Broken Angel

Broken Angel
Episode 302 [SEASON 3]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


...~Orang-orang hanya melihat sisi terang kehidupan ku yang aku tampilkan pada mereka, tak ada satupun yang tau kalau dibalik keterangan ada sebuah kegelapan yang selalu menghantui di setiap malam ku~...


...Γ—Γ—Γ—...


#BROKEN ANGEL S3 EPS. 46


...β€’...


...HAPPY READING...πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰...


...❀️❀️❀️❀️❀️...


Jam pulang sekolah belum tiba, namun Lucas sudah bersiap di depan kelas Sahira menunggu gadisnya itu untuk segera menuju ke pemakaman Saka. Kebetulan mereka memang sudah diberi izin oleh pihak sekolah untuk pergi menemani proses pemakaman teman mereka itu, karena beberapa guru juga ikut kesana termasuk Bu Tantri.


Sesudah membereskan barang-barang serta pamit kepada guru yang sedang mengajar, Sahira pun keluar kelas menemui Lucas di depan sana. Sahira tersenyum menatap tubuh kekasihnya itu dari belakang, perlahan ia melangkah maju mendekati Lucas dan memeluk tubuh Lucas dari belakang.


"Sayang..." ucap Sahira pelan.


Lucas yang tengah melamun sembari memandang ke bawah langsung terkejut dengan suara serta pelukan tiba-tiba dari gadisnya itu, namun ia langsung tersenyum saat melihat sosok Sahira yang memeluknya dan juga memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Hey, tumben banget kamu panggil aku sayang. Biasanya paling susah kalo disuruh panggil begitu, ada angin ribut apa nih?" ujar Lucas berbalik melepaskan diri dari pelukan Sahira dan mencengkeram dua lengan gadisnya itu.


"Ahaha, aku kan maksudnya mau hibur kamu. Soalnya kamu kelihatan masih sedih tau, aku gak tega jadinya ngeliat kamu." ucap Sahira.


"Aduh, perhatian banget sayangku satu ini. Yaudah, kalo gitu kamu terus aja ya panggil aku pake sayang kayak tadi! Supaya aku gak sedih lagi dan bisa terhibur karena kamu, oke?" ucap Lucas sambil tersenyum dan menatap wajah gadisnya.


"Iya iya, sayang...." ucap Sahira bermanja-manja kepada kekasihnya itu sambil tersenyum.


"Bagus! Sekarang kita langsung ke bawah yuk! Yang lain udah nunggu disana, kita juga bakal langsung berangkat ke rumah Saka dan antar dia ke peristirahatan terakhirnya." ucap Lucas.


"Iya, yuk!" ucap Sahira.


Sahira pun kembali melingkarkan tangannya pada pinggang sang kekasih, sedangkan Lucas merangkul serta menaruh kepala gadisnya di bahu. Lalu, mereka pun bergegas melangkahkan kaki menuju tempat yang lain berkumpul di depan sekolah.


Di sepanjang jalan, mereka terus saja bermesraan sehingga rasa sedih yang tengah dirasakan oleh Lucas mendadak hilang.


"Sayang, aku seneng banget sebenarnya bisa berduaan sama kamu kayak gini. Tapi, kenapa disaat kita lagi mesra-mesraan begini malah salah satu sahabat kita pergi." ucap Lucas.


"Sabar sayang! Yang namanya takdir kan udah gak bisa dihindari, sayang!" ucap Sahira.


"Iya sih..." ucap Lucas mendengus pelan sembari mengusap puncak kepala gadisnya dengan lembut dan mengecupnya.


Tiba-tiba saja mereka malah bertemu dan berpapasan dengan Edrea, Imeh serta Sonya yang sepertinya habis dari kamar mandi. Ketiga gadis itu berhenti tepat di hadapan Lucas serta Sahira, mereka mencegah sepasang kekasih itu dan tak membiarkan keduanya untuk lewat.


"Kalian pada mau kemana?" tanya Edrea penasaran.


