tanya bocah perempuan,memegang perutnya yang terasa lapar.


"Seperti biasa,warteg saja".Sahut Allena.

__ADS_1


Bocah perempuan itu terlihat melipat mukanya."Yah". Keluh nya.


Allena yang menyadari itu semua, menghentikan langkah kakinya.Berjongkok,menyamai tinggi bocah perempuan."Kenapa dek?".Tanya allena,lembut.


Bocah perempuan semakin menundukkan kepalanya, seakan tengah menahan Isak tangisnya.Kecewa dengan jawaban sang kakak.


Allena memegang kedua lengan bocah perempuan itu."Dengar dek,kita memang punya uang banyak,lebih banyak dari kemarin".Ucap Allena, sembari menatap manik mata bocah perempuan."Tapi,ingat dek kita bukan orang kaya.Kita juga harus memikirkan esok lusa, jangan suka menghambur-hamburkan uang yah dek". Nasehat allena.


Kata-kata Allena memang ada benarnya juga.Tapi,untuk seusia Risa.Itu tidak mudah,dia di paksa dewasa sebelum waktunya,di paksa untuk memendam keinginannya demi sesuap nasi untuk esok lusa.


Risa menganggukkan kepala,demi di lihatnya manik mata Allena dan bibir nya tersenyum manis.


"Good job".Ucap Allena seraya mengusap kepala Risa.


Allena dan Risa kembali melanjutkan perjalanan mereka,untuk pulang dan sebelum pulang tentu mereka harus mampir terlebih dahulu ke tempat makan.


Saat perjalanan ke tempat makan itu,tak sengaja Allena melewati bar tempat nya dulu menghabiskan waktu dan bersenang-senang bila stres melanda pikiran.

__ADS_1


"Sial".Umpat Allena.


Susah payah dia melupakan minuman beralkohol dan suasana kelap-kelip ruangan bar.Kini,tanpa sengaja dia malah melewati tempat penuh nista itu.


"Kenapa kak?". Tanya Risa, mendongakkan kepala.


Tersadar dari lamunan dan kembali pada kehidupan nyata nya.Memutus lamunan Allena tentang bar dan beserta dengan kegiatan yang ada di dalamnya.


Allena, menundukkan kepalanya.Ulasan senyum dia berikan untuk Risa."Gak apa-apa sayang".Ucap Allena,lembut.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka,tapi memang tidak mudah melupakan hal yang candu dan menjadi kebiasaan bagi Allena semasa masih menghuni kediaman mewahnya.


Dengan langkah yang memburu Allena dan Risa akhirnya sampai juga ke kontrakan mereka dengan membawa empat bungkus nasi Padang.


Yah,pada akhirnya Allena dan keluarga Sri bisa mengontrak rumah kecil untuk mereka berempat tempati,meski kecil setidaknya mereka tak lagi merasakan kedinginan dan pengusiran dari warga China.


Allena menatap keluarga barunya penuh dengan hari,moment makan bersama inilah yang di rindukan oleh Allena karena dengan ini komunikasi bisa berjalan.Dia tak menampik,dia juga merindukan mamahnya.

__ADS_1


__ADS_2