
...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...
..."BROKEN ANGEL"...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
...~Jangan sampai kita melakukan hal bodoh hanya karena cinta! Apalagi kita rela melakukan apapun untuknya yang baru datang di kehidupan kita, karena itu yang akan disesali di kemudian hari setelah dia pergi jauh meninggalkan kita~...
...×××...
#BROKEN ANGEL S3 EPS. 61
...•...
...HAPPY READING....🎉🎉🎉...
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Lucas kini mengajak Sahira ke taman sekolah untuk berbincang sejenak mengenai kondisi Alan serta teman-temannya di wild blood yang saat ini tengah dalam kondisi kritis, ya Lucas sengaja tidak mengajak Nur juga dan meminta pada Sahira untuk ikut dengannya ke tempat yang jauh dari Nur agar Nur tidak cemas dan khawatir nantinya bila mendengar kabar tentang Alan yang kritis.
Sesampainya di taman itu, Lucas langsung meminta gadisnya untuk duduk disana dan ia pun juga duduk tepat di samping Sahira dengan raut wajah cemasnya sembari menatap gadis itu. Lucas juga masih agak ragu untuk menceritakan ini pada Sahira, ia khawatir Sahira akan panik dan bercerita juga kepada Nur, apalagi mereka berdua merupakan sahabat dekat yang selalu bersama.
"Sayang, kamu tuh mau bicara apa sih? Aku jadi penasaran banget deh, ayo dong cerita!" ucap Sahira menatap Lucas dengan sangat penasaran.
"Eee aku sebenarnya mau kasih tau sesuatu ke kamu, tapi sebelumnya aku minta sama kamu buat janji dulu ya? Kamu janji ke aku kalau kamu gak akan cerita-cerita soal ini ke Nur, oke?" ucap Lucas.
"Hah? Emang soal apa sih? Kenapa aku gak boleh kasih tau Nur tentang ini?" tanya Sahira heran.
"Iya sayang, gak boleh ya! Aku mohon sama kamu, kali ini aja kamu jangan ceritain ke Nur! Ayolah, kamu janji ya sama aku buat enggak cerita ke Nur tentang apa yang nanti mau aku bicarain ke kamu! Setelah kamu janji, aku akan langsung cerita!" ujar Lucas.
"Ya emang soal apa?" tanya Sahira lagi.
"Haish, kamu janji dulu dong sayang! Aku kan udah bilang, kalau kamu udah janji baru deh aku bakal langsung cerita ke kamu!" ucap Lucas.
"Huft, yaudah deh aku janji! Soalnya aku penasaran banget sama cerita kamu, sekarang buruan bicara! Ada apa sebenarnya sama kamu sampai aku harus rahasiakan ini dari Nur?" ucap Sahira.
"Eee iya jadi gini, aku tuh cuma mau bilang kalau sekarang Alan lagi dirawat di rumah sakit. Kondisinya kritis, ya tapi syukurlah sekarang dia udah agak mendingan gak seperti kemarin." jelas Lucas.
"Apa? Alan dirawat di rumah sakit??" Sahira kaget.
"Hey! Jangan teriak-teriak dong sayang! Kan aku udah bilang tadi, kamu gak boleh cerita ke Nur atau ke siapapun itu! Kamu kan juga udah janji, kok malah kamu teriak sih?" ujar Lucas.
"Hehe, ya maaf! Abisnya aku kaget banget tau, emang apa yang terjadi sama Alan? Kenapa Alan bisa sampai dirawat di rumah sakit kayak gitu? Dia punya masalah apa Lucas? Pantas aja chat dari Nur gak dibalas sama dia," ucap Sahira panik.
"Iya, jadi kemarin tuh waktu kita di istana langit. Alan sama anak-anak wild blood yang lain pergi buat cari pelaku pembunuhan Saka, tapi mereka malah ketemu sama the darks dan mereka langsung aja dihajar habis-habisan sama the darks di tempat yang sama dengan tempat meninggalnya Saka. Sekarang aku jadi curiga, bisa jadi the darks ada andil dalam pembunuhan Saka ini." ucap Lucas menjelaskan.
