Broken Angel

Broken Angel
Episode 274 [SEASON 3]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...



...~Eh ujan gerimis aje, ikan tongkol dimanisin aje, eh jangan menangis aje, kalo dongkol ya santet aje!~...


...×××...


#BROKEN ANGEL S3 EPS. 18


...•...


...HAPPY READING....🎉🎉🎉...


...❤️...


Aldi mengantar Kania pulang ke rumah dengan motornya, ia membantu gadis itu berjalan karena nampaknya kaki Kania masih sedikit terasa sakit walau sudah agak mendingan, Aldi tampak gembira dan tersenyum sembari memandangi Kania.


Kania yang sadar kalau Aldi tengah menatapnya mulai merasa salah tingkah, ia pun menoleh lalu membalas senyum Aldi sembari merogoh saku celana bagian kanannya, ia mengambil selembar kain dari sana lalu menyeka keringat Aldi.


"Makasih ya, kamu udah mau bantu aku!" ucap Kania menatap wajah Aldi sembari menyeka keringat itu.


"Hey, harusnya aku yang makasih sama kamu! Karena kamu lebih pilih aku dibanding Willy, jujur aku seneng banget tadi lihatnya!" ucap Aldi.


"Kamu jangan kegeeran dulu, aku ngelakuin itu supaya Willy gak ngejar-ngejar aku lagi aja!" ucap Kania.


"Iya aku tau, tapi tetep aja aku seneng karena kamu sekarang jadi lebih perhatian sama aku! Buktinya kamu pake nyeka keringat aku segala," ucap Aldi.


"Ini kan bukti balas budi aku, kan kamu udah mapah aku ke depan pintu!" ucap Kania.


"Ada aja alasannya, bilang aja kalau kamu udah mulai sayang sama aku! Gausah malu kali, aku aja ngaku kok kalau aku sayang banget sama kamu!" ucap Aldi.


"Hah? Kepedean banget sih jadi orang!" ujar Kania.


Kania tersipu dan wajahnya mulai memerah karena perkataan Aldi barusan, apalagi sekarang Aldi memegang tangannya dan menghentikan gerakan Kania yang sedang menyeka keringat di kening Aldi lalu menatapnya serius.


Perlahan Aldi mendekatkan wajahnya ke arah Kania sambil tersenyum tipis dan mencengkeram tangan gadis itu erat, jantung Kania saat ini berdetak tak karuan apa lagi Aldi terus saja mendekat ke arahnya dan membuatnya sulit menelan saliva.


"Ehem!"


Suara deheman keras dari samping membuat Aldi dan Kania terkejut, setelah melihat bahwa itu adalah Valen yang muncul dari dalam, Kania pun segera mendorong tubuh Aldi ke belakang lalu menjauh darinya karena tak mau Valen curiga.


"Eh kakak," ucap Kania gugup.


"Kenapa didorong itu pacarnya? Kasihan loh, masa cuma gara-gara ngeliat gue pake acara didorong segala tuh cowok!" ujar Valen.


"Hehe, gapapa bang! Gue mah udah biasa digituin sama cewek, biarin aja!" ucap Aldi tersenyum.


"Kalian udah selesai olahraganya? Terus ngapain tadi pake acara dempetan begitu, kayak orang mau ciuman aja?" ujar Valen menggoda adiknya.


"Hah? Enggak, tadi Aldi cuma bantu aku jalan kesini! Soalnya kaki aku cedera sedikit tadi pas olahraga, jangan mikir aneh-aneh deh!" ucap Kania.


"Serius? Mana coba sini yang luka?" ujar Valen panik.


Valen langsung gerak cepat mendekati adiknya dan memeriksa kondisi kaki Kania yang terluka, ia benar-benar panik dan khawatir ketika tau Kania adiknya itu terkilir, memang benar-benar abang yang peduli dan perhatian pada adiknya.


Valen pun langsung menggendong tubuh adiknya di hadapan Aldi setelah mengetahui penyebab Kania terjatuh dan dimana bagian yang terluka, ia membawa Kania ke dalam dengan cepat bahkan tak memperdulikan Aldi yang masih disana.


