
"Apa yang kau pikirkan?".Tanya marga,menatap intens pada rey.
Dapat dia tebak bahwa rey tadi mengenang masa lalu nya, tentang pertemuan tak sengaja nya dengan seorang gadis kecil.Terbukti dengan tatapan rey yang kosong,belum tersadar sepenuhnya dari lamunannya.
Lihatlah rey yang menatap penuh kebingungan,antara masa kini dan masa lalunya.menjawab pun dengan tatapan kosong, seakan tak rela pikiran nya terganggu hanya dengan sebuah pertanyaan.
Rey,memijat pelipisnya seakan meminta pikiran nya untuk bekerja sama dengan dirinya.Mencoba untuk tersadar dari bayang-bayang masa lalu.
Tapi,semakin mencoba untuk melupakan,semakin jelas suara tangisan yang menyayat hati dari seorang anak kecil yang tak kuasa menahan kesedihan atas kehancuran keluarga nya.
Sayap-sayap semangat hidup Allena telah di patahkan oleh sebuah perceraian orangtuanya.Motivasi hidup nya telah meredup seiring dengan kehausannya akan kasih sayang.
Hidupnya memang tak jauh berbeda dengan Allena,tapi dia masih bersyukur karena orang tuanya mendidik nya dengan tegas agar dia menjadi pribadi yang kuat dan tegar.Berbanding terbalik dengan hidup Allena,yang di berikan luka hati dan mentalnya di sakiti.
"Rey".Panggil marga sekali lagi.
__ADS_1
"Yah, kenapa?".Tanya Rey,sembari mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya.Seakan mencoba untuk menyadarkan dirinya sendiri dari lamunan tentang Allena.
"Rey,aku harap kamu bisa memenuhi janji mu seperti yang kau pernah bilang".Harap marga,bukan tanpa alasan dia meminta Rey untuk menepati janjinya,sebab dia juga menyaksikan sendiri bagaimana Allena yang merasa sendirian di tengah kemewahannya.
"Pasti".Sahut Rey.Dia bangkit berdiri."Aku pasti akan menempati janji ku seperti apa yang sudah aku bilang, sementara kau awasi Andre dan keluarganya".Pinta Rey, menatap nyalang pada tumpukan berkas-berkas.
"Untuk apa?".Tanya marga,dia juga ikut berdiri.Mensejajarkan diri dengan posisi rey.
"Bukankah kau bilang Andre yang memberikan benda haram itu pada Allena?". Gertak Rey,menoleh kearah marga.
"Untuk itu kau awasi dia, sedangkan allena itu adalah urusan ku".Perintah rey,sembari berlalu meninggalkan marga.
Tanpa banyak bertanya lagi,marga merapihkan laptopnya dan barang-barang yang sudah dia keluarkan.Di masukannya laptop beserta dengan barang-barang nya, untuk kemudian menjalankan perintah rey.
Marga,telah pergi meninggalkan ruangan Rey dengan membawa perintah yang harus dia jalankan sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap pekerjaan nya.Sedangkan Rey,dia masih betah duduk diatas singasana nya,sembari memikirkan cara untuk bisa dekat dengan Allena.
__ADS_1
"Allena Aidira, andai sedari dulu aku tau tentang diri mu?,pasti aku tak mungkin tega membuat mu sengsara".Gumam Rey.Rasa sesal menggerogoti diri rey.
Dia yang belum tau tentang indentitas dari siswi yang terkenal nakal dan urakan itu adalah gadis kecilnya yang selama ini dia cari.Dia lah yang menyebabkan allena di keluarkan dari sekolah,meski bukan hanya dia saja yang menjadi penyebabnya.
Rey,masih duduk termenung diatas singgasana.Terlelap dalam lamunannya hingga tak menyadari hari sudah berhenti malam,lamunan telah terganti mimpi dan sinar mentari telah tergantikan oleh sinar rembulan.
Dia masih setia duduk di kursinya,bak pendeta yang tengah bersemedi.Tanpa kata,tanpa pergerakan Rey tetap pada posisinya.
"Masih ada waktu sebelum semua terlambat.Masih ada kesempatan sebelum Allena benar-benar menghilang untuk kesekian kalinya".Gumam Rey, setelah tersadar dari lamunan panjangnya.
Seakan sudah mendapatkan sebuah Ilham dari hasil semedinya.Rey,berdiri dengan membawa semangat dan harapan.
Dia bertekad untuk lebih dekat dengan Allena hingga menanamkan rasa percaya Allena terhadap dirinya, sekaligus untuk menebus rasa bersalahnya pada gadis yang tak sepenuhnya bersalah.Dia hanya korban disini,tak seharusnya di jauhi bahkan di musuhi.Dia hanya butuh di peluk dan di dengar kan segala keluh kesahnya.
"Allena,tunggu aku".Gumam Rey,sembari berjalan keluar.
__ADS_1