Broken Angel

Broken Angel
Episode 301 [SEASON 3]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


...~Kepergian seseorang yang dekat dengan kita, memang sangat menyedihkan dan membuat kita patah semangat. Terlebih lagi, jika orang itu adalah orang yang kita sayangi~...


...×××...


#BROKEN ANGEL S3 EPS. 45


...•...


...HAPPY READING...🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Saat istirahat telah tiba, namun suasana kali ini sangat berbeda dibanding biasanya. Seluruh murid yang ada di kantin tampak murung dan bersedih, sepertinya mereka sangat kehilangan sosok Saka yang memang ceria dan sering membaur dengan siapa saja yang ada disana termasuk para adik kelasnya juga.


Sahira bersama teman-temannya pun tampak tidak bernafsu makan, mereka hanya diam menopang dagunya dengan tangan di atas meja. Bahkan makanan yang sudah mereka pesan hanya menjadi penonton bagi mereka yang tengah bersedih, mungkin makanan itu sudah mulai dingin karena tidak sama sekali tersentuh.


"Guys, gak nyangka banget ya! Rasanya kemarin Saka masih ada disini dan bikin semua orang ketawa, eh tapi sekarang dia udah gak ada aja." ucap Diandra sembari mengingat tentang Saka.


"Iya bener, gue inget banget dulu sering bercanda sama Saka dan ketawa bareng dia. Saka tuh orangnya asik tau, dia emang dingin tapi begitu udah kenal deket pasti bakal langsung liar!" sahut Tasya dengan wajah manyun.


"Huft, yang namanya umur emang gak ada yang tahu ya? Padahal kemarin Saka masih kelihatan sehat-sehat aja dan ceria, gak ada yang ngira kalau dia bisa pergi secepat ini." ucap Kania.


"Bener banget, kasihan ya keluarganya Saka! Pasti mereka terpukul banget deh, kita aja yang cuma temen plus gak begitu deket sampe sedih banget kayak gini denger dia pergi. Apalagi cara meninggalnya Saka itu emang parah banget, gue gak bisa bayangin deh gimana kalo jadi lu Nur!" ucap Tiara menatap wajah Nur.


"Iya, gue pasti bakalan kebayang terus tiap malem dan gak bakal bisa tidur!" sahut Andini.


Nur hanya tersenyum tak berbicara apa-apa, ia juga memang masih terbayang-bayang akan kondisi Saka yang ia lihat kemarin bersama kekasihnya di tengah jalan. Itu benar-benar membuatnya sedih dan takut, Nur yang awalnya mengira kalau manusia tidak seseram yang sang ratu bayangkan, kini berubah pikiran setelah melihat kondisi Saka.


"Ratu memang benar, manusia bisa berbuat lebih jahat dibanding makhluk lainnya. Sekarang aku jadi tau, kenapa ratu minta Rara buat mata-matain musuh Sahira di bumi." gumamnya dalam hati.


Sahira mencoba untuk menenangkan semua teman-temannya itu agar tidak terus bersedih memikirkan Saka, bagaimanapun juga ia tak mau jika Saka nantinya tidak bisa tenang disana karena terus saja ditangisi oleh banyak orang seperti ini.


"Guys, udah ya jangan sedih terus! Nanti kan kita sama-sama dateng ke pemakaman Saka, disana kita bisa puas-puasin berdoa buat dia supaya dia tenang di alam sana. Kalau kita nangis terus kayak gini, Saka pasti akan berat banget buat pergi tinggalin kita dan jiwanya akan kepengen terus buat tetep tinggal disini sama kita semua. Emang kalian pada mau kalau hal itu sampai terjadi?" ucap Sahira.


"Hah? Emang bisa gitu ya, Sahira?" tanya Diandra menganga karena heran.


"Ya bisa dong. Makanya kita semua harus berhenti nangis dan coba untuk ikhlasin Saka pergi, kan kita ini teman-teman Saka bukan musuhnya. Jadi, seharusnya kita doain dia supaya tenang disana bukannya jadi penghambat dia buat pergi ke tempatnya yang sekarang!" jawab Sahira.


