Broken Angel

Broken Angel
Episode 292 [SEASON 3]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...



...~Cinta yang dipaksakan itu tidak baik, akan berakhir sakit bila kamu mengetahui kenyataan kalau dia sampai kapanpun tidak akan mencintaimu~...


...×××...


#BROKEN ANGEL S3 EPS. 36


...•...


...HAPPY READING...🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Sahira masih bersama Lucas kekasihnya di kantin dan tampak tengah berbincang sambil menikmati minuman pesanan mereka disana.


Lucas juga terus saja memandangi wajah cantik gadisnya yang terlihat lebih cerah saat ini setelah Sahira berhasil mengalahkan Kirana dan membuat seluruh murid sekolahnya selamat.


Lucas pun meraih tangan Sahira lalu menggenggamnya bahkan mengecupnya lembut.


"Sayang, kamu itu susah banget sih buat dianggurin! Aku daritadi aja pengen buang muka, selalu gak bisa dan susah banget buat lakuin itu. Kayaknya muka kamu udah dipasangin magnet deh, makanya mataku gak mau berpaling dari wajah kamu!" ucap Lucas sambil senyum-senyum.


Sahira hanya bisa tersenyum menunduk sembari membelai rambutnya ke belakang.


"Oh ya, menurut kamu kabar Zaenal sekarang ini gimana ya? Dia kan masih hidup tuh, karena kata kamu ratu gak bolehin kamu buat bunuh dia. Kira-kira Zaenal udah berubah atau masih dendam ya sama aku dan kamu?" tanya Lucas penasaran.


"Entahlah, aku juga gak tau. Mungkin aja Zaenal lagi tangisin jasad adiknya, bisa jadi juga sih kalau dia masih dendam sama kita dan pengen balas dendam lagi ke kita. Soalnya kan dia pasti marah banget, apalagi karena aku udah bunuh adiknya dan juga hampir ngebunuh dia!" jawab Sahira.


Lucas terdiam kemudian kembali menyedot minuman di gelasnya tanpa melepas tangan Sahira.


"Kas, apa kamu gak mikir sesuatu yang mencurigakan gitu soal penyerangan Kirana dan raja El ke bumi?" tanya Sahira sembari menatap wajah kekasihnya dengan raut penasaran.


"Maksudnya? Sesuatu gimana?" Lucas tak mengerti dan justru berbalik bertanya pada Sahira.


"Ya sesuatu gitu, soalnya aku ngerasa ada yang aneh dari penyerangan mereka. Kan sebelumnya gak ada tuh ancaman dari raja El atau siapa lah itu, eh tiba-tiba mereka udah muncul aja terus serang kita! Aku sih curiga kalau ini ada hubungannya dengan ratu Sofia sama Wilona, pasti mereka yang suruh raja El buat nyerang ke bumi!" jelas Sahira.


"Ohh, kamu emang ada bukti atau apa gitu yang tunjukin kalau mereka terlibat? Aku sih mikir mungkin aja raja El emang datang ke bumi karena kemauan dia sendiri, ya kan namanya juga raja rakus dan maruk pengen nguasain segalanya!" ucap Lucas.


"Ya enggak ada sih, cuma aku ngerasa aja kalau ratu Sofia dan Wilona juga terlibat dalam penyerangan raja El kemarin. Mereka tuh pengen bikin kita sibuk buat jagain bumi dan ngelupain misi utama kita untuk merebut kembali nirwana dari tangan mereka, soalnya dengan penyerangan raja El kita jadi lebih fokus ke bumi kan!" ucap Sahira.


Lucas pun melirik ke sekeliling untuk memastikan bahwa pembicaraan mereka tidak didengar oleh siapapun yang ada disana.


"Kamu tenang ya! Nanti biar kita selidiki sama-sama soal ini, supaya kita juga bisa tau apa memang benar ratu Sofia dan Wilona terlibat di dalamnya? Kalau emang iya, kita bisa aja langsung serang mereka ke nirwana tanpa perlu menggunakan rencana dari ratu Keira sebelumnya!" ucap Lucas.


