
Axel,berjalan ke dalam rumahnya dengan mata sayu dan badan lelah.Berharap bisa segera beristirahat dari rasa lelah dan capek akibat seharian penuh beraktivitas.Tanpa memperdulikan keberadaan Allena,toh dia cukup lelah untuk memikirkan sekiranya tidak penting dalam hidupnya.
Baru saja Axel, melangkah di ambang pintu.Asap rokok,memenuhi rongga hidungnya.Sontak saja,Axel mencari kepulan asap rokok yang ternyata berasal dari ruang tamu.
Deg
Seakan dunia Axel runtuh seketika saat di dapati nya sang putri sudah kembali pulang namun dalam keadaan berantakan.Dimana,dia dengan asyiknya menghisap dan menyembulkan asap rokok ke udara.
Emosi dan rasa lelah telah menjadi satu berbaur dalam diri Axel.Dia berdiri di belakang pun,Allena tak menyadari keberadaannya,terlalu asyik memainkan asap rokok yang menjadi pantangan nya untuk allena.Tapi,dengan santainya sang putri malah menghisap benda panjang, kecil,tapi memabukkan dan memberikan sumber dari segala sumber penyakit.
"Allena". Teriaknya kencang,membahana di ruang tamu itu.
Sang putri,terlonjak begitu kagetnya mendengar teriakan mamahnya yang ternyata sedang berdiri di belakangnya.
Buru-buru Allena, menyembunyikan bungkus rokok yang sudah terlanjur di ketahui oleh mamahnya.Apalagi bau rokok yang begitu menyengat,bak parfum alami menempel pada tubuhnya.
__ADS_1
Axel,berjalan kearah Allena.Dia tak segan-segan untuk menjewer telinga allena dengan kerasnya,seakan tak pernah belajar dari kesalahan.Jeweran itu begitu keras hingga Allena mengasuh kesakitan.
"Aw".Pekik allena kesakitan.
Axel mana peduli dengan teriakan kesakitan putrinya,dia malah semakin keras menjewer telinga sang putri hingga kepalanya Teleng ke bawah.
"Sudah berapa kali mamah katakan,jangan merokok yah jangan merokok.Kamu itu perempuan,harus bisa menjaga kesehatan kamu apalagi rahim kamu".Gertak Axel.
Saking terasa perihnya bahkan mungkin meninggalkan jejak kemerahan,Allena sampai menetaskan air mata,menahan rasa perih di telinga nya.
Axel, melepaskan tangan nya dari telinga allena,bukan untuk berhenti atau melihat wajah sedih Allena tapi untuk melakukan kekerasan fisik lagi.
Seakan tak puas dengan telinga allena,dia beralih menuju pipi putrinya sendiri sebagai pelampiasan rasa kesalnya karena sang putri tetap membandel.
"Itu untuk kau yang tidak pernah mendengar kata-kata ku.Allena,apa salahnya kamu menjadi anak yang penurut,tidak menjadi pembangkang seperti ini".Teriak Axel, kalap.
__ADS_1
Sedari tadi Allena hanya diam, merasakan perih di telinga dan pipinya.Tubuhnya seakan menjadi pusat pelampiasan,lupa bahwa dirinya ada karena sel telur yang di miliki oleh ibunya telah berhasil di buahi.Jadilah Allena,yang ternyata kehadirannya hanya untuk di jadikan bahan pelampiasan.
"Coba kamu lihat,anaknya Alice aja bisa berprestasi meski kedua orang tuanya bercerai".Gertak Axel.
Deg
Setelah mendapatkan sebuah tamparan dan telinga nya mendapatkan sebuah jeweran keras, sekarang dia dengan seenaknya si bandingkan dengan orang lain.
"Cukup".Teriak Allena."Kau boleh menyiksa ku sebagai hukuman tapi jangan pernah kau bandingkan aku dengan anak teman mu,anak sahabat mu,anak saudari mu atau anak-anak yang lainnya.Aku ya,aku.Aku berbeda dari mereka,jangan pernah membandingkan aku dengan mereka".Gertak Allena.
Axel,terpaku diam di tempatnya.Sang putri kembali menyentaknya,lagi lagi dia selalu berhadapan dengan sang putri yang sayang nya kata-katanya selalu menjatuhkan mentalnya.
"Aku ini sebenarnya anak siapa?".Tanya allena, menunjuk-nunjuk dirinya.Seakan mempertanyakan asal-usul nya.
Axel,di buat tak berkutik, anaknya kembali mempertanyakan tentang asal-usul.Membuat hatinya seakan teriris sembilu,amat menyakitkan bagi ibu mana pun.
__ADS_1
"Kau_".
Sebelum Axel, menyelesaikan kalimatnya.Allena,sudah berlari terbirit-birit menuju kamarnya dengan membawa luka hati dan luka fisik yang teramat sakit.Tubuhnya boleh sakit, tapi psikis nya.Itu tidak bisa di toleransi oleh Allena.