"Iya bener, kita harus bisa ikhlasin Saka!" sahut Nur.


Akhirnya mereka semua mengangguk setuju dengan perkataan Sahira serta Nur, mereka pun berhenti memikirkan Saka dan mulai memakan makanan yang mereka pesan itu.


...•••...


Sementara itu, Grey sudah agak mendingan dibanding sebelumnya. Ya walau ia masih saja sulit untuk diajak bicara dan lebih sering terdiam, nampaknya Grey belum bisa melupakan semua kenangan ia dengan Saka selama ini. Terlebih lagi, Saka selalu mendekatinya disaat-saat terakhir kehidupannya. Grey pun sangat menyesal karena telah mengusir Saka kemarin dan mengutuk dirinya sendiri atas perbuatannya itu.


Kia dan Zefora yang ada di sampingnya, terus mencoba untuk menenangkan Grey sekaligus menghibur sahabatnya itu agar tidak terus-terusan bersedih dan menyesali perbuatannya. Kedua gadis itu tentu tak ingin melihat sohib mereka terus bersedih seperti ini, apalagi Grey dikenal sebagai anak yang periang dan jarang menangis.


"Grey, udah ya! Jangan nangis terus! Saka udah tenang disana, kita gak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang kecuali mendoakan yang terbaik buat dia!" ucap Kia sembari memegang pundak Grey.

__ADS_1


"Iya benar, kita makan dulu yuk! Ini kan kita udah pesen ayam geprek kesukaan lu, stop dulu ya sedihnya! Gimanapun juga, lu harus tetep makan supaya bisa sehat terus!" sahut Zefora.


Grey akhirnya mau mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Kia serta Zefora secara bergantian, Grey mengenakan tangannya untuk menghapus air mata yang membasahi pipinya.


"Makasih, gue gak mau makan." ucap Grey singkat lalu kembali menundukkan kepalanya.


"Ayolah! Biar gue suapin deh! Kalo lu gak makan, nanti gimana lu bisa temenin Saka ke tempat peristirahatan terakhir dia? Pastinya lu mau dong datang kesana, gue yakin Saka juga bakalan seneng kalo ngeliat lu hadir di pemakamannya." ucap Kia.


"Gue gak mau makan! Buat apa gue makan coba? Toh gue udah gak bisa ketemu Saka lagi, gue belum sempat minta maaf sama dia." ucap Grey.


"Lu jangan bilang gitu! Gue tau banget lu pasti nyesel karena kemarin sia-siain kesempatan buat berduaan sama Saka, tapi lu kan gak tau kalau hal ini bakal terjadi ke Saka. Udah ya, jangan salahin diri lu sendiri karena kepergian Saka ini! Semua yang terjadi udah takdir dan diatur sama Tuhan, lu sekarang makan dulu ya!" ucap Kia masih berusaha membujuk Grey.


Grey terdiam saja tidak menjawab perkataan dari Kia ataupun Grey yang memintanya untuk makan.


"Ayo Grey! Lu makan dulu ya walau sedikit! Kita berdua gak mau lu sakit, apalagi kalau sampai pingsan karena gak makan! Kita makan sama-sama, ya?" ucap Kia.


"Bener itu, yuk makan!" sahut Zefora.


"Gak mau! Kalian aja yang makan! Gue masih gak ada selera buat makan, mending kalian diem aja deh dan jangan paksa-paksa gue buat makan! Gue cuma mau tenangin diri dan sesali semua perbuatan gue kemarin yang udah ngusir Saka, harusnya gue gak lakuin itu kemarin! Mungkin aja dia masih ada di samping gue sekarang, kalau gue gak ngelakuin semua itu!" ucap Grey.


"Udahlah, Grey! Semua yang udah terjadi gak perlu disesali begitu! Lu gak salah kok, jangan pernah salahin diri lu sendiri ya!" ucap Kia sembari mengelus punggung Grey dengan lembut.