"Ya ampun, kasihan banget mereka! Tapi, kamu jangan asal nuduh dulu! Belum tentu semuanya benar kan?" ucap Sahira.
"Iya sih, aku bakal cari bukti dulu tentang kematian Saka ini!" ucap Lucas.
Keduanya pun terdiam disana dan tampak saling pandang satu sama lain.
...•••...
Nur masih berada di tempat sebelumnya bersama dengan Diandra serta teman-temannya yang lain, mereka juga masih saja membahas gosip yang sedang viral di sosial media. Entah mengapa topik bahasan itu menjadi favorit bagi mereka disana, tak terkecuali Nur yang juga mulai terpengaruh dengan teman-temannya itu dan ikut bergosip ria.
__ADS_1
Canda tawa karena membahas berita gosip yang sedang viral itu, mendadak berubah menjadi menyedihkan karena Diandra tiba-tiba bertanya pada Nur tentang Alan yang tak terlihat saat ini. Tentu saja hal tersebut membuat Nur bersedih karena ia juga tidak tahu dimana Alan sekarang, bahkan hingga kini pun Nur juga belum mendapat pesan balasan dari Alan yang sudah ia kirim beberapa waktu lalu.
"Nur, lu kenapa jadi sedih gitu? Eee gue salah nanya ya?" tanya Diandra merasa bersalah.
"Tuh kan, gara-gara lu Diandra! Si Nur jadi sedih kan? Lagian ngapain sih lu tiba-tiba tanya begitu ke Nur?" ujar Tasya menegur Diandra.
"Tau ih! Ngerusak suasana aja si Diandra mah, kan jadi berubah nih suasananya!" timpal Tiara.
"Udah guys, tenang! Gue gak sedih kok, tadi gue cuma kepikiran aja sama Alan. Soalnya sampe sekarang Alan belum balas chat dari gue, dia juga gak kelihatan disini. Gue takut Alan kenapa-napa, makanya gue sedih!" ucap Nur.
"Ohh, lu yang sabar aja ya! Gue yakin kok Alan pasti baik-baik aja!" ucap Diandra coba menghibur Nur.
"Iya bener tuh, selagi Alan gak disini. Kita pasti bakal temenin lu terus kok, jadi jangan sedih ya!" sahut Tiara juga menghibur Nur.
"Makasih guys!" ucap Nur tersenyum.
"Sama-sama," ucap mereka serentak.
Tak lama kemudian, Kania muncul dari arah depan karena ia baru datang kali ini. Ya Kania terhitung sangat mepet dengan bel bunyi, karena hanya sekitar lima menit saja sebelum bel berbunyi dan Kania pastinya akan dianggap telat. Namun, ia beruntung karena masih bisa datang ke sekolah lebih awal walau hanya lima menit saja dan belum telat.
"Hai guys!" ucap Kania menyapa semua temannya yang ada disana.
"Eh Kania, kok lu baru dateng sih?" tanya Nur.
"Iya nih, tumben banget lu!" sahut Diandra.
"Hehe..." Kania nyengir kemudian duduk di samping tempat Nur berada. "Iya guys, jadi tadi tuh gue kesiangan gitu pas bangunnya. Ya biasalah gara-gara semalam gue begadang, jadi pas pagi malah kesiangan deh!" jelasnya sambil tersenyum.
"Ohh, kebiasaan nih anak! Masih aja suka begadang, gak inget apa hari ini sekolah?" ujar Diandra.
"Yeh ya enggak lah! Gue inget kok sekarang sekolah, cuma gak tau kenapa kalau malam Senin gue selalu gak bisa tidur nyenyak gitu. Mungkin karena abis libur kali, ya?" ucap Kania.
"Haha iya sih sama, gue juga gitu." ucap Diandra.