Lucas merasa tidak senang melihat kehadiran Edrea dan teman-temannya disana, ia sedang malas jika harus meladeni ketiga gadis itu.


"Kita mau ke pemakaman Saka, kalian bertiga pada mau ikut juga sama kita? Kalau emang mau, yaudah sekalian bareng aja! Nanti biar Lucas yang bilang ke Bu Tantri tentang izinnya." ucap Sahira.


"Sayang! Ngapain sih kamu ajak mereka?" bisik Lucas sembari menyenggol lengan Sahira.


"Gapapa, semakin banyak yang hadir di pemakaman Saka. Itu semakin bagus, Kas! Pastinya Saka juga bakal senang dan bahagia disana, karena banyak yang peduli sama dia. Makanya aku ajak mereka bertiga buat ikut kesana!" ucap Sahira.

__ADS_1


"Heh! Siapa juga sih yang mau ikut sama kalian? Gue cuma nanya aja, masih jam pelajaran kok udah pada keluyuran aja! Gue juga yakin, kalian pasti cuma cari muka aja kan dateng ke makam Saka? Paling disana kalian juga cuma manfaatin kesempatan buat mesra-mesraan!" cibir Edrea.


"Lu masih aja ya gak berubah! Lagi suasana duka loh ini, bisa-bisanya lu masih cari ribut sama kita! Apa sih mau lu sebenarnya, ha?" ujar Lucas kesal.


"Sabar, Lucas! Kamu jangan kepancing emosi sama Edrea! Tunjukin kesabaran dan ketenangan kamu, kita kan mau ke pemakaman Saka!" bujuk Sahira menenangkan kekasihnya.


"Hahaha, kamu terlalu naif deh Lucas! Tinggal bilang aja kalau emang iya begitu, apa susahnya sih? Lagian aku tau kok, mana mungkin kamu sedih sama meninggalnya Saka? Secara kamu aja sering ribut sama dia, malah pas dia meninggal kemarin kan status kalian juga masih musuhan! Asal kamu inget aja, penyebab kalian berantem kan karena cewek di samping kamu itu!" ucap Edrea.


"Iya bener, Sahira tuh emang biang masalah! Coba aja kalo dia gak pindah sekolah disini, gue yakin semua ini gak akan mungkin terjadi! Sebelum ada dia, sekolah kita aman-aman aja tuh!" sahut Imeh.


"Heh! Kalian jaga omongan kalian! Sebelum gue sobek tuh mulut kalian, supaya kalian gak bisa lagi umbar kebencian dengan mulut kalian itu!" bentak Lucas sembari menunjuk ke arah Edrea dan Imeh.


Sahira terus saja berusaha untuk menenangkan Lucas, ia mengusap-usap dada kekasihnya itu sembari menatap wajahnya.


Untunglah, Bu Meli muncul disana dan berhasil membuat keributan diantara Lucas dengan ketiga gadis itu selesai.


"Kalian pada ngapain disini? Lucas, kamu kan bilangnya mau ke pemakaman Saka. Terus kenapa kamu sama Sahira malah masih disini? Teman-teman kamu yang lain itu udah pada siap loh di bawah, cepat kamu susul mereka sana! Ini juga, kamu ngapain ada di luar saat jam pelajaran, Edrea, Imeh, Sonya?" tegur Bu Meli.


"Maaf Bu! Mereka bertiga ini yang bikin saya sama Sahira telat sampai di bawah, mereka selalu aja cari masalah. Padahal sekarang suasananya sedang berduka, emang mereka gak pantas buat ditemenin!" ujar Lucas terlihat sangat emosi.


"Bu, kita bukannya mau cari masalah! Tapiβ€”"


"Sudah sudah! Tidak ada yang bicara lagi! Sekarang kalian semua pergi dan balik ke kelas! Kamu juga, Lucas! Sebentar lagi kan waktu pemakaman Saka dilaksanakan, lebih baik kamu cepat datang kesana!" ucap Bu Meli memotong ucapan Edrea.


"Baik, Bu! Ayo sayang!" ucap Lucas tersenyum tipis kemudian menarik tangan gadisnya dan pergi dari sana, ia sempat melirik sinis ke arah Edrea saat melewati gadis tersebut.