Tentu saja Aldi merasa jengkel karena ia ditinggal begitu saja disana, padahal ia masih ingin berdekatan dengan Kania di hari libur yang cerah dan ceria ini, untung saja tadi Kania sudah sempat membuatnya kesemsem dan hampir menciumnya.


"Gue pulang aja deh, ya walau agak kesel karena gagal cium bibir Kania..." gumam Aldi.




Saat di dalam, Valen meletakkan tubuh Kania di atas ranjang kamar adiknya itu dengan sangat hati-hati dan perlahan karena tak mau kaki Kania semakin bertambah sakit, ia juga langsung coba memijat bagian kaki Kania yang terluka.


"Ini kan yang sakit? Baru gue pijit, siapa tau bisa hilang sakitnya!" ucap Valen.

__ADS_1


"Bang, lu tuh segitu cemasnya ya sama gue? Sampe langsung keringetan gitu cuma gara-gara kaki gue sakit, sayang banget ya sama gue?" ledek Kania sambil senyum-senyum.


"Heh, udah deh gausah ngajak ribut! Gue tuh cuma gak mau jadi sasaran amarah papa sama mama, kalau sampe lu kenapa-kenapa!" ujar Valen.


"Yaudah santai aja kali, gausah ngegas! Lagian emangnya lu bisa apa obatin kaki yang terkilir? Nanti yang ada kaki gue malah makin sakit lagi, bukannya sembuh!" ujar Kania.


"Tenang aja, gue ahlinya!" ujar Valen.


"Hilih, terus Aldi tadi kenapa gak disuruh masuk sih? Kasian loh dia ditinggal di depan, jahat banget lu kak sama anak orang!" ucap Kania.


"Biarin aja, dia paling udah pulang! Gue tadi kan khawatir banget sama lu, makanya gue langsung bawa lu kesini biar bisa gue obatin!" ucap Valen.


"Umm, tapi kan kasian Aldi! Dia tuh udah baik loh sama gue, mau bantu gue jalan!" ucap Kania.


"Ya emang harus lah, sebagai pacar yang baik Aldi tuh harus begitu sama lu! Tapi, jangan sampe mau cium lu juga kayak tadi! Untung aja gue keburu dateng keluar, kalo enggak pasti kalian udah ciuman tuh di depan pintu!" ucap Valen.


"Ish, siapa yang mau ciuman sih? Dibilang Aldi cuma bantu gue jalan, pikiran lu aja yang mesum!" ujar Kania emosi.


"Santai aja kali, gausah ngegas!" ujar Valen.


Kania terdiam membiarkan abangnya mengobati kakinya yang terkilir itu, ia memejamkan mata sembari meremass sprei menahan sakit saat Valen memijat kakinya, ia tak mau bicara lagi karena sedang kesal dengan abangnya itu.


"Kok lu diem aja?" tanya Valen.


"Bodo! Abis gue kesel sama lu, negatif mulu pikirannya jadi orang! Untung aja tadi Aldi gak marah pas lu bilang begitu, lu mikir dong bang tentang perasaan orang lain!" ujar Kania.


"Iya iya maaf, yaelah begitu aja diributin sih! Gue kan cuma khawatir aja, Kania!" ucap Valen.


"Jangan minta maaf sama gue lah! Minta maaf sana sama Aldi, kan dia yang udah lu bikin sakit hati!" ucap Kania dengan nada ketus.


"Iya, puas?" ujar Valen.


"Belum lah, kan lu belum minta maaf sama Aldi!" ucap Kania.


"Ya besok aja, sekarang kan dia udah pulang! Yakali gue samperin dia ke rumahnya cuma buat minta maaf, dimana harga diri gue dong kalo kayak gitu?" ucap Valen.


"Haish, terserah! Udah ah cukup, gue mau mandi!" ucap Kania bangkit dari tidurnya.


"Eh eh, jangan dulu! Lu harus rebahan dulu, jangan banyak gerak! Emang mau kalo kaki lu tambah sakit, ha? Udah nurut sama gue, nanti gue aja yang mandiin lu disini!" ucap Valen tegas.


"Iya salah gue, udah ah tiduran lagi!" ujar Valen.


Kania yang kesal akhirnya memilih merebahkan tubuhnya kembali di atas ranjang, ia membuang muka tak mau menatap wajah abangnya sembari beberapa kali mengumpat perlahan, untungnya Valen tidak mendengar kata-kata itu.