"Gimana gue gak nyalahin diri coba? Gue tuh udah ngelakuin sebuah kesalahan besar, harusnya gue gak usir Saka dan biarin dia buat deket sama gue. Kalian gak ngerti sih apa yang gue rasain sekarang!" ucap Grey sembari menutupi wajahnya.


Kia dan Zefora tampak saling pandang dan terdiam.


...•••...


Lucas, Alan, Aldi dan Jack tengah berkumpul bersama di tempat biasa mereka kumpul yakni belakang sekolah. Keempat pria tersebut tampak masih murung dan bersedih karena kepergian Saka, terlebih Alan yang melihat pertama kali bagaimana kondisi Saka saat sudah tergeletak tak berdaya di tengah jalan dengan sangat mengenaskan.


"Guys, menurut kalian gimana kalo kita kumpulin seluruh geng motor di kota ini dan adain konvoi terakhir kalinya untuk kepergian Saka?" tanya Lucas.


"Boleh juga, tapi apa masih sempat buat kita kumpulin semua geng motor dalam waktu sempit? Pemakaman Saka kan sebentar lagi dilakuin, gimana caranya kita kumpulin mereka secepat itu?" ucap Alan merasa terheran-heran.


"Tenang aja! Biar itu gue yang pikirin, sekarang kalian setuju apa enggak?" ucap Lucas.


"Setuju sih! Kita harus bikin pemakaman Saka terlihat mewah dan kasih penghormatan terakhir untuk teman kita itu!" ucap Jack.


"Iya bener, gue juga setuju!" sahut Alan.


"Gimana sama lu, Aldi? Apa lu setuju rencana yang gue bilang barusan?" tanya Lucas kepada Aldi yang sedari tadi hanya diam merunduk.


"Eh, iya gue setuju kok! Apapun itu yang penting terbaik untuk Saka, dia pantas mendapatkan penghormatan dari kita semua!" jawab Aldi.


"Bagus, yaudah sekarang gue mau hubungin aliansi geng motor di kota ini dulu dan sampaikan rencana kita tadi. Kalian bertiga boleh ngapain aja sesuka kalian, tapi kalo ada kabar dari Geri atau yang lain segera kasih tau gue!" ucap Lucas.


"Santai aja!" ucap Alan.


Lucas pun pergi dari sana meninggalkan ketiga sohibnya disana untuk menghubungi seluruh geng motor yang ada di kotanya, Lucas ingin memberi penghormatan yang terbaik untuk Saka pada pemakamannya nanti untuk menebus kesalahan yang ia lakukan selama ini pada Saka.


Aldi juga ikut pamit kepada Alan dan Jack, pria itu ingin pergi dari sana entah kemana.


"Lan, Jack. Gue juga mau pergi, ya? Ada yang harus gue lakuin di kamar mandi, gapapa kan?" ucap Aldi bangkit dari duduknya sembari tersenyum.


"Yaudah, gapapa." jawab Alan.

__ADS_1


Aldi pun pergi dengan cepat dari sana, sesuai yang tadi sudah ia ucapkan yakni hendak pergi menuju toilet terdekat disana. Aldi berjalan dengan kepala menunduk akibat kesedihan mendalam yang ia rasakan saat ini, kepergian Saka memang sangat mengoyak hatinya.


"Saka, gue gak nyangka lu bisa mati. Harusnya kemarin gue nyempetin diri buat ngobrol sama lu, kalau tau semua ini bakal terjadi." batin Aldi.


Sesampainya di toilet, tentu Aldi langsung masuk ke dalamnya dan menuntaskan keinginannya disana tanpa perlu berlama-lama lagi. Aldi membayangkan saat-saat kebersamaan ia dengan Saka selama ini, apalagi ketika ia sempat dipukuli oleh Saka kala itu.