"Iya, maaf ya kalau aku udah bikin pagi kamu jadi berat karena pemikiran aku itu. Tapi serius deh, aku sampe gak bisa tidur karena kepikiran sama itu terus!" ucap Sahira.


"Gapapa, yaudah sekarang kita siap-siap ke kelas aja! Kan sebentar lagi bel bakal bunyi, jadi kita cuma butuh beberapa menit lagi buat bisa berduaan saat ini!" ucap Lucas tersenyum.


Setelahnya, mereka pun berhenti membahas soal itu dan fokus menghabiskan minuman mereka.


...•••...


KRIIIINNGGGG... KRIIIINNGGGG...


Bel yang berbunyi membuat Aldi terpaksa harus berpisah dengan Kania untuk pergi ke kelasnya. Sebenarnya Aldi memang masih ingin bersama Kania dan lebih dekat dengan gadis itu.


Aldi pun memegang puncak kepala Kania sambil menggenggam telapak tangan gadis itu dan tersenyum menatap ke arahnya, Aldi ingin membuat paginya menjadi lebih indah dengan bersama Kania di tempat biasa mereka kumpul.

__ADS_1


Kania hanya diam membiarkan Aldi melakukan apapun yang dia suka.


"Kania, gak kerasa ya udah bel aja. Padahal aku masih pengen berduaan sama kamu disini, emang ya waktu itu terasa lebih cepat saat kita sedang bersama seseorang yang kita cintai." ucap Aldi tersenyum sambil mengusap puncak kepala Kania dan mengecup punggung tangan gadis itu.


"Al, lu apa-apaan sih? Malu tau dilihatin murid lain yang lewat sini! Lagian kita kan belum pacaran, gue gak mau ada gosip lagi di sekolah ini terus mereka semua pada ejek gue!" ucap Kania langsung bergerak menarik tangannya saat Aldi mengecupnya tadi.


"Hey, kamu itu kenapa sih? Masih aja mikirin kata-kata orang lain, harusnya kamu tuh belajar buat enggak lagi dengerin perkataan mereka. Kan ini kehidupan kamu, jadi kamu berhak menentukan apa yang kamu mau sendiri bukan berdasarkan perkataan orang lain!" ucap Aldi tegas.


"Haish, pagi-pagi udah dikasih ceramah aja sama pak ustad Aldi. Tapi iya juga sih, gue emang gampang baper sama kata-kata orang di sekitar gue! Gak tau juga kenapa begitu, ajarin gue dong gimana caranya supaya gue bisa tutup kuping dan gak dengerin perkataan mereka?" ucap Kania.


"Ahaha, gampang aja kok. Kamu cukup percaya sama diri kamu sendiri dan yakinkan dalam hati kamu untuk enggak lagi terpengaruh sama perkataan mereka!" ucap Aldi memberi saran.


Kania pun terdiam lalu melakukan apa yang disarankan oleh Aldi, ia akan mencoba untuk mulai menutup kuping dan tidak lagi mendengarkan kata-kata dari orang di sekitarnya.


"Oke, gue bakal begitu deh. Yaudah, sekarang kita ke kelas yuk! Kan barusan bel udah bunyi, gue takut ada pak Johan yang patroli terus nemuin kita disini! Kan gak lucu kalo kita masuk BK berdua cuma karena telah masuk ke kelas, bener kan?" ucap Kania mengajak Aldi untuk segera pergi ke kelas.


"Boleh, yuk aku anterin kamu sampe depan kelas kayak kemarin-kemarin!" ujar Aldi tersenyum.


Kania mengangguk tanda setuju. Mereka pun sama-sama berdiri lalu bergandengan tangan dan pergi menuju kelas mereka.


"Oh ya, tadi katanya kamu gampang baper. Tapi, kok kamu gak baper baper sama aku?" tanya Aldi.