Setelah Lucas dan Sahira pergi, Edrea pun menyusul pergi juga dari sana meninggalkan kedua temannya yang masih berdiri disana. Tentu saja Imeh serta Sonya langsung berlari mengejar Edrea, mereka khawatir terjadi sesuatu pada Edrea temannya itu.


Sementara Bu Meli tampak heran dengan kelakuan Edrea serta teman-temannya itu, ia tak mengerti apa sebenarnya masalah dari ketiga gadis tersebut sampai terus saja menjari keributan dengan Lucas ataupun Sahira.


...β€’β€’β€’...


Saat hendak menuju lobi, mereka justru bertemu dengan Grey serta kedua temannya yang baru turun melalui tangga satunya. Sontak baik Alan maupun Nur menghentikan langkah mereka sejenak disana, tentu mereka ingin berbicara dengan Grey berhubung wanita tersebut juga sudah tampak mendingan tidak seperti tadi.


"Grey, lu mau ikut juga?" tanya Nur.


"Iya, gue harus temenin Saka untuk yang terakhir kalinya. Gimanapun juga, Saka itu pernah hadir di dalam hati gue dalam waktu yang lumayan lama." jawab Grey dengan nada agak bersedih.


"Baguslah, tapi lu jangan nangis terus ya! Gue takut aja bakalan bikin keluarga Saka semakin sedih disana, mereka kan pasti juga sangat merasa kehilangan atas kepergian Saka." ucap Nur memberi saran kepada gadis di hadapannya itu.


"Tenang aja, Nur! Sekarang gue udah bisa terima kenyataan kok. Gue juga bakal kuatin diri, walau berat rasanya terima semua ini." ucap Grey.


"Iya benar, emang gak mudah buat terima kenyataan kalau orang yang kita sayangi itu pergi untuk selamanya. Tapi, kita harus tanamkan di dalam hati kita kalau semua orang itu akan kembali ke sang pencipta! Dengan begitu, kita pasti bisa lebih kuat dan menerima kepergian mereka karena di dunia ini semuanya hanya sementara!" ucap Nur.


"Iya Nur, makasih ya!" ucap Grey tersenyum.


"Sama-sama, gue seneng deh ngeliat lu bisa senyum lagi kayak gini. Sedih karena kehilangan seseorang yang kita sayang itu wajar, malah kita juga boleh kok menangis dan meluapkan kesedihan itu! Ya tapi setelah itu kita harus bisa kuat dan ikhlas!" ucap Nur.


"Iya, gue boleh gak peluk lu?" tanya Grey meminta izin pada Nur untuk memeluknya.


"Boleh kok, sini gue juga seneng kok bisa pelukan sama lu!" jawab Nur sambil tersenyum.


Grey pun maju mendekati Nur, lalu memeluk tubuh gadis itu dengan erat dan menumpahkan kesedihannya pada pelukan bidadari tersebut. Grey sangat merasa nyaman bisa berada dalam pelukan Nur, ia pun bisa lebih tenang lagi dari sebelumnya karena Nur memang sengaja memberikan ketenangan itu kepada Grey.


Setelahnya, Grey pun melepas pelukannya dari Nur karena ia sudah merasa cukup.


"Makasih ya, Nur! Gue jadi ngerasa lebih tenang setelah pelukan sama lu, semua kata-kata lu tadi juga bikin gue sadar kalau gue harus bisa ikhlas dengan kepergian Saka." ucap Grey.


"Sama-sama, kapanpun lu mau... lu bisa kok peluk gue lagi sesuka hati lu!" ucap Nur tersenyum.

__ADS_1


"Yaudah, kita langsung lanjut aja yuk ke depan! Sebentar lagi kan pemakamannya dimulai, kita gak boleh sampai telat datang kesana!" ucap Alan.


"Oh iya, maaf maaf!" ucap Grey.


"Gapapa, santai aja! Kita masih ada waktu kok buat sampai di tempat Saka." ucap Alan.