...•••...


Disisi lain, Lucas masih berbincang bersama Sahira di rumah gadis itu sembari menikmati minuman segar buatan khas Sahira serta kue cemilan yang enaknya gak ada lawan.


Mereka tampak serius memikirkan siapa kiranya bidadari yang diutus ratu Keira untuk turun ke bumi selain Sahira dan juga Nur, tentu hal itu sangat mudah diketahui jika saja mereka tadi memperhatikan dengan seksama di istana langit.


"Kas, kamu gak tau apa siapa sih bidadari yang disuruh turun ke bumi buat bantu kita?" tanya Sahira masih penasaran.


"Entah, aku aja tadi gak denger dengan jelas ucapan ratu karena fokus ke wajah kamu yang cantik banget itu!" jawab Lucas sambil tersenyum.


"Ish, ini bukan waktunya gombal! Kita harus serius supaya rencana ini bisa berjalan lancar, ayolah Lucas kali ini aja!" ucap Sahira kesal.


"Iya iya, aku emang gak tau siapa bidadari yang diutus sama ratu itu! Tapi, aku tau dia ada dimana sekarang dan lagi jadi apa!" ucap Lucas.


"Hah? Kamu serius? Emangnya tadi ratu Keira kasih tau kayak gitu, ya?" tanya Sahira penasaran.


"Enggak sih, bukan ratu yang kasih tau aku! Udah dibilang aku kan gak dengerin tadi, karena aku fokus ngeliatin kecantikan kamu! Abis kamu kalo udah jadi bidadari cantiknya gak ngotak sih!" ujar Lucas.


"Haish, terus kamu tau darimana dong?" tanya Sahira.


"Ada deh, pokoknya bidadari itu deket sama kita dan lagi ada di tempat musuh kita di bumi! Kamu penasaran kan? Penasaran dong, masa enggak!" ujar Lucas tertawa sendiri.


"Musuh kita di bumi? Maksud kamu siapa?" tanya Sahira tak mengerti.


"Hahaha, pasti menurut kamu kita ini cuma punya musuh di luar sana kan? Padahal kamu salah loh, ada banyak orang bumi yang musuhin kita juga! Bahkan mereka sampai rela kerjasama dengan sosok dunia lain, cuma buat hancurin kita! Itu alasan ratu ngutus satu bidadari nya buat bantu kita disini, karena mereka bukan musuh yang mudah untuk ditaklukkan juga!" jawab Lucas menjelaskan.


Sahira yang mendengarnya tampak terkejut, ia tak mengira kalau Lucas sudah banyak tau tentang musuh mereka di bumi, padahal ia sendiri belum mengetahui apapun tentang itu.


"Emangnya siapa sih musuh kita itu?" tanya Sahira.

__ADS_1


Lucas tersenyum kemudian mengambil secangkir minuman dari atas meja lalu meminumnya sambil menatap wajah Sahira, ia meletakkan kembali gelas itu disana setelah selesai meminumnya sampai tinggal sisa setengah.


"Umm, kasih tau gak ya...??" ledek Lucas.


"Ish, jangan becanda dong! Buruan kasih tau, supaya aku juga bisa lebih waspada ke depannya!" ujar Sahira terus menekan Lucas.


"Sabar, musuh kita itu udah kamu kenalin kok! Malah salah satunya sering kamu temuin di sekolah, oh ya satu meja juga sama kamu di kelas!" ucap Lucas.


"Hah? Maksud kamu April?" tanya Sahira.


"Ya, itu baru salah satunya!" jawab Lucas.


"Kalo itu mah aku udah tau dari lama, soalnya aku denger sendiri percakapan dia sama Kirana waktu itu! Terus musuh kita yang lainnya itu siapa, ha?" ucap Sahira penasaran.


"Baguslah kalo kamu udah tau, nah yang lainnya itu ya rombongan si April dan saudaranya ini!" ucap Lucas.


"Saudara April? Siapa? Kirana??" tanya Sahira.


"Bukan, Willy...."


...•••...