"Hah? Ya kalau soal cinta mah beda dong, gue kan masih belum bisa buka hati buat cowok sekarang ini. Karena gue trauma sejak pacaran sama Lucas sebelumnya, makanya sekarang gue mau lebih hati-hati supaya gak sakit hati lagi!" jawab Kania menjelaskan tanpa ekspresi.


"Oh gitu, kamu tenang aja! Aku bakal bikin kamu mau buka hati buat aku dan melupakan sakit hati itu, aku juga bakal mengobati rasa sakit di dalam hati kamu dengan cinta yang aku berikan!" ucap Aldi sembari menaruh tangannya dan tangan Kania di atas dada gadis tersebut lalu tersenyum.


Kania menatap mata Aldi tanpa berkedip.


...•••...


Setelah beberapa hari memilih tidak hadir ke sekolah, kali ini April kembali datang walau dengan perasaan bersalah dan tidak tega bila bertemu dengan Sahira alias teman sebangkunya itu.


April memasuki ruangan kelasnya lalu berjalan menuju tempat duduknya dan seperti biasa ia duduk disana sembari menaruh tasnya di bawah lalu mengeluarkan ponselnya.


Beruntung baginya, karena saat ini belum ada Sahira disana sehingga ia bisa sedikit bernafas lega karena tidak langsung melihat Sahira. Ya April sampai sekarang memang masih merasa bersalah kepada Sahira karena abangnya yakni Willy sudah berniat untuk menghabisi wanita tersebut.


"Heh!" tegur Saka sembari menggebrak meja lalu duduk di atas meja itu dan menatap wajah April dengan sedikit menunduk mendekati wajah gadis tersebut.


April pun tampak gemetar ketakutan.


"Kenapa ya?" tanya April kebingungan.


"Gapapa, gue cuma mau tanya aja kenapa lu gak masuk beberapa hari kemarin? Tumben banget soalnya, kan biasanya lu selalu datang ke sekolah walau mepet sama waktu bel kayak gini!" ujar Saka mengintrogasi April dengan tatapan tajam.


"Kan gue udah kirim surat, gue sakit. Emang lu pada gak tau apa?" ucap April singkat.


"Ya tau sih, tapi kok gue gak percaya ya? Masa sih lu bisa kena penyakit juga? Bukannya virus itu bakal ketakutan ya kalo ketemu atau papasan sama lu?" ujar Saka sambil tertawa kecil.


"Hahaha, ada-ada aja lu Sak!" ujar Fathul ikut tertawa mengejek April dengan sangat puas.


"Kalian sekarang alih profesi jadi tukang bully?" tanya April menatap wajah pria di dekatnya itu dengan tajam dan menjurus.


"Enggak kok, gue cuma kaget aja adeknya Willy ternyata bisa sakit." jawab Saka singkat.


April tersentak mendengar perkataan Saka.


"Maksudnya apa? Emang lu pikir karena gue adeknya Willy, terus gue gak bisa sakit gitu? Lagian apa hubungannya sih penyakit gue sama Willy? Gak jelas banget lu!" ujar April.


"Oh enggak gitu, gue curiga aja kalau lu terlibat dalam penyerangan si Willy kemarin. Buktinya lu gak kelihatan tuh di kumpulan murid-murid, terus beberapa waktu sebelum penyerangan terjadi lu juga udah gak kelihatan di kelas. Apa itu gak mencurigakan banget?" ucap Saka.


April dibuat tak berkutik oleh perkataan Saka.


"Ah sial! Bener ternyata yang dibilang Willy, harusnya gue gak usah datang ke sekolah ini lagi! Karena mereka pasti pada curiga sama gue," batin April.

__ADS_1


Melihat gerak-gerik April yang seperti ketakutan itu, Saka semakin yakin kalau April memang terlibat.


"Ah udah lah! Gak ada gunanya juga kita bahas masa lalu, ya kan? Mending sekarang kita pada fokus aja buat lomba game online yang bakal diselenggarakan beberapa hari lagi, yuk guys kita latihan di belakang!" ucap Saka langsung turun dari meja lalu pergi ke barisan belakang bersama teman-temannya.


April hanya bisa diam memandangi Saka dari tempat duduknya saat ini.


"Gue harus banyak hati-hati nih, bisa-bisa semua murid di sekolah ini pada bully gue dan musuhin gue gara-gara si Saka!" gumam April dalam hati.




Sahira telah sampai di depan kelasnya, ia diantar oleh kekasihnya dan kini akan berpisah dengannya karena mereka juga berbeda kelas.


"Kas, makasih ya!" ucap Sahira tersenyum.


Cupp...


Lucas menarik tengkuk gadisnya lalu mengecup kening Sahira dengan lembut di hadapan para teman-teman kelas gadis itu, sehingga membuat Sahira tampak malu dan wajahnya memerah.


"Sama-sama, sekarang kamu masuk gih!" ucap Lucas singkat.


"I-i-iya, bye Lucas!" ucap Sahira gugup sembari mengangguk pelan dan melambaikan tangan ke arah Lucas untuk perpisahan.


"Bye juga!" ucap Lucas.


Setelahnya, Sahira pun berbalik badan lalu masuk ke dalam kelasnya meninggalkan Lucas disana.


Sementara Lucas kini pergi menuju kelasnya.


Begitu memasuki kelasnya, Sahira cukup terkejut ketika melihat April sudah ada di bangkunya dan tengah menunduk sambil mendengarkan musik. Sahira pun bergegas menghampiri April karena ia ingin bertanya pada gadis itu.


"Hay, Pril!" sapa Sahira sembari duduk di samping April dan tersenyum ke arahnya.


Sontak April mengangkat kepalanya menoleh ke arah Sahira dan melepas headset yang ia kenakan.


"Sahira?" ucap April pelan dengan bibir gemetar, April sangat tidak kuat berbicara dengan Sahira secara langsung.


"Hai! Kamu udah sembuh?" tanya Sahira.


"Iya, aku udah mendingan kok. Lagian cuma penyakit biasa juga, bukan yang berbahaya atau bisa bikin sakit berminggu-minggu." jawab April.


"Syukur deh, aku ikut seneng dengernya. Terus kabar kakak kamu gimana? Dia baik-baik aja kan? Apa masih kepengen buat nyerang sekolah kita lagi?" ucap Sahira memancing April dan bertanya tentang Willy kepada gadis itu.


April langsung memalingkan wajahnya karena merasa bersalah sekaligus malu.


"Pril, kamu tenang aja! Biarpun aku tau kalau kamu adiknya Willy, tapi aku gak akan benci kok sama kamu! Karena aku tau, kamu itu beda sama abang kamu itu!" ucap Sahira.


April kembali menoleh ke arah Sahira.


"Kamu serius?" tanya April memandang wajah Sahira dengan mata berkaca-kaca.


Sahira mengangguk sambil tersenyum.


"Iya dong, kan selama kita kenal kamu itu selalu baik sama aku. Makanya aku yakin, kalau kamu emang beda dari abang kamu!" ucap Sahira tersenyum.


"Makasih ya! Aku juga mau minta maaf sama kamu, soal penyerangan yang dilakukan Willy kemarin. Padahal aku udah tau dari sebelumnya kalau Willy mau nyerang sekolah ini dan mengincar kamu sama Lucas, tapi aku gak punya keberanian buat bilang sama kamu ataupun Lucas!" ucap April meminta maaf pada Sahira.


"Kamu gak perlu minta maaf! Aku udah maafin kamu kok, udah ya kita lupain aja semua masalah ini! Kan udah berlalu juga, lagian gak mungkin kita bisa ubah sesuatu yang udah terjadi!" ucap Sahira.


"Iya sih, tapi tetep aja aku ngerasa bersalah sama kamu Sahira. Mulai sekarang aku janji deh gak akan nurut lagi sama Willy, aku juga janji bakal jadi sahabat kamu yang tulus!" ucap April.


Sahira tersenyum kemudian merangkul April dari samping sambil menepuk-nepuk punggung gadis itu.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2