Setelah selesai buang air, Aldi pun keluar dari toilet dan berniat kembali ke belakang sekolah untuk menemui sahabatnya lagi. Namun, Aldi justru melihat sosok Kania tengah berjalan seorang diri di dekatnya. Sontak Aldi langsung merubah niatnya dan bergerak mendekati Kania, ia ingin menenangkan hati dengan cara mengobrol bersama Kania.


"Kania!"


Aldi berteriak keras sembari berlari ke arah Kania, dengan cepat Aldi berhasil meraih lengan gadis itu dan mencengkeramnya kuat dari belakang. Tentu ia berhasil membuat Kania berhenti dan terpaksa harus menoleh meladeninya karena tak ada pilihan lain.


"Ish, lu kenapa sih kalo deketin gue pasti selalu main tarik-tarik tangan gue? Kan sakit tau!" bentak Kania.


"Hehe, maaf Kania! Abisnya kamu aku panggilin daritadi malah melengos gitu aja, ya makanya aku langsung tarik tangan kamu supaya kamu berhenti dan gak jalan lagi!" ucap Aldi nyengir.


"Haish, ada apa sih? Jangan ganggu gue deh kalo gak penting-penting amat!" ujar Kania.


"Yeh kamu kok gitu sih? Aku kan cuma mau ngobrol berdua sama kamu, aku pengen tenangin diri gitu karena sekarang aku masih sedih banget atas kepergian Saka! Kamu sebagai calon pacar aku, gak mau apa temenin aku yang lagi sedih ini? Nur sama Sahira aja hibur Alan sama si Lucas, masa aku gak ada yang ngehibur sih?" ucap Aldi.


"Al, lu gak butuh gue buat tenangin diri. Karena yang bisa lakuin itu ya cuma lu sendiri, buat apa gue susah-susah hibur lu kalo lu masih pengen sedih dan belum bisa terima keadaan?" ucap Kania.


"Ya seenggaknya kamu temenin aku ngobrol gitu, jangan malah tambah jutek sama aku! Ayolah, Kania sayang!" ucap Aldi membujuk Kania agar mau menemaninya mengobrol.


"Yaudah oke, lu mau ngobrol dimana?" ucap Kania.


"Nah gitu dong, kita ke rooftop aja yuk! Disana pasti sepi, gak ada orang. Jadi, aku bisa berduaan sama kamu sekalian hibur diri!" ucap Aldi tersenyum sembari mencolek pipi Kania.


Gadis itu hanya membuang muka dengan ekspresi kesalnya, sesungguhnya ia malas untuk meladeni Aldi apalagi berbicara berdua dengannya. Namun, tidak ada pilihan lain bagi Kania selain menuruti kemauan pria tersebut agar hidupnya bisa tenang juga dan tak terus-terusan diganggu oleh Aldi.


"Yaudah, ayo kita kesana!" ucap Kania.


"Oke, yuk!" Aldi tampak senang dan bersemangat sekali karena Kania akhirnya mau menemaninya mengobrol walau dengan terpaksa.


Aldi pun menggandeng serta merangkul pundak gadis di sampingnya, lalu berjalan menuju tangga untuk segera naik ke rooftop sekolah. Aldi terus saja memandangi wajah Kania dengan sedikit senyum terpancar di bibirnya, tampaknya Aldi memang sangat menyukai bentuk wajah Kania itu.


"Al, lu harus janji sama gue!" ucap Kania di sela-sela perjalanan mereka menuju rooftop.


"Hah? Janji apa sayang?" tanya Aldi heran.


"Haish, janji kalo lu gak akan ganggu gue lagi setelah gue temenin lu ngobrol sekarang! Karena gue masih ada urusan lain sama temen-temen gue, paham?" ucap Kania menjawab.


"Ohh, iya paham kok." ucap Aldi tersenyum tipis.


Cupp...


Dengan sangat lembut, Aldi menaruh bibirnya itu pada wajah Kania dan mengecupnya. Membuat Kania syok bukan main lalu melotot lebar.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2