Disisi lain, Kirana sedang berada di kamarnya seorang diri mengerjakan tulisan yang sekarang menjadi kerjaannya demi mencari uang. Ya Kirana tak bisa mengandalkan Zaenal abangnya itu, karena Zaenal adalah seorang buronan polisi.


Disaat ia sedang asyik-asyiknya menulis cerpen di buku, tiba-tiba saja jendela kamarnya terbuka lebar dan angin kencang berhembus masuk ke dalam kamarnya membuat semua barang-barang miliknya berantakan diterpa angin.


"Ish, angin apaan sih ini kenceng banget?" ujarnya.


Akhirnya Kirana memutuskan bangkit dari duduknya menaruh sejenak bukunya disana, ia pun berjalan ke arah jendela untuk menutup kembali jendelanya yang terbuka secara tiba-tiba itu, ia berhasil menutupnya seperti semula lalu pergi ke mejanya.


Akan tetapi, baru beberapa langkah ia berjalan pergi dari jendelanya dan ingin kembali duduk melanjutkan tulisannya yang belum usai, tanpa diduga jendela itu terbuka lagi dengan sendirinya dan lagi-lagi angin kencang masuk ke kamarnya.


Kirana geram dan sangat kesal pada angin yang mengganggu prosesnya menulis, ia berbalik badan lalu kembali menutup jendela rapat-rapat serta menguncinya untuk memastikan tidak akan ada lagi angin yang mampu membukanya.


"Nah sekarang aman, dasar angin resek!" ucapnya.


Namun, tentu saja yang diucapkan Kirana itu tidak benar adanya karena tak lama setelahnya jendela itu kembali terbuka bahkan angin yang berhembus semakin kencang, membuat ia harus menutupi matanya dengan tangan agar tak tergores.


"HAHAHA... HAHAHA...."


Tiba-tiba muncul suara tawa diantara angin yang berhembus dan berputar di hadapannya, Kirana pun kebingungan darimana asal suara tawa itu muncul dan ia coba celingak-celinguk mencarinya namun tidak menemukan siapa-siapa disana.


"Siapa lu, ha?" teriak Kirana.


"Hahahaha...."


Tak diduga-duga sosok aneh muncul di hadapannya dan terlihat berdiri di atas angin yang berputar, sontak Kirana terkejut dan langsung menutup mulutnya saat melihat sosok itu, wajahnya terlihat sangat seram bahkan suaranya saja seram.


Kirana hendak pergi menjauh dari sana, namun entah mengapa kakinya terasa kaku seperti ada yang menahannya hingga tak bisa digerakkan. Kirana sangat panik dan coba berteriak meminta tolong pada abangnya, tapi juga tidak berhasil.


"Siapa kamu?" tanya Kirana gemetar.


"Hahaha, akulah si raja angin! Namaku Elargano dan aku berasal dari negeri angin yang ada di atas sana, hahahaha...." jawabnya.


"Apa? Kenapa kamu kesini?" tanya Kirana lagi.


"Aku datang kesini untuk mengajak kamu bekerjasama denganku, karena aku tau kamu sangat membenci Sahira dan juga Lucas!" jelasnya.


"Iya, benar itu!" ucap Kirana.


"Hahaha, itulah alasanku datang kesini menemuimu gadis cantik! Aku akan memberimu kekuatan besar yang bisa kau gunakan untuk mengalahkan mereka, dengan begitu dendam mu akan terbalaskan!" ucap Elargano si raja angin.


"Apa aku bisa mempercayai ucapan mu?" tanya Kirana masih agak ragu.


"Tentu saja, karena aku adalah rekan nyai Revina yang pernah membantumu dulu!" jawabnya.


"Nyai Revina? Baiklah, kalau begitu aku akan menerima tawaran kamu untuk bekerjasama! Tapi, apa untungnya buatmu menjalin kerjasama denganku?" ucap Kirana.


"Hahaha, tentu aku akan sangat beruntung jika kamu berhasil mengalahkan mereka! Karena aku bisa menguasai bumi ini, hahaha....!!" ucap Elargano.


Kirana terdiam seperti memikirkan apa yang harus ia lakukan saat ini, ia sangat ingin bekerjasama dengan Elargano demi bisa mengalahkan Sahira dan Lucas musuhnya itu, akan tetapi ia juga khawatir jika raja angin itu berhasil menguasai bumi.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2