
Yah,Axel kembali menyakiti hati Allena untuk kesekian kalinya.Lagi lagi tanpa sadar dia telah merusak mentalnya.Ibu yang sejatinya melindungi anak-anak,menjadi tempat untuk berkeluh kesah tapi yang ada allena,remaja tanggung itu harus di jadikan bahan pelampiasan emosi ibunya sendiri.
Sudah sejak kecil,tidak mendapatkan perawatan dan kasih sayang seutuhnya dari ibunya.Sudah dewasa pun malah semakin di buat tersiksa di rumah nya sendiri,di lakukan oleh orang terdekatnya dan berakhir menggunakan rokok sebagai alat pelampiasan rasa sakitnya.
Lagi-lagi Axel tak menyadari tindakan nya yang melukai hati putrinya.Lagi penyesalan itu selalu datang terakhir,saat pikiran dan hati Axel tenang.Saat kata-kata menohok dari putrinya terlontar untuk dirinya, barulah dia sadar akan tindakan nya,baru lah dia menyesal akan perbuatannya.
Axel buru-buru menghampiri kamar sang putri,berlari ke lantai atas tempat dimana kamar Allena berada.
"Allena..Allena..Allena".Teriak Axel,menapak tangga selangkah demi selangkah.
Allena,di dalam kamarnya menangis sesenggukan.Tak kuasa menahan rasa sakit hati karena ulah orang tuanya,terutama itu di lakukan oleh ibunya sendiri.Axel Maureen.
"Gue,ini sebenarnya anak siapa?, percuma gue di lahirin kalau nyatanya gue selalu menjadi pelampiasan keegoisan mereka.Kalau begini caranya mending,gue m*** aja".Teriak Allena, diantara Isak tangisnya yang menjadi-jadi.
__ADS_1
Tok..Tok..Tok..
Axel mengedor pintu kamar Allena sangat keras."Allena..Allena..Allena".Axel terus menerus meneriakkan nama putrinya.
"Berisik".Teriak Allena.
"Buka nak,buka pintu nya".Mohon Axel.
Allena di dalam sana,berdecih seakan meremehkan ucapan mamah nya yang pintar berakting dan berdrama bak drama sinetron yang gak ada habisnya dan berakhir dengan yang itu-itu saja.
"Allena,mamah mohon buka pintunya nak".Pinta Axel.
"Buat apa?,untuk mengatakan bahwa kamu menyesal,lalu esok lusa kelakuan kamu sama aja".Gertak Allena.
__ADS_1
Axel kembali terpaku di tempatnya,tak kuasa menahan rasa sesal dan sakit hatinya.Putrinya menentang dirinya sendiri, melukai hati ibu manapun yang di ragukan oleh anaknya sendiri.
Axel bersandarkan pintu,menangis sembari memegang dadanya teramat nyeri yang dia rasakan.Tak berkaca sekali dia tentang perbuatan dan kata-kata nya yang melukai hati Allena.
"Buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya".Celetuk Allena, membuyarkan kesedihan Axel.
"Tapi,buah yang jatuh itu.Dia jatuhnya kearah yang lebih baik atau kearah yang lebih buruk".Sahut Axel,tak mau kalah.
"Sebelum berkata,bercermin dulu pada diri sendiri.Sebelum bertindak di pikirkan dulu.Manusia tak sama,jangan pernah di bandingkan apalagi di tuntut untuk punya jalan cerita yang sama". Nasehat allena.
Dia hapus air matanya,lelah terus menerus menangis hingga matanya sembab.Lelah dengan drama pertengkaran yang selalu sama dan berakhir dengan cerita yang sama pula.Allena,pada akhirnya jatuh tertidur bersama dengan sebuah harapan.
Berbeda dengan Axel yang masih duduk tersungkur di depan pintu.Berharap sang putri akan membukakan pintu untuknya.Berbicara dari hati ke hati seperti dulu lagi.
__ADS_1
Dulu, selalu ada waktu untuk berbicara berdua, mengungkapkan segala keluh kesah dan rasa lelah itu terobati dengan celotehan Allena.
Semakin kesini,semakin renggang.Axel lah yang seharusnya di salah kan disini,karena kesibukannya dan juga kegilaan nya terhadap kerja, menciptakan jarak yang begitu jauh dari sang putri.