"Ah lu mah nyama-nyamain aja!" ujar Kania.
"Yeh emang serius Kania!" ujar Diandra.
"Ahaha, iya iya." ujar Kania tertawa. "Oh ya, ini tumben banget lu Nur ikut ngumpul disini. Emang si Alan kemana?" ucapnya bertanya pada Nur.
Sontak Nur langsung terdiam menundukkan kepalanya mengingat Alan kekasihnya yang masih belum ada kabar, dan tentunya Diandra serta yang lain tampak memberi kode pada Kania untuk tidak membahas soal itu lagi.
...•••...
Aldi kini seorang diri di kantin, ia duduk sembari memainkan gelas minuman yang sudah kosong di atas meja dan tampak tengah melamun memikirkan sesuatu. Sepertinya Aldi masih bingung bagaimana caranya untuk membalas dendam pada the darks, ia tak yakin kalau Lucas bisa menghajar mereka semua hanya dengan tangan kosongnya itu.
Cat yang juga baru muncul di kantin, kini berhenti sejenak saat melihat sosok Aldi yang tengah duduk sendirian di dekatnya itu. Cat pun tersenyum dan berniat mendekati pria tersebut sembari membawa minuman di tangannya, Cat juga merapihkan rambutnya agar ia tampil cantik di hadapan Aldi nantinya dan tidak mengecewakan pria tersebut.
"Umm, hai Aldi!" ucap Cat menyapa Aldi dari samping sembari tersenyum.
Aldi yang tengah melamun itu pun terkejut dengan sapaan dari Cat, ia menoleh ke arah Cat kemudian membalas senyuman gadis itu dengan tersenyum tipis lalu kembali membuang muka. Tampaknya beban pikiran Aldi sangat berat, sehingga ia tidak bisa meladeni Cat untuk saat ini dan kebetulan ia juga memang malas sekali meladeninya.
"Aldi, kamu kenapa sih? Kamu lagi mikirin apa?" tanya Cat penasaran sembari duduk tepat di hadapan pria tersebut.
"Huft, lu ngapain kesini?" ujar Aldi dingin.
__ADS_1
"Loh kok kamu tanyanya gitu sih? Aku kesini karena aku lihat kamu lagi termenung sendirian disini, makanya aku samperin kamu dan punya niat buat hibur kamu!" ucap Cat.
"Cih! Gue gak butuh dihibur sama cewek kayak lu, mending lu pergi aja deh!" bentak Aldi.
"Ya ampun, Aldi! Kamu kok sekarang jadi kayak gini sih sama aku? Apa kamu emang udah benar-benar lupa sama aku, ha?" ujar Cat merasa sedih.
"Iya!" jawab Aldi singkat, padat dan menyakitkan.
Cat pun terhenyak mendengarnya dan langsung terdiam menundukkan kepalanya, entah mengapa ia merasa sangat sakit karena perkataan Aldi tadi benar-benar menusuk hatinya. Cat juga tak mengerti mengapa Aldi bisa tiba-tiba berubah seperti ini padanya, padahal dahulu mereka saling mencintai sebelum akhirnya Cat terpaksa pergi ke Italia.
"Oke, kalau emang kamu emang udah lupa sama aku dan gak cinta lagi sama aku, aku gak akan pernah gangguin kamu lagi kok!" ucap Cat dengan tegas sembari bangkit dari duduknya.
Aldi menoleh sekilas ke arah Cat dan melihat sendiri kalau gadis itu menangis, sejujurnya ia sangat tidak tega menyaksikan itu karena bagaimanapun dahulu ia dan Cat pernah saling mencintai. Ya memang saat ini ia sudah tidak memiliki rasa lagi pada gadis itu, tapi tetap saja ia tak bisa memungkiri kalau ia masih perhatian kepada Cat dan tak ingin dia menangis.
"Tunggu!" ucap Aldi berdiri lalu mencekal lengan Cat dari belakang.
Cat yang hendak pergi itu langsung terkejut saat lengannya ditahan oleh Aldi dari belakang, ia pun menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke arah Aldi dengan air mata yang menggenang. Cat menatap seolah tak percaya kalau Aldi benar-benar menahannya agar tidak pergi dari sana, padahal tadi Aldi sangat bersikap dingin dan cuek padanya.
...•••...
Disisi lain, Willy tampak heran pada adiknya yang tidak mau pergi ke sekolah hanya karena takut jika masih dikucilkan disana terlebih saat ini Saka baru saja meninggal dan April khawatir kalau banyak orang akan menyangka Willy lah penyebab dari meninggalnya Saka secara mengenaskan itu karena Saka memang bermusuhan dengan Willy.
Willy pun menghampiri April dan duduk di samping gadis cantik itu dengan kopi di tangannya, ia melirik sekilas ke arah April lalu tersenyum tipis saat sang adik menoleh juga ke arahnya. Entah mengapa ia merasa April terlalu lebay dalam masalah ini sampai dia tidak mau sekolah, padahal sudah berulang kali ia katakan kalau bukan ia lah yang membunuh Saka.
"Pril, mau sampai kapan lu gak sekolah begini gara-gara takut dibully?" tanya Willy sembari menyeruput kopinya.
"Sampai lu bisa cari tahu siapa pembunuh Saka yang sebenarnya! Gue gak mau bang, kalau misal ada orang yang nuduh lu dan mereka juga bakal bully gue sebagai adik dari pembunuh!" ucap April.
"Haish, udah berapa kali sih gue bilang? Gue itu gak sama sekali tahu menahu soal pembunuhan itu, gue juga kaget pas denger berita si Saka meninggal." ucap Willy kesal.
"Iya bang, tapi seenggaknya lu cari tahu gitu siapa pembunuhnya! Biar gak ada yang nuduh lu juga, jadi nama lu gak tercemar!" ucap April.
"Gue males! Ngapain gue harus ikut campur urusan anak-anak wild blood? Biarin aja mereka sendiri yang cari tahu siapa tuh pembunuhnya, gue mah mau di rumah aja goyang kaki. Lagian mereka juga gak mungkin kok nuduh gue!" ujar Willy.
"Lu kenapa seyakin itu bang?" tanya April.
"Ya gak tahu sih, cuma feeling gue aja. Kalau misal salah dan ternyata mereka nuduh gue, berarti pikiran mereka itu kacau! Padahal mana mungkin kan gue bunuh orang sampe segitunya?" ucap Willy.
"Ish! Lu aja pernah loh bang siksa Sahira sama Nur sampai mereka berdarah-darah, itu apa namanya kalo bukan kejam? Apalagi mereka tuh perempuan, dan sekarang kemungkinannya lebih besar kalau lu pembunuh Saka." ucap April.
"Yaelah, bedain dong masalahnya! Gue siksa Sahira dan Nur itu kan biar Lucas mau serahin diri aja!" ucap Willy sambil menyeruput kopinya.
"Halah! Ya tetep aja itu kejam, sekarang bukan gak mungkin kan kalo emang lu pembunuh Saka. Gue yakin anak-anak wild blood juga bakal curiga sama lu, mending lu hati-hati deh!" ucap April.
"Hahaha, buat apa? Lagian mereka juga pada di rumah sakit, kan abis gue bantai." ucap Willy.
"Hah? Maksudnya?" tanya April kaget.
"Iya, gue dan geng the darks kemarin kan abis hajar anak-anak wild blood itu sampe mereka terkapar dan dibawa ke rumah sakit. Jadi, gak mungkin lah ada yang bakal datang temuin gue!" jawab Willy.
"Ya ampun, lu bener-bener tega ya bang!" ucap April terheran-heran dengan sikap abangnya itu.
Willy hanya diam dan terus menyeruput kopinya disana, sampai April bangkit dari duduknya lalu pergi ke kamar meninggalkannya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...