"Iya, ayo kita pergi!" ucap Grey.


Mereka pun bersama-sama pergi menuju lobi untuk menemui teman-teman mereka yang lain disana, tampak Grey sudah bisa lebih tenang dan bahkan jadi sering tersenyum saat ini.


β€’


β€’


Sesampainya di lobi, Alan serta yang lainnya langsung berkumpul bersama Aldi dan orang-orang yang ada disana yang sudah menunggu sedari tadi. Alan tampak menghampiri Aldi untuk bertanya mengenai Lucas yang masih belum terlihat disana, ia khawatir bisa terlambat sampai ke rumah Saka jika tak segera berangkat sekarang.


"Al, Lucas sama Sahira mana?" tanya Alan.


"Gak tau, tadi Lucas bilang mau jemput Sahira di depan kelasnya. Tapi, sampe sekarang dia belum balik juga kesini." jawab Aldi.


"Sabar aja! Mungkin mereka udah di jalan menuju kesini, kan bisa aja ada sesuatu yang kita gak tau dalam perjalanan mereka!" ujar Jack.


"Yaudah, kita langsung bergerak aja duluan ke depan! Siapin motor-motor kita, supaya kita bisa langsung berangkat begitu Lucas dan Sahira muncul. Karena waktunya semakin mepet, jarak dari sekolah ke rumah Saka juga lumayan jauh." ucap Alan.


"Oke, lu bener. Tapi, gue kabarin Lucas dulu! Supaya dia enggak bingung nantinya pas sampe disini terus udah gak ada kita." ucap Jack.


"Ya,"


Alan pun mengajak Nur serta yang lainnya pergi lebih dulu menuju tempat parkir untuk menyiapkan motor mereka agar lebih mudah, ya jumlah orang yang akan berangkat ke tempat Saka ada sekitar empat belas orang dan mereka telah mendapat izin dari sekolah.


Sementara Jack mengirimkan pesan ke nomor hp Lucas yang berisi kalau ia dengan yang lainnya menunggu kedatangan Lucas di tempat parkir, barulah ia menyusul Alan serta yang lain ke tempat parkir setelah pesannya terkirim.


❀️


Saat di tempat parkir, mereka membagi siapa akan bareng dengan siapa karena memang kendaraan yang ada hanya beberapa. Tentu saja pastinya yang berpasangan akan membonceng pasangannya itu, seperti Alan dengan Nur serta Aldi bersama Kania.


"Oke, disini siapa yang gak bawa kendaraan?" tanya Alan kepada seluruh orang disana.


"Gue gak bawa! Tapi, gue bisa boncengan kok sama Zefora." jawab Grey.


"Sama sih, gue dan Andini juga gak bawa." ucap Tasya meratapi nasibnya.


"Yaelah, kalian kan bisa bareng ke mobil gue! Biasanya juga kalian pada nebeng sama gue, pake sok sedih segala!" ujar Tiara.


"Hehe, bagus deh kalo emang lu mau kita tumpangin." ucap Andini nyengir.


Alan hanya senyum-senyum saja melihat kelakuan empat gadis aneh itu, namun ia senang karena tak perlu repot lagi dengan masalah kendaraan karena mereka semua sudah mengetahuinya.


"Sayang, kamu mau aku bonceng atau kesananya jalan kaki?" ucap Alan bertanya pada kekasihnya.


"Hah? Maksudnya? Kamu nyuruh aku jalan kaki gitu ke rumah Saka? Ish, tega banget sih kamu sama pacar kamu sendiri!" ujar Nur cemberut.


"Tenang aja, Nur! Kalo emang si Alan gak mau boncengin kamu, kan ada aku!" ujar Jack.


"Heh! Jangan godain cewek gue! Sembarangan aja lu main mau bonceng cewek orang! Gue tadi cuma bercanda sama ayang gue satu ini, jadi jangan berharap ya Jack!" ujar Alan.


"Hahaha..." mereka semua kompak menertawakan Jack dan membuat suasana menjadi ceria kembali setelah sebelumnya sempat